Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 - Bambang Mengamuk
Bambang datang ke klinik saat Ratna sedang menutup pintu.
Langkahnya cepat, wajahnya merah, sarung yang ia pakai untuk salat magrib masih tergulung asal. Bau rokok dan kopi menempel di tubuhnya. Dari jauh, Ratna sudah tahu ia datang bukan untuk bicara baik-baik.
Bu Rini, yang sedang menghitung uang warung, langsung berhenti.
Di depan rumah Pak Mahmud, dua bapak yang sedang bermain catur mengangkat kepala.
Ratna memasukkan kunci klinik ke tas.
"Ada apa?"
Bambang berdiri tepat di depannya.
"Kamu mau pindah ke rumah laki-laki itu?"
Ratna menatapnya. "Aku mau pindah ke rumah sewa."
"Jangan bohong. Satu kampung sudah tahu dia yang menyiapkan."
"Dia menawarkan unit kosong. Aku menyewa dengan kontrak."
"Kontrak?" Bambang tertawa kasar. "Kamu pikir aku bodoh? Laki-laki seperti itu memberi rumah karena kasihan? Karena hormat? Kamu ini perempuan tua, Ratna. Kalau dia tidak mau sesuatu, untuk apa dia repot?"
Bu Rini perlahan keluar dari warung. Pak Mahmud berdiri dari papan catur.
Ratna berkata pelan, "Jaga bicaramu."
"Kenapa? Takut orang dengar?"
"Aku takut kamu mempermalukan dirimu lebih jauh."
Bambang menunjuk wajahnya. "Kamu belum cerai dariku."
"Gugatan sudah masuk."
"Belum putus!"
"Karena belum putus, kamu merasa masih berhak mengatur aku?"
"Aku suamimu!"
Ratna mengangguk. "Secara hukum, sementara. Secara hati, kamu sudah pergi lama."
Bambang tampak seperti ditampar.
Beberapa tetangga mulai mendekat. Ada yang pura-pura membeli rokok. Ada yang berdiri di depan pagar. Anak-anak kecil dipanggil masuk oleh ibunya, tetapi mereka tetap mengintip dari jendela.
Bambang melihat mereka, tetapi bukannya berhenti, ia semakin keras.
"Kamu ini munafik. Menuduh aku selingkuh, sekarang kamu sendiri dekat dengan laki-laki kaya. Baru ditolong sekali sudah mau pindah ke rumahnya."
Ratna menatapnya. "Kamu tahu bedanya?"
"Apa?"
"Aku menggugat cerai dulu sebelum membuka hidupku. Kamu membuka hidupmu dengan Sari saat aku masih memasak untukmu."
Pak Mahmud berdeham pelan. Bu Rini menutup mulutnya.
Bambang kehilangan kendali.
"Jangan sok suci!"
Ia meraih lengan Ratna.
Pegangannya keras.
Ratna meringis, tetapi tidak berteriak.
"Lepaskan."
"Kamu ikut aku pulang."
"Lepaskan, Bang."
"Kamu tidur di rumahku malam ini. Jangan bikin tontonan!"
Ratna mencoba menarik tangannya. Pegangan Bambang makin kuat.
Sebuah suara pria terdengar dari belakang.
"Pak Bambang, lepaskan tangan Bu Ratna."
Semua menoleh.
Arman berdiri di tepi gang.
Mobilnya berhenti beberapa meter di belakang, tetapi ia berjalan sendiri lebih dulu. Ia memakai batik gelap, wajahnya tenang. Di belakangnya, sopir dan seorang pria muda tampak siap bergerak.
Bambang melihatnya, dan kemarahannya menemukan sasaran baru.
"Oh, ini dia. Pahlawan kaya."
Arman tidak membalas sindiran.
"Lepaskan tangan Bu Ratna."
Bambang justru menarik Ratna setengah langkah ke sisinya. "Dia istriku."
Arman menatap tangan Bambang di lengan Ratna.
"Istri bukan barang yang bisa ditarik."
Kalimat itu membuat beberapa tetangga saling pandang.
Bambang tertawa. "Kamu siapa mengajari aku soal istriku?"
"Orang yang melihat seorang perempuan sedang dipaksa."
"Ini urusan rumah tangga."
Ratna berkata, "Pak Arman, tidak apa-apa."
Arman menatapnya. "Bu Ratna, lengan Ibu memerah."
Ratna melihat lengannya. Bekas jari Bambang memang mulai tampak.
Bambang seperti baru sadar, tetapi gengsinya membuat ia tidak melepaskan.
Arman melangkah mendekat. Pria muda di belakangnya ikut maju, tetapi Arman mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti.
"Pak Bambang, saya tidak ingin mempermalukan Anda di depan tetangga."
"Kamu sudah mempermalukan aku sejak datang ke kampung ini."
"Saya datang karena Bu Ratna."
"Dia istriku!"
"Dan dia sudah meminta Anda melepaskan."
Hening beberapa detik.
Ratna menatap Bambang.
"Lepaskan aku."
Kali ini suaranya tidak pelan. Tidak ragu.
Bambang menatap matanya.
Dulu, Ratna akan menunduk. Dulu, Ratna akan berkata nanti saja di dalam. Dulu, Ratna akan memilih agar tetangga tidak melihat.
Hari itu, Ratna berdiri di depan klinik, di depan warung, di depan RT, di depan laki-laki lain, dan meminta dilepaskan.
Bambang akhirnya melepaskan.
Ratna mundur satu langkah.
Arman tidak langsung mendekat. Ia memberi ruang, seolah memahami bahwa Ratna tidak perlu diselamatkan dengan cara yang membuatnya terlihat lemah.
Bambang menunjuk Arman. "Kamu pikir karena punya uang, kamu bisa mengambil istri orang?"
Arman menjawab tenang, "Tidak. Saya pikir karena Bu Ratna manusia dewasa, dia bisa memilih sendiri."
"Dia tidak akan memilih kamu."
"Itu urusan Bu Ratna."
Bambang makin marah. "Kamu tahu dia umur berapa? Enam puluh. Punya anak, punya cucu, sedang cerai. Apa yang kamu cari?"
Arman menatap Ratna sebentar, lalu kembali pada Bambang.
"Ketenangan."
Bambang tertegun.
Arman melanjutkan, "Dan keberanian. Dua hal yang jarang saya temukan pada orang-orang yang jauh lebih muda."
Bu Rini berbisik terlalu keras, "Ya Allah..."
Ratna merasa wajahnya panas.
Bambang melihat reaksi itu dan semakin tidak tahan.
"Ratna, kamu dengar? Dia pintar bicara. Laki-laki seperti ini cuma main-main. Setelah bosan, kamu dibuang. Nanti kamu merangkak pulang, jangan harap aku terima."
Ratna menatap Bambang.
"Aku tidak sedang mencari jalan pulang kepadamu."
Kata-kata itu jatuh seperti batu.
Bambang pucat.
Pak Mahmud akhirnya maju. "Pak Bambang, sudah. Jangan ribut di jalan."
"Ini urusan saya!"
"Kalau sudah di depan umum dan ada pemaksaan, ini bukan cuma urusan Bapak."
Bambang menatap Pak Mahmud dengan marah, tetapi Pak RT kali ini tidak mundur.
Ratna mengambil ponsel.
"Kalau kamu mengamuk lagi, aku telepon Farida dan polisi. Pesan ancaman Sari sudah kusimpan. Bekas tanganmu juga bisa difoto."
Bambang seperti tidak percaya.
"Kamu mau melaporkan aku?"
"Kalau perlu."
"Aku suamimu."
"Maka berhenti bertingkah seperti orang asing yang berbahaya."
