Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 7.
Suasana ruang tamu keluarga Adikara mendadak berubah mencekam. Kegembiraan yang tadi memenuhi ruangan lenyap seketika, berganti dengan keheningan yang menyesakkan. Tak seorang pun lagi membahas pesta maupun penghargaan yang baru diterima Deris.
Semua mata tertuju pada lembar hasil pemeriksaan dari rumah sakit yang tergeletak di atas meja. Bima membacanya sekali lagi, lalu untuk ketiga kalinya.
Tangan pria paruh baya itu mulai bergetar. "Deris... ini benar-benar hasil pemeriksaanmu?"
Deris hanya mengangguk.
"Kapan kamu melakukan pemeriksaan ini?"
"Dua minggu yang lalu, waktu perusahaan mengadakan medical check-up lengkap."
Deris sendiri masih sulit mempercayainya. Ia mengambil kembali hasil laboratorium itu, berharap ada kalimat yang terlewat. Namun, kesimpulannya tetap sama. Azoospermia non-obstruktif, tidak ditemukan sel sperma pada sampel semen. Disarankan pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis andrologi.
"Kemungkinan hasilnya tertukar." Salah seorang paman langsung menyela.
"Iya, pasti tertukar."
"Iya, mana mungkin Deris yang bermasalah."
Semua orang seolah mencari alasan untuk menyangkal kenyataan. Namun, Bima membaca halaman terakhir.
Di sana tercetak jelas.
Nama Pasien : Deris Adikara.
Tanggal Lahir : ...
Nomor Rekam Medis : ...
Tak ada kesalahan identitas.
Wulan perlahan duduk di sofa, tatapannya terlihat kosong. Selama tujuh tahun, Ia selalu menganggap Zahira penyebab mereka belum memiliki cucu. Memang ia tidak pernah mengucapkan kata 'mandul' secara langsung kepada menantunya. Namun, sikapnya sudah cukup melukai.
Ia berkali-kali menyuruh Zahira meminum jamu kesuburan, membawa mantan menantunya itu ke berbagai dokter kandungan. Menyuruh Zahira menjalani pemeriksaan hormon, semuanya hanya tertuju kepada Zahira. Tak sekalipun ia berpikir untuk meminta Deris memeriksakan diri.
"Ya Tuhan...." Salah seorang bibi tiba-tiba menutup mulutnya sendiri.
Ia teringat sesuatu. Dua tahun lalu, saat acara ulang tahun keluarga.bDi depan semua orang, ia pernah berkata kepada Zahira.
"Perempuan itu tugas utamanya melahirkan anak. Kalau bertahun-tahun belum punya anak, ya harus sadar diri."
Saat itu, Zahira hanya tersenyum. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun atau berusaha membela diri. Setelah acara selesai, ia bahkan tetap membantu membereskan dan mencuci piring seperti biasa.
Sepupu Deris yang bernama Roni ikut menundukkan kepala. "Aku... juga pernah mengejek Kak Zahira. Kataku waktu itu... percuma cantik kalau tidak bisa memberi keturunan. Ternyata...."
Wulan menutup wajahnya, air mata mulai mengalir.
"Selama ini, kami yang salah."
Bima mengepalkan tangannya. "Zahira tidak pernah sekalipun membela dirinya, dan tak pernah menyalahkan Deris. Padahal... yang memiliki masalah justru anakku sendiri."
"Kita belum tahu hasil akhirnya, Yah. Masih harus diperiksa lagi. Dokter juga menyuruh pemeriksaan lanjutan." Deris mengusap wajahnya kasar.
Bima mengangguk. "Benar, masih perlu pemeriksaan lanjutan. Tapi hasil laboratorium ini sudah cukup menjelaskan... kenapa selama ini kalian belum memiliki anak."
Tiba-tiba Wulan teringat satu kejadian, malam ketika ia memaksa Zahira meminum ramuan herbal. "Minumlah, kata orang ini bagus untuk kesuburan."
Zahira saat itu tersenyum sambil menerima gelas tersebut. "Baik, Bu."
"Kalau sampai tahun depan belum punya anak, Ibu akan carikan dokter yang lebih bagus."
"Baik, Bu."
Zahira hanya menerima semuanya dalam diam. Kini, setiap kenangan itu berbalik menjadi penyesalan yang mengiris hati Wulan.
Air matanya jatuh semakin deras. "Aku sudah keterlaluan...."
"Kita semua keterlaluan." Bima mengembuskan napas panjang.
Mereka terlalu sibuk mencari kesalahan Zahira, padahal wanita itu memikul semua tuduhan sendirian.
Deris menatap hasil pemeriksaan itu tanpa berkedip. Di dalam kepalanya muncul kembali ucapan Zahira beberapa hari lalu.
