Renata, seorang istri yang sudah berumah tangga lima tahun lamanya bersama sang kekasih yang di pacarinya sedari dulu.
Dani, sang suami yang sangat mencintai Renata sekaligus sebagai orang yang manjadi mandat dari ayah mertua untuk selalu menjaga Renata di akhir hayatnya.
Namun sayangnya, sang Suami memiliki kelemahan yang sering membuat sang istri menangis karena kenormalannya sebagai seorang wanita muda yang bergairah.
Bermacam cara pun di tempuh Renata bersama sang suami agar bisa menyelesaikan masalah tersebut, namun sayang, hasilnya sama saja. Para ahli dalam bidangnya tidak bisa mengobati kelemahan yang di miliki Dani.
Lalu bagaimana Renata dan Dani menangani masalah ini ??
__________
Ditunggu kritik dan sarannya..
Tolong gunakan bahasa yang baik saat memberi kritik dan sarannya ya..
Makasih..
Selamat membaca 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idhan Kusmana The'a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Betapa terkejutnya Elvis saat mendengar kalimat dengan nada bicara yang Dani ucapkan padanya.
"Ia Pi, ini aku, Elvis" sekali lagi Elvis meyakinkan Papinya dengan lebih lembut dari sebelumnya.
.
.
💖💖💖💖💖💖💖
.
.
Denis yang sekarang sudah sampai di palkiran rumah sakit langsung keluar dari mobilnya, berlari menuju lantai 3,tempat dimana Dr Jhoni berada.
"Ting" pintu lift itu terbuka,hanya perlu beberapa langkah untuk Denis sampai ke ruangan Dr Jhoni.
Diketuknya pintu ruangan itu. Setelah mendengar Dr Jhoni mempersilahkan Denis untuk masuk, Dia pun segera masuk dan duduk di depan laki-laki yang sudah cukup lama Dia kenal.
"Jadi bagaimana dengan kondisi Dani Dok? " tanyanya antusias.
"Apa Pak Denis belum menemui Pak Dani sebelum datang ke ruangan saya? " Dr Jhoni menanyai Denis balik, merasa heran dengan apa yang Denis tanyakan padanya.
"Saya langsung kemari Dok"
Dokter menganggukkan kepalanya,masih saja heran dengan pemikiran Denis. Biasanya para keluarga pasien akan menemui pasiennya terlebih dulu sebelum menemui Dokter.
"Lalu bagaimana dengan kondisi Dani? " Denis kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada Jhoni.
"Jadi begini Pak, akibat kecelakaan yang cukup parah sehingga membuat Pak Dani harus mengalami koma selama 8 tahun, dan setelah Pak Dani bangun dari tidur panjangnya dia mengalami TGA"
"TGA? " tanya Denis heran.
"Ia Pak.
Amnesia global transien atau yang lebih dikenal TGA adalah kelainan neurologis yang ciri utamanya adalah gangguan sementara tetapi hampir total gangguan memori jangka pendek dengan berbagai masalah mengakses memori yang lebih tua. Seseorang dalam keadaan TGA tidak menunjukkan tanda-tanda lain dari gangguan fungsi kognitif tetapi hanya mengingat beberapa saat terakhir dari kesadaran, dan mungkin juga beberapa fakta yang dikodekan secara mendalam dari masa lalu individu, seperti masa kecil, keluarga, atau rumah mereka mungkin" jelas Dr Jhoni.
Denis langsung menundukkan kepalanya saat mendengar penjelasan dari Jhoni, rona bahagia di wajahnya langsung berubah dengan sebuah kecemasan serta ketakutan yang tak terbayangkan nampak jelas terlihat oleh Jhoni.
"Tenang saja Pak Denis itu bisa kita atasi. Dengan perlahan kita bantu untuk mengingat kembali memori-memori yang hilang dan juga teratur memberinya obat" tutur Jhoni. Dia juga menjelaskan apa-apa saja yang harus di lakukan serta di ucapkan dan apa saja yang tidak boleh di dengar oleh Dani.
Sedikit rasa kekhawatiran Denis berkurang setelah mendengar penjelasan yang di berikan Jhoni. Dan dia pun pamit untuk menemui Dani di ruangannya, di lantai 8.
.
.
💖💖💖💖💖💖💖
.
.
Denis yang sudah berada di depan pintu ruangan Dani dan hendak membuka pintu itu tiba-tiba gerakannya terhenti saat mendengar dering Hpnya berbunyi. Tertulis My herro di layar dari panggilan telpon tersebut. Dia memutuskan untuk mengacuhkan panggilan itu, dan langsung masuk kedalam ruangan.
Dilihatnya Elvis yang sedang menangis seg-segan di sofa sambil menyebut namanya.
"Pa hah pi De heuheu nis, pa pi" isak Elvis.
Denis yang melihat itu langsung berlari ke arah Elvis dan berjongkok di depannya.
"Kamu kenapa Sayang? " tanyanya sambil mengusap air mata Elvis.
Dani yang mendengar suara Denis langsung membalikkan pandangannya dari jendela kaca yang menampakkan langit berawan putih itu.
"Denis" pekik Dani.
Denis yang masih sibuk menyeke air mata Elvis langsung menengokkan kepalnya. Dia lupa kalau di ruangan itu juga ada Dani yang sudah bangun dari komanya.
Denis mengangkat tubuhnya, berniat untuk menghampiri dan memeluk sepupunya itu. Tapi baru setengah tubuhnya terangkat, Dia baru sadar kembali kalau anak laki-lakinya sedang menangis. Denis menengok ke arah Elvis dan Dani bergantian. "Siapa yang harus kudahulukan? " batinya bingung.
"Aissshhh" Denis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia akhirnya memutuskan untuk mengurus Elvis terlebih dulu. Di angkat kelima jari tangan kananya, memberi isyarat tunggu kepada Dani.
Dani membalasnya dengan anggukan pelan.
"Sayang, coba ceritakan ada apa, dan kenapa kamu menangis" Denis kembali jongkok di hadapan anak laki-lakinya.
Elvis langsung memeluk Denis dengan erat.
Dan masih dengan isak tangisnya dia menceritakan kalau Dani tidak mengakuinya sebagai anaknya.
Denis membelai rambut Elvis dan mengelus punggungnya juga.
"Haaaaaaaaaaaaaah" dia menghela nafasnya panjang. Di lepaskannya tangan Elvis yang melingkar di pundaknya.
"Sayang,kamu kan tau kalo Papi Dani itu baru bangun, jadi dia gak tau kalau Elvis yang dulu masih kecil imut dan menggemaskan kini sudah menjadi laki-laki yang tampan serta gagah seperti sekarang. Jadi, herronya Papi jangan nangis lagi ya" bujuk Denis.
Elvis mengalihkan pandangannya kepada Dani yang sedang tersenyum kepadanya.
Dani memang tidak mengakui kalau laki-laki kecil di ruangan itu adalah anaknya. Tapi Dia juga tidak menggunakan kata-kata yang kasar saat berbicara dengan Elvis.
"Sayang, bisakah kamu menunggu diluar. Ada yang mau Papi bicarakan dengan Papi Dani? "
"Bisa" jawab Elvis lemas. Dia pun langsung bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan 2 laki-laki yang di sebutnya dengan sebutan Papi itu.
______
"Dan" ucap Denis lirih yang kini sudah memeluk tubuh Dani. Tangisnya pecah bukan main,bahkan tangisan El tadi saja kalah oleh tangisan Denis. Sungguh. Bagaimana tidak, selama delapan tahun ini dia terus saja di hantui dengan rasa takut akan kehilangan kembali keluarganya, dan sekarang sepupu satu-satunya bangun dan memanggil namanya.
"Uhuk.. Uhuk.." Dani menepuk punggung Denis, dia merasa sesak akibat pelukan yang cukup erat diberikan oleh makhluk tuhan yang bernama Denis.
Denis yang mendengar suara batuk Dani langsung melepaskan pelukkannya dan mengambilkan sebotol air mineral di mejanya. Denis memang sengaja selalu menyiapkan air mineral di ruangan Dani, agar tidak repot harus keluar masuk rumah sakit hanya untuk membeli air mineral di mini market saat mereka lupa tidak membawa air saat menjenguk Dani.
"Bagaimana sekarang? " tanya Denis yang sedang menutup kembali air mineral itu.
"Masih sedikit pusing. Dimana Renata dan jagoanku? " tanya Dani bingung karena tidak melihat yang lainnya bersama Denis masuk ke ruangannya.
"Haaaaahhh" lagi-lagi Denis menghela nafasnya panjang. Dia harus berhati-hati saat memberikan jawaban dari pertanyaan yang Dani berikan untuknya. Dia tidak mau kalau sampai membuat Dani syok dan kembali koma.
