NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Identitas Terbongkar

Yu berdiri di balik pintu kamar selama hampir satu menit.

Ponsel di tangannya masih menampilkan pesan terakhir dari Z.

Jangan ajak siapa pun. Kita bicara berdua.

Kalimat itu seharusnya membuatnya takut pada Z. Namun yang lebih aneh, tubuh Yu justru ingin membuka pintu untuk mencari Zhen. Kalau sesuatu buruk terjadi, Zhen ada di ruang tengah. Kalau ia panik, Zhen tahu cara membuat dunia diam. Kalau Z benar-benar tahu siapa dirinya, Zhen mungkin bisa...

Yu berhenti.

Tidak.

Ia tidak bisa meminta Zhen menyelamatkannya dari masalah yang melibatkan Zhen juga, walau Zhen belum tahu. Itu seperti membakar dapur lalu meminta pemilik rumah memasak makan malam.

Ponsel bergetar lagi.

Z: Buka pintu.

Darah Yu membeku.

Ia menatap layar.

Buka pintu.

Bukan "datang ke lobby". Bukan "ke parkiran". Bukan alamat cafe. Buka pintu.

Pelan-pelan, Yu mengangkat kepala dan menatap pintu kamarnya.

Di luar sana, ruang tengah sunyi.

Terlalu sunyi.

Ia mengetik dengan jari gemetar.

MakiGwMasukBui: Anda di mana?

Balasan masuk hampir seketika.

Z: Di luar.

Yu merasa lututnya melemah.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin.

Pikirannya berlari ke segala arah. Apakah Z ada di koridor apartemen? Apakah admin memberi alamatnya? Apakah ada orang asing di depan unit? Apakah Zhen melihat? Apakah ia harus menelepon Lily? Ko Darren? Polisi?

Ketukan pelan terdengar.

Tok.

"Yu," suara Zhen datang dari luar.

Yu hampir menangis karena lega.

"Zhen?" panggilnya, terlalu cepat.

"Buka."

Satu kata itu membuat rasa lega berhenti di tengah.

Nada Zhen sama. Rendah, datar, tidak terburu-buru.

Dan terlalu mirip dengan pesan itu.

Yu menatap ponsel. Menatap pintu. Menatap ponsel lagi.

Tidak mungkin.

Tapi tubuhnya sudah tahu sebelum otaknya menyerah.

Ia membuka pintu.

Zhen berdiri di luar, memakai kaus hitam dan celana rumah. Tidak ada helm. Tidak ada jaket balap. Tidak ada aura misterius dari akun Z. Hanya roommate-nya, dengan ponsel di tangan.

Layar ponsel itu menyala.

Yu melihat ruang chat yang sama.

Z.

MakiGwMasukBui.

Pesan terakhir:

Buka pintu.

Semua udara keluar dari paru-paru Yu.

Zhen menatapnya. "Masuk ruang tengah. Kita bicara."

Yu mundur satu langkah.

"Kamu..."

"Ya."

"Kamu Z?"

"Ya."

Jawaban pendek itu menghantam lebih keras daripada penjelasan panjang.

Yu merasa wajahnya panas, lalu dingin, lalu panas lagi. Semua pesan yang pernah ia kirim, semua kalimat memalukan, semua permintaan pegang tangan, uang lima puluh juta, folder Kalkulator, Catatan UAS, semua berjatuhan di kepalanya sekaligus.

"Aku mau mati," bisiknya.

"Jangan. Repot mengurus jenazah jam segini."

Yu menatapnya dengan mata basah dan tersinggung sekaligus.

"Kamu masih bisa bercanda?"

"Kalau tidak, kamu akan lari."

Sialnya, benar.

Kakinya memang ingin lari.

Zhen bergeser dari pintu, memberi ruang. "Ruang tengah. Lampu menyala. Pintu unit tidak kukunci. Kalau kamu tidak nyaman, kamu boleh kembali ke kamar kapan saja."

Kalimat itu menghentikan Yu.

Ia teringat saran Yan yang tidak ia dengar, tapi jelas dipegang Zhen: tempat terang, ada jalan keluar, tidak membuatnya terpojok. Zhen tidak berdiri terlalu dekat. Tidak menyentuhnya. Tidak menghalangi pintu.

Malu masih membakar, tapi takutnya turun sedikit.

Yu berjalan ke ruang tengah dengan kaki kaku.

Zhen duduk di sofa tunggal, bukan di sampingnya. Yu duduk di ujung sofa panjang, memeluk bantal seperti perisai. Di meja ada dua gelas air. Satu diletakkan dekat Yu, di atas coaster.

Bahkan saat membongkar rahasia orang, Zhen masih memakai coaster.

"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Yu, suaranya kecil.

"Cukup lama."

"Seberapa lama?"

"Sejak transfer."

Yu menutup wajah dengan bantal.

Tidak.

Tidak, tidak, tidak.

"Jadi waktu aku pakai folder Kalkulator..."

"Aku lihat."

"Garpu jatuh..."

"Aku lihat."

"Catatan UAS..."

"Lebih buruk dari Kalkulator."

Yu mengeluarkan suara seperti orang tertusuk.

"Kenapa kamu tidak bilang?"

Zhen diam sebentar. "Karena kamu terlihat seperti akan hancur kalau aku bilang terlalu cepat."

Yu menurunkan bantal sedikit.

Jawaban itu tidak menyelamatkan harga dirinya, tapi membuat dadanya terasa aneh. Lebih sakit, tapi juga lebih hangat.

"Tapi kamu tetap melihat aku panik," katanya pelan. "Kamu lihat garpu jatuh. Kamu lihat aku sembunyiin ponsel. Kamu lihat aku bodoh berkali-kali."

"Ya."

Jawaban itu jujur, dan justru karena jujur, Yu ingin melempar bantal ke wajahnya.

"Kamu jahat."

Zhen menerima kalimat itu tanpa membela diri.

"Sedikit," katanya.

Yu mengangkat kepala. "Sedikit?"

"Aku bisa bilang tidak, tapi itu bohong."

Yu terdiam karena tidak menyangka ia akan mengaku semudah itu.

Zhen menatap gelas air di meja, lalu kembali menatap Yu. "Awalnya aku ingin refund dan selesai. Lalu aku melihat pesanmu. Kamu terlalu takut untuk orang yang sedang main-main. Setelah itu, setiap kali aku hampir bertanya langsung, kamu terlihat seperti mau kabur dari tubuhmu sendiri."

Yu memeluk bantal lebih erat.

"Jadi kamu menunggu?"

"Aku menunggu sampai kamu cukup aman untuk marah."

Kalimat itu membuat Yu kehilangan jawaban.

Zhen melanjutkan, "Malam ini kamu marah. Itu lebih baik daripada kamu diam dan meminta maaf terus."

Yu menunduk. Bagian paling menyebalkan adalah, ia memang marah. Malu, takut, tapi juga marah. Dan entah kenapa, amarah itu membuatnya merasa lebih utuh daripada ketika ia hanya ingin menghilang.

"Aku tetap malu," katanya.

"Aku tahu."

"Jangan bilang kamu tahu."

"Baik. Aku bisa memperkirakan."

"Itu lebih buruk."

Zhen akhirnya menunduk sedikit, seperti menerima hukuman.

"Maaf," katanya.

Yu membeku.

Zhen jarang memakai kata itu. Ketika keluar, kata itu tidak terdengar ringan.

"Untuk bagian yang membuatmu merasa dipermainkan," lanjutnya. "Bukan untuk bagian aku menghentikanmu membayar orang asing demi menyakiti dirimu sendiri. Bagian itu akan kulakukan lagi."

Yu menatapnya lama, lalu menyadari ia tidak bisa memutuskan apakah ingin marah lagi atau menangis.

"Kamu membaca semua pesanku?"

"Yang kamu kirim ke akun Z, ya."

"Jangan ulangi."

"Apa?"

"Jangan bilang akun Z. Aku ingin mengubur diri."

Zhen menatapnya. "Yu."

Ia berhenti menggali lubang imajiner.

"Aku tidak menertawakan kondisimu."

Kalimat itu membuat tenggorokan Yu tercekat.

Zhen meletakkan ponselnya di meja dengan layar menghadap bawah. "Aku menertawakan folder Kalkulator, sedikit. Tapi bukan permintaanmu."

"Itu tetap buruk."

"Foldernya memang buruk."

"Zhen."

"Aku serius untuk bagian pertama."

Yu menarik napas pelan. "Kamu pasti berpikir aku gila."

"Tidak."

"Aku mentransfer lima puluh juta untuk..." Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimat.

"Untuk mencari cara agar tubuhmu tenang tanpa harus menjelaskan langsung."

Yu menatapnya.

Zhen tidak terlihat jijik. Tidak geli. Tidak menang. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya lebih lembut daripada biasanya.

"Aku tidak tahu nama medisnya," kata Yu, terpaksa berbicara karena diam terasa lebih memalukan. "Aku juga tidak tahu apakah ini masuk akal. Aku cuma..."

"Butuh sentuhan yang aman."

Kata-kata itu keluar dari mulut Zhen dengan sangat biasa.

Seolah tidak aneh.

Seolah tidak kotor.

Seolah Yu tidak baru saja membuka bagian paling memalukan dari dirinya.

Mata Yu panas.

"Jangan baik begitu. Aku jadi lebih malu."

"Kalau aku jahat, kamu juga malu."

"Itu benar."

"Jadi pilih yang berguna."