Raka datang beberapa menit kemudian dengan motor, mungkin dipanggil Bu Rini atau melihat pesan di grup. Ia turun sebelum motor benar-benar mati.
"Bu!"
Ia melihat lengan Ratna, lalu menatap Bambang.
"Pak, apa yang Bapak lakukan?"
Bambang mundur setengah langkah. Melihat Raka, keberaniannya berubah bentuk menjadi defensif.
"Ibumu mau dibawa laki-laki itu."
Raka melihat Arman, lalu Ratna.
"Bu?"
Ratna berkata, "Tidak ada yang membawaku. Aku yang memilih pindah."
Raka menatap ibunya beberapa detik, lalu mengangguk.
"Kalau begitu aku bantu pindahan."
Bambang seperti dihantam dari arah lain.
"Kamu mendukung ibumu tinggal di rumah laki-laki lain?"
Raka menjawab, "Aku mendukung Ibu keluar dari rumah yang membuatnya sakit."
Arman menatap Raka sekilas, ada penghargaan singkat di matanya.
Ratna menarik napas panjang.
"Pak Arman, maaf. Hari ini tidak baik untuk bicara."
Arman mengangguk. "Saya mengerti."
"Raka, antar Ibu ke klinik dulu."
"Iya, Bu."
Bambang berkata, "Ratna, kalau kamu melangkah pergi sekarang, jangan kembali."
Ratna berhenti.
Ia menoleh.
"Aku sudah pergi sejak hari kamu memilih makam bersama Sari."
Bambang terdiam.
Ratna masuk ke klinik bersama Raka. Arman tetap berdiri di luar sampai pintu tertutup, lalu berbalik pada Pak Mahmud.
"Pak RT, saya mohon bantu pastikan Bu Ratna tidak diganggu malam ini."
Pak Mahmud mengangguk cepat. "Iya, Pak. Tentu."
Bambang melihat itu semua dengan dada naik turun.
Dulu, setiap orang di kampung mengenalnya sebagai suami Bu Dokter. Kepala keluarga. Bapak dari tiga anak. Laki-laki yang meski banyak kurangnya, tetap dihormati karena berada di tempatnya.
Malam itu, di depan tetangga, ia melihat tempatnya bergeser.
Ratna tidak lagi berdiri di belakangnya.
Dan ada laki-laki lain, dengan tenang, berdiri di depan pintu yang dulu ia anggap miliknya.
Di dalam klinik, Raka memotret lengan Ratna sebagai bukti.
Ratna duduk di kursi periksa, menatap bekas merah di kulitnya.
Rasanya perih.
Namun berbeda dengan luka lama, luka ini terlihat.
Dan karena terlihat, tidak ada lagi yang bisa memintanya berpura-pura tidak sakit.
Raka mengirim foto itu kepada Farida malam itu juga.
Farida membalas singkat: Simpan. Jangan terpancing. Kalau ada ancaman lagi, catat waktu dan saksi.
Ratna membaca pesan itu, lalu melihat Raka yang masih duduk di kursi pasien dengan wajah keras.
"Kamu pulanglah. Anisa menunggu."
"Aku tidur di sini."
"Tidak perlu."
"Bu, malam ini jangan keras kepala."
Ratna ingin menolak, tetapi melihat mata anaknya, ia mengalah.
Malam itu Raka tidur di ruang tunggu klinik, di kursi plastik yang disusun memanjang. Ratna tidur di kamar belakang dengan pintu terkunci.
Di luar, kampung akhirnya sepi.
Namun Ratna tahu besok cerita akan menyebar ke mana-mana.
Anehnya, ia tidak takut.
Besok orang akan membicarakan Bambang yang menarik lengannya.
Mereka juga akan membicarakan Arman yang berdiri membelanya.
Untuk sekali ini, Ratna tidak menjadi aib yang disembunyikan.
Ia menjadi saksi utama atas hidupnya sendiri.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan