NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:427k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Memang Tidak Tahu!

Pukul empat sore, pelayanan kesehatan akhirnya selesai. Berbeda dengan rute berangkat yang penuh drama, perjalanan pulang ke pos komando terasa jauh lebih santai karena Gavin memilih jalur memutar yang sedikit lebih jauh namun memiliki kontur tanah yang lebih padat dan aman.

​Sesampainya di pos, Hazel langsung menuju barak wanita, tubuhnya terasa lengket oleh keringat dan debu. Namun, saat ia hendak mengambil handuknya di bawah ranjang, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda asing di atas nakas kecilnya.

​Sebuah salep khusus luka bakar dan anti-inflamasi kulit, diletakkan di samping botol air mineralnya. Di bawah tub salep itu, ada secarik kertas kecil tanpa nama dan ditulis dengan tulisan tangan.

*​Gunakan ini untuk tumit dan telapak tanganmu. Jangan malas membersihkan luka.

​Hazel terpaku, ia mengambil kertas itu dan jemarinya bergetar hebat. Ia sangat mengenali jenis tulisan tangan ini, ini adalah tulisan tangan Gavin. Tulisan tangan pria yang dulu sering menuliskan puisi atau kata-kata semangat untuk Hazel, tulisan tangan yang tidak pernah berubah bentuknya setelah belasan tahun berlalu.

​Rasa hangat yang aneh mendadak menjalar di dalam dada Hazel, mengikis sedikit rasa sesak yang sempat membeku sejak kejadian di kantin kemarin, Gavin ternyata memperhatikannya. Di balik topeng dingingnya yang menyeramkan, pria itu tetaplah Gavin yang sama, pria yang selalu peduli dengan caranya yang tersembunyi.

​"Dokter Hazel, dicari sama Dokter Tyas di depan barak medis," panggil Suster Rara yang baru saja masuk ke barak dengan wajah segar habis mandi.

​Hazel buru-buru menyembunyikan kertas dan salep itu ke dalam saku celananya, "I-iya, Suster. Saya ke sana sekarang," jawab Hazel.

​Di depan barak medis, Dokter Tyas tampak sedang berdiri gelisah sembari memegang sebuah kertas. Begitu melihat Hazel mendekat, wajah Dokter Tyas langsung berubah cemberut.

​"Ada apa, Dok?" tanya Hazel.

​"Dokter Hazel, Dokter tahu nggak? Jadwal piket malam di barak medis darurat malam ini tiba-tiba diubah sama pihak komando," ucap Dokter Tyas dengan nada kesal.

​"Diubah bagaimana?" tanya Hazel.

​"Harusnya malam ini jadwal saya yang berjaga dengan Dokter Edo, tapi barusan Sersan Baim mengantarkan memo kalau malam ini Dokter Hazel yang harus berjaga menggantikan saya, sedangkan saya dipindahkan ke jadwal besok pagi. Padahal saya sengaja mau piket malam supaya bisa... ah, sudahlah," keluh Dokter Tyas.

​Dokter Tyas tidak melanjutkan kalimatnya, namun Hazel tahu arah pembicaraan wanita itu, Dokter Tyas pasti ingin piket malam karena Gavin akan melakukan kontrol ke barak medis.

​"Saya tidak tahu soal perubahan ini, Dok. Tapi kalau memang begitu perintahnya, saya akan bersiap-siap," jawab Hazel tenang.

​"Ya sudah deh. Beruntung banget ya Dokter Hazel," ucap Dokter Tyas sebelum berbalik dengan menghentakkan kakinya kesal.

​Hazel hanya menghela napas panjang, ia tidak tahu apakah perubahan jadwal ini adalah murni urusan operasional atau kelakuan Gavin yang sengaja ingin mengerjainya dengan memberikan jam kerja ekstra. Namun, satu hal yang pasti, malam ini ia harus bersiap menghadapi kesunyian barak medis darurat sendirian.

Malam harinya, pos komando diselimuti oleh kesunyian yang mencekam. Udara dingin dari arah hutan pinus berembus kencang, menggoyang untaian lampu pos yang temaram.

​Hazel duduk di balik meja kayu, ditemani oleh sebuah lampu minyak portabel dan lampu neon kecil yang kedap-kedip. Ia mengenakan jaket kargo tebal miliknya, tangannya memegang secangkir teh hangat yang sudah mulai mendingin. Di sekelilingnya, baris ranjang perawatan tampak kosong.

​Hazel mengeluarkan salep yang ia temukan sore tadi. Dengan perlahan, ia mengoleskan krim dingin itu ke atas telapak tangannya yang terluka dan tumit kakinya yang melepuh. Rasanya sedikit perih di awal, namun detik berikutnya rasa sejuk langsung menenangkan kulitnya yang meradang.

​"Salepnya bekerja dengan baik, kan?" ​Suara bariton yang berat tiba-tiba memecah keheningan malam, membuat Hazel tersentak kaget hingga salep di tangannya hampir saja terjatuh ke lantai.

​Hazel mendongak cepat. Di ambang pintu, Hazel melihat Gavin yang berdiri di sana. Pria itu sudah melepas seragamnya, kini hanya mengenakan kaus berwarna hitam yang mencetak jelas lekuk dada dan lengan kekarnya. Di tangannya, ia memegang sebuah senter besar.

​"Kapten Gavin," gumam Hazel, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Gavin melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya untuk menghalau angin malam yang menusuk. Langkah kakinya sangat pelan, tidak seberisik seperti sebelumnya. Ia berjalan mendekati meja kerja Hazel lalu menarik sebuah kursi kayu di seberang Hazel dan mendudukinya.

​"Kenapa kamu tidak pulang, Hazel? Di sini terlalu keras untuk perempuan sepertimu," ucap Gavin, matanya menatap tajam ke arah plester di tangan Hazel. Nadanya tidak sekasar kemarin, namun tetap terasa dingin.