Yu tertawa kecil tanpa suara, lalu cepat-cepat menghapus sudut matanya.

Zhen menunggu sampai ia lebih stabil, baru berkata, "Sekarang bagian kedua."

Yu kaku lagi. "Masih ada?"

"Aku bukan model."

Kalimat itu membuat Yu berhenti bernapas.

Zhen mengambil helm kecil gantungan kunci dari meja dan meletakkannya di antara mereka. "Z adalah kode balapku. Akun itu akun racing. Private coaching artinya sesi latihan di Sentul. Rp 10.000.000 itu biaya track, mobil, instruktur, dan event. Nia adalah koordinator track night."

Setiap kata merobohkan satu bagian teori Yu.

Model event otomotif.

VIP guest.

Booking.

Private coaching.

Semua jatuh seperti kartu domino.

Yu menutup mata.

"Jadi kamu bukan..."

"Bukan."

"Bukan model malam?"

"Bukan."

"Bukan layanan... pendamping?"

Zhen menatapnya lama. "Yu."

"Aku cuma memastikan."

"Kamu benar-benar mengira aku menjual sentuhan tangan?"

Yu ingin menghilang. "Awalnya tidak tangan saja."

Hening.

Zhen menarik napas sangat pelan, seperti sedang memanggil seluruh kesabarannya dari lantai dasar.

"Aku tidak ingin tahu versi awal teorimu."

"Bagus. Aku juga tidak ingin mengingatnya."

Namun rasa malu yang tadi tajam mulai berubah bentuk. Masih memalukan, tetapi ada absurditas di dalamnya. Begitu besar sampai hampir lucu. Yu menatap Zhen yang duduk rapi di sofa, manusia clean freak, IPK 4.0, racer, pemasak nasi goreng, dan ternyata bukan model plus apa pun.

"Kamu tahu dari mana?" tanya Yu tiba-tiba. "Selain... notifikasi bodoh itu."

"Transfer jam dua belas lewat. Lampu kamarmu menyala. Setelah itu kamu keluar ambil air dengan wajah seperti habis meretas bank."

"Itu belum bukti."

"Benar. Lalu kamu mulai sengaja menyentuh tanganku dengan alasan gelas, charger, lantai licin."

Yu menutup mata. "Tolong berhenti menyusun daftar."

"Belum selesai."

"Zhen."

"Folder Kalkulator."

Yu mengeluarkan suara kesakitan.

"Catatan UAS."

"Aku bilang berhenti."

"Dan kamu selalu tenang setelah sentuhan singkat."

Kalimat terakhir membuat Yu diam.

Zhen tidak mengatakannya dengan nada menggoda. Ia mengatakannya seperti data yang ia simpan karena penting. Karena ia memperhatikan bukan untuk mengejek, tetapi untuk memahami.

"Aku tidak yakin sampai malam ini," katanya. "Tapi aku sudah cukup yakin untuk tidak membiarkan admin asing mengatur jadwalmu."

Yu membuka mata. "Jadi admin tidak tahu?"

"Tidak tahu identitasmu. Yan tahu karena dia terlalu sering ikut campur."

"Yan tahu?!"

"Sekarang fokus pada napasmu."

"Bagaimana aku fokus kalau Yan tahu?"

"Dia tidak akan bicara."

"Dia akan menertawakan aku."

"Mungkin."

"Zhen!"

"Tapi dia tidak akan menyakitimu."

Yu ingin membantah, tapi ia tahu itu benar. Yan berisik, menyebalkan, dan mungkin akan membuat lelucon buruk. Namun ia bukan orang yang akan mempermalukannya di luar.

"Lily juga mengira begitu," kata Yu, entah kenapa membela diri.

"Itu tidak membuat teorinya lebih pintar."

"Dia akan sedih kalau tahu."

"Dia harus tahu demi keselamatan logikanya."

Yu menunduk, bahunya bergetar sedikit.

Zhen menatapnya. "Kamu tertawa?"

"Tidak."

"Jawaban cepat."

Yu akhirnya tertawa, kecil, pecah, setengah menangis. Semua ketegangan, malu, takut, dan kebodohan beberapa minggu terakhir keluar dalam suara pendek yang tidak rapi.

Zhen tidak ikut tertawa keras. Tapi sudut bibirnya naik.

Beberapa saat kemudian, Yu kembali memeluk bantal. "Uangnya..."

"Akan kukembalikan."

"Jangan."

"Yu."

"Aku yang salah paham, tapi aku tetap meminta waktumu. Kamu sudah..."

"Uang itu tidak dibahas malam ini."

"Tapi..."

"Malam ini kita bahas kamu."

Yu terdiam.

Zhen mencondongkan badan sedikit, jarak tetap aman, suara tetap rendah.

"Sekarang jelaskan padaku tentang haus sentuhan-mu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!