NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Panggilan dari Kampung dan Lamaran yang Tak Terduga

Klek.

Pintu kamar terbuka perlahan. Mei berdiri di ambang pintu dengan kaus tidur longgar berwarna putih dan celana kain santai. Rambut panjangnya yang biasa tergerai kini diikat asal, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah cantiknya yang polos tanpa riasan.

Melihat Chen berdiri di depannya dengan selamat, senyuman manis langsung terukir di bibirnya, seketika menghapus sisa-sisa rasa canggung dan debar jantung Chen akibat kejadian "mata tembus pandang" beberapa detik lalu.

"Chen! Kamu sudah pulang?" ucap Mei dengan suara lembut yang menyejukkan hati. Ia membuka pintu lebih lebar. "Ayo masuk. Kebetulan sekali, tadi aku baru selesai memasak beberapa lauk sederhana sebelum kamu mengetuk pintu. Kita makan malam bersama, ya?"

Chen tersenyum hangat, melangkah masuk ke dalam kamar kos Mei yang harum aromaterapi dan selalu rapi. Di atas meja kayu kecil, sudah tersaji beberapa piring makanan rumahan yang masih mengepulkan uap tipis. Bagi Chen yang kini berstatus miliarder, masakan sederhana Mei ini jauh lebih mewah dan nikmat daripada hidangan restoran bintang lima mana pun di dunia.

Kabar dari Kampung Halaman

Mereka berdua duduk berhadapan, menikmati makan malam dengan suasana yang begitu hangat dan damai. Di sela-sela suapannya, Mei membuka obrolan dengan mata yang berbinar penuh semangat.

"Oh ya, Chen, tadi siang ibu meneleponku dari kampung. Ada kabar baik!" ujar Mei riang. "Adik laki-lakiku yang biasanya malas dan sering membuat masalah, sekarang sudah sangat berubah. Dia sekarang mau bekerja keras, Chen! Saat ini dia bekerja sebagai buruh tani di ladang tetangga. Ibu bilang dia tidak pernah mengeluh lagi."

Chen ikut tersenyum mendengarnya, merasa lega karena beban pikiran kekasihnya berkurang. "Itu bagus, Mei. Berarti dia sudah mulai dewasa dan paham tanggung jawab."

Namun, begitu Chen menyelesaikan kalimatnya, nada bicara Mei yang tadinya begitu bersemangat tiba-tiba meredup. Gerakan sendoknya melambat. Perlahan, Mei menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung jemari tangannya sendiri yang bertumpu di atas lutut. Suasana di dalam kamar mendadak berubah menjadi sunyi dan sedikit tegang.

"Tapi Chen..." suara Mei berubah menjadi sangat pelan, hampir berupa bisikan yang bergetar. "Ibu... Ibu juga menyampaikan pesan lain tadi. Ibu memintaku untuk segera menikah, karena usia kita yang sudah cukup dan tetangga di kampung sudah mulai bertanya-tanya..."

Bahu Mei sedikit berguncang, seolah ada beban berat yang menghimpit dadanya. Ia tahu bahwa selama ini mereka hidup pas-pasan di kota perantauan, dan ia tidak ingin menekan Chen dengan tuntutan pernikahan yang membutuhkan biaya tidak sedikit. "Maafkan aku, Chen... Aku tidak bermaksud mendesakmu atau membuatmu terbebani dengan urusan ini..."

"Ayo Kita Menikah"

Melihat kekasihnya yang menunduk sedih dan justru meminta maaf atas sesuatu yang merupakan impian semua pasangan, hati Chen berdesir hangat. Rasa sayang yang teramat besar bergejolak di dalam dadanya.

Chen meletakkan sumpitnya perlahan. Ia memajukan tubuhnya, lalu meraih kedua telapak tangan Mei yang terasa agak dingin, menggenggamnya dengan sangat erat dan penuh kepastian.

"Untuk apa kau meminta maaf, Mei?" kata Chen dengan nada suara yang teramat serius, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

Mei perlahan mengangkat kepalanya, menatap sepasang mata Chen dengan tatapan bingung sekaligus bersalah.

Chen menatap lurus ke dalam manik mata Mei, memancarkan aura seorang pria sejati yang siap menjadi pelindung hidupnya. "Kalau memang ibumu menghendaki kau untuk segera menikah, maka... ayo kita menikah."

Deg!

Kata-kata Chen yang begitu tegas, tenang, dan tanpa keraguan seketika membuat jantung Mei berdegup kencang. Air mata yang sempat membendung di sudut matanya kini mengalir turun, bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang luar biasa. Ia tidak menyangka Chen akan merespons kabar tersebut dengan kesiapan yang begitu mutlak. Mei belum tahu bahwa pria yang di hadapannya ini bukan lagi Chen yang miskin, melainkan seorang miliarder yang bahkan sudah menyiapkan sebuah istana megah untuknya.

1
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!