NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Kaos Kegedean

Koridor barat penthouse ternyata tidak kalah mewah dengan area utamanya. Ayana melangkah perlahan sembari menenteng tas medisnya, menyusuri deretan pintu kayu ek berwarna abu-abu gelap. Ketika ia membuka pintu kamar tamu pertama yang ditunjuk Arka, matanya langsung terbelalak.

"Ini kata si Bos kamar tamu?" gumam Ayana takjub, melangkah masuk ke dalam ruangan seluas apartemen tipe studio miliknya.

Sebuah tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra warna putih gading mendominasi tengah ruangan. Di sudut dekat jendela raksasa, terdapat sofa malas berbahan beludru, dan sebuah TV layar datar berukuran besar nangkring manis di dinding. Kamar mandi dalamnya bahkan dilengkapi dengan bathtub marmer yang memancarkan aroma terapi lavender yang menenangkan.

Ayana menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk tersebut. “Kasur orang kaya beda ya, kenyalnya pas, berasa dipeluk malaikat penimbun harta,” batinnya sembari berguling santai.

Namun, kesenangannya mendadak terhenti ketika ia menyadari satu hal krusial. Ia tidak membawa baju ganti. Tidak ada baju tidur, tidak ada dalaman cadangan, dan jelas tidak ada skincare malamnya. Menginap mendadak di sarang monster arogan artinya dia harus rela tidur dengan kemeja kerja birunya yang sudah seharian dipakai dan agak bau keringat tipis khas UGD.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang ritmis mengejutkan Ayana. Ia buru-buru bangkit, merapikan sedikit pakaiannya, lalu membuka pintu kamar.

Di ambang pintu, Arka berdiri tegak dengan posisi satu tangan tenggelam di saku celana panjang abu-abunya. Di tangan satunya, pria itu memegang selembar kaos polos berwarna putih dan sebuah celana training hitam bertali yang tampak masih sangat baru, lengkap dengan handuk putih bersih yang masih wangi penatu.

"Pakai ini untuk tidur," ujar Arka datar, menyodorkan tumpukan kain itu ke depan dada Ayana. "Saya tidak mau seprai sutra saya bau bumbu kacang cilok besok pagi."

Ayana yang tadinya sempat terharu karena perhatian terselubung sang CEO, langsung mengerucutkan bibirnya sebal. "Bisa tidak ya, Pak, sehari saja jangan membawa-bawa nama cilok ke dalam argumen Anda? Tapi... ya sudahlah, terima kasih banyak atas sumbangan pakaiannya, Tuan Yang Mulia."

Ayana menerima pakaian itu. Kain kaosnya terasa sangat lembut—jenis katun premium yang harganya pasti setara dengan gaji seminggu perawat residen.

"Kamar mandinya ada air hangat. Jangan mandi terlalu malam, itu buruk untuk paru-parumu," tambah Arka dingin sebelum berbalik, hendak melangkah pergi.

"Pak Arka," panggil Ayana lirih, membuat langkah kaki panjang sang CEO terhenti di koridor yang remang.

Arka menoleh sedikit, menaikkan sebelah alisnya tanpa bersuara.

Ayana memberikan senyuman tipis yang tulus. "Jangan lupa matikan semua lampu luar sebelum tidur. Dan kalau... kalau dada Anda terasa sesak lagi di tengah malam, ketuk saja kamar saya. Saya tidak akan mengunci pintunya rapat-rapat, cuma saya ganjal kursi dari dalam."

Arka terdiam beberapa detik, menatap wajah polos Ayana yang tanpa riasan sama sekali. Sudut bibir pria itu bergerak sangat tipis, hampir tidak terlihat, sebelum ia kembali melangkah menuju kamar utamanya di koridor timur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tiga puluh menit kemudian, Ayana keluar dari kamar mandi dengan asap air hangat yang masih mengepul tipis dari balik tubuhnya. Ia menatap dirinya di cermin besar kamar mandi dan seketika itu juga tawa renyahnya pecah.

Pakaian Arka di tubuh mungilnya benar-benar sebuah tragedi estetika mode. Kaos putih polos milik Arka yang berukuran Extra Large (XL) itu jatuh longgar hingga mencapai pertengahan pahanya, membuat Ayana terlihat seperti anak kecil yang sedang meminjam baju ayahnya. Celana training hitamnya bahkan harus ia gulung hingga tiga lipatan di bagian pergelangan kaki agar tidak tersandung saat berjalan, dan talinya harus diikat mati sekencang mungkin agar tidak melorot dari pinggang rampingnya.

"Gila, ini sih kalau gue keluar malam-malam, dikira kuntilanak versi modern penikmat kasur empuk," canda Ayana pada diri sendiri sembari mengeringkan rambut cokelatnya yang basah dengan handuk.

Meskipun baju itu kebesaran, Ayana tidak bisa memungkiri ada rasa nyaman yang aneh yang menjalar ke tubuhnya. Kaos itu menyebarkan aroma maskulin yang sangat khas—perpaduan antara wangi kayu cendana dan sabun mandi mahal milik Arka yang tertinggal di serat kainnya. Wangi yang entah kenapa membuat detak jantung Ayana kembali berulah, memberikan debaran halus yang membuat perutnya terasa seperti diaduk-aduk.

Ia berjalan menuju tempat tidur, berniat untuk langsung menyelam ke bawah selimut tebal yang hangat. Namun, ketika matanya melirik ke arah jendela kaca raksasa, pemandangan di luar sana membuatnya mengurungkan niat.

