NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002

Pertemuan Kembali

Pagi berikutnya, Sekar datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.

Langit Jakarta masih pucat. Lapangan sekolah belum ramai, hanya ada beberapa siswa piket yang menyapu daun kering di dekat parkiran motor. Udara pagi membawa bau tanah basah dan sabun pel dari koridor. Semuanya terlalu biasa, terlalu hidup, sampai Sekar beberapa kali harus menekan kuku ke telapak tangannya untuk memastikan ia benar-benar ada di sini.

Semalam ia tidak tidur.

Di rumah, Oma Lien sempat mengetuk pintu kamarnya dua kali. Pertama membawa susu hangat, kedua membawa minyak kayu putih karena mengira cucunya masuk angin. Sekar hampir menangis ketika melihat tangan Oma yang keriput menaruh gelas di meja.

Di kehidupan sebelumnya, tangan itu menggenggam fotonya di pemakaman.

Sekar tidak berani memikirkan lebih jauh. Ia hanya memeluk Oma Lien lama-lama, sampai Oma tertawa bingung dan menepuk punggungnya.

"Anak ini kenapa? Baru kelas dua belas sudah melankolis."

Sekar menjawab dengan suara kecil, "Kangen Oma."

Oma mengomel, tapi matanya lembut.

Pagi ini, bekas hangat pelukan itu masih terasa di dadanya. Namun begitu ia melewati gerbang sekolah, seluruh pikirannya kembali pada satu nama.

Kevin.

Menurut ingatan Sekar, Kevin akan datang terlambat sekitar lima belas menit setelah bel pertama. Ia tidak akan masuk lewat gerbang utama, melainkan dari sisi parkiran motor dekat lapangan basket. Rambutnya masih biru gelap, agak berantakan seolah disisir dengan jari. Seragamnya tidak pernah rapi. Kemeja putihnya sering keluar sedikit dari pinggang celana abu-abu, dasinya longgar, dan di telinga kirinya ada anting perak kecil yang membuat guru BK sakit kepala.

Dulu, gambaran itu hanya bagian dari gosip sekolah.

Hari ini, bagi Sekar, itu seperti janji hidup.

"Lo serius nggak mau ke UKS?" Yola menjatuhkan tas di kursi sebelahnya begitu masuk kelas. "Kemarin lo pucat kayak habis lihat hantu. Sekarang mata lo bengkak. Jangan-jangan lo putus sama orang yang belum gue tahu?"

Sekar yang sedang menatap koridor langsung menoleh.

"Aku nggak punya pacar."

"Nah, itu lebih parah. Belum punya pacar tapi tampang lo udah kayak ditinggal nikah."

Sekar hampir tertawa.

Yola selalu seperti ini. Mulutnya cepat, perhatiannya juga cepat. Di kehidupan sebelumnya, Yola menjadi salah satu orang pertama yang curiga pada Om Budi, tapi waktu itu Sekar terlalu takut melibatkan siapa pun.

Kali ini, ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

"Yol," panggil Sekar pelan.

"Hmm?"

"Kalau suatu hari aku cerita sesuatu yang terdengar aneh, lo percaya sama aku nggak?"

Yola mengerjap. "Aneh kayak apa dulu? Kalau lo bilang alien turun di Monas, gue butuh bukti video."

"Kalau tentang keluargaku."

Candaan di wajah Yola pelan-pelan hilang. Ia menurunkan suaranya. "Om Budi lagi?"

Sekar tidak menjawab langsung. Nama itu saja membuat perutnya dingin, tetapi ia memaksa diri tetap tenang.

"Belum sekarang," katanya. "Nanti aku cerita. Tapi kalau aku minta bantuan, jangan tanya terlalu banyak dulu."

Yola menatapnya beberapa detik. Lalu gadis itu mengangguk.

"Oke. Tapi lo juga jangan sok kuat sendirian. Gue sahabat lo, bukan hiasan kelas."

Sekar tersenyum tipis. "Iya."

Bel pertama berbunyi.

Kelas menjadi lebih ramai. Bu Wati masuk membawa map hijau dan langsung mengatur suasana. Di papan tulis, ia menuliskan beberapa pengumuman awal semester. Sekar mencoba mendengarkan, tetapi setiap detik terasa panjang.

Lima menit.

Delapan menit.

Sepuluh menit.

Jari Sekar meremas ujung rok sekolahnya. Ia tahu Kevin akan muncul. Ia sudah melihatnya dalam ingatan berkali-kali. Namun menunggu orang yang pernah mati untuknya berjalan kembali ke dunia hidup ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Suara motor terdengar dari arah parkiran.

Tidak keras, hanya deru pendek yang berhenti tiba-tiba. Namun tubuh Sekar langsung menegang.

Di luar kelas, beberapa siswa yang sedang berdiri dekat jendela menoleh.

"Itu dia datang," bisik salah satu anak laki-laki.

"Kevin?"

"Siapa lagi? Anak biliar itu."

"Gila, rambutnya makin biru aja."

Bu Wati berhenti menulis. Wajahnya berubah lelah sebelum orangnya bahkan muncul.

Sekar tidak bisa menahan diri. Ia menoleh ke arah pintu.

Langkah kaki terdengar di koridor. Lambat, tidak terburu-buru, seolah bel sekolah bukan urusannya. Beberapa siswa yang tadi bergerombol otomatis menyingkir. Lalu Kevin Senja Halim muncul di depan kelas mereka.

Untuk sesaat, dunia Sekar benar-benar berhenti.

Ia ada di sana.

Bukan bayangan di makam. Bukan tubuh yang jatuh dari atap senja. Bukan suara pecah dari telepon. Kevin berdiri hidup-hidup di bawah cahaya pagi, mengenakan seragam putih abu-abu yang berantakan, tas hitam disampirkan di satu bahu.

Rambut birunya lebih mencolok daripada ingatan Sekar. Warna itu gelap seperti langit sebelum hujan, jatuh sedikit menutupi alis. Di telinga kirinya, anting perak kecil memantulkan cahaya matahari. Wajahnya masih muda, lebih tajam, lebih dingin, dengan tatapan yang membuat orang lain memilih pura-pura sibuk.

Sekar menggigit bagian dalam pipinya.

Sakit.

Tetapi sakit itu tidak cukup menahan air matanya.

Kevin melirik ke dalam kelas, hanya sekilas, karena kelasnya ada di sebelah. Tatapannya melewati deretan meja, melewati Bu Wati, melewati Yola yang sedang berbisik "seram banget", lalu berhenti sekejap pada Sekar.

Hanya sekejap.

Namun sekejap itu membuat dada Sekar seperti dihantam ombak.

Matanya sama.

Tatapan yang dulu ia lihat di pemakaman. Tatapan yang menatap batu nisannya tanpa berkedip. Bedanya, sekarang mata itu belum mengenalnya. Belum mencintainya. Belum kehilangan apa pun karena dirinya.

Sekar berdiri tanpa sadar.

Kaki kursinya menggesek lantai, membuat beberapa kepala menoleh. Bu Wati mengangkat alis.

"Sekar?"

Sekar tidak mendengar.

Kevin juga menoleh lagi, kali ini benar-benar melihatnya. Alisnya bergerak sedikit, bukan karena kenal, melainkan karena heran melihat siswi teladan tiba-tiba berdiri seperti orang kehilangan napas.

Jarak mereka hanya beberapa meter.

Sekar membuka mulut.

Nama itu sudah berada di ujung lidahnya. Ia pernah meneriakkannya tanpa suara di atap gedung. Ia pernah memanggilnya dalam mimpi sepanjang malam. Sekarang Kevin berdiri di depannya, dan ia punya kesempatan untuk mengucapkannya dengan benar.

"Ke..."

Suara Sekar patah.

Yola langsung menyentuh lengannya. "Sekar, lo kenapa?"

Kevin menatapnya dengan ekspresi datar. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ingatan tentang bunga putih, makam basah, atau janji untuk datang menyusulnya.

Di belakang Kevin, seorang guru piket muncul dari ujung koridor.

"Kevin! Jam berapa ini?"

Kevin mengalihkan pandangan dari Sekar, seolah ia hanya melihat sesuatu yang aneh sebentar lalu kehilangan minat.

"Masih pagi, Bu," jawabnya datar.

"Masih pagi dari mana? Masuk kelas sekarang."

Kevin tidak membantah. Ia hanya memasukkan satu tangan ke saku celana, lalu berjalan melewati pintu kelas Sekar menuju kelas sebelah. Saat melewati ambang pintu, bahunya hampir menyentuh kusen. Aroma samar rokok, sabun murah, dan udara jalanan tertinggal sebentar di koridor.

Sekar masih berdiri.

Ia melihat punggung Kevin sampai lelaki itu menghilang di balik pintu kelas sebelah. Setelah itu, suara kursi ditarik terdengar, disusul gumaman beberapa siswa.

"Sok banget."

"Tapi ganteng, ya?"

"Ganteng sih, tapi nyusahin."

Bu Wati mengetuk papan tulis dengan spidol.

"Sekar, duduk. Kalau tidak enak badan, nanti istirahat di UKS."

Sekar menelan napas yang terasa seperti pecahan kaca. Pelan-pelan ia duduk kembali. Lututnya lemas. Tangannya dingin. Di bawah meja, Yola menyelipkan tisu ke genggamannya tanpa banyak bertanya.

"Lo kenal dia?" bisik Yola.

Sekar menatap pintu kelas sebelah.

Di balik dinding tipis itu, Kevin sedang duduk entah di bangku mana. Mungkin menunduk tidur. Mungkin menatap keluar jendela. Mungkin sama sekali tidak memikirkan gadis aneh dari kelas sebelah yang hampir memanggil namanya.

Sekar meremas tisu itu sampai kusut.

"Belum," jawabnya.

Yola mengerutkan dahi. "Belum?"

Sekar menunduk, menyembunyikan matanya yang kembali panas.

Belum, karena di hidup ini mereka memang belum saling mengenal.

Belum, karena Kevin baru saja melewatinya dengan dingin, seperti ia melewati semua orang.

Belum, karena baginya Sekar Ayu Raganari hanyalah siswi rapi dari kelas sebelah yang tiba-tiba berdiri dan menatapnya terlalu lama.

Tetapi Sekar ingat semuanya.

Ia ingat tangan Kevin yang membersihkan daun dari batu nisannya. Ia ingat suara Kevin yang mengatakan mereka belum selesai. Ia ingat senja di atap gedung, anting perak yang berkilat, dan kalimat terakhir yang menghancurkan hatinya.

Kali ini gue yang datang ke lