Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 : Bersama Dokter Arga
Menjelang sore...
Aktivitas di Pabrik Roti Juragan Warso akhirnya selesai. Para karyawan mulai membersihkan peralatan, sementara sebagian lainnya bersiap pulang.
Winarsih melepas celemeknya, lalu melipatnya dengan rapi sebelum menyimpannya di loker. "Alhamdulillah... selesai juga," gumamnya pelan.
Di halaman pabrik, Rudi sudah mengeluarkan motor yang biasa dipakai untuk mengantar Winarsih. "Ayo, Mbak. Kita berangkat."
"Iya, Mas."
Winarsih mengenakan helm, lalu duduk di belakang dengan posisi yang tetap menjaga jarak.
Brumm...
Motor melaju meninggalkan halaman pabrik. Langit mulai berubah jingga. Embusan angin sore terasa sejuk menemani perjalanan mereka.
Namun, baru sekitar lima menit meninggalkan pabrik...
Brebet... brebet...
Mesin motor tiba-tiba tersendat.
"Lho, ini kenapa?" Rudi mengernyit.
Mesin motor mati begitu saja.
Rudi segera menepikan motornya ke pinggir jalan. "Haduh... kenapa mogok sih?" keluhnya sambil mencoba menyalakan kembali mesin.
Starter ditekan berkali-kali.
Cek... cek... cek...
Tetap tidak menyala.
Winarsih turun dari motor. "Kenapa, Mas?"
"Nggak tahu, Mbak. Padahal tadi masih normal."
Rudi kembali mencoba menghidupkan mesin. Namun hasilnya tetap sama, ia menggaruk kepalanya dengan wajah bingung.
"Sepertinya harus dibawa ke bengkel."
Winarsih menatap jalan di depan. "Ya sudah, Mas. Motornya saya bantu dorong ke bengkel."
Rudi langsung menggeleng. "Jangan, Mbak."
"Lho, kenapa?"
"Nanti saya saja yang bawa ke bengkel. Untungnya kita belum terlalu jauh dari pabrik."
"Oh gitu, ya udah saya ikut."
"Jangan Mbak, Mbak tunggu di sini saja sebentar."
Winarsih kembali menggeleng pelan. "Nggak usah, Mas."
"Kenapa?"
"Saya jalan kaki saja, kontrakan saya juga tidak terlalu jauh."
Rudi tampak tidak setuju. "Jangan begitu, Mbak. Ini sudah mau magrib."
"Nggak apa-apa."
"Bahaya kalau Mbak jalan sendirian."
Winarsih tersenyum tipis. "Saya baik-baik saja, Mas."
"Tetap saja saya nggak enak sama Juragan."
Rudi tampak serba salah. Di satu sisi ia harus membawa motor ke bengkel, tetapi di sisi lain ia juga tidak mungkin membiarkan Winarsih pulang sendirian.
"Aduh... gimana ini?" gumamnya pelan.
Tepat saat Rudi sedang kebingungan. Terdengar suara mobil mendekat dari arah belakang.
Brumm...
Sebuah mobil abu-abu metalik melambat, lalu berhenti tepat di samping mereka. Pintu kaca pengemudi perlahan terbuka.
"Mas Rudi?"
Rudi spontan menoleh. "Lho... Dokter Arga?"
Arga mematikan mesin mobil, lalu turun menghampiri mereka. "Ada apa? Kok berhenti di sini?"
Rudi tersenyum kecut. "Motornya mogok, Dok."
Arga melihat motor yang masih terparkir di pinggir jalan. "Sudah dicoba dihidupkan?"
"Sudah berkali-kali, tapi tetap nggak mau nyala."
Arga mengangguk pelan. "Kalau begitu, bawa saja ke bengkel."
"Itu dia masalahnya, Dok." Rudi menghela napas. "Saya bingung. Mau antar Mbak Winarsih dulu atau dorong motor ke bengkel."
Arga menoleh ke arah Winarsih. Gadis itu hanya berdiri sambil menggenggam tas kainnya, tampak sungkan.
"Kalau begitu..." ucap Arga tenang. "Kamu antar motornya ke bengkel."
Rudi mengangguk. "Terus Mbak Winarsih bagaimana, Dok?"
"Saya yang mengantarnya pulang."
Mata Winarsih langsung membulat. "Eh... nggak usah, Dok. Saya bisa jalan kaki."
Arga tersenyum tipis. "Kontrakan Bu Ratna masih cukup jauh dari sini."
"Saya nggak enak..."
"Tidak apa-apa."
"Tapi..."
"Kita kan memang searah."
Winarsih masih tampak ragu.
Arga lalu berkata dengan nada tenang namun meyakinkan. "Anggap saja saya membantu, seperti saat saya membantu pasien yang membutuhkan. Tidak perlu merasa sungkan."
Rudi langsung mengangguk lega. "Kalau begitu saya tenang, Dok."
Winarsih masih menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak. "Masuklah," kata Arga lembut. "Ini sudah hampir magrib, tidak baik kalau kita masih ada di jalan."
Melihat ketulusan di wajah Arga, Winarsih akhirnya mengangguk pelan. "Baik... Dok. Terima kasih."
Arga membukakan pintu penumpang untuknya. Winarsih menundukkan kepala penuh rasa sungkan sebelum masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Rudi mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah... untung ada Dokter Arga."
