"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Senin pagi, seperti biasa, klinik ramai. Rata-rata yang datang adalah pasien pengguna BPJS. Klinik Pratama, merupakan salah satu faskes tingkat pertama. Eliana dibantu Linda, sangat sibuk di poli giginya. Selain pasien anak-anak yang datang untuk cabut gigi susu yang sudah goyah, ada juga orang tua yang datang karena gigi berlubang dan lain-lain. Antrean seperti tak ada habisnya, sementara ia hanya punya waktu istirahat 1 jam untuk sholat dan makan.
"Kenapa nangis, gak sakit kok." Eliana tersenyum, membujuk pasien kecil yang datang bersama ibunya untuk cabut gigi. Seorang anak laki-laki berumur 6 tahun. "Duduk disini yuk!" bujuknya.
"Hwaaa!!" Anak laki-laki itu malah makin kencang menangis. Ia menarik-narik baju ibunya ke arah pintu.
"Gak papa kok, gak sakit." Linda ikutan membujuk.
"Gak mau, gak mau." Anak bernama Aldo itu terus menarik baju ibunya.
Linda garuk-garuk kepala. Di luar masih banyak yang antri, anak itu malah tantrum di dalam, bikin kerjaan molor.
"Bu Dokter punya permen yuppi nih." Eliana menunjukkan sebiji yuppi love pink. "Setelah cabut gigi, Dokter kasih ini. Kalau enggak, kamu gak akan bisa makan Yuppi selamanya, karena bakalan sakit giginya."
"Dokter bohong!" teriak anak itu. "Tadi sebelum kesini, aku sudah makan Yuppi, bisa kok."
Wajah Eliana seketika memerah, malu gagal membohongi anak-anak.
Aldo kembali menangis, menarik-narik baju ibunya.
"Ya udah, ayo kita keluar," kata Ibunya. "Kita ganti masuk ke ruang sebelah, ruang untuk sunat."
"Enggak! Gak mau!" Aldo melepas baju ibunya, menangis gulung-gulung dilantai.
Eliana mengusap perut, nyebut dalam hati. Semoga nanti kalau punya anak, gak seperti itu.
"Ayo, ayo keluar dari ini." Si ibu menarik tangan Aldo.
"Gak, gak mau sunat!"
"Ayo!" bentak ibunya.
Aldo lari, bukan ke arah pintu, melainkan naik ke kursi untuk cabut gigi. "Dokter, cepat cabut gigiku!"
Eliana garuk-garuk kepala. Ia segera bersiap-siap untuk melakukan tindakan. Saat ia periksa, gigi tersebut sudah sangat goyang, disentuh dikit juga sudah langsung lepas.
"Udah." Eliana menunjukkan gigi yang sudah lepas.
Aldo melongo, ia tak merasa sakit sedikitpun.
"Benarkan kata Bu Dokter, tidak sakit."
Aldo tersenyum, lalu menengadah telapak tangan. "Mana yuppi nya?"
Ibunda Aldo langsung tersenyum kecut, malu. "Maaf ya Bu dokter."
Akhirnya pasien terakhir selesai juga. Poli gigi buka mulai jam 8 hingga pukul 2, tapi kadang karena antrean, bisa sampai jam 3.
Eliana melakukan peregangan ringan di kursi kerjanya, hari ini sangat melelahkan. Ia harus menelepon Kenan, minta dijemput plus dibawain makanan. Jam pulangnya masih kurang 1 setengah jam lagi, masih ada beberapa hal yang harus ia kerjakan.
"Bu." Linda tiba-tiba mendekat, dengan ragu-ragu, menunjukkan layar ponselnya. "Ibu udah tahu ini belum?"
Eliana menyipitkan mata, menatap lebih fokus pada layar ponsel Linda.
"Ini Pak Arya kan?"
Eliana membeku, itu memang Arya. Foto Arya bersama seorang gadis. Keduanya memakai pakaian yang serasi, batik dan kebaya. Backdrop di belakang, tertulis jelas. Happy engagement Nabila dan Arya.
"Emang Pak Arya sudah putus ya Bu, dengan Mbak Ilona?" Linda bertanya seperti itu karena masih melihat mereka bersama di pernikahan Eliana.
"ARYA!!!" Kedua telapak tangan Eliana mengepal kuat, nafasnya naik turun. Ia mengambil kasar HP di tangan Linda, lalu pergi begitu saja. Kemarin malam ia berkunjung ke rumah ibunya. Ia sedikit mengobrol dengan Ilona, katanya Arya pulang kampung. Ternyata!
"Eh Bu, HP saya." Linda segera mengejar Eliana.
Dengan langkah lebar dan mata menyala-nyala, Eliana menyusuri lorong, mencari Arya. Tujuan utamanya ruang IGD, karena hampir selalu laki-laki itu ada disana.