Hujan di luar penthouse kini berubah menjadi badai yang cukup mengerikan. Butiran air menghantam kaca dengan suara keras yang berisik, disusul oleh kilatan petir yang sesekali menerangi langit malam Jakarta menjadi putih menyilaukan. Beberapa detik kemudian, suara gemuruh guntur yang dahsyat menggelegar, getarannya bahkan terasa hingga ke lantai marmer yang dipijak Ayana.

DEG.

Jantung Ayana mencelos. Pikiran medisnya langsung melesat tajam menuju koridor timur, tempat kamar utama Arka berada.

Suara benturan keras, petir, gemuruh... itu semua adalah musuh utama sistem saraf Arkananta! batin Ayana panik.

Tanpa memikirkan penampilannya yang amburadul dengan kaos kegedean dan celana training yang digulung, Ayana langsung menyambar botol minyak kayu putih ajaibnya dari dalam tas medis, lalu berlari keluar kamar. Langkah kakinya yang tanpa alas kaki terasa dingin saat menyentuh lantai koridor yang sunyi.

Ketika ia sampai di depan pintu kamar utama Arka yang megah, keheningan di dalam sana justru terasa mencurigakan. Ayana menempelkan telinganya ke permukaan pintu kayu yang tebal. Sesaat, ia tidak mendengar apa-apa karena teredam suara badai dari luar. Namun, di antara jeda gemuruh petir berikutnya, telinga tajam Ayana menangkap suara erangan tertahan yang sangat samar.

Uhuk... hhh... hhh...

"Sial, kumat lagi!" umpat Ayana panik.

Tanpa babibu dan tanpa memikirkan tata krama sopan santun, Ayana langsung meraih kenop pintu dan menekannya ke bawah. Beruntung, kamar itu tidak dikunci.

Ayana mendorong pintu hingga terbuka lebar, dan pemandangan di dalam kamar utama sukses membuat dadanya terasa sesak karena rasa iba yang mendalam.

Kamar utama Arka yang bernuansa hitam kelabu itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh kilatan petir dari balik gorden yang sengaja ditutup rapat. Di atas tempat tidur raksasa, sosok Arka tidak sedang tidur dengan tenang. Pria itu meringkuk menyamping, kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri dengan sangat kuat, seolah-olah sedang berusaha menghalau suara gemuruh petir yang di dalam kepalanya terdengar seperti suara ledakan tangki bensin belasan tahun lalu.

Seluruh tubuh kekar pria itu bergetar hebat. Kaus hitam yang ia kenakan sudah basah kuyup oleh keringat dingin yang mengucur deras. Gigi-giginya bergelatuk keras, dan napasnya terdengar sangat pendek, tersengal-sengal di tenggorokan seolah pasokan oksigen di dunia ini telah habis.

"Pak Arka! Arkananta!"

Ayana berlari mendekati tempat tidur, langsung menjatuhkan lututnya di atas kasur di samping tubuh Arka yang kaku. Ia meraih tangan Arka yang sedang mencengkeram kepala, mencoba menariknya perlahan namun pria itu menahannya dengan tenaga yang luar biasa besar akibat luapan adrenalin panik.

"Arka, dengar saya! Ini Ayana! Lihat saya!" teriak Ayana lembut namun tegas, mencoba menembus kabut halusinasi trauma yang sedang mengurung kesadaran sang CEO.

Mendengar nama 'Ayana' disebut, tubuh Arka tersentak kecil. Ia membuka matanya yang merah dan berair, menatap liar ke sekeliling sebelum akhirnya fokus matanya terkunci pada sosok wanita di depannya. Dalam remangnya ruangan, ia melihat Ayana yang mengenakan kaos putih miliknya yang kegedean, dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kecemasan sekaligus kehangatan yang luar biasa nyata.

"A-Ayana... hhh... sa-sakit..." bisik Arka sangat lirih, suaranya terdengar pecah seperti anak kecil yang ketakutan di tengah kegelapan malam.

Melihat pria searogan Arkananta Pradipta mengaku 'sakit' dengan suara serapuh itu, pertahanan emosional Ayana runtuh. Tanpa memikirkan batasan kontrak, tanpa memikirkan jarak profesional, Ayana langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia melingkarkan kedua lengan mungilnya ke sekeliling leher Arka, menarik tubuh kekar pria yang sedang bergetar hebat itu ke dalam dekapan hangatnya.

"Iya, saya di sini. Saya di sini, Arka... Anda aman," bisik Ayana berulang kali di dekat telinga Arka, tangannya yang satu lagi bergerak mengusap-usap punggung tegap pria itu dengan gerakan lembut yang konstan.

Arka tertegun mendapat pelukan mendadak tersebut. Kehangatan tubuh Ayana, aroma sabun mandi lavender yang bercampur wangi minyak kayu putih yang menguar dari kulit wanita itu, mendadak menjadi tameng kosmik yang menahan seluruh gempuran ketakutan di dalam kepalanya. Perlahan namun pasti, cengkeraman tangan Arka di kepalanya terlepas. Kedua tangan kokohnya bergerak naik, membalas pelukan Ayana dengan sangat erat, menenggelamkan wajah pucatnya di ceruk leher dokter pribadinya seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya pasokan oksigen yang tersisa di alam semesta ini.

Di dalam kamar yang dingin di tengah badai malam Jakarta, dua jiwa yang berbeda kasta dan kepribadian itu saling mendekap erat. Ayana membiarkan kaos putihnya dicengkeram oleh Arka, membiarkan pundaknya basah oleh keringat dingin sang CEO, karena ia tahu... malam ini, pekerjaannya bukan lagi sekadar menyembuhkan fisik, melainkan menjadi rumah darurat bagi sepotong jiwa yang telah lama hancur dan kesepian.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!