"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi gelap Luna
"Nona, Nyonya Eva sudah sadar dari komanya." ucap orang suruhan Luna.
Luna yang sedang menikmati segelas anggur langsung tersedak.
UHUK...UHUK...UHUK
Lalu gelas yang berada di tangannya terjatuh hingga pecah berkeping-keping di lantai.
"Apa?!"
Mata Luna melebar. Wajahnya yang semula tenang berubah pucat pasi.
"Apa yang baru saja kau katakan?"
Orang suruhannya segera menundukkan kepala.
"Nyonya Eva sudah sadar, Nona. Informasi itu saya dapat langsung dati orang dalam rumah sakit. Tapi..."
"Tapi apa?!"
"Mereka bilang... Nyonya Eva tidak mengingat apapun. Bahkan dirinya sendiri, Nona." jelas orang suruhan itu lagi.
Tatapan yang tadinya penuh rasa takut, kini agak sedikit memudar. Ada rasa senang dan rasa tidak percaya.
"Maksudmu... dia hilang ingatan?"
"Iya, Nona."
Beberapa detik lamanya Luna hanya terdiam. Lalu... senyum tipis mulai terukir di sudut bibirnya. Tak lama kemudian, senyum itu berubah menjadi tawa pelan. Namun semakin lama tawanya semakin keras.
"HAHAHAHAHAHA!"
Orang suruhannya hanya menundukkan kepala. Ia tahu, tawa seperti itu adalah pertanda bahwa Luna sedang menyusun rencana. Luna mengusap sisa anggur yang menempel di bibirnya.
"Jadi... Eva hilang ingatan."
"Iya, Nona."
Luna menghela napas lega, "Bagus."
Luna berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang rumah.
"Itu artinya... dia tidak akan mengingat kejadian yang menimpanya. Dan kebohongan yang aku bangun tidak akan terungkap di depan Jose. Benar bukan?"
Orang suruhannya mengangguk, "Benar, Nona."
Namun beberapa saat kemudian Luna kembali terdiam. Raut wajahnya berubah serius.
"Tidak."
Orang suruhan itu langsung mengangkat kepala.
"Nona?"
Luna mengepalkan kedua tangannya, "Aku tidak boleh lengah. Ingatan manusia bisa kembali kapan saja. Sedikit suara... aroma... atau kejadian yang dia alami sebelumnya... bisa memicu semua kenangan itu."
Ucapan Luna membuat orang suruhannya ikut menelan ludah.
"Lalu... apa yang harus kita lakukan?"
Luna berbalik, "Laporkan setiap gerak gerik Eva. Dan cari tahu dokter mana yang menanganinya sekarang."
"Baik, Nona."
"Kalau perlu... bungkam dia selama-lamanya."
Orang suruhannya tampak ragu dan sedikit bergetar mendengar ucapan Luna barusan.
"Maksud, Nona... apakah Nona meminta saya untuk... membunuh Nyonya Eva?"
"Iya! Kalau kau mampu."
"Bagaimana mungkin, Nona. Tuan Jose tidak pernah lepas dari Nyonya Eva. Dan... jika hal ini sampai ketahuan olehnya, bukankah itu sangat berbahaya bagi kita." kata suruhan itu dengan gugup.
Luna tersenyum licik, "Bukankah kau sudah menyetujui kesepakatan kita? Ingatlah... aku sudah memberimu banyak. Bahkan anakmu sudah bisa melanjutkan pendidikannya."
Pria itu menundukkan kepala. Napasnya terasa berat.
"Tentu saya tidak melupakan semua bantuan Nona."
Luna mendekatinya perlahan. Tatapannya tajam, seolah mampu menembus isi pikiran anak buahnya.
"Kalau begitu buktikan kesetiaan mu."
"Baik Nona," jawabnya gemetar.
Luna berjalan kembali ke meja, lalu menuangkan anggur baru ke dalam gelas.
"Untuk sekarang... jangan bertindak gegabah. Aku tahu Jose masih menjaganya. Aku akan membuatnya pergi walau tidak akan lama. Disaat itu kau bisa melakukan sesuai rencana."
Pria itu mengernyit ragu. Sementara Luna menyesap anggurnya sampai habis.
"Kau bisa masuk dan menghabisi Eva." ucapnya, tangannya memberi isyarat seperti menggorok pisau dilehernya.
Luna menuangkan anggur lagi ke dalam gelas baru. Menatap cairan merah di dalam gelas itu, lalu memberikannya pada pria itu.
