NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Tinju Anjing Gila

Calvin tidak langsung melepaskan Ratna.

Kesalahan itu membuat udara di gang berubah.

Bima tidak berlari membabi buta. Ia berjalan tiga langkah pertama dengan tenang, seperti orang yang sedang mengukur lantai. Pada langkah keempat, Purnomo maju dari samping, tubuh besarnya menutup separuh lorong.

"Berhenti di situ, Bang," geram Purnomo.

Bima menatapnya sekilas. "Minggir."

Purnomo mengayunkan pukulan kanan ke arah wajah Bima.

Gerakannya kuat, tapi lambat.

Kapsul Penguatan Tubuh (Dasar) membuat penglihatan Bima menangkap tarikan bahu, putaran pinggang, sampai telapak kaki Purnomo yang salah tumpuan. Sebelum kepalan itu sampai, Bima sudah masuk ke sisi dalam. Satu sikut pendek menghantam tulang rusuk Purnomo.

Napas pria besar itu terputus.

Bima tidak berhenti. Lututnya naik ke paha Purnomo, tepat di titik yang membuat kaki lawan kehilangan tenaga. Saat Purnomo menunduk, pukulan pendek Tinju Anjing Gila mendarat di dagunya.

Pukulan itu tidak dibuat untuk pamer.

Pukulan itu membuat mata Purnomo kosong dan tubuhnya jatuh menabrak tembok.

David melepaskan Koko dan meraih batu bata pecah di dekat selokan. "Anjing!"

Bima memutar tubuh. Batu itu melayang ke arah kepalanya, tapi ia menunduk setengah langkah. Tangannya menangkap pergelangan David, memutar keluar sampai sendi lelaki itu berbunyi keras.

"Aduh! Lepas!"

Bima menghantamkan telapak tangan ke dada David. Tubuh David terdorong ke belakang, menghantam tong sampah, lalu terjatuh dengan batu masih terlepas dari jarinya. Bima menendang batu itu menjauh.

Baru setelah itu ia menatap Calvin.

Calvin akhirnya melepaskan lengan Ratna setelah kehilangan kendali atas situasi. Ia mendorong Ratna ke samping dan mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku jaket.

Ratna terhuyung. Zahra menangkapnya. Koko menangis tanpa suara, tapi ia masih sempat menarik Ratna menjauh dari dinding.

"Mas!" teriak Ratna.

Bima melihat pisau itu terbuka.

SBE berdengung di sudut pandangannya.

[Batas sistem aktif: ancaman senjata tajam. Respons non-mematikan diizinkan.]

Calvin menusuk lurus ke perut.

Bima memiringkan badan. Bilah pisau lewat satu jari dari kausnya. Tangan kirinya menepuk pergelangan Calvin ke bawah, tangan kanannya masuk seperti palu pendek ke ulu hati lawan.

Calvin terbatuk, tapi masih mencoba mengangkat pisau lagi.

Bima mematahkan ritme itu dengan tendangan rendah ke lutut bagian samping.

Calvin jatuh berlutut.

Pisau terlepas, berdenting di lantai gang. Bima menginjak gagangnya, menyeretnya jauh, lalu mencengkeram kerah Calvin.

Untuk sesaat, semua orang mengira ia akan menghancurkan wajah Calvin sampai tidak berbentuk.

Ratna pun menahan napas.

Tapi Bima hanya menekan Calvin ke tembok, cukup keras untuk membuat kepalanya terbentur sekali.

"Dengar baik-baik," kata Bima, suara rendah. "Kamu minta uang, aku masih bisa bawa bukti ke polisi. Kamu sentuh adik saya, kamu sudah memilih pintu yang lebih sempit."

Calvin mengerang. "Lo... lo nggak tahu siapa bokap gue."

Bima mendekatkan wajahnya. "Nanti saya cari tahu. Sekarang kamu belajar dulu siapa saya."

Ia melepas Calvin. Lelaki itu jatuh terduduk, memegangi perut, napasnya patah-patah.

Seluruh perkelahian itu berlangsung kurang dari tiga puluh detik.

Warung depan mulai ramai. Beberapa mahasiswa mengintip dari ujung gang. Ada yang merekam dengan ponsel, ada yang berbisik menyebut nama Calvin, ada pula yang buru-buru menyingkir ketika Bima menoleh.

"Tidak ada yang mendekat," kata Bima.

Nada itu tidak keras, tapi cukup membuat semua kaki berhenti.

