NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 : Sangat Takjub

Aurora tersenyum canggung. "Saya baru datang sehari, Tuan."

"Justru itu," jawab Leonardo sambil meletakkan cangkir tehnya. "Biasanya rumah ini terlalu tenang."

Aurora menoleh ke arah Isabel. "Padahal pelayannya banyak."

Leonardo terkekeh pelan. "Banyak bukan berarti ramai."

Aurora mengernyit. "Maksud Tuan?"

"Semua orang di mansion ini bekerja dengan sangat disiplin. Mereka berbicara seperlunya, melakukan tugas masing-masing, lalu kembali ke kamar. Jarang ada yang berani bercanda di depanku maupun di depan Adrian."

Aurora mengangguk pelan. "Itu... masuk akal."

Leonardo tersenyum. "Tapi sejak kau datang, aku sudah mendengar beberapa orang tertawa."

Aurora langsung menunjuk dirinya sendiri. "Karena saya?"

"Ya."

Aurora terkekeh malu. "Saya tidak bermaksud membuat keributan."

"Itu bukan keributan." Leonardo menggeleng. "Tapi suasana."

Ucapan itu membuat Aurora tersenyum tipis.

Isabel yang berdiri di samping mereka ikut mengangguk pelan. "Don Besar benar, bahkan para koki di dapur tadi terlihat lebih santai."

Aurora tertawa kecil. "Mungkin karena aku terlalu banyak bertanya."

"Itu bukan hal buruk," kata Leonardo. "Orang yang mau bertanya berarti ingin belajar."

Aurora menundukkan kepala sedikit. "Terima kasih, Tuan."

Leonardo memperhatikan wajah gadis itu beberapa saat. Entah mengapa... semakin lama ia melihat Aurora, semakin kuat perasaan asing yang mengusik pikirannya.

Senyuman itu, cara gadis itu berbicara. Bahkan sorot matanya... semuanya terasa begitu tidak asing. Namun ia tetap tidak mampu mengingatnya.

Leonardo akhirnya mengembuskan napas pelan. "Sudahlah... kalau terus kupikirkan, kepalaku justru semakin pusing," batinnya.

Pria tua itu mengalihkan pandangan kearah Isabel. "Isabel."

"Ya, Don Besar."

"Hari ini jangan beri Aurora pekerjaan yang terlalu berat."

"Baik."

"Biarkan dia mengenal lingkungan mansion lebih dulu."

"Saya mengerti."

Aurora langsung menggeleng. "Sebenarnya saya tidak apa-apa kalau langsung bekerja."

Leonardo tersenyum ramah. "Semangatmu bagus. Tapi, tidak ada orang yang bisa memahami mansion sebesar ini hanya dalam satu hari."

Aurora tertawa kecil. "Itu juga benar."

Leonardo berdiri dari kursinya. "Ayo."

Aurora dan Isabel saling berpandangan.

"Kita ke taman belakang."

Aurora tampak bingung. "Sekarang?"

Leonardo mengangguk. "Setiap pagi aku berjalan-jalan sebentar di sana."

Aurora spontan menoleh kepada Isabel. "Aku ikut juga?"

Isabel mengangguk sambil tersenyum. "Itu juga bagian dari pekerjaanmu."

Aurora akhirnya mengangguk. "Baik."

Beberapa menit kemudian...

Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah taman belakang. Udara pagi terasa sejuk, embun masih menempel di dedaunan. Burung-burung kecil berkicau di antara pepohonan.

Aurora menghirup napas dalam-dalam. "Enak sekali udaranya."

Leonardo tersenyum tipis. "Kalau sedang banyak pikiran, aku selalu berjalan di sini."

Aurora mengangguk. "Tidak heran tamannya dirawat sebagus ini."

"Taman ini sudah ada sejak Adrian datang ke mansion ini."

Aurora menoleh. "Apakah dia juga sering bermain di sini?"

Langkah Leonardo perlahan terhenti. Sorot matanya berubah sedikit sendu. "Dulu... iya."

Aurora menangkap perubahan ekspresi itu. "Maaf... saya tidak bermaksud..."

"Tidak apa-apa." Leonardo tersenyum tipis. "Hanya saja... Adrian tidak pernah benar-benar menikmati masa kecilnya."

Aurora terdiam.

Leonardo kembali melangkah. "Saat ikut denganku ke mansion ini, dia selalu di sibukkan dengan belajar bisnis dan mengelola perusahaan. Jadi sudah tidak pernah bermain-main lagi kesini.

Aurora tidak menyela.

"Dia sekarang lebih sibuk dengan Markasnya dan juga pekerjaannya." Tatapan Leonardo mengarah jauh ke depan. "Kadang sebagai seorang ayah... aku merasa bersalah, karena sudah mengambil terlalu banyak masa mudanya."

Aurora menatap pria paruh baya itu. Kini ia melihat sisi lain dari keluarga Moretti. Di balik kemewahan, kekuasaan, dan wibawa yang mereka miliki. Ternyata mereka juga menyimpan luka yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.

Aurora berjalan dalam diam di samping Leonardo. Angin pagi berembus pelan, menggoyangkan ranting-ranting pohon maple yang menaungi jalan setapak.

Beberapa saat kemudian, Aurora memberanikan diri membuka suara. "Tuan..."

Leonardo menoleh pelan. "Hm?"

"Boleh saya mengatakan sesuatu?"

"Tentu."

Aurora menggaruk pipinya sebentar, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Saya memang baru mengenal Don Adrian. Tapi..." Ia menatap jalan setapak di depannya. "Saya rasa... beliau tidak menyalahkan Tuan."