"Ambillah! Kita bersulang."
Pria itu menatap gelas anggur yang disodorkan Luna. Tangannya gemetar saat menerimanya.
"Untuk keberhasilan rencana kita, Nona?" tanyanya pelan.
Luna mengangkat gelasnya lebih dulu, "Untuk masa depan yang tidak lagi dihalangi oleh Eva."
Keduanya saling membenturkan gelas. Pria itu hanya menyesap sedikit, Luna menghabiskan anggurnya dalam sekali teguk.
***
Sementara di rumah sakit...
Eva masih berbaring di ranjang. Tubuhnya masih lemah dan masih perlu dirawat. Jose membantunya duduk bersandar di ranjang.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Jose pelan.
Eva menggeleng, matanya terus saja menatap Jose yang tampak asing. Namun, di dalam dadanya ada sesuatu yang terasa getir tapi Eva tidak tahu kenapa. Beberapa detik kemudian, Eva merasakan nyeri dibagikan perutnya hingga membuatnya merintih.
"Akh...sakit sekali..." rintih Eva.
Jose yang mendengar rintihan itu langsung panik. Ia segera menggenggam tangan Eva dengan erat, Sementara tangan satunya menempel di perut Eva.
"Apakah perutmu sakit?" tanya Jose.
Ada perasaan nyeri di dada Jose saat memegang perut itu. Rasa kehilangan yang diakibatkan dirinya masih menghantuinya.
"Aku akan panggil dokter" kata Jose lagi.
Namun, saat Jose hendak melepas tangannya tiba-tiba Eva menahannya. Jose melihat Eva. Ada getaran di sana. Mata mereka saling bertemu. Hal itu membuat rasa bersalah Jose kembali. Jose membeku sesaat. Beberapa detik mereka saling menatap.
"Kenapa... kenapa aku merasa kehilangan sesuatu ?" ujar Eva, seketika air matanya menetes.
Jose tidak tahan menatap Eva lebih lama. Apa lagi pertanyaan itu muncul. Jose tak tahu harus memberi jawaban apa. Yang pasti lambat laun ingatan Eva pasti akan kembali. Dan jika hal itu terjadi Jose sadar bahwa Eva pasti akan membencinya.
"Aku..."
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" potong Eva.
Jose semakin membeku. Entah jawaban apa yang harus dia ucapkan.
"Eva...,"
"Selamat siang, Tuan, Nyonya," ucap dokter begitu memasuki ruangan.
Jose menghela napas panjang saat dokter tiba-tiba masuk ke ruangan.
"Siang dokter," sahut Jose, lalu mundur selangkah dari ranjang.
"Kita periksa dulu, Nyonya," ucap dokter.
Dokter mengambil stetoskop lalu mulai memeriksa keadaaan Eva.
"Ada keluhan, Nyonya?" tanya dokter pelan.
Eva terdiam beberapa saat. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar, seolah sedang mencari jawaban yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu.
"Aku... sering merasa sesak di dada."
Dokter mengangguk sambil mencatat sesuatu.
"Ada lagi?"
Eva perlahan mengangguk, "Perutku sering terasa sakit. Dan..."
Eva berhenti berbicara, ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan.
"Dan... setiap kali aku melihat wajahnya... aku ingin menangis," lanjut Eva, matanya terus menatap ke arah Jose.
Jose langsing menundukkan kepala. Dokter memperhatikan Eva dengan seksama.
"Apakah Anda teringat sesuatu saat melihat beliau?"
Eva menggeleng, "Tidak. Tapi hatiku terasa sakit. Seolah-olah aku pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga."
Air mata Eva kembali mengalir tanpa bisa ia tahan.
"Anda tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat apapun, Nyonya. Istirahat saja. Saya akan memberikan obat."
Eva mengangguk patuh. Setelah pemeriksaan itu selesai, dokter menghela napas pelan.
"Tuan, boleh kita bicara sebentar?"
Jose mengangguk lalu segera keluar meninggalkan Eva yang mulai terpejam setelah minum obat.
"Apa yang terjadi?" tanya Jose.
Dokter melepas kaca matanya, "Saya rasa... jika Anda terus di sampingnya maka ingatan buruknya akan pulih lebih cepat. Dan itu akan berpengaruh pada psikologis Nyonya Eva."
Jose terdiam.
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
mudah banget dikibulin
nggak kayak bosmu