Eliana membuka pintu IGD dengan kasar. Mata merah. Napas ngos-ngosan. Tangan gemetar megang HP. Di tatapnya Arya yang duduk di kursi perawat, menatap laptop.
Arya dan seorang lagi nakes yang ada disana, langsung menengok.
"Dokter Elia," panggil Suster Ana, yang ada di IGD bersama Arya.
Eliana tidak menjawab. Matanya nyalang menatap Arya. IGD kosong, karena itu memang hanya klinik kecil, yang tak setiap hari ada orang masuk IGD. Rata-rata pasien kesini untuk periksa sakit ringan atau minta rujukan.
Di luar sudah lumayan sepi, semua poli sudah tutup. Malam nanti, baru ada beberapa poli yang kembali buka. Kalaupun ada yang yang berlalu lalang, hanya nakes dan keluarga dari pasien rawat inap.
Arya yang duduk di kursi perawat, dengan scrub putihnya, mulai berdiri. Tatapan Eliana membuat perasaannya tidak enak.
Eliana masuk, jalan cepet. HP yang menunjukkan foto pertunangan, diangkat ke depan muka Arya.
"JELASIN INI APA?!" teriaknya. Suaranya pecah, menggema di ruang IGD sampai nakes yang ada di meja pendaftaran, bisa mendengar.
Wajah Arya pucat pasi. Gugup. "El, dengerin aku dulu—"
PLAKK!!!
Tamparan pertama mendarat di pipi Arya. Kenceng. Membuang Ana dan Linda yang juga ada disana, terjingkat kaget dengan mulut menganga lebar.
"Hampir dua tahun kamu pacaran dengan Kakakku, lalu ini apa hah?"
Brakk
Eliana mendorong bahu Arya hingga mundur menabrak meja.
"Bisa-bisanya kamu malah tunangan dengan perempuan lain sementara kakaknya menunggu dilamar!"
"Aku mohon jangan seperti ini Dokter Eliana, ini tempat umum?" Wajah Arya merah padam.
Linda mendekat, berusaha menarik Eliana agar tidak semakin membuat keributan. "Bu, Bu, udah, Bu."
Eliana yang emosi, mendorong Linda yang memegangi lengannya agar menjauh.
"Kurang ajar kamu Arya! Bajingan!" Eliana mengamuk, dia mengumpat, menjambak, mencakar.
Arya nggak ngelawan, cuma menutup mata, takut kena kuku Eliana. Dia pasrah saat rambutnya dijambak, mukanya dicakar, bahkan punggungnya berkali-kali dibenturkan ke dinding. "Cukup El, ini tempat umum. Tolong jaga sikap kamu." Ia tak peduli dengan perih di kulit kepala dan wajah, ia lebih peduli dengan nama baiknya. "Tolong hentikan, kita bicara baik-baik."
"Baik-baik!" Eliana makin murka, semua hewan keluar dari mulutnya, mengumpat Arya. Kalau memang ingin baik-baik, kenapa dia tunangan di belakang, saat hubungan dengan Kakaknya masih belum selesai.
Ana dan Linda berusaha menarik Eliana karena beberapa orang mulai menonton. Semua yang ada disana syok, pasalnya Eliana yang biasanya tutur katanya lembut dan penuh wibawa, hari ini berubah seperti sumala. Jangankan tutur kata lembut, teriakannya bahkan terdengar sampai parkiran.
"Apa salah kakakku sama kamu hah? Apa salah dia sampai kamu tega ngelakuin ini sama dia?" teriak Eliana yang kedua tangannya dipegang satpam. "Kamu itu sampah Arya, kamu bajingan. Kamu memang tidak pantas mendapatkan kakakku!" Kakinya berusaha menendang Arya. "Kamu itu pengecut Arya. Kalau kamu memang laki-laki, bukan begini caranya. KAMU BANCI!"
Eliana di tarik keluar oleh dua orang satpam.
Linda yang hendak keluar, mendengar ponselnya berbunyi. Benda itu, rupanya diletakkan Eliana di atas meja perawat. "Untung bunyi, kalau enggak, bakalan lupa. Bagaimana kalau raib." Ia mengambil ponsel yang ada di depan Arya tersebut. Ada panggilan masuk dari Kenan.
"Iya, Pak." Ujar Linda setelah keluar dari IGD. Eliana sudah tidak ada, entah dibawa kemana oleh satpam.
"Ponsel istri saya kenapa tidak bisa dihubungi? Apa dia sudah pulang? Atau masih sibuk?" Kenan ingin menanyakan apakah Eliana butuh dijemput. "Tolong tanyakan, dia mau dijemput jam berapa?"
"Mending Pak Kenan kesini sekarang deh, Bu Eliana kerasukan."
Kenan yang ada di kafe bersama Ilham dan Elang, langsung syok.