Bima mengambil jaketnya yang tersampir di lengan dan menghampiri Ratna. Wajah adiknya pucat. Bekas jari Calvin memerah di pergelangan tangannya. Buku-buku hukum masih berserakan di lantai, satu halaman sobek karena terinjak.

"Rat," ujar Bima, kali ini suaranya berubah pelan. "Lihat Kakak."

Ratna mengangkat wajah. Bibirnya bergetar, tapi matanya tidak kosong.

"Aku baik-baik saja," katanya cepat, seolah takut Bima akan meledak kalau ia mengaku sakit.

"Tidak perlu bohong."

Bima menyampirkan jaket ke bahu Ratna. "Duduk di dekat pagar. Zahra, temani dia. Koko, bisa napas?"

Koko mengangguk sambil menangis. "Bisa, Mas."

"Bagus. Jangan hapus apa pun dari ponselmu. Kalau tadi ada rekaman, simpan. Kalau tidak ada, tidak apa-apa."

Zahra menatap Bima dengan mata basah. "Mas, mereka bawa pisau. Kalau polisi bilang ini cuma ribut mahasiswa?"

Bima menunjuk pisau di lantai tanpa menyentuhnya. "Maka kita pastikan polisi melihat pisau itu di tempatnya, dengan saksi, dengan rekaman, dengan korban yang langsung visum kalau perlu."

Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon.

Panggilan pertama ke Briptu Dodik.

"Pak Dodik, saya Bima Liem. Ada percobaan pemerasan, kekerasan, dan pelecehan terhadap adik saya di gang belakang kos UH Naga Kota. Pelaku tiga orang. Satu membawa pisau. Lokasi saya kirim sekarang. Tolong kirim anggota, dan saya minta TKP tidak dibersihkan."

Dodik di seberang terdengar langsung tegas. "Korban aman?"

"Aman. Pelaku sudah dilumpuhkan, tidak saya ikat, tapi masih di lokasi."

"Jangan sentuh barang bukti. Saya bergerak."

Panggilan kedua ke Wisnu Saputra.

"Pak Wisnu, saya butuh pendampingan korban untuk adik saya. Kemungkinan ada unsur pemerasan, penganiayaan, percobaan pelecehan, dan senjata tajam. Saya punya rekaman."

"Jaga korban. Jangan terpancing keluarga pelaku. Saya susul ke Polsek atau Polresta sesuai arahan."

Bima menutup telepon.

Calvin yang masih terduduk mencoba tertawa meski wajahnya pucat. "Hebat juga. Main polisi, main pengacara. Lo kira bisa menang?"

Bima berjongkok di depannya.

"Calvin Wijaya. David Hartono. Purnomo Santoso. Setoran liar sekitar kampus, laporan lama yang selesai damai, saksi yang dicabut. Kamu pikir semua itu hilang karena orang takut?"

Wajah David yang tergeletak dekat tong sampah langsung berubah.

Purnomo mengangkat kepala dengan susah payah. "Dari mana lo tahu?"

"Dari kebiasaan kalian sendiri."

Calvin menggertakkan gigi. "Bokap gue akan bikin lo nyesal."

Bima berdiri. Kali ini, ia membiarkan semua orang di gang mendengar.

"Suruh dia datang. Bawa uang, bawa backing, bawa semua nama yang biasa kalian pakai untuk menakuti anak kos."

Sirene pendek terdengar dari jalan depan. Beberapa warga mulai mundur. Bu Tuti berlari kecil dari pagar kos, wajahnya campur takut dan lega.

Bima mengambil posisi di samping Ratna, menjauh dari kamera orang-orang dan dari tubuh Calvin. Ia berdiri di tempat yang membuat adiknya tidak lagi terlihat sendirian.

Ketika Briptu Dodik dan dua anggota masuk gang, Bima mengangkat tangan menunjukkan dirinya tidak memegang senjata.

"Pelaku di sana. Pisau di dekat selokan. Korban di sini."

Calvin mencoba berdiri, tapi lututnya gagal.

Bima menatapnya tanpa senyum.

Dodik menatap posisi pisau, buku Ratna yang berserakan, dan tiga pelaku yang masih berusaha memainkan peran korban. Ia lalu meminta Bima mundur dua langkah. Bima patuh, mengangkat kedua tangan, dan membiarkan polisi mengambil alih. Semua orang melihat bahwa ia tidak mencari panggung. Ia sudah menang, lalu menyerahkan kemenangan itu ke hukum.

"Kamu sentuh adik saya," katanya, "ini baru mulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!