Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gu Yichen kembali mengusik
Langit Beijing mulai berubah jingga ketika Shen Yuxin dan Lin Xiaoran keluar dari pusat perbelanjaan. Mobil-mobil mewah silih berganti memasuki area parkir, sementara para pengunjung masih memenuhi setiap sudut mal.
Kedua wanita itu berjalan santai menuju pintu keluar. Di tangan mereka tergantung beberapa kantong belanja dari berbagai butik ternama.
Lin Xiaoran mengembuskan napas panjang. "Capek juga ternyata."
Shen Yuxin terkekeh pelan. "Tapi tadi katanya masih mau masuk ke toko perhiasan."
"Itu refleks," sangkal Xiaoran cepat.
"Refleksmu terdengar unik ya, Nona Xiaoran," ledek Yuxin.
Mereka pun tertawa bersamaan.
Sopir Mansion Keluarga Lu yang telah menunggu sejak tadi segera membukakan pintu mobil.
"Nyonya Muda, sebaiknya Anda segera pulang. Sedari tadi Master terus menghubungi Anda."
Yuxin mengangguk kecil. "Baiklah. Kita pulang sekarang ya, Xiaoran?"
Lin Xiaoran mengangguk. Ia juga sudah tidak sabar melihat wajah masam Lu Zhichen. Membayangkan raja mafia itu kesal saja sudah cukup menghiburnya.
Baru saja Yuxin hendak masuk ke dalam mobil, ponselnya bergetar. Sebuah nomor yang tidak tersimpan muncul di layar.
"Nomor siapa, ya?"
Lin Xiaoran melirik layar ponsel itu. "Angkat saja. Siapa tahu penting."
Yuxin mengangkat bahu, lalu menekan tombol hijau. "Halo?"
Suara seorang pria yang lembut segera terdengar dari seberang telepon.
"Yuxin... ini aku."
Dalam sekejap, senyum di wajah Yuxin memudar. Ia langsung mengenali suara itu.
Gu Yichen.
Pria itu rupanya masih belum menyerah menghubunginya.
"Dokter Gu." Nada suara Yuxin terdengar datar. "Ada perlu apa?"
"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu," jawab Gu Yichen dengan nada yang terdengar tulus, seolah benar-benar mengkhawatirkannya.
Shen Yuxin menatap layar ponselnya dengan tatapan jijik. Dokter munafik itu memang benar-benar pandai bersandiwara. "Aku baik-baik saja. Memangnya apa yang bisa terjadi padaku?"
Gu Yichen mengembuskan napas panjang. "Aku mendengar kau bertemu Nyonya Besar Shen di mal hari ini."
Yuxin mengangkat sebelah alis. "Wah, secepat itu ya beritanya sampai kepadamu."
Gu Yichen tersenyum tipis di balik telepon. "Kota Beijing tidak sebesar yang kau kira."
Yuxin memilih diam.
Dalam hati ia sudah bisa menebak siapa yang membocorkan kabar itu. Sudah pasti Shen Meilin yang mengadu kepada kekasih gelapnya. Namun, Yuxin tetap berpura-pura tidak mengetahui hubungan terlarang mereka.
"Yuxin."
"Hm?"
"Apa kau tidak terluka?"
"Tidak."
"Syukurlah. Aku lega mendengarnya."
Mendengar ucapan itu, Yuxin justru tersenyum tipis.
"Dokter Gu, aku ini bukan pasienmu. Lain kali kau tidak perlu mengkhawatirkan ku."
Di seberang sana, Gu Yichen masih berusaha mencari celah agar Shen Yuxin kembali tunduk kepadanya seperti dulu.
"Yuxin... kenapa sekarang kau berubah terhadapku? Apa aku melakukan kesalahan?" Nada suaranya terdengar sedih, bahkan sedikit putus asa.
Yuxin memutar bola matanya kesal. "Dokter, seharusnya kau senang karena aku sudah tidak menempel padamu seperti lintah lagi. Lagi pula, setiap orang pasti bisa berubah."
"Tapi perubahanmu terlalu besar. Sampai-sampai kau yang sekarang terasa seperti orang lain."
Shen Yuxin sempat terkejut mendengar ucapan itu. Sesaat, jantungnya berdetak lebih cepat. Namun, ia segera mengendalikan ekspresinya dan tertawa sinis. "Dokter Gu, kurasa yang perlu dirawat itu justru dirimu sendiri. Menurutku, kau benar-benar sedang sakit."
Yuxin berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada mengejek. "Kalau aku bukan Shen Yuxin, lalu siapa? Kau pikir aku arwah gentayangan yang tersesat lalu masuk ke tubuh ini?"
Gu Yichen terdiam beberapa saat, seolah benar-benar sedang mempertimbangkan kemungkinan itu. "Mungkin... bisa saja."
Mendengar jawaban itu, sudut bibir Yuxin berkedut. "Dokter Gu, kurasa kau benar-benar sudah tidak tertolong lagi. Saranku, kurangi menonton drama atau membaca novel yang tidak masuk akal!"
Setelah berkata demikian, Yuxin langsung menutup telepon secara sepihak. Tanpa ragu, ia segera memblokir nomor Gu Yichen dari ponselnya.
Lin Xiaoran memandang wajah Yuxin yang memerah karena kesal. "Dokter itu masih terus mengganggumu?"
"Ya, seperti yang kau lihat. Kurasa dokter itu benar-benar sudah tidak waras. Sudahlah, jangan pedulikan dia." Yuxin mengembuskan napas panjang sebelum masuk ke dalam mobil.
*
*
*
Langit telah benar-benar gelap ketika mobil mereka memasuki pekarangan Mansion Keluarga Lu. Begitu mobil berhenti, kedatangan mereka langsung disambut tatapan tajam Lu Zhichen. Di belakangnya berdiri Han Mo dan Xiao Bai yang setia menemani sang tuan.
Yuxin turun dari mobil dengan wajah sumringah, disusul Lin Xiaoran yang tak kalah bahagianya.
Melihat senyum cerah sang istri, wajah dingin Lu Zhichen perlahan melunak. Kekesalan yang sedari tadi dipendamnya seolah lenyap begitu saja saat mata mereka saling bertemu.
"Kenapa seharian tidak pulang?" tanyanya dengan suara lembut. "Bukankah tadi kau bilang ingin datang ke kantorku?"
Shen Yuxin langsung tertegun.
Baru saat itu ia teringat bahwa dirinya sudah berjanji akan menyuruh Xioran menemui Lu Zhichen. Namun, karena terlalu asyik berbelanja bersama Lin Xiaoran, semuanya benar-benar terlupakan.
"Maafkan aku, Zhichen. Aku benar-benar lupa."
Yuxin memasang wajah memelas, lalu tiba-tiba mendorong pelan tubuh Lin Xiaoran ke arah Lu Zhichen.
"Sebagai gantinya... aku membiarkan kau mengobrol dengan Lin Xiaoran."
Selesai berkata begitu, Shen Yuxin langsung berbalik dan berlari memasuki mansion secepat mungkin. Lu Zhichen hanya bisa memandang punggung istrinya yang kabur bak seekor kelinci.
Sementara itu, Lin Xiaoran langsung tertawa terbahak-bahak. "Sepertinya istrimu benar-benar salah paham tentang hubungan kita."
Lu Zhichen menoleh perlahan. Tatapannya kembali berubah dingin. "Itu urusanku." Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, "Dan kau... jangan terus-menerus mendominasi istriku."
Tanpa menunggu jawaban, Lu Zhichen segera melangkah masuk ke dalam mansion untuk mengejar Shen Yuxin. Sebelum pergi, ia sempat memberi isyarat kepada Han Mo.
Han Mo langsung memahami maksud tuannya. Ia melangkah mendekati Lin Xiaoran sambil tersenyum sopan. "Maaf, Nona. Hari sudah malam. Sebaiknya Anda segera pulang."
Mata Lin Xiaoran langsung membelalak. "Kau mengusirku?"
Ia mendengus kesal sambil menatap punggung Lu Zhichen yang semakin menjauh.
"Lihat saja! Suatu hari nanti aku benar-benar akan merebut istrimu!" Teriaknya lantang.
Namun, Lu Zhichen sama sekali tidak menoleh. Langkahnya tetap tenang, seolah ancaman Lin Xiaoran tidak lebih dari sekadar angin lalu.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