Dirga dan Asha..
Keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saat duduk di bangku sekolah, Asha adalah cinta pertama Dirga begitu juga Dirga yang cinta pertama Asha.
Keduanya saling mencintai satu sama lain, bahkan mereka bermimpi untuk menikah suatu hari nanti.
Namun takdir berkata lain..
Orangtua Dirga menentang hubungan Asha dengan Dirga, meminta Asha untuk pergi dengan memberikan sejumlah uang kepada asha.
Asha pun pergi meninggalkan Dirga tanpa penjelasan yang jelas..
Lima tahun berlalu..
Asha kembali Ke Jakarta..
Asha berpikir semuanya sudah berubah, termasuk Dirga..
Namun takdir kembali mempertemukan Dirga dan Asha, bukan sepasang kekasih tapi Bos dan juga asisten pribadinya.
apakah mereka akan kembali bersatu ? atau justru sudah ada orang lain yang mengisi hidup mereka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Begitu sampai dirumah Asha langsung pergi ke dapur untuk memasak..
Dirga yang melihatnyq, langsung ikut membantu Asha di dapur
" Pak Dirga " ucap Asha terkejut saat melihat Dirga ikut membantu
" Dirga, Sha "
" Ya, itulah. Kamu ngapain kesini ? "
" Masak "
" Sejak kapan kamu bisa masak ? "
Dirga diam, karena sejujurnya ia memang tidak bisa memasak sama sekali
" Ya belajar " jawab Dirga
" Udah biar saya aja ya Pak.. "
" Maksudnya Dirga, kamu nggak usah bantuin "
" Tapi ini rumah saya, kenapa kamu larang saya di dapur saya sendiri ? "
Asha menarik nafasnya dalam-dalam
" Yaudah oke, aku kalah deh " jawab Asha dengan pasrah
Asha mencuci semua bahan yang ia beli di dapur, sedangkan Dirga ia berdiri disamping Asha dan hanya memperhatikan.
" Kamu bisa kupas bawang ? " tanya Asha
" Bi..sa " jawab Dirga ragu
Asha memberikan beberapa bawang kepada Dirga dan juga pisau
" Kamu kupas dulu ya, aku ke toilet dulu "
Dirga mengangguk
Saat Asha pergi, Dirga membuka ponselnya dan mencari cara mengupas bawang
Dirga memperhatikan dengan serius sambil mencontoh, setelah paham segera ia kembali menyimpan ponselnya.
" Gampang " ucap Dirga sombong
Asha keluar dari dalam toilet, dan melihat Dirga yang mulai mengupas bawang
Namun ada hal yang membuat Asha tak bisa menahan tawanya, sesekali pria itu mengusap matanya karena pedas dari bawang
" Kamu kenapa ? Nangis ? " ledek Asha
" Ah nggak, mata saya perih Sha "
" Hahaha lucu banget, masa CEO nangis karena cuma ngupas bawang "
" Perih banget Sha, sumpah "
Asha masih tertawa..
" Yaudah sini aku yang lanjutin, kamu cuci udang sama ayam aja ya "
" Cuci pakai sabun ? " tanya Dirga polos
" Ya enggak dong Dirga, pakai air aja cukup "
" Ohh Iyah "
Dirga berpindah menuju wastafel..
Namun saat tangannya menyentuh ayam mentah itu, membuat Dirga sedikit geli
" Sha.. "
" Ya kenapa ? "
" Ini apa yang di bersihin ya ? "
Asha menggeleng sambil tersenyum
Ia pun menghampiri Dirga yang sedang kebingungan
" Kamu bersihin yang ada darahnya aja Dir, tuh kayak gini "
" Ohh gitu.. "
" Bisa ? "
" Bisa.. "
Asha pun kembali melanjutkan pekerjaannya dan Dirga mulai membersihkan ayam itu
Dengan hati-hati Dirga membersihkannya, dan tentunya ia pun sedikit jijik..
Asha sudah selesai dengan pekerjaannya, ia melihat Dirga yang belum juga selesai dengan ayamnya
" Sini biar saya bantu" kata Asha
Dirga menatap sejenak Asha, namun segera mengalihkan sebelum Asha sadar
Setelah selesai Asha segera memasak ayam itu lebih dulu dengan bumbu yang sudah ia beli sebelumnya
" Kalau nggak seenak kemarin maaf ya, Dir "
" Selagi bisa dimakan, saya akan makan "
Sambil menunggu ayam, Asha melakukan hal yang lain
Tiba-tiba ponsel milik Dirga berdering panggilan masuk..
Panggilan masuk itu dari ibunya..
Asha melihat nama kontak itu, dirinya yang sedang memegang gelas tanpa sengaja menjatuhkannya
" Sha, kamu nggak apa-apa? "
Asha menggeleng pelan
" A..aku nggak apa-apa "
" Aku ambil sapu dulu "
Asha langsung pergi begitu saja
Ponsel milik Dirga masih terus berdering panggilan masuk dari ibunya
Karena tangannya sibuk membersihkan gelas yang pecah, terpaksa Dirga me loud speaker panggilan itu.
