NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:329.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Malam itu, setelah badai teriakan di dalam kamar mereda, suasana rumah tidak lantas menjadi tenang. Bagi Adila, keheningan yang menyusul justru terasa lebih mencekam daripada caci maki Revan. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap serpihan kaca dari botol parfum yang hancur di lantai sama seperti harga dirinya yang kini hancur berkeping-keping. Revan sudah keluar dari kamar, membanting pintu dengan keras, meninggalkannya sendirian dalam ruang gelap yang kini terasa asing.

​Adila bisa mendengar suara tawa dari lantai bawah. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen kesayangannya porselen yang ia beli dengan uang tabungannya sendiri sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Sekarang, porselen itu mungkin sedang digunakan untuk menjamu Meisya.

​Dengan gerakan mekanis, Adila berdiri. Ia membersihkan pecahan kaca itu dengan tangan yang gemetar. Ia tidak ingin Bi Ijah yang melakukannya esok pagi; ia tidak ingin orang lain melihat sisa-sisa kehancurannya. Setelah semua bersih, ia berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin, mencoba menghapus jejak air mata dan kemarahan yang membakar.

​Saat ia keluar dari kamar untuk mengambil air minum di dapur, langkahnya terhenti di bordes tangga. Dari sana, ia bisa melihat ruang makan.

Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. Revan sedang duduk di samping Meisya, memotongkan daging di piring wanita itu dengan penuh perhatian.

​"Makan yang banyak, Mei. Kamu harus kuat demi bayi itu," suara Mama mertua terdengar begitu lembut, nada yang selama ini selalu Adila rindukan namun jarang ia dapatkan secara tulus.

​"Terima kasih, Tante. Terima kasih, Mas Revan. Aku benar-benar merasa tidak enak sudah merepotkan," jawab Meisya dengan suara lirih yang dibuat-buat, namun matanya sempat melirik ke arah tangga, tepat ke arah Adila yang sedang berdiri membeku. Ada kilat kemenangan di sana, meski tertutup oleh topeng kesedihan.

Adila melanjutkan langkahnya menuruni tangga dengan kepala tegak. Ia tidak akan membiarkan mereka melihatnya hancur lagi. Begitu ia sampai di ruang makan, obrolan itu mendadak berhenti.

​"Oh, Adila. Sini, makan. Tadi Meisya yang bantu Bi Ijah masak, katanya ini menu kesukaan Revan," ujar Mama mertua dengan nada datar, seolah kejadian di kamar tadi tidak pernah terjadi.

​Adila menatap meja makan itu. Meisya masak di dapurnya? Menggunakan peralatan masaknya? "Saya tidak lapar, Mah. Saya hanya mau ambil air," jawab Adila singkat.

​"Jangan begitu, Dila. Meisya sudah susah payah memasak meskipun sedang mual. Hargai sedikit usahanya," sela Revan tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada piringnya.

​Adila mengepalkan tangan di balik piyama sutranya. "Menghargai usaha orang lain? Mas bicara soal menghargai sementara privasiku di rumah ini baru saja diinjak-injak?"

​Revan meletakkan garpunya dengan denting keras. "Kita sudah bahas ini di atas, Adila. Jangan merusak suasana makan malam keluarga."

​"Keluarga?" Adila tertawa miris. "Siapa keluargamu di sini, Mas? Aku istrimu atau wanita yang sedang mengandung anak orang lain ini?"

​"Adila! Jaga bicaramu!" Papa mertua yang sejak tadi diam akhirnya membentak.

"Meisya ini tamu, dan dia sedang dalam kondisi lemah. Dimana sopan santunmu sebagai menantu tertua di keluarga ini?"

Adila menatap Papa mertuanya dengan pandangan tidak percaya. "Sopan santun? Papa bicara soal sopan santun saat kalian membawa wanita lain masuk ke rumah tangga anak kalian sendiri? Apa Papa akan diam saja jika Mama diperlakukan seperti ini?"

​"Cukup, Adila! Masuk ke kamarmu kalau kamu hanya ingin memancing keributan!" Revan berdiri, wajahnya merah padam.

​Adila tidak bergeming. Ia berjalan mendekati meja makan, menatap Meisya yang kini mulai menunduk dan terisak pelan sebuah senjata andalan yang selalu berhasil meluluhkan Revan.

​"Dila... maafkan aku... aku tidak bermaksud merusak rumah tangga kalian. Kalau keberadaanku membuatmu tidak nyaman, aku akan pergi sekarang juga..."

Meisya mulai terisak, tangannya memegang perutnya dengan dramatis.

​"Jangan dengarkan dia, Mei. Kamu tidak pergi ke mana-mana," tegas Revan sambil merangkul bahu Meisya protektif.

​Adila merasa muak. Rasa mual yang ia rasakan bukan karena kehamilan, tapi karena kemunafikan yang memenuhi ruangan itu. "Simpan air mata palsumu, Meisya. Kamu dan aku tahu persis apa yang sedang kamu lakukan di sini."

​Tanpa menunggu balasan, Adila berbalik dan berjalan cepat menuju dapur. Ia mengambil botol air mineralnya dan segera kembali ke atas. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti duri yang menusuk kakinya. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar suara Revan yang menenangkan Meisya, dan suara mertuanya yang menyumpahi sikapnya yang dianggap tidak punya hati.

​Adila sempat menarik koper dari atas lemari. Tangannya gemetar saat menyentuh ritsleting logam itu. Namun, tepat saat ia hendak memasukkan baju pertamanya, gerakan tangannya terhenti.

​"Kalau aku pergi sekarang, Meisya menang," bisik suara di dalam kepalanya.

​Adila membayangkan wajah Meisya yang akan tersenyum puas, duduk di kursi makannya, tidur di rumah yang ia bangun dengan tetesan keringat dan air mata selama sepuluh tahun. Jika ia pergi malam ini dalam keadaan menangis, ia pergi sebagai pecundang. Dan Adila, seorang calon dokter yang terbiasa bertarung dengan maut di meja operasi, tidak dilatih untuk menjadi pecundang.

​"Belum saatnya," gumam Adila pada bayangannya sendiri. Ia mendorong kembali koper itu ke kolong tempat tidur. "Aku tidak akan pergi sampai aku memastikan kalian semua tahu bahwa tempat ini adalah milikku."

​Adila berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, memakai kembali sedikit lip cream berwarna pucat agar tidak terlihat terlalu layu, dan merapikan rambutnya. Ia keluar kamar dengan langkah yang sengaja dibuat mantap, meskipun jantungnya berdegup kencang.

​Di lantai bawah, suasana ruang makan terasa seperti perayaan kemenangan yang prematur.

​"Ini benar-benar enak, Mei. Kamu memang pintar masak," suara Mama mertua terdengar begitu renyah, kontras dengan nada dingin yang biasanya ia berikan pada Adila.

​"Hanya masakan sederhana, Tante. Aku senang kalau Mas Revan suka," sahut Meisya dengan nada malu-malu yang memuakkan.

​Adila muncul kembali di ambang pintu ruang makan. Semua mata tertuju padanya. Revan tampak terkejut, mungkin mengira Adila akan terus mengurung diri atau keluar membawa koper setelah perdebatan sengit tadi.

​"Oh, kupikir kamu sedang sibuk mengemasi barang," sindir Mama mertua, matanya menyipit sinis.

​Adila tersenyum tipis senyuman profesional yang sering ia gunakan saat menghadapi pasien yang sulit. "Mengemasi barang? Untuk apa, Mah? Rumah ini masih berdiri kokoh dan saya masih punya banyak tanggung jawab di sini sebagai nyonya rumah."

​Ia menarik kursi di hadapan Meisya, tepat di sebelah Revan yang kini tampak serba salah. Adila mengambil piring, lalu menyendok nasi dengan tenang.

​"Dila, Meisya sudah masak kesukaan kamu juga tadi..." Revan mencoba mencairkan suasana dengan nada ragu.

​Adila menatap piring di tengah meja. "Sapi lada hitam? Sayangnya, Meisya aku sedang tidak bisa makan daging yang terlalu banyak lemak. Sebagai dokter, aku tahu betul kualitas bahan makanan sangat menentukan kesehatan penghuni rumah ini. Tapi untuk ukuran orang luar yang baru masuk, usahamu lumayan."

