Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 07 - Bertemu Sari
Ratna memilih bertemu Sari di sebuah rumah makan sederhana dekat kawasan industri.
Tempat itu tidak terlalu jauh dari Kampung Cempaka, tetapi cukup jauh agar tetangga tidak langsung mengenali. Ada deretan pabrik, bengkel, warung nasi, dan minimarket. Di jam makan siang, buruh keluar masuk, membuat tempat itu ramai tanpa harus menjadi pusat perhatian.
Ratna datang lebih dulu.
Ia memakai kemeja krem, celana bahan hitam, dan kerudung abu-abu muda. Bukan pakaian istimewa. Hanya pakaian yang membuatnya merasa rapi. Di dalam tasnya, map bukti dibawa lengkap.
Melati menelepon pagi tadi, meminta ikut.
Ratna menolak.
Dimas menawarkan mengantar.
Ratna menolak juga.
Raka bahkan berkata, "Kalau perempuan itu macam-macam, telepon aku. Aku datang."
Ratna hanya menjawab, "Aku bukan mau perang."
Tapi ketika Sari masuk ke rumah makan, Ratna tahu pertemuan itu tidak akan damai.
Sari Handayani tampak lebih muda dari usianya. Mungkin karena perawatan, mungkin karena ia memang perempuan yang tahu cara membawa diri. Kerudungnya warna dusty pink, bajunya gamis modern dengan motif halus. Tangannya memegang tas kecil yang terlalu bagus untuk dibeli dari pasar kecamatan.
Mata mereka bertemu.
Sari berhenti sejenak, lalu tersenyum.
"Bu Ratna?"
Suara itu lembut.
Terlalu lembut.
Ratna berdiri. "Sari."
"Saya kira Bang Bambang juga ikut."
"Tidak."
Sari tampak lega, tetapi cepat menyembunyikannya. Ia duduk di depan Ratna.
Pelayan datang. Ratna memesan teh tawar panas. Sari memesan es jeruk.
Beberapa detik pertama, tidak ada yang bicara.
Sari akhirnya membuka percakapan. "Saya sudah dengar dari Bang Bambang. Katanya Ibu salah paham."
Ratna menatapnya. "Kamu menyebut suamiku Bang Bambang di depan istrinya?"
Sari tersenyum kaku. "Maaf. Sudah kebiasaan dari dulu."
"Dari dulu kapan?"
"Kami memang sudah saling kenal sejak muda."
"Aku tahu."
Sari menunduk sedikit. "Kalau begitu Ibu juga tahu kami pernah punya cerita."
Ratna mengangguk. "Cerita yang seharusnya selesai sebelum aku menikah dengannya."
Sari mengangkat wajah. Senyumnya hilang sedikit.
"Tidak semua cerita selesai hanya karena orang menikah, Bu."
Ratna memperhatikan perempuan di depannya.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan kasar, tetapi isinya seperti tamparan. Sari tidak datang sebagai perempuan yang merasa bersalah. Ia datang sebagai seseorang yang merasa punya hak.
"Kamu tahu dia masih suamiku," kata Ratna.
"Tahu."
"Kamu tahu dia punya anak, cucu, rumah."
"Tahu."
"Tapi kamu tetap makan malam dengannya setiap tahun baru."
Sari menggenggam gelas es jeruk. "Saya tidak memaksa dia datang."
"Tapi kamu menerima."
"Karena saya juga menunggu dia."
Ratna diam.
Sari menarik napas, lalu suaranya menjadi lebih bergetar. "Bu Ratna, saya tahu di mata Ibu saya salah. Tapi Ibu tidak tahu rasanya menjadi saya. Waktu muda, saya dan Bambang saling mencintai. Keluarga kami yang memisahkan. Setelah itu saya menikah dengan orang lain, hidup saya tidak bahagia. Suami saya kasar. Setelah dia meninggal, saya sendirian. Anak saya punya hidup sendiri. Lalu Bambang datang lagi."
"Dan kamu pikir kesepianmu memberi hak untuk mengambil suami orang?"
Wajah Sari memerah.
"Saya tidak mengambil. Bang Bambang datang sendiri."
"Laki-laki selalu datang sendiri. Perempuan yang punya harga diri tahu harus menutup pintu."
Sari menatap Ratna tajam. "Harga diri? Ibu pikir saya tidak punya harga diri?"
"Kalau punya, kamu tidak akan mengirim paket foto lama ke rumahku."
Sari terdiam.
Ratna membuka tas, mengeluarkan satu foto, lalu meletakkannya di meja.
"Ini kamu kirim untuk siapa? Untuk Bambang mengenang masa lalu, atau untuk membuatku tahu?"
Sari melihat foto itu. Bibirnya bergerak sedikit.
"Saya hanya mengembalikan barang lama."
"Dengan kuitansi makam di dalamnya?"
Sari menatap Ratna cepat.
Ratna mengeluarkan fotokopi kuitansi. "Kamu ingin aku melihat ini, kan?"
Sari tidak menjawab.
Ratna sudah mendapatkan jawabannya.
Ia bersandar pelan ke kursi.
"Kenapa?"
Sari menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, kelembutannya retak.
"Karena saya lelah sembunyi."
Ratna menatapnya tanpa berkedip.
Sari berkata lebih cepat, "Sepuluh tahun, Bu. Sepuluh tahun saya menunggu. Setiap tahun baru dia datang, lalu pulang ke rumah Ibu. Saya tidak boleh menelepon malam-malam. Tidak boleh memasang foto. Tidak boleh muncul di kampung. Kalau sakit, saya tunggu dia punya alasan keluar rumah dulu. Ibu punya namanya. Ibu punya rumahnya. Ibu punya anak-anaknya. Saya punya apa?"
"Kamu punya pilihan untuk pergi."
"Mudah sekali Ibu bicara. Ibu tidak pernah kehilangan dia."
Ratna hampir tertawa.
"Aku kehilangan dia setiap tahun baru tanpa tahu namanya."
Sari terdiam.
Pelayan datang membawa minuman. Keduanya menunggu sampai pelayan pergi.
Ratna bertanya, "Rumah itu idemu?"
Sari langsung menghindar. "Rumah apa?"
"Jangan pura-pura. Aku punya fotokopi perjanjian jual beli."
Wajah Sari berubah.
"Itu Bang Bambang yang menawarkan."
"Kamu menerima."
"Saya butuh tempat tinggal."
"Suamiku membelikanmu rumah dari uang yang seharusnya menjadi harta bersama."
Sari mengangkat dagu. "Ibu punya rumah besar di kampung. Punya klinik. Punya anak-anak mapan. Saya cuma punya satu rumah kecil. Apa itu terlalu banyak?"
Ratna memandang perempuan itu.
Di sinilah letak bahayanya. Sari bukan hanya jahat. Ia merasa dirinya korban. Ia merasa Ratna sudah memiliki terlalu banyak, sehingga mengambil sedikit dari hidup Ratna bukan dosa besar.
"Kamu pikir aku mendapatkan semua itu gratis?" tanya Ratna. "Rumah itu dibangun dari tahun-tahun aku bekerja. Klinik itu berdiri karena aku meninggalkan karier di RSUD untuk mengurus keluarga Bambang. Anak-anak mapan karena aku ikut membesarkan mereka. Kamu melihat hasilnya, lalu merasa berhak mengambil bagian?"
Sari diam.
Ratna melanjutkan, "Kamu tahu Bambang sakit paru-paru beberapa tahun lalu?"
Sari mengangguk kecil.
"Siapa yang mengurus operasi? Siapa yang tidur di kursi rumah sakit? Siapa yang menyiapkan obat setiap hari?"
Sari tidak menjawab.
"Kamu?"
Sari menatap meja.
Ratna menarik napas. "Kamu hanya mendapat Bambang versi rapi. Bambang yang sudah mandi, memakai kemeja, membawa cerita cinta lama. Aku mendapat Bambang yang batuk darah, marah karena nasi kurang hangat, lupa bayar listrik, dan meninggalkan cucu menangis karena ingin main kartu di pos ronda."
Sari menggenggam tasnya.
"Kalau begitu kenapa Ibu masih mempertahankan dia?"
Pertanyaan itu membuat Ratna diam.
Sari menatapnya dengan mata berkilat. "Kalau dia seburuk itu, lepaskan. Biarkan dia memilih saya."
Ratna menatap teh tawarnya.
Dulu, kalimat itu mungkin akan menghancurkannya. Hari ini, kalimat itu justru membuka sesuatu.
Kenapa ia masih mempertahankan Bambang?
Karena anak-anak?
Karena malu?
Karena takut hidup sendiri?
Atau karena ia sudah terlalu lama menjadi istri Bambang sampai lupa bahwa ia bisa berhenti?
Ratna mengangkat wajah.
"Kamu ingin dia?"
Sari tampak terkejut oleh ketenangan Ratna.
"Saya mencintainya."
"Cinta tidak selalu membuat orang siap mencuci popok orang tua nanti."
"Saya siap."
"Baik."
Sari berkedip. "Baik?"
"Aku tidak akan rebutan laki-laki umur enam puluh lima seperti rebutan sembako."
Wajah Sari memerah, kali ini karena tersinggung.
Ratna mengumpulkan foto dan bukti, memasukkannya kembali ke map.
"Tapi soal uang, rumah, dan makam, itu tidak akan kubiarkan begitu saja."
Sari menegang.
"Bu Ratna..."
"Kamu boleh menunggu cinta pertamamu. Kamu boleh merasa hidupmu pahit. Tapi jangan pakai uang hasil kerja perempuan lain untuk membayar kebahagiaanmu."
Ratna berdiri.
Sari ikut berdiri, panik.
"Ibu mau apa?"
"Pulang."
"Lalu?"
Ratna menatapnya.
"Lalu aku akan bicara dengan suamiku. Kali ini, bukan sebagai istri yang takut kehilangan. Tapi sebagai perempuan yang akhirnya sadar dirinya sudah terlalu lama dirugikan."
Sari membuka mulut, tetapi Ratna sudah berbalik.
Di luar rumah makan, matahari sore menyilaukan. Ratna berdiri sebentar di tepi jalan, menunggu ojek online yang ia pesan.
Ponselnya bergetar.
Bambang: Kamu ketemu Sari? Apa yang kamu katakan padanya?
Ratna membaca pesan itu.
Lalu membalas:
Ratna: Aku tanya apakah dia siap merawatmu kalau kamu sudah tidak bisa apa-apa.
Bambang tidak membalas lagi.
Ratna memasukkan ponsel ke tas.
Untuk pertama kalinya sejak membuka kotak besi itu, dadanya terasa sedikit lebih lapang.
Ia belum tahu akan bercerai atau tidak.
Tapi ia tahu satu hal.
Ia tidak akan memohon pada siapa pun untuk dipilih.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan