Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGAPULUHTIGA
"Kakkk? Kak Bioooo?".
Panggilan dari Arun terdengar nyaring pagi ini. Bagaimana tidak Arun memanggil Bio dari lantai bawah, sedangkan kamar Bio berada di lantai dua dengan posisi kedalam.
"Ihhh, mana sih orang itu?" Arun sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus karena pagi ini dia ada kelas pagi.
Arun bolak-balik keluar masuk kamarnya untuk menyiapkan beberapa barang yang akan dia bawa ke kampus.
Klek!
Suara pintu yang ditutup langsung mengalihkan pandangan Arun yang sedang berusaha memasang jam ditangannya.
"Kakk?".
"Hmmm".
Arun terkesima saat mendengar suara tersebut di tambah setelan baju putih polos dan celana sebatas lutut yang dikenakan Bio menambah ketampanannya berkali-kali lipat.
"Kenapa?" tanya Bio.
Arun mengedipkan matanya beberapa lagi karena terpesona hingga tidak menyadari kalau Bio sudah sampai dihadapannya, "itu ... motor aku udah bisa dipake belum?" tanya Arun.
"Belum, kan baru masuk semalem" jawab Bio.
"Waduhh, aku harus naik bus dong" gumam Arun.
Bio hanya terdiam, "eh tapi ini jam berapa ya?" Kepala Arun melihat kesana kemari mencari jam dinding di rumahnya.
"Bus udah gak ada, saya kan ada" ucap Bio sambil mengambil tangan sebelah kiri Arun.
Bio memakaikan jam tangan Arun ternyata sejak tadi Arun belum selesai memakainya ditambah saat ini Arun hanya diam sambil memandang wajah Bio, "punya jam tangan sibuk nyari jam dinding" ucap Bio.
Arun yang mendengar itu hanya tersenyum canggung, "lupa kak" lirih Arun.
Setelah selesai dengan jam tangan, Bio langsung mengusap kepala Arun.
"Saya suka kamu gak pake kata 'gue' lagi" ucap Bio lalu berlalu untuk mengambil minum.
Arun hanya mematung mengapa Bio mengusap kepalanya tapi yang berantakan hatinya. Arun langsung memegangi dadanya saat Bio melewatinya.
"Ayok, kamu udah siap belum?" tanya Bio lalu meneguk air minumnya.
"Kemana?" tanya Arun sambil berbalik arah menghadap Bio dengan ekspresi bingung.
Bio tersenyum sambil meletakan gelas ditangannya di wastafel, "katanya mau ke kampus, gak jadi?" tanya balik Bio.
"Oh iya" Arun langsung menepuk jidatnya lalu berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel dan tas kecilnya.
Bio tersenyum saat melihat tingkah Arun, "makanya kalo salting jangan ke lamaan" ujar Bio.
"Engga ya! Kak Bio ngajakin ngobrol. Udah ayok Kak, nanti aku telat" ujar Arun sambil berjalan lebih dulu karena takut Bio akan terus menggodanya kembali.
Karena kejadian di rumah tadi saat ini Arun hanya diam saat berada di dalam mobil. Sebenarnya Bio masih bersikap seperti biasa dan tidak lagi menggodanya namun Arun merasa tidak nyaman.
"Nanti kamu ke Cafe?" tanya Bio.
Bio sengaja membuka percakapan agar Arun tidak merasa canggung, "iya, nanti selesai kelas aku langsung ke Cafe" balas Arun.
"Ya udah kabarin jam berapa nanti saya jemput" ujar Bio sambil fokus menyetir.
"Eh, gak usah kak. Nanti aku naik bus aja" tolak Arun sambil melihat ke arah Bio.
"Emangnya kalo saya jemput kenapa?" tanya Bio.
Arun terdiam sambil menggaruk pelipisnya, "ya ... nanti takut anak-anak Cafe tau. Iya nanti kita ketahuan" jelas Arun.
"Gak akan. Kamu tenang aja" balas Bio.
"Ckk, ayolah kak. Aku bisa naik bus sendiri. Aku gak mau nanti mereka malah mikir yang aneh-aneh lagi. Please kak" ucap Arun dengan memelas sambil menyatukan kedua tangan di depan wajahnya.
Bio yang melihat sekilas langsung mengambil tangan seleah kanan Arun lalu menggengamnya.
Cup.
Tanpa aba-aba, Bio langsung mencium punggung tangan Arun tersebut.
"Anjirr, ni orang! Mau buat gue serangan jantung apa ya!" batin Arun.
"Ya udah iya kalo gak mau, saya gak akan maksa kamu" ujar Bio tanpa melepaskan tautan tangannya.
Sedangkan saat ini Arun hanya bisa terdiam sambil memandangi wajah Bio apalagi saat ini, Bio menyetir hanya dengan satu tangan.
"Kenapa kamu liatin saya kayak gitu?" tanya Bio.
Arun langsung mengalihkan pandangannya ke depan, "macet ya kak?" tanya Arun berupaya menutupi ke gugupan nya.
"Kita udah sampai di kampus" ujar Bio.
Perkataan Bio membuat Arun langsung membuka kaca mobilnya dan benar saja ini merupakan area depan kampusnya. Arun langsung memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.
Arun melihat ke arah Bio dengan cengiran kudanya, "kalo gitu lepasin kak" ucap Arun sambil berusaha melepaskan tautan tangannya pada Bio.
"Kok muka kamu merah?" tanya Bio.
Arun yang mendengar itu langsung kembali membuang muka sambil menutupi wajahnya dengan tangan map yang ada dipangkuannya namun tangan Arun belum Bio lepaskan.