"Aku hanya ingin tahu... selama tujuh tahun, apakah semudah ini aku disingkirkan?"
Lalu...
"Semoga keputusan kalian hari ini tidak menjadi penyesalan seumur hidup."
Sejak gugatan cerai itu diajukan, ada sesuatu yang perlahan mengusik hati Deris. Namun sorot mata Deris kembali mengeras. Meski penyesalan mulai mengusik hatinya, ia sama sekali tidak berniat menunjukkannya.
“Dengar baik-baik! Kalau bertemu Kayla atau ayahnya, tutup mulut kalian. Jangan ada yang berani membicarakan masalah ini.” Suaranya tegas dan penuh tekanan. “Aku tidak peduli apa pun yang terjadi, jangan sampai keadaan ini mengubah hubunganku dengan Kayla. Aku akan mencari cara agar kami tetap bisa memiliki anak. Kalian paham?”
Beberapa saudaranya saling berpandangan sebelum akhirnya mengangguk pelan. Mereka masih bergantung pada Deris, sehingga tak seorang pun berniat membocorkan fakta bahwa pria itu mandul.
...*****...
Di waktu yang sama, ruang wawancara Wiranata Corp. Zahira baru saja menyelesaikan sesi wawancara bersama tim HR.
Seorang manajer senior tersenyum puas.
"Ibu Zahira, pengalaman yang Ibu miliki cukup menarik. Banyak strategi yang pernah Ibu lakukan ternyata berhasil meningkatkan efisiensi perusahaan."
"Terima kasih."
"Kami akan menghubungi Ibu setelah proses seleksi selesai."
Zahira mengangguk sopan. "Baik, terima kasih atas waktunya."
Ia keluar dari ruang wawancara dengan perasaan jauh lebih lega. Setidaknya, Ia sudah memberikan kemampuan terbaiknya.
Saat berjalan menuju lift, pintu lift VIP kembali terbuka. Revan keluar bersama sekretarisnya, beberapa manajer langsung menghentikan langkah.
"Selamat siang, Pak."
Revan hanya menganggukkan kepala, tatapannya kembali bertemu dengan Zahira. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, Zahira hanya mengangguk sopan sebagai bentuk penghormatan kepada pimpinan perusahaan.
"Selamat siang, Pak."
"Selamat siang." Suara Revan terdengar datar.
Lalu pria itu melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat. Namun setelah melewati Zahira, Revan berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia berkata kepada sekretarisnya, "Hasil wawancara Zahira Narapati, kirim ke ruang saya setelah rapat selesai."
"Baik, Pak."
Zahira yang sudah berada beberapa langkah di belakang tidak mendengar percakapan itu. Ia memasuki lift dengan satu harapan, semoga kehidupannya benar-benar mulai berubah.
Sementara itu, di ruang kerja Revan, sebuah keputusan mulai terbentuk. Zahira memang layak mendapatkan kesempatan kedua karena kemampuan dan hasil kerjanya sendiri.
Seorang sekretaris memasuki ruangan sambil membawa sebuah map berisi hasil akhir proses rekrutmen. Ia meletakkannya di atas meja kerja Revan sebelum berkata, "Pak Revan, seluruh nilai hasil wawancara sudah direkap. Tim juga sudah menyelesaikan evaluasi akhir setiap kandidat."
Revan membuka map itu dengan tenang. Tatapannya menyusuri setiap lembar penilaian tanpa terburu-buru. Nama Zahira berada di urutan pertama. Di hampir setiap lembar evaluasi, para pewawancara memberikan kesimpulan yang sama. Zahira berpengalaman, tenang, mampu mengambil keputusan dan memiliki pemahaman operasional yang sangat baik.
Setelah membaca seluruh laporan, Revan menutup map tersebut.
"Bagaimana pendapat tim?" tanyanya.
"Mereka sepakat bahwa Ibu Zahira merupakan kandidat terbaik, nilainya juga paling tinggi dibanding pelamar lainnya."
Revan mengangguk pelan. "Kalau begitu, terbitkan surat penerimaannya hari ini. Pastikan seluruh proses administrasinya segera diselesaikan."
"Baik, Pak."
Sekretaris itu sempat berbalik hendak keluar, tetapi langkahnya terhenti seolah teringat sesuatu. "Pak... boleh saya bertanya satu hal?"
Revan mengangkat pandangannya. "Silakan."
"Saya mendengar Bapak mengenal Ibu Zahira."
"Kami pernah bersekolah di tempat yang sama."
"Hanya sebatas itu?"
Revan mengangguk singkat. "Benar. Dan itu tidak ada hubungannya dengan keputusan ini. Semua hasil seleksi ditentukan berdasarkan kemampuan kandidat."
"Saya mengerti, Pak." Sekretaris itu mengangguk penuh pengertian, dia pun meninggalkan ruangan.
Revan berdiri, lalu melangkah ke depan jendela besar yang menghadap deretan gedung pencakar langit. Ia memang mengenal Zahira. Namun sejak awal, ia tidak pernah berniat mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaannya. Jika kemampuan Zahira tidak memenuhi standar perusahaan, namanya tidak akan pernah sampai ke meja Direktur Utama.
Sore harinya, Zahira baru saja kembali ke hotel ketika ponselnya berdering.
Nomor yang tidak dikenal muncul di layar.
"Selamat sore, apakah saya sedang berbicara dengan Ibu Zahira Narapati?"
"Iya, benar."
"Saya Rina dari Divisi Human Capital Wiranata Corp. Apakah Ibu memiliki waktu beberapa menit?"
"Tentu."
"Kami ingin menginformasikan bahwa Ibu dinyatakan lolos seluruh tahapan seleksi untuk posisi General Manager Divisi Operasional. Jika Ibu berkenan, kami mengundang Ibu menandatangani kontrak kerja besok pagi pukul sembilan."
Zahira membeku beberapa detik.
Ia bahkan sempat mengira dirinya salah dengar. "Maaf... apakah tidak ada kesalahan?"
"Tidak, Bu. Selamat bergabung bersama Wiranata Corp."
Senyum perlahan menghiasi wajah Zahira. "Terima kasih banyak atas kepercayaannya. Saya akan datang tepat waktu."
"Baik, Bu. Sampai bertemu besok."
Telepon berakhir.
Zahira masih menatap layar ponselnya, tangannya sedikit gemetar. Ia pun langsung menghubungi Nina.
"Halo?"
"Nina... aku diterima."
"Apa?"
"Aku diterima bekerja!"
"Aku sudah bilang, kan! Aku sudah bilang kemampuanmu pasti dihargai!" Di seberang sana terdengar teriakan kegembiraan.
"Aku benar-benar tidak menyangka."
"Besok kita berangkat bareng."
Zahira mengangguk meski tidak terlihat. "Makasih, udah percaya padaku."
"Orang yang menerimamu bukan aku, itu karena kehebatan dirimu sendiri." Suara Nina terdengar bangga.
"Berarti aku memang lolos karena kemampuanku."
"Tentu." Nina tertawa kecil. "Kalau tidak memenuhi standar, bahkan keluarga direktur sendiri pun bisa ditolak."
Mendengar itu, Zahira semakin lega. Ia ingin memulai hidup baru tanpa bergantung pada belas kasihan siapa pun.
Keesokan paginya...
Wiranata Corp kembali dipenuhi aktivitas.
Zahira datang lima belas menit lebih awal, Ia mengenakan setelan blazer putih gading dengan celana panjang hitam. Penampilannya sederhana, tetapi rapi dan profesional.
Setelah menandatangani kontrak kerja, staf Human Capital mengantarnya berkeliling mengenal setiap divisi.
"Inilah ruang operasional."
"Di sebelah kanan ada divisi keuangan."
"Sedangkan lantai atas digunakan oleh jajaran direksi."
Zahira memperhatikan setiap penjelasan dengan saksama, Ia sudah lama meninggalkan dunia kerja formal. Banyak hal yang harus kembali ia pelajari.
Saat rombongan melewati koridor utama, beberapa karyawan tiba-tiba berhenti.
"Selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi, Pak Revan."
Zahira ikut menoleh, Revan berjalan dari arah berlawanan ditemani sekretarisnya. Langkahnya tenang, tatapannya lurus ke depan. Begitu jarak mereka tinggal beberapa meter, staf Human Capital segera memperkenalkan.
"Pak Revan, ini Ibu Zahira Narapati... General Manager baru Divisi Operasional."
Revan menghentikan langkahnya, tatapannya beralih kepada Zahira. "Selamat bergabung di Wiranata Corp."
Nada suara Revan tetap datar, profesional. Tak menunjukkan kedekatan apa pun.
"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik." Zahira membalas dengan sopan.
"Saya berharap kemampuan Anda sesuai dengan hasil wawancara."
"Saya akan bekerja sebaik mungkin."
Tak ada percakapan lain, Revan kembali berjalan menuju ruang rapat. Seolah pertemuan itu hanyalah sapaan biasa antara direktur dan karyawan baru.
Namun, sekretaris yang berjalan di belakangnya sempat melirik Revan. Ia jarang melihat atasannya berhenti hanya untuk menyapa karyawan baru, meski hanya beberapa kalimat.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