" Hallo, ya kenapa Mah ? "
" Kamu lagi apa ? Kenapa angkat telpon mamah lama sekali Dirga ? "
" Lagi kerja Mah "
Asha kembali dengan membawa sapu dan plastik, tanpa sengaja ia ikut mendengarkan percakapan anak dan ibunya itu
" Hari kerja masih saja kamu sibuk Dir "
" Mamah ada telpon Dirga ? "
" Soal waktu itu, Mamah bilang kalau mamah mau kenalin kamu dengan anak teman mamah Dir "
" Mah, udah berapa kali Dirga bilang kalau Dirga nggak mau dan nggak akan mau Mah "
" Kamu ini kenapa sih ? Selalu nolak setiap mamah mau kenalin kamu ke perempuan "
" Karena Dirga nggak tertarik Mah "
" Kamu masih berharap dengan wanita itu ? Wanita itu sudah jelas meninggalkan kamu Dirga "
Asha yang mendengar ucapan itu, tanpa sengaja meremas pecahan beling itu dengan tangannya
Tanpa ia sadari juga tangan itu perlahan meneteskan darah segar.
" Sha.. " ucap Dirga panik
Panggilan itu masih terhubung dengan ibunya
" Sedang sama siapa kamu Dirga ? "
Dirga tak menjawab, ia justru langsung mengakhiri panggilan itu
" Aku nggak apa-apa Dirga "
" Tangan Kamu berdarah Asha, kamu masih bilang nggak apa apa ? "
Dirga mematikan kompor yang masih menyala, dan menarik Asha dari dapur
" Duduk " perintah Dirga dengan suara tegas
Dirga pergi untuk mengambil kotak obat
Sedangkan Asha, ia masih memikirkan ucapan ibu Dirga soal dirinya
" Kenapa nggak hati-hati sih Sha ? " ucap Dirga memecahkan lamunan Dirga
Asha diam saja..
Sedangkan Dirga mulai mengobati luka Asha..
" Sakit ? " tanya Dirga dan Asha menggeleng pelan
" Nggak "
" Kalau sakit bilang sakit, jangan di tahan sendiri "
Mendengar ucapan itu justru membuat Asha menangis..
" Sha, kamu kenapa nangis Sha ? "
" Sakit "
" Tadi katanya nggak sakit ? "
" Sakit Dirga.. "
" Yaudah aku pelan-pelan ya, tahan"
Sejujurnya Asha bukan menangis karena luka itu..
Melainkan sakit pada hatinya, ucapan ibunya Dirga, dan sikap manis Dirga saat ini..
Tujuh tahun ini, Asha menahan sakitnya sendirian demi Dirga pria yang ia cintai
Pria yang pernah bersama dengannya sebagai kekasih
Asha berpikir waktu akan menghapusnya, namun nyatanya justru takdir berkata lain.,
.....
Malam hari Asha dan Dirga baru bisa menikmati masakan yang mereka buat bersama
Tentunya Dirga tidak membiarkan Asha melakukan semua sendiri, ia turut membantu Asha walaupun dapur menjadi berantakan
" Yaampun dapur jadi kayak kapal pecah gitu Dir "
" Nggak apa apa, nanti saya bereskan "
" Kita, jangan cuma kamu Dirga "
" Sekarang kita makan dulu, saya lapar Sha "
Asha dan Dirga menikmati makanan itu bersama
Asha menunggu respon Dirga soal masakannya
" Gimana ? Enak ? "
Dirga mengangguk sambil menyantap masakan itu
" Enak banget "
Asha tersenyum
" Terimakasih Pak Dirga atas pujiannya "
Dirga tak menjawab, ia sedang sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya
Melihat Dirga yang begitu lahap membuat Asha merasa senang..
...
Setelah selesai makan dan membersihkan dapur..
Asha pergi ke taman belakang untuk sekedar mencari angin..
Dirga yang melihat Asha sendirian pun langsung menghampiri Asha..
" Ngapain kamu disini ? "
Asha menoleh
" Cuma cari angin Pak "
Dirga berdiri disamping Asha
Keduanya hening untuk beberapa waktu..
Hingga Asha membuka obrolan diantara mereka berdua..
" Pak Dirga ? "
" Hmm ? "
" Bagaimana kalau saya melanggar perjanjian kontrak kerja ? "
Dirga menoleh
" Maksudnya? "
" Bagaimana kalau saya tiba-tiba pacaran dengan seseorang, dan melanggar isi kontrak kerja? "
Dirga diam..
Rahangnya menegang dan tangannya mengepal dengan kencang
Sedangkan Asha ia masih menunggu jawaban dari Dirga..