Sreg!
"Arghh"
Cup.
Bio menarik tangan Arun hingga membuat tubuh Arun menghadap Bio dengan jarak wajah yang sangat dekat. Bio langsung mengecup bibir Arun, hanya menempel sambil tangan sebelah kanannya menekan tombol untuk menutup kaca jendela yang Arun buka tadi.
Arun langsung mundur dan memberikan tatapan kesal pada Bio, "kak! Nanti kalo ada yang liat gimana?" ujar Arun dengan nada marah.
"Gak akan ada yang liat, kaca mobil saya aman" balas Bio.
Arun langsung berbalik arah untuk melihat kaca mobil yang dia buka tadi namun ternyata sudah tertutup. Arun langsung menghembuskan napasnya lega.
"Mau lanjut?" tawar Bio.
Bugh!
Arun memukul dada Bio dengan map ditangannya, "udah ah, aku mau turun" ujar Arun sambil membuka pintu mobilnya.
"Byee" Bio melambaikan tanganya namun Arun sudah menutup pintunya lebih dulu dan berlari kecil.
Bio tersenyum, "lucu banget sih" ucap Bio lalu kemudian menancap gas meninggalkan area kampus.
Arun yang berjalan dengan cepat dan hanya menunduk langsung mendadak berhenti saat sebuah heels terlihat berdiri diam menghadang dirinya.
Arun yang sudah berhenti langsung melihat siapa pemilik heels tersebut, "Bella?" ucap Arun.
"Pagi Arun" sapa Bella.
"Maaf, gue ada kelas" ujar Arun sambil menggeser tubuhnya agar bisa kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan.
"Dosen kamu telat, jadi kamu ada waktu buat kita ngobrol?" tanya Bella.
"Kayaknya gak ada yang perlu diobrolin deh antara lo sama gue" ujar Arun.
"Memang bukan tentang aku sama kamu" sambung Bella.
Arun mengerutkan dahinya dengan ekspresi bingungnya, "terus?" Arun meminta kelanjutan dari kata-kata Bella tersebut.
"Tapi antara kamu sama Akbar".
Arun tidak habis pikir, kenapa ini selalu terjadi dalam hidup Arun. Bukankah Bella sudah tahu sejak awal kalau Arun dan Bio sudah berteman lama.
"Apa yang mau lo tau?" tanya Arun tanpa basa-basi.
Bella menundukan kepala menatap ujung-ujung kuku kakinya lalu mengangkat kembali kepala sambil menghela napas, "kamu ada perasaan sama Akbar?" tanya Bella.
"Maksud lo apa sih? Perasaan apa?. Gue ini manusia pasti punya perasaan, kalo gue gak punya perasaan gue udah milih pergi dan gak mau ngobrol sama lo" ujar Arun.
Kenapa sikap Arun berubah?.
Sebenarnya bukan berubah tapi Arun sudah terlalu capek kalau harus memikirkan perasaan tidak enaknya pada orang lain. Mungkin dulu Arun menghalangi Tia untuk bersikap buruk pada Bella karena memandang Akbar sebagai teman.
Namun setelah beberapa hal yang Arun lalui, membuatnya sadar kalau hidup itu keras. Kalau bukan dari dirinya sendiri siapa yang akan menjadi pelindungnya.
Karena terkadang orang yang dilihat baik-baik saja dalam bertutur kata merupakan orang yang sangat tajam mengatakan fakta tentang diri kita pada orang lain.
"Kamu suka sama Akbar. Atau bahkan mungkin kalian saling cinta satu sama lain" jelas Bella.
Arun tersenyum meremehkan, "kita berdua sahabatan, berteman dan itu dalam jangka waktu yang lama bukan satu atau dua tahunan. Akbar udah kayak kakak laki-laki buat gue" jelas Arun.
Bella berusah mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Arun, "kalo kita berdua saling cinta, Akbar gak mungkin pacaran sama lo sebegitu lamanya" lanjut Arun.
"Kalo lo lagi ada masalah sama Akbar selesain baik-baik. Dan kalo itu rasa cemburu lo sama gue, lo salah" ucap Arun penuh penekanan.
"STOP! kenapa kalian berdua suka bohong?!" ucap Bella setelah sedikit meninggikan nada suaranya.
Arun hanya diam, "Akbar, Akbar punya tatapan sendiri buat kamu. Dan Akbar gak pernah sekalipun natap aku dengan tatapan itu" ucap Bella dengan lirih.
Arun yang mendengar itu langsung membuat otot-otot diwajahnya sedikit mengendur. Terdengar pilu suara Bella saat ini, mengapa baru sekarang?.
"Satu tahun lebih Run, kamu tau rasanya jadi aku? Sakit Run" ujar Bella kembali.
Arun kembali bungkam, "mungkin dalam hati kamu bertanya, kenapa aku bertahan?".
"Karena aku secinta itu sama Akbar, dan setiap aku tanya dia selalu bisa yakin in aku lagi kalau Akbar punya cinta yang sama besarnya dengan aku. Tapi apa?".
"Aku merasa itu bukan buat aku".
Bella sesekali menatap langit karena matanya akan mengeluarkan air. Iya, Bella menangis. Namun Bella harus menahannya.
"Lo salah paham Bel. Akbar gak pernah beri tatapan yang spesial buat gue. Itu tatapan kasihan Akbar sama gue, karena hidup gue menyedihkan" balas Arun dengan pelan namun masih bisa di dengar jelas oleh Bella.
Bella langsung memandang Arun. Sedangkan Arun hanya bisa menundukan kepalanya, jujur Arun benci situasi ini.
Tbc.