​Hazel meletakkan salepnya dan menegakkan punggungnya, "Sudah saya katakan kemarin, Kapten. Saya berada di sini untuk bertugas, mengeluh tidak akan mengubah kenyataan kalau saya harus menyelesaikan enam bulan ke depan," jawab Hazel.

​Gavin tertawa hambar, tawa yang sarat akan kepedihan masa lalu. "Bertugas? Aku tahu siapa kamu... dan kamu bukan orang yang akan meluangkan waktu untuk berada di tempat kotor seperti ini, hidupmu terlalu nyaman bersama Ibumu. Mungkin kamu disini hanya untuk meningkatkan status sosial keluargamu," tuduh Gavin.

​Perkataan Gavin mampu menusuk tepat di ulu hati Hazel, ia mengepalkan tangannya di bawah meja. "Kamu boleh membenciku, Gavin. Kamu boleh menghinaku atas apa yang terjadi empat belas tahun lalu, tapi tolong jangan sangkut pautkan dengan profesiku. Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku selama ini," balas Hazel

​"Aku memang tidak tahu!" gertak Gavin tiba-tiba, suaranya meninggi dan membuat suasana di dalam ruangan tersebut seketika terasa semakin sempit.

​Gavin condong ke depan, jarak wajahnya kini hanya terpisahkan oleh meja kayu. Tatapan mata elangnya yang biasanya mati rasa kini memancarkan kilat amarah dan luka yang terpendam selama belasan tahun.

Gavin mencengkeram tepi meja kayu itu hingga urat-urat di lengan kekarnya menegang, matanya yang biasa sedingin es, kini menyala oleh emosi yang telah ia kubur dalam-dalam selama belasan tahun di bawah tanah barak militer.

​"Aku memang tidak tahu apa-apa tentang hidupmu yang begitu mewah, Hazel! Tapi aku tahu persis rasanya ditinggalkan seperti orang bodoh!" desis Gavin, suaranya bergetar menahan amarah yang teramat sangat.

"Maaf, a-aku salah," ucap Hazel.

"Kamu tidak perlu minta maaf, karena ini semua juga salahku. Dari awal aku sudah tahu kalau hubungan kita tidak akan bisa berjalan mulus, keluargamu terlalu berkuasa. Tapi, bodohnya aku masih terus berjuang dan yakin akan ada kesempatan untuk merubahnya, sayangnya aku justru ditinggalkan," ucap Gavin.

.

.

.

Bersambung.....

1
Naufal hanifah
👍👍👍
Nurwana
hazel... kau itu terlalu bego, sudah tau ibumu kejam, tidak mau kau punya inisiatif sendiri, pintar dikit kenapa,punya uangkan, gunakan uangmu untuk merekrut orang orang yang jago bela diri untuk menjagamu dan cari orang yang bertalenta dibadangnya, misal jago IT. kau juga belajar bela diri diam diam. jadi kalau memiliki orang orang tersebut gampang aja untuk kabur dan berdikari. masa selama 15 tahun kau hanya jadi diam ditempat Tanpa usaha.
Evy
Sakitnya yang luar biasa pas kontraksi datang.. tapi ada rasa lega pas bayinya sudah keluar...
Evy
Awal tugas bukannya hanya 6 bulan saja.kok sekarang bisa jadi 2 thn..
Evy
Kepo aja nih Suster..
Evy
2 th lagi usia Bu Dokter sudah 33thn dong...gak papa deh .demi Pak Kapten ...
Evy
Keras banget Ibunya Ya..apa Ibu kandung??? Suami saja tidak berkutik dibuatnya...semua bisa tenang kalo Ibunya itu sudah terkena stroke...ha ...ha...canda aja ya ...
Evy
Pak Jaksa ini sombong dengan jabatan nya... walaupun mereka jadi menikah gak bakalan cocok.
Senja Malam
demi kebahagiaan anak laki-laki nya.. keren bu anggita
⋆.˚Khaira🦋
sukka bgt sama ceritanya.. ada tegangnya ada sedihnya, ada senengnya , ada senyum² sendiri juga... aaah sukkaaa laah pokoknya di setiap bab nya... sukses selalu yaa thor 🤗❤️❤️❤️
⋆.˚Khaira🦋
happy ending 💐
⋆.˚Khaira🦋
yeyyyy... congrated akhirnyaaaa kawiiiiiinnn 💐
⋆.˚Khaira🦋
hahaha... di buat mingkem mama vivian... mamam tuh, makanya jd ortu jgn egois😄
⋆.˚Khaira🦋
bentar..bentar...gimana?? katanya di awal bilang bulan thor, kok jd 2 thn..klu 2 thn berrti dah gak pake nunggu gavin lagi donk... mereka sama² udah kelar masa tugasnya🤔
⋆.˚Khaira🦋
cieeee... gercep yee pak komandan 🤭
tenang...tenang... pasti di acc kok sama emaknya hazel, wong tujuan hazel di kirim ke perbatasan kan emang buat di jodohin sama kamuuu pak komandan 😄
⋆.˚Khaira🦋
"genggam lengan ku sayang, dekap lah aku, peluk diriku" 🎤🎶
uhuuuyyy 🤭😄
⋆.˚Khaira🦋
masih tetep usaha yaa komandan gavin biar bu dokter gak salah paham 🤭😆
⋆.˚Khaira🦋
aku ikutan sediiiihhh iiih gavin... kasian hazel tauuu 🥲💔
⋆.˚Khaira🦋
hati aku ikutan periiiihhh iiih 🥲
⋆.˚Khaira🦋
hazel sini menepi sebentar biar aku peluuuukk kamuu 🤗🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!