Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Jangkrik masih duduk mematung di tempatnya. Pengakuan jujur dari Sang Warok terus berputar telak di dalam kepalanya. Hal itu tidak membuat amarahnya menyusut; justru sebaliknya, dendam di lubuk hatinya kini memiliki jangkar alasan yang jauh lebih jelas.
Sang Warok membantai keluarganya bukan karena terlibat pertarungan, bukan pula karena membela diri. Lelaki itu melakukannya demi sebuah ambisi atas benda yang bahkan belum pernah ia lihat wujudnya.
Di seberang bara, Sang Warok tampak tetap tenang. Tangannya bergerak santai menyorongkan beberapa potong kayu kering ke dalam api.
"Warok," panggil Jangkrik datar.
"Hm?"
"Kalau peti itu tidak pernah kau temukan... untuk apa kau membiarkanku hidup dan membawaku kemari?"
Warok mengangkat wajahnya, menembus asap tipis perapian. "Karena kau adalah satu-satunya saksi terakhir yang tersisa dari keluarga itu."
"Aku tidak tahu apa-apa soal peti itu."
"Aku percaya."
Jawaban instan itu justru membuat Jangkrik mengernyit heran. "Lalu?"
Warok kembali melempar tatapannya ke kobaran api yang mulai membesar. "Tapi siapa tahu... suatu hari nanti ingatan masa kecilmu memunculkan sesuatu yang berharga."
Jangkrik mengepalkan tangan erat-erat di atas lututnya. "Aku tidak akan pernah sudi membantumu."
Warok terkekeh pelan, seolah sudah menebak reaksi itu. "Aku tahu. Makanya, aku memilih jalan memutar."
"Mengajariku ilmu silat?"
Warok mengangguk mantap. "Jika suatu hari kau benar-benar menemukan atau mengingat keberadaan peti itu... setidaknya kau sudah cukup kuat untuk mempertahankannya dari orang lain."
Jangkrik memandangi pria itu cukup lama dalam diam. Semakin hari, ia merasa semakin sulit menyelami jalan pikiran gurunya. Di satu sisi, pria di hadapannya adalah pembantai berdarah dingin yang paling ia kutuk. Namun di sisi lain, pria yang sama pula yang rela menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menempa dan melatih calon pembunuhnya sendiri.
"Warok."
"Apa lagi?"
"Menurutmu... apakah suatu hari nanti aku akan memaafkanmu?"
Warok tertawa lepas, suara tawanya terdengar parau memecah kesunyian malam. "Tidak. Sama sekali tidak."
"Bagus."
"Karena aku juga tidak pernah sudi dimaafkan oleh siapa pun," sahut Warok dingin.
Keesokan harinya, sebelum semburat fajar pertama memecah langit timur, Warok sudah membangunkan Jangkrik. Namun kali ini, tidak ada lecutan cambuk atau bentakan kasar yang menyambutnya.
"Bangun."
Jangkrik membuka kelopak matanya yang masih berat. "Ada apa?"
"Bersiaplah. Kita turun gunung."
Jangkrik langsung terduduk tegak. "Turun gunung?"
"Ya."
Untuk pertama kalinya sejak diculik dari Desa Klawitan hampir setahun yang lalu, Jangkrik mendengar kata-kata itu keluar dari mulut gurunya.
"Kita mau ke mana?"
"Pasar di kaki gunung."
Jangkrik mengernyitkan dahi. "Seorang Warok pergi ke pasar?"
Warok mendengus gusar sembari mengemas barang. "Memangnya kau pikir seorang Warok bisa hidup tanpa garam dan keperluan dapur?"
Jangkrik terdiam, agak salah tingkah. Ia baru menyadari bahwa selama ini, berbagai kebutuhan hidup mereka di tengah hutan pastilah dipasok dari dunia luar yang luput dari perhatiannya.
Warok mengambil dua keranjang bambu kosong lalu melemparkan salah satunya ke arah Jangkrik. "Sebelum kita berangkat, ada satu aturan mutlak yang harus kau patuhi."
Jangkrik menajamkan pendengarannya.
"Di bawah gunung nanti, kau bukan muridku."
"Lalu?"
"Kau adalah cucuku."
Jangkrik langsung mengibaskan tangan, menolak mentah-mentah. "Aku tidak mau."
