Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 runtuh
Malam itu, setelah diseret keluar dari Grand Ballroom oleh petugas keamanan, dunia Arkan benar-benar kiamat.
Di dalam mobilnya, ponsel Arkan tidak berhenti bergetar. Satu per satu investor menelepon, menarik saham mereka secara massal. Bank yang semula berjanji mencairkan pinjaman miliaran rupiah tiba-tiba membatalkan kerja sama secara sepihak akibat blacklist dari Alister Group.
"Arkan, bagaimana ini? Saldo kartu kreditku tiba-tiba dibekukan!" pekik Ghea panik sambil menatap layar HP-nya di kursi penumpang. "Kamu harus lakukan sesuatu! Jangan diam saja!"
"Diam kamu, Ghea!" bentak Arkan frustrasi. Pria itu memukul setir mobil dengan keras. "Ini semua karena kamu! Kalau saja kamu tidak mengajak aku bertemu, Nadia tidak akan tahu kebusukan kita, dan dia tidak akan meminta bantuan Devan Alister!"
Ghea membelalakkan mata, tidak terima disalahkan. "Kok jadi aku?! Kamu sendiri yang bilang Nadia itu bodoh dan tidak akan berani melawan! Sekarang lihat, dia malah merangkak ke ranjang pria yang lebih kaya darimu!"
Pertengkaran hebat pecah di antara sepasang kekasih gelap itu. Tanpa harta dan kekuasaan Arkan, cinta buta Ghea mendadak lenyap. Hubungan yang awalnya mereka bangun di atas penderitaan Nadia kini mulai retak dengan sangat cepat.
....
Sementara itu, sebuah mobil Rolls-Royce hitam melaju tenang menuju kawasan perumahan elite di puncak bukit. Di kursi belakang, suasana begitu hening.
Nadia menyandarkan kepalanya di jendela mobil, menatap lampu-lampu kota yang perlahan menjauh. Di bawah gaun malamnya yang mewah, tangan Nadia mengusap perutnya yang masih rata.
“Kita berhasil, Sayang. Papa tirimu yang jahat sudah menerima balasannya” bisik Nadia dalam hati.
"Kamu memikirkan mantan suamimu?"
Suara berat Devan memecah keheningan. Pria itu menutup laptop kerjanya dan menoleh menatap Nadia dengan sepasang mata elangnya yang tajam.
Nadia menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya memikirkan... betapa cepatnya roda berputar. Kemarin aku merasa seperti wanita paling malang di dunia, tapi malam ini aku melihat pria yang menghancurkan ku bersimpuh di lantai."
Nadia menatap Devan dengan tulus. "Semua ini berkat Anda, Pak Devan."
"Panggil Devan saja. Kita sudah resmi bertunangan di depan publik mulai malam ini" koreksi Devan datar, namun ada kilat intens di matanya. "Dan ingat, ini baru permulaan. Aku tidak hanya ingin membuat perusahaannya bangkrut, aku ingin melihat Arkan kehilangan harga dirinya sampai tidak tersisa."
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya Eropa modern. Ini adalah kediaman pribadi Devan, tempat yang jauh dari jangkauan media dan gangguan Arkan.
Saat Nadia turun dari mobil, angin malam yang dingin berembus kencang, membuatnya sedikit menggigil dan refleks memeluk tubuhnya sendiri.
Sebelum Nadia sempat melangkah, sebuah jas wol hangat yang beraroma kayu cendana maskulin sudah tersampir di pundaknya. Devan baru saja melepas jasnya sendiri untuk melindungi Nadia dari dingin.
"Mulai besok, dokter kandungan pribadi keluarga Alister akan datang memeriksa kandunganmu secara rutin" ucap Devan sambil menuntun Nadia masuk ke dalam mansion, telapak tangan besarnya bertumpu hangat di pinggang Nadia. "Anak itu... harus lahir dalam kondisi sehat sebagai pewaris sah ku."
Nadia tertegun. Meskipun tahu ini semua hanyalah bagian dari kontrak sandiwara, perhatian-perhatian kecil yang diberikan Devan entah kenapa mulai menumbuhkan getaran aneh di sudut hati Nadia yang sebelumnya telah mati rasa.
Tiba-tiba, ponsel di dalam tas Nadia berdering heboh. Layar HP menampilkan nama yang sangat membosankan, Arkan.
Nadia hendak mengabaikannya, namun Devan dengan cepat merebut ponsel itu dari tangan Nadia. Pria itu menggeser tombol hijau, lalu menempelkannya ke telinga.
"Nadia! Lancang sekali kamu mempermalukan ku! Di mana kamu sekarang? Pulang!" teriak Arkan di seberang telepon dengan suara mabuk dan penuh amarah.
Devan menyunggingkan senyum sinis yang mematikan.
"Dia bersamaku, Arkan. Dan mulai detik ini, jangan pernah lancang menghubungi calon istriku lagi" ucap Devan dingin, lalu langsung mematikan sambungan telepon dan memblokir nomor Arkan secara permanen.
★★★