"Anak laki-laki tadi itu adalah jagoanmu......... " dengan hati-hati Denis menceritakan kejadian 8 tahun silam. Tapi Dia tidak menceritakan masalah Renata yang sampai saat ini belum di temukan. Denis bersilat lidah kalau Renata sedang berada di kampung untuk menemani Ibu.
Sedikit tidak percaya terbesit di hati Dani saat mendengar kalau selama 8 tahun ini dia tertidur dalam jangka waktu yang sangat panjang.
"Jadi benar apa yang tadi Dokter ucapkan kalau aku baru bangun dari tidur panjangku?" tanyanya tidak percaya.
"Tapi tadi aku merasakan sentuhan tangan Renata " sambung Dani.
"Ia benar,dan mungkin itu hanya perasaan mu saja Dan. Dari tadi hanya ada Elvis disini yang menjagamu" jelas Denis.
Dani terdiam. Dia merasa yakin kalau tadi tangannya benar-benar di sentuh oleh Renata, "Namun, kalau memang seperti yang di ucapkan oleh Denis bahwa Renata berada di kampung berarti ini hanya perasaanku saja? " batinnya.
"Kamu tunggu sebentar, aku panggilkan Elvis dulu ya" Denis beranjak menuju tempat dimana Elvis berada sekarang.
.
.
💖💖💖💖💖💖💖
.
.
Elvis yang masih setia menuruti apa yang Denis titahkan untuk menunggu di luar ruangan Dani. Tangisnya sudah berhenti, bahkan sekarang hatinya sudah sedikit lega setelah mendengar penjelasan yang Denis berikan mengenai masalah Dani yang tidak mengakui dirinya sebagai anaknya.
"Sayang" panggilan Denis membuyarkan lamunan Elvis yang masih tertunduk lemas.
"Ia Pi " jawabnya.
"Ayo masuk Sayang " Denis mengukurkan tangan kanannya dan Elvis pun meraih tangan Denis.
"Tapi Papi minta, nanti saat Papi Dani menanyakan Mommy kamu jawabnya sedang menemani Oma di kampung ya"
Walau tidak mengerti dengan maksud yang Denis ucapkan,Elvis tetap menganggukkan kepalanya. Dia akan bilang seperti apa yang Denis ucapkan barusan saat nanti Dani menanyai masalah Renata.
Mereka pun langsung masuk dan menuju ranjang Dani. Elvis masih memegang tangan Denis dengan erat. Dia takut kalau sampai Dani tidak mengakui keberadaannya lagi seperti tadi.
Terlihat jelas kedua ujung bibir Dani menyungging lebar kesamping, senyuman manisnya membuat Elvis tanpa sadar melepaskan pegangannya dari tangan Denis. Di percepat langkah kakinya sehingga meninggalkan Denis yang berjalan dengan santai.
"Papi" teriak Elvis. Kebiasaanya tanpa sadar langsung ia lakukan, di kecupinya seluruh wajah Dani dengan semangat yang berapi-api.
"Apa Papi sudah ingat aku? " tanyanya.
"Ia Sayang. Maaf tadi Papi tidak mempercayai ucapanmu" Dani mengelus rambut Elvis dengan penuh kasih sayangnya. Tak terasa air matanya menetes, merasa betapa tidak beruntuknya Dia tidak bisa menyaksikan perkembangan dan pertumbuhan jagoannya yang kini sudah menjadi laki-laki tampan dan juga menawan menurutnya.
"Jangan menangis Pi" Elvis mengusap air mata yang menetes di pipi Dani dengan tangan lembutnya.
Mereka pun tertawa bersama hingga matahari sudah tidak lagi menampakkan sinarnya. Seorang perawat datang bersama Dr Jhoni untuk memeriksa Dani. Setelah selesai memeriksa, Dr Jhoni menyarankan untuk dani beristirahat jika sudah meminum obatnya.
Mendengar apa yang di titahkan oleh Dr Jhoni, Denis meminta agar Dani menuruti setiap apa yang di anjurkan oleh Dokter dan perawat yang memeriksanya tersebut.
APAKAH INI PENGALAMAN DARI AUTHOR SENDIRI. .. KRYA SPERTI GK MUNGKIN HNY SKEDAR CERITA HALU DOANK... PSTI PNGALAMAN PRIBADI..
semangat
mksh