Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Zhang Ming menyeret Lin Liu ke sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan, memesan dua gelas kopi tanpa bertanya dulu apa yang diinginkan temannya itu. Dia duduk dengan gaya santai, menyesap kopinya sebelum mulai berbicara dengan nada penuh percaya diri.
"Jadi gini, Lin Liu," Zhang Ming mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah. "Aku kerja sama beberapa orang, urusannya 'nganter barang' doang. Sekali jalan, kau bisa dapet dua sampai tiga juta. Gampang, cepat, nggak ribet."
Lin Liu mengerutkan kening, insting waspadanya langsung menyala. "Nganter barang apaan? Kenapa bayarannya bisa segede itu buat kerjaan yang katanya gampang?"
Zhang Ming tertawa kecil, menepuk bahu Lin Liu seolah meremehkan kekhawatirannya. "Udah, nggak usah banyak tanya. Yang penting kau dapet duit cepet, kelar masalah utangmu. kau pikir aku bakal jerumusin temen sendiri?"
"Zhang Ming, aku tahu darimu dulu emang suka jalan pintas," Lin Liu menatap tajam ke arah temannya itu, tidak terpengaruh oleh nada meyakinkan itu. "Tapi aku nggak mau ambil resiko yang bisa bikin masalahku makin runyam. Kalau itu barang ilegal, aku nggak akan mau ikut."
Wajah Zhang Ming sedikit berubah, senyumnya memudar meskipun hanya sesaat sebelum kembali santai. "Terserah kau lah. Tapi inget, kesempatan kayak gini nggak datang dua kali. Sementara kau sibuk kerja jujur dapet recehan, orang lain udah kaya raya dari jalan pintas."
Lin Liu menggeleng tegas, berdiri dari kursinya. "Aku lebih memilih jalan susah tapi bisa tidur nyenyak, daripada jalan cepat tapi harus terus-terusan was-was. Makasih tawarannya, tapi aku nggak tertarik."
Zhang Ming menatap Lin Liu lama, kemudian mengangkat bahu acuh tak acuh. "Ya udah, terserah. Tapi jangan menyesal kalau nanti kau malah kesusahan sendiri."
Lin Liu meninggalkan kedai kopi itu dengan perasaan tidak nyaman, meskipun dia yakin sudah mengambil keputusan yang benar. Dia menghabiskan sisa siang itu mendaftar sebagai pengemudi ojek online menggunakan ponsel bekas yang baru dibelinya, lalu langsung mulai menerima orderan begitu akun barunya disetujui.
Sore harinya, dia mengantar penumpang demi penumpang tanpa henti, keringatnya bercucuran namun semangatnya tidak surut, mengingat waktu misi yang terus berjalan mundur di sudut penglihatannya. Setiap kali menerima uang dari penumpang, dia menyimpannya rapat-rapat, menghitung dalam hati berapa lagi yang harus dia kumpulkan.
Setelah mengantarkan barang dan penumpang selama berhari-hari tanpa henti. Walaupun begitu dia tetap tidak tenang karena A-Wei dan Zhang Ming terus menelpon. Tapi dia terus mengabaikannya.
Akhirnya sampai dimalam hari, dia menerima orderan mengantar penumpang ke daerah yang terasa familiar tapi malam ini cukup sepi dan gelap. Sepanjang perjalanan, dia merasa ada yang tidak beres—penumpangnya, seorang pria berbadan besar, terus memberi arahan berbelok ke jalan-jalan kecil yang semakin sepi dan gelap.
"Pak, ini emang jalannya lewat sini?" tanya Lin Liu, mulai waspada.
"Iya, lurus aja, bentar lagi sampai," jawab pria itu singkat.
Firasat buruk Lin Liu semakin kuat ketika motor yang dikendarainya memasuki sebuah gang yang gelap gulita, tanpa penerangan sama sekali. Belum sempat dia bertanya lebih lanjut, pria di belakangnya tiba-tiba mencengkeram kerah bajunya dengan kasar.
"Diem kau. Titipan salam dari Zhang Ming, katanya kau terlalu sok jujur," bisik pria itu tepat di telinganya, sebelum sebuah pukulan keras mendarat di belakang kepala Lin Liu.
Pandangannya seketika mengabur, motor yang dikendarainya oleng tidak terkendali, dan hal terakhir yang dia dengar sebelum semuanya menjadi gelap adalah suara benturan keras tubuhnya membentur aspal jalan.