Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tikus di Sarang Naga
"Dia selamat," ucap Dokter Hans seraya melepas sarung tangan karetnya yang penuh darah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Raut wajah pria paruh baya itu tampak lelah. "Tapi kalau sekali lagi dia nekat lari-larian atau adu jotos dalam keadaan usus nyaris robek, saya sarankan kalian siapkan saja peti mati untuknya."
Rara mengembuskan napas sangat panjang. Bahunya yang sejak tadi menegang kaku seketika merosot turun. "Syukurlah..." bisiknya lemah, merasakan batu besar yang menghimpit dadanya terangkat.
"Terima kasih, Dokter," balas Bara dengan nada datar dan profesional.
"Jangan bilang terima kasih dulu, Bara. Bayarannya tiga kali lipat karena aku harus mengorbankan waktu tidurku dan mengambil risiko besar demi bos kalian," gerutu Dokter Hans sambil merapikan letak kacamatanya. "Masuklah. Dia sudah sadar, tapi pengaruh biusnya masih tersisa sedikit."
Rara melangkah perlahan memasuki ruang rawat yang beraroma antiseptik sangat tajam. Di atas ranjang medis, Arka berbaring dengan wajah sepucat porselen. Infus menancap di punggung tangan kirinya, dan tubuh besarnya kini terbalut perban tebal yang bersih.
Arka menoleh pelan saat mendengar langkah kaki. Mata tajamnya menatap gadis itu.
"Berhenti menatap saya dengan wajah menyedihkan begitu," suara Arka terdengar serak dan parau, namun nadanya tetap ketus dan angkuh. "Saya belum mati."
Amarah Rara yang sejak tadi tertutup rasa panik mendadak tersulut lagi. Ia menarik kursi plastik dan duduk dengan kasar di samping ranjang.
"Sumpah ya, mulut lo itu beracun banget!" omel Rara ceplas-ceplos. "Orang mah bilang makasih kek, atau apa kek! Gue di luar hampir jantungan nungguin lo dioperasi, dan kalimat pertama lo malah ngatain gue menyedihkan?!"
"Saya tidak menyuruh kau menunggu," balas Arka dingin tanpa dosa, menatap lurus ke langit-langit klinik.
"Wah, asli nggak tahu diri! Udah dibopong-bopong di terowongan, dipangku di mobil biar darahnya nggak ke mana-mana, malah ngelunjak!" Rara mendelik tajam, wajahnya memerah kesal. "Tahu gitu tadi gue biarin aja lo pingsan di rumput!"
Arka menoleh sedikit, menyeringai tipis yang lebih terlihat seperti ejekan. "Kalau kau tinggalkan saya di sana, kau tidak akan punya siapa-siapa untuk menagih janji es kopi mahalmu itu."
Rara baru saja membuka mulut untuk membalas ketika pintu ruangan mendadak didorong paksa dari luar.
BRAK!
"Permisi! Orang ganteng yang lolos dari maut mau lewat!"
Rara terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati Dino berdiri di ambang pintu dengan kondisi mengenaskan. Pakaian pria itu robek di sana-sini, wajahnya cemong oleh debu mesiu, dan ada bekas luka gores panjang di pipinya. Napas Dino ngos-ngosan parah, tapi ia masih sempat nyengir lebar.
"Dino?!" Rara membelalak tak percaya. "Lo masih hidup?! Gue kira lo udah jadi perkedel di vila!"
Dino berjalan terpincang-pincang masuk ke dalam ruangan. "Ya masa gue mati secepat itu, mbak? Walau gue harus pura-pura pingsan di bawah tumpukan puing, terus ngesot lewat gorong air buat kabur." Dino menoleh pada bosnya yang terbaring kaku. "Bos Arka! Syukur deh Anda belum pindah alam. Kalau Bos mati, siapa yang bayar gaji saya bulan ini?"
Arka menatap anak buahnya itu dengan sorot mata tajam yang membekukan. "Bicara yang jelas, Dino. Bagaimana kau bisa tahu kami ada di klinik ini?"