Sepasang mata Warok mendadak berkilat tajam. "Jika orang-orang pasar tahu ada bocah asing tinggal bersamaku di jantung hutan Pegunungan Sewu, seluruh telik sandi dan prajurit Mataram akan langsung mengepung tempat ini dalam hitungan hari. Kau paham?"
Jangkrik menghela napas berat, menyadari posisi mereka. "Baiklah."
Warok kemudian menyodorkan sebuah caping bambu berukuran lebar. "Pakai ini."
"Untuk apa?"
"Menutupi wajahmu agar tidak memancing perhatian."
Jangkrik mengenakan caping itu hingga menutupi sebagian wajahnya. Sementara itu, Sang Warok sendiri telah mengenakan kain hitam yang menutupi separuh wajahnya, menyisakan sepasang matanya yang elang dan berwibawa.
"Ayo."
Mereka mulai melangkah menuruni lereng Pegunungan Sewu yang curam. Sepanjang perjalanan, Jangkrik mengedarkan pandangan, menyerap kembali pemandangan dunia luar yang hampir setahun lamanya terenggut darinya. Burung-burung liar beterbangan bebas, suara gemercik air sungai mengalir jernih, dan beberapa pemburu tampak melintas di kejauhan. Tak seorang pun menyadari keberadaan mereka yang bergerak lincah di balik rimbunnya vegetasi.
Menjelang siang, langkah kaki mereka akhirnya menapak di sebuah pasar kecil yang terletak di kaki gunung. Suasana di sana begitu riuh dan hidup. Riuh rendah tawar-menawar pedagang sayur, petarangan penjual ayam, dentang besi dari bilik pandai besi, hingga jejeran pengrajin gerabah. Bagi Jangkrik, keramaian itu terasa begitu asing sekaligus menghangatkan hati yang telah lama beku. Sudah terlalu lama ia terisolasi hanya bersama satu manusia di tengah kesunyian hutan.
Warok berjalan dengan langkah konstan di antara kerumunan. Anehnya, meskipun berpakaian layaknya warga biasa, tak seorang pun pengunjung pasar yang berani menatap wajahnya terlalu lama. Aura intimidasi dan hawa membunuh yang pekat dari pria itu seolah memberi peringatan naluriah kepada siapa saja untuk menyingkir.
Saat melintasi sebuah kedai makanan di sudut pasar, langkah kaki Jangkrik mendadak terpaku. Matanya menatap tanpa berkedip ke arah seorang perempuan tua yang sedang tersenyum ramah membagikan mangkuk-mangkuk bubur hangat kepada anak-anak telantar. Wajah perempuan tua itu... garis senyumnya... begitu mirip dengan mendiang ibunya.
Dada Jangkrik seketika terasa sesak. Kerinduan yang membuncah membuat kakinya bergerak sendiri, melangkah mendekati kedai tersebut tanpa sadar.
"Jangkrik," tegur suara berat Warok dari balik punggungnya.
Namun bocah itu seolah tuli. Matanya mulai berkaca-kaca saat jaraknya semakin dekat dengan perempuan tua itu.
Si perempuan tua yang menyadari kehadiran Jangkrik segera melempar senyum yang teramat tulus. "Nak... mau semangkuk bubur hangat?"
Jangkrik tercekat, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sudah teramat lama kupingnya tidak dimanjakan oleh sapaan selembut dan sehangat itu.
Namun, di saat Jangkrik tenggelam dalam riak emosinya, dari sudut pasar yang gelap, sepasang mata licik sedang mengintai dengan tajam. Seorang pria bertubuh kurus dengan pakaian kumal menyipitkan mata ke arah Warok, sebelum akhirnya tatapan beracun itu terkunci pada sosok Jangkrik yang memakai caping.
Pria kurus itu terkesiap, lalu bergumam lirih di balik giginya, "Itu dia... anak dari keluarga saudagar yang malang itu. Dia belum mati."
Dengan cepat, pria itu berbalik dan menyelinap dengan lihai di antara kerumunan, mengambil langkah seribu menuju gang sempit di belakang pasar.
Tanpa disadari oleh Jangkrik maupun Sang Warok, kehadiran mereka telah memicu riak baru. Kabar bahwa bocah yang seharusnya lenyap dalam malam pembantaian itu ternyata masih bernapas, mulai menyebar cepat ke telinga orang-orang berbahaya yang selama ini juga memburu rahasia besar di balik keluarga Jangkrik.