NovelToon NovelToon
Cinta Tak Terungkap

Cinta Tak Terungkap

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:333.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: an-nashihah

Namaku Hilya Nafisah. Lahir dari keluarga sederhana dipelosok desa. Mendapat jodoh diperantauan dengan orang kaya raya. Hidup berkecukupan, semua yang ku inginkan terpenuhi.

Namun hidup tidak selalu melulu tentang uang. Aku mendapat suami yang kaya harta namun miskin hati. Selalu cuek dan dingin serta selalu mengabaikan ku. Akankah aku kuat untuk terus bertahan? Memilih cinta atau harta?

dimanakah aku akan menemukan kunci bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon an-nashihah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sholat Berjamaah

"Mas, bangun udah adzan subuh." Panggilku saat masuk kamar dan melihat suami masih tenang dalam tidurnya.

Haruskah aku melakukan sesuatu untuk merubah keadaan? Haruskah aku berubah menjadi sedikit agresif? Ya. Aku harus melakukan tindakan jika tak ingin kehilangan. Mau memulai hubungan baru lagipun kalo tak pandai menjalin komunikasi yang baik juga tak akan berhasil bukan? Lagian tak ada hal negatif dari mas Faris yang tak aku sukai. Hanya cueknya aja yang menggangguku.

"Hemm .."Gumamnya sambil menggeliat pelan. Menggerakkan badan sesaat kemudian kembali tenang dalam dengkuran.

"Mas sudah adzan subuh."Kataku mengingatkan. Ku goyang pelan bahunya.

"Ya." Langsung terbangun dan duduk dengan rambut berantakan dan mata masih malas terbuka.

"Kamu nggk subuh dimasjid?" Tanyanya saat melihatku belum bersiap untuk berangkat. Karna aku memang lagi malas kemasjid.

"Nggk. Mas tu cepat bersiap berangkat, nanti keburu iqomah." Kataku mengingatkan. Dan duduk ditepi tempat tidur untuk mbereskannya.

"Ya udah ayok wudhu! Meskipun nggk sholat dimasjid tapi nggk baik mengulur waktu sholat, harus tetap disegerakan." Ucapnya sambil bangkit dan berjalan keluar untuk kekamar mandi. Aku mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba dia berhenti mendadak, yang membuatku menabrak punggungnya.

"Kalo jalan jangan menunduk. Sakitkan?" Mas Faris membalikkan badannya dan mengusap keningku pelan.Kenapa jadi baik sih mas Faris? Jangan-jangan cuma cari muka didepan keluargaku. Ah, belum apa-apa sudah su'udzon aja aku.

"Mas tu yang salah. Berhenti mendadak." Protesku tak trima disalahkan, dan menepis tangannya dari keningku. Sungguh dadaku bergemuruh karna jantung yang berdetak diatas normal, dan aku takut tak bisa mengkondisikan hati agar tak berharap terlalu banyak.

"Kamar mandinya tertutup, mungkin masih ada orang didalam." Alasannya kemudian duduk dikursi dapur. Aku melihat kamar mandi yang memang masih tertutup dan ikut duduk dikursi samping mas Faris.

"Ya udah wudhu dikran tu." Kataku sambil menunjuk kran air didepan kamar mandi.

"Mau buang air disitu juga?" tanyanya dengan mengangkat alis sebelah.

"Ya udah berangkat kemasjid aja. Wudhu disana juga bisa, ada kamar mandi juga. Daripada telat."Kataku mengingatkan. Atau bahkan memang sudah iqomah kali lah ya.

"Eh ,nak Faris sudah datang?" Sapa ibu yang baru datang. Kayaknya ibu nggk sholat subuh dimasjid juga ini.

"Iya,Bu. Semalam datangnya, Ibu dan Bapak sudah tidur." Jawab mas Faris sambil menjabat tangan ibu dan mencium punggung tangannya.

"Mau makan? Ibu buat bakso lo." Tawar ibu sambil menghidupkan kompor siap menghangatkan sayur.Padahal seingatku dari semalam tak ada yang makan bakso, emang sudah disediakan kuahnya?

"Masih pagi, Bu. Subuh aja belum." Aku yang jawab.Masih subuh sudah ditawari sarapan, mentang-mentang biasanya makan sahur.

Bahagia banget nampaknya ibu melihat mas Faris. Malah lebih bahagia daripada saat menyambutku, saat aku datang yang ditanya langsung keadaan rumah tangga. Kenapa ibu nggk tanya begitu juga sama mas Faris?

"Ya biasanya jam segini sudah selesai makan kan? Siapa tahu sudah lapar .Iya kan,Nak?"Kata ibu beralih melihat mas Faris. Aku juga biasanya jam segini sudah selesai makan sahur, tapi nggk juga ditawari makan.

"Sebenarnya sudah lapar juga sih, Bu. Kemaren cuma buka puasa bakso dijalan. Sampai sini sudah tidur semua ." Jawab mas Faris menyetujui tawaran ibu. Kalo dari semalam masih lapar kenapa nggk makan?Kenapa suamiku malah cari muka gini sih?

"Kamu nggk tahu juga suamimu datang?" Tanya ibu memelototi ku. kenapa aku sih yang terpojokkan.

"Tau Bu. Tu ayuk sudah keluar dari kamar mandi. Sana gantian." Kataku mengalihkan pembahasan, malas disalahkan ibu karna tak menyediakan makan suami.

"Kenapa harus gantian?" Aku melongo mendengar pertanyaan mas Faris.

"Aneh." Gumamku pelan kemudian ku masuk kamar mandi lebih dulu, kututup pintu agak keras. Tak berapa lama aku telah selesai dengan urusan kamar mandi, ku lihat mas Faris berdiri menunggu depan kamar mandi. Kasian deh harus antri, biasanya selalu punya kamar mandi pribadi.

"Sudah?" Tanyanya saat melihatku keluar. Basa-basi yang bener-bener basi lah.

Aku hanya berjalan melewatinya tanpa menjawab pertanyaan yang memang tak butuh jawaban. Masuk kamar dan bersiap untuk sholat subuh, ku dengar salam bang Siddiq dari luar yang menandakan kalo dia sudah pulang dari masjid dan subuh berjamaah telah selesai.

Setelah memakai mukenah dan menggelar sajadah, mas Faris datang.

"Sajadah untukku mana? Kok nggk disiapkan?" Ini pertanda baik atau pertanda buruk sih? Aku memang bukan orang yang perhatian dengan mempersiapkan semua yang dilakukan pasangan.

Tanpa menjawab aku ambil sajadah lain didalam lemari dan menggelar didepan sajadahku.

Setelah sekian lama hidup bersama baru kali ini aku merasakan sholat berjamaah berdua dengan suami. Biasanya mas Faris lebih sering sholat jama'ah dimasjid, dan berangkat ke masjid pun tak pernah bareng. Selalu datang sendiri-sendiri.

Aku nggk jadi fokus dalam sholat. Malah asik menikmati suara mas Faris yang membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Suara bacaan ini beberapa kali aku mendengarnya saat berjamaah dimasjid waktu masih dirumah sana. Apakah memang yang jadi imam mas Faris atau beda orang dan hanya mirip saja? Ah pikiranku malah melalang kemana-mana, meskipun gerakan sholat masih tetap disini mengikuti imam.

"Mas pernah jadi imam dimasjid ya?" Tanyaku setelah salam.

"Setelah sholat itu dzikir dulu."Jawabnya menggurui. Aku jadi malas, hanya tetap duduk cemberut tanpa mengucap dzikir. "Emang sudah cocok ya jadi imam masjid?" Ternyata suamiku narsis juga ya? Dia membalikkan badan untuk melihatku. Aku hanya mendengus malas menjawab.

"Hemm .... Lumayan merdukan suaraku?" Tanyanya lagi saat melihatku hanya diam melihatnya tanpa menjawab.

"Bagusnya sih nggk. Cuma kayak pernah beberapa kali dengar suara bacaan mas aja." Jawabku tak mengakui kalo memang suara dan bacaan Qur'an nya bagus. Aku mengakui sih, tapi tak mau jujur takut malah jadi kepedean nanti.

"Mas mau kesini kok nggk ngabari aku sih? Ditelpon selalu tak diangkat."Gerutuku, meluapkan dongkol yang dari kemaren bercokol dihati.

"Kenapa harus ngabari? Kamu aja pulang kampung juga nggk ngabari suami." Ketusnya. Pandai sekali dia membalikkan pertanyaan.

"Kan mas duluan yang pulang nggk bilang. Aku Lo langsung nyusul pulang, tapi masnya udah jalan lagi sama yang lain." Siapa coba yang mulai? Tak ingin dong disalahkan.

Dia hanya duduk santai bersila diatas sajadah yang belum dilipat. Melihatku dengan intens. Aku yang dilihat hanya bisa memalingkan wajah tersipu.

"Aku ada urusan mendadak kemaren. Jadi harus diselesaikan sebelum cuti bersama. Setelah dari sana memang ada rencana untuk mudik kesini." Jawabnya dengan mata yang masih setia melihatku. " Apakah kamu marah saat aku tinggal pulang kerumah? Hingga membalas mudik tanpa izin?" Tanyanya yang memaksaku untuk melihatnya.

"Menurutmu? "

"Aku minta maaf. Sebelum pulang aku sudah mencoba menelfon, tapi ternyata kamu pergi tak membawa hp.Dan aku kan sudah pesan ke Hamzah kalo ada urusan mendesak.Sorenya aku juga langsung pulang dan kata bibi kamu sudah berangkat duluan,.Aku mau ikut langsung menyusul tapi sudah kehabisan tiket, jadi berangkat paginya dengan menyetir sendiri makanya baru sampai. Selain banyk istirahat juga jalan di beberapa tempat padat ,bahkan macet." Jelasnya tanpa kuminta.

"Aku harap ini awal yang baik." Ucapku berharap.

1
Whatea Sala
Sepertinya lebih takut sama suami dari pada ke tuhan😁
Whatea Sala
Senang banget bertahan dan tersiksa,yang pasti sudah tau ujungnya semua buang2 waktu dan akan sia sia,jangan jadi orang bodoh dengan terus bertahan,cobalah sayangi dan hargai diri sendiri.
Wiwin Winarti
waw keren orang Bengkulu Rafflesia Arnoldi, bagus ceritanya, saya suka
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
DearPE
Baper aku thor
DearPE
Udah gak tau mau ngomong apa yang pasti aku sukaaaa bangettt kak author baru sampai sini aja aku udah dibuat kehabisan kata-kata bacanya saking bagusnya
Wasiatik Atik
kasihan hilya
Afni Marlina
asyiik ceritanya semangat Thor
Elisa Damayanti
tamate mosok nggantung....
Agoes Feri SH
bonus chap donk thor
Nurhayati Yesha
ya Allah..sedih bget baca nya.dari SE kian purnama bru ada yg komen
Elisa Damayanti
y Allah kasihan nya si Aidan.... semoga cepat sembuh tuh ummi sm abinya..
Elisa Damayanti
g rampung2 cobaan ne hilya....
Agoes Feri SH
up donk
Agoes Feri SH
lagi othor
Agoes Feri SH
othor up donk
Elisa Damayanti
bang za payah nih....
Agoes Feri SH
othor up donk
Agoes Feri SH
lanjut thor
Agoes Feri SH
lanjut othor sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!