​Wajah Meisya berubah pucat. Ia menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. "Maaf, Mbak Dila... aku hanya ingin membantu."

Adila diam dan mengkode ke BI Ijah, BI Ijah yang pro dengan Adila datang dan membawa makanan sehat untuk dia. "Terima kasih Bik." Ucap Adila.

"Sama-sama Nyonya." Jawab BI Ijah yang menekankan kata Nyonya.

​Adila langsung melihat ke arah Meisya dan menyahuti ucapan dari Meisya tadi."Jangan panggil aku Mbak. Kita tidak sedarah," potong Adila dingin. Ia mulai mengunyah makanannya dengan anggun, seolah-olah ia sedang makan di restoran bintang lima, bukan di tengah medan perang.

​"Adila! Kenapa ketus sekali? Meisya ini sedang hamil!" bentak Revan, meletakkan sendoknya dengan keras.

​Adila menoleh, menatap suaminya dengan tatapan yang membuat pria itu terdiam. "Dan aku istrimu, Revan. Sepuluh tahun aku menjaga kesehatanmu, menjaga kehormatan rumah ini. Kalau kamu mengharapkan aku menyambut wanita yang membawa benih pria lain ke dalam rumah kita dengan pelukan hangat, maka kamu yang sedang kehilangan akal sehat."

​"Dila, jaga bicaramu di depan Papa!" Papa mertua ikut bersuara lagi dan nadanya terdengar berat serta penuh otoritas.

​Adila menatap mertuanya bergantian. "Pah, Mah. Saya mengizinkan tamu ini tinggal di kamar tamu bukan karena saya setuju, tapi karena saya menghargai keputusan Mas Revan sebagai kepala rumah tangga saat ini. Tapi jangan pernah berharap saya akan menyerahkan kursi saya atau membiarkan orang lain mengatur dapur saya."

​Adila menoleh ke arah Meisya yang masih terisak tanpa suara. "Meisya, selamat datang di rumahku. Makanlah yang banyak, karena mulai besok, kamu akan belajar bahwa hidup di bawah atap orang lain itu ada aturannya. Dan di rumah ini, aturannya adalah aku."

​Malam itu, Adila tidak pergi. Ia kembali ke kamar, mengunci pintu, dan mulai membuka laptopnya. Ia tidak menangis lagi. Ia mulai mencatat semua aset yang mereka miliki, menghitung tabungan yang sempat Revan potong, dan merencanakan langkah hukum yang mungkin akan ia ambil nanti.

​Ia akan bertahan. Bukan karena ia masih sangat mencintai Revan rasa itu sudah mulai terkikis oleh rasa mual tapi karena ia ingin Meisya tahu bahwa mencuri posisi seorang istri sah tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.

​Adila menatap cincin di jarinya. Cincin itu masih melingkar, tapi hatinya sudah membangun benteng yang mustahil ditembus. Ia akan pergi suatu saat nanti, tapi hanya saat ia sudah memiliki semua kemenangan di tangannya, meninggalkan mereka dalam reruntuhan yang mereka buat sendiri.

​"Mainkan peranmu, Meisya," bisik Adila sambil menatap kegelapan di luar jendela. "Karena setelah ini, aku yang akan memegang skenarionya."

1
Weni Kasandra
Cerita yg bagus
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
Eric ardy Yahya
gimana ya Rasanya Revan ? udah tersiksa ? semua tidak akan terjadi kalau otak kamu bukan Otak' Taik
Eric ardy Yahya
makanya Meisya , kalau punya otak dipakai , jangan malah kamu orang baik jadi wanita malam . gini kan rasanya dihina?
Eric ardy Yahya
makanya Revan , kalian enak ancam Adila bilang kamu akan menyesal blah blah blah dan seterusnya , sekarang ? kamu sendiri menyesal kan ? emak kamu udah tutup usia , Tiara jadi sole survivor alias ngekost , kamu dipecat , rumah kamu disita dan apa lagi yang mau dibanggakan? gak ada sama sekali
Eric ardy Yahya
makanya Revan , Adila udah kasih peringatan aja udah tepat sasaran , namun kamu sendiri yang tidak tau diri berlagak udah hebat , sekarang terima nasib kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!