Dino langsung memasang wajah serius, meski tampangnya masih belepotan. "Tadi pas ngumpet, gue sempet nguping obrolan anak buah Naga Hitam yang lagi nyisir vila, Bos. Mereka tau letak ruang rahasia kita. Mereka juga tau rute pelarian Bara." Dino menelan ludah. "Ada tikus di dalem markas kita, Bos."
Rara mengernyit bingung, keningnya berkerut dalam. Ia menatap Dino dengan polos. "Tikus? Di vila mewah lo yang segede gaban itu banyak tikus gotnya, Arka? Pantesan di terowongan tadi bau banget."
Dino menepuk jidatnya dengan dramatis. "Bukan tikus got, mbak Rara yang cantik jelita! Maksudnya itu mata-mata! Pengkhianat! Ada orang dalem yang ngebocorin rahasia Bos Arka ke musuh!"
"Oh..." Rara ber-oh panjang, wajahnya berubah datar. "Bilang dong dari tadi. Pakai perumpamaan segala, lo kira ini pelajaran Bahasa Indonesia."
Arka tidak memedulikan perdebatan konyol Rara dan Dino. Rahang bos mafia itu mengeras, aura membunuh perlahan kembali memancar dari matanya yang dingin. "Bara," panggilnya mutlak.
Bara yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan segera mendekat. "Ya, Bos."
"Siapa saja yang tahu akses kode brankas utama dan koordinat lorong evakuasi selain kau?" tanya Arka pelan, namun setiap kata yang keluar terasa seperti belati.
"Hanya tiga eksekutif tingkat atas kita, Bos," lapor Bara kaku. "Kalau Naga Hitam tahu rute evakuasi kita, artinya mereka juga tahu tentang klinik Dokter Hans. Tempat ini tidak aman."
Arka memejamkan mata sejenak, menahan nyeri luar biasa saat ia memaksa tubuhnya bergeser sedikit. "Siapkan kendaraan. Kita tinggalkan tempat ini."
Rara melotot panik. "Hah?! Lo gila?! Kata Dokter Hans lo baru aja dijahit! Infus lo aja masih netes, Arka!"
"Kalau kita tetap di sini, bukan cuma jahitan saya yang lepas, tapi kepala kita semua yang lepas dari leher," desis Arka menatap Rara tajam. Ia mengalihkan pandangannya ke asistennya. "Bara, mobil."
"Dokter Hans punya mobil van kargo tua di gudang belakang," lapor Bara cepat. "Kita bisa pakai itu menuju pelabuhan lama sebelum musuh melacak sinyal Dino dan menutup jalan raya."
Rara menelan ludah, dadanya kembali bergemuruh panik. Baru saja ia bisa bernapas lega, dan sekarang ia harus kembali kabur bersama buronan yang bahkan belum bisa berdiri tegap.
Arka menatap gadis yang sedang menggigit bibir itu lekat-lekat. "Kalau kau mau kabur dan kembali ke kehidupan normalmu, ini kesempatan terakhirmu, Rara. Begitu masuk ke van itu, kau akan berurusan dengan pengkhianat di lingkaran saya."
Rara membalas tatapan dingin itu. Rasa takutnya memang luar biasa, tapi membayangkan kabur sendirian di jalanan gelap yang penuh pembunuh bayaran jauh lebih mengerikan.
"Gue udah kepalang basah, tahu nggak!" ketus Rara kesal, bersedekap dada menutupi tangannya yang gemetar. "Kalau gue balik kosan sekarang, bisa-bisa gue diculik lagi sama mafia lain. Pokoknya lo harus tanggung jawab jagain nyawa gue sampai ini semua kelar!"
Arka mendengus samar, tak ada senyum, hanya sorot mata angkuh yang kembali menyala. "Pilihan cerdas."
"Ayo gerak, mbak, Bos!" sela Dino sambil memapah senapan rampasannya. "Sebelum tikus-tikus itu keburu nyampe dan gigit kita beneran!"