Tanpa seorang pun dari mereka sadari, dari seberang jalan, sepasang mata kembali memperhatikan kejadian itu dari balik kaca mobil yang terparkir di bawah rindangnya pepohonan.
Sosok itu belum terlihat jelas, tetapi tatapannya tertuju lurus ke arah mobil Arga yang perlahan mulai melaju meninggalkan tempat tersebut. Situasi itu berpotensi memunculkan kesalahpahaman baru jika dilihat tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Mobil Dokter Arga perlahan melaju meninggalkan tempat Rudi dan motor yang mogok. Di dalam mobil... suasana terasa hening.
Winarsih memilih duduk di kursi penumpang belakang. Kepalanya terus tertunduk karena merasa sangat malu dan sungkan telah merepotkan Dokter Arga. Sementara itu, Arga tetap fokus mengemudikan mobil dengan tenang.
Beberapa menit berlalu tanpa ada percakapan. Arga akhirnya membuka suara. "Gimana hari ini, Mbak? Capek?"
Winarsih sedikit mengangkat kepalanya. "Iya, Dok... lumayan. Namanya juga kerja."
Arga tersenyum tipis. "Iya Mbak."
Keheningan kembali menyelimuti mobil.
Tak lama kemudian Arga kembali bertanya. "Oh ya, Mbak... luka di tangan sama kaki gimana? Sudah sembuh?"
Winarsih mengangguk pelan. "Alhamdulillah sudah, Dok."
"Masih terasa nyeri?"
"Sudah tidak, Dok."
"Syukurlah."
Winarsih kembali menundukkan kepala. Entah mengapa, setiap kali berbicara dengan dokter muda itu, ia selalu merasa canggung.
Melihat Winarsih kembali diam, Arga tidak memaksanya berbicara. Ia membiarkan suasana tetap tenang sambil terus mengemudikan mobil.
Tak lama kemudian, mobil memasuki gang kecil tempat rumah kontrakan Bu Ratna berada. Beberapa saat kemudian, mobil berhenti tepat di depan halaman kontrakan.
"Chitt..."
Arga mematikan mesin mobil. "Sudah sampai, Mbak."
Winarsih segera membuka pintu mobil lalu turun dengan hati-hati. Ia kemudian membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda hormat.
"Terima kasih banyak ya, Dok. Maaf sudah merepotkan."
Arga tersenyum hangat. "Tidak apa-apa, Mbak. Kebetulan jalan kita memang searah."
Winarsih mengangguk pelan. "Sekali lagi terima kasih, Dok."
Arga lalu berkata dengan nada lembut. "Lain kali jangan pulang sendirian, ya, Mbak. Apalagi kalau sudah menjelang magrib."
Winarsih kembali mengangguk. "Iya, Dok." Winarsih tersenyum malu. "Kalau begitu saya masuk dulu."
"Silahkan. Hati-hati."
"Iya, Dok."
Winarsih segera berbalik dan melangkah cepat menuju rumah kontrakan Bu Ratna. Wajahnya masih sedikit memerah karena rasa malu.
Arga baru menjalankan mobilnya setelah memastikan Winarsih sudah masuk ke dalam halaman kontrakan dengan selamat.
Brumm...
Mobil itu perlahan meninggalkan gang kecil tersebut, Bu Ratna masih berdiri di balik jendela hingga mobil Dokter Arga benar-benar menghilang di ujung gang.
Ia mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah," bisiknya pelan. "Masih banyak orang baik yang Allah kirim untuk menolong anak itu."
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.
Winarsih masuk sambil melepas sandal. Wajahnya masih tampak sedikit memerah karena rasa sungkan.
"Sudah pulang, Nak?" sapa Bu Ratna lembut.
"Iya, Bu."
Bu Ratna memperhatikan wajah Winarsih sejenak. "Kok pulangnya sama Dokter Arga? Bukannya biasanya diantar Mas Rudi?"
Winarsih segera menjelaskan. "Motor Mas Rudi mogok di tengah jalan, Bu."
"Lho, mogok?"
"Iya. Mas Rudi mau bawa motornya ke bengkel. Tadi kebetulan Dokter Arga lewat, terus beliau menawarkan mengantar saya pulang."
Bu Ratna mengangguk pelan. "Oh... begitu rupanya."
"Iya, Bu. Sebenarnya saya sudah menolak berkali-kali. Tapi Dokter bilang sudah hampir magrib dan tidak baik kalau saya pulang sendirian."
Bu Ratna tersenyum hangat. "Benar itu yang di katakan Dokter Arga."
Winarsih menundukkan kepala. "Saya jadi tidak enak, Bu. Rasanya dari kemarin selalu merepotkan orang."
Bu Ratna menggeleng pelan. "Nak, jangan selalu berpikir seperti itu."
"Tapi..."
"Suatu hari nanti kalau kamu sudah mampu, gantilah kebaikan mereka dengan kebaikan yang sama kepada orang lain."
Winarsih tersenyum kecil. "Iya, Bu."
"Begitulah cara Allah mengajarkan manusia untuk saling menolong."
Mata Winarsih kembali berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu."
"Sudah, sekarang cuci tangan. Ibu baru selesai masak."
"Iya."