Leonardo sedikit terkejut. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"

Aurora tersenyum tipis. "Karena kalau beliau benar-benar membenci Tuan, beliau tidak akan begitu mengkhawatirkan kesehatan Tuan."

Leonardo terdiam.

Aurora melanjutkan. "Tadi pagi, hal pertama yang beliau tanyakan kepada Kak Isabel bukan pekerjaan, melainkan apakah Tuan sudah minum teh herbal atau belum. Beliau juga memilihkan orang untuk membantu merawat Tuan. Menurut saya..." Aurora mengangkat bahu pelan. "Itu bukan tindakan orang yang menyimpan kebencian."

Leonardo tersenyum kecil. "Kau ternyata cukup pandai mengamati."

Aurora tertawa pelan. "Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat."

Leonardo mengangguk perlahan. "Mungkin... kau benar." Ia mengembuskan napas panjang. "Adrian memang tidak pernah pandai mengungkapkan perasaannya. Sejak dia remaja kalau dia peduli kepada seseorang, dia justru akan terlihat lebih dingin."

Aurora langsung mengernyit. "Itu kebiasaan yang aneh."

Leonardo terkekeh. "Sangat aneh, tapi begitulah Adrian."

Aurora tanpa sadar ikut tertawa. "Kasihan sekali orang yang nanti menjadi istrinya."

Mendengar kalimat itu, Isabel hampir tersedak menahan tawa. Leonardo bahkan tertawa lebih keras daripada sebelumnya.

"Hahahaha."

"Kenapa, Tuan?" tanya Aurora polos.

Leonardo menggeleng sambil mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa. "Tidak... hanya saja sudah lama sekali aku bisa tertawa seperti ini."

Aurora ikut tersenyum.

Mereka kembali berjalan.... tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah gazebo kayu yang menghadap kolam kecil. Leonardo duduk perlahan di bangku panjang.

Aurora berdiri di samping Isabel sambil memandangi ikan-ikan koi yang berenang tenang. "Indah sekali..."

"Itu koi kesayangan Don Besar," jelas Isabel.

Aurora berjongkok di tepi kolam. Seekor koi berwarna putih keemasan perlahan berenang mendekat.

"Hai..." sapa Aurora pelan. Ikan itu justru semakin mendekat, membuat Aurora tersenyum lebar. "Lucu sekali."

Leonardo memperhatikannya dari kejauhan. Entah mengapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa hangat. Gadis itu begitu sederhana. Ia tidak terpukau oleh kemewahan mansion, tetapi justru tersenyum tulus saat melihat seekor ikan.

Saat itulah Carlo datang menghampiri dengan langkah tergesa. "Don Besar."

Leonardo menoleh. "Ada apa?"

Carlo membungkukkan badan. "Direktur dari Moretti Pharmaceutical sudah tiba. Beliau mengatakan ada rapat yang harus segera dimulai."

Leonardo mengangguk pelan. "Baik. Katakan aku akan segera ke sana."

"Baik, Don Besar." Seketika Carlo langsung pergi.

Leonardo kemudian berdiri. "Aurora."

Aurora segera menoleh. "Ya, Tuan?"

"Aku harus bekerja."

Aurora mengangguk. "Semoga rapatnya lancar."

Leonardo tersenyum tipis. "Terima kasih."

Ia kemudian menatap Isabel. "Isabel."

"Ya, Don Besar."

"Setelah ini, ajak Aurora melihat klinik pribadi mansion."

Aurora berkedip. "Klinik?"

Isabel mengangguk. "Di mansion ini ada klinik kecil beserta dokter keluarga yang selalu siaga dua puluh empat jam."

Aurora kembali dibuat terkejut. "Bahkan ada Dokternya juga?"

Leonardo tersenyum geli melihat reaksinya. "Kalau tinggal bersama keluarga Moretti, kau akan sering mengatakan 'astaga'."

Aurora menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Sepertinya benar."

Leonardo tertawa kecil sebelum pergi. Setelah sosok Don Besar menghilang dari taman, Isabel menoleh kepada Aurora.

"Ayo, kita ke klinik."

Aurora mengangguk. Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan, sebuah mobil hitam berhenti di depan halaman samping mansion. Seorang pria berjas putih keluar dari dalam mobil sambil membawa sebuah koper medis.

Begitu melihat Isabel, ia tersenyum ramah. "Selamat pagi, Nona Isabel."

"Selamat pagi, Dokter."

Aurora memandang pria itu dengan penasaran. Isabel pun memperkenalkan mereka.

"Aurora, perkenalkan. Ini Dokter Ethan Schneider, dokter pribadi keluarga Moretti."

Dokter Ethan mengulurkan tangan sambil tersenyum hangat. "Senang bertemu dengan Anda, Nona Aurora."

Aurora membalas jabatannya dengan sopan. "Senang bertemu dengan Anda juga, Dokter."

Dokter Ethan memperhatikan bekas kemerahan yang masih samar di pipi Aurora. Senyumnya perlahan memudar.

"Luka di pipi Anda..." Ia menatap Isabel. "Apakah ini pasien yang semalam diminta Don Adrian untuk diperiksa dan diberi salep?"

Isabel mengangguk. "Benar."

Dokter Ethan kembali memandang Aurora. "Kalau begitu, sebelum mulai bekerja, izinkan saya memeriksa kondisi Anda terlebih dahulu."

Aurora sedikit terkejut. "Hanya luka kecil saja, Dok."

Dokter Ethan tersenyum ramah. "Saya tahu. Tapi kalau itu perintah Don Adrian..." Ia mengangkat bahu kecil. "Bahkan saya pun tidak bisa mengabaikannya."

Aurora hanya bisa memijat pelipisnya sambil bergumam pelan, "ya ampun... pria itu benar-benar mengatur semuanya sampai ke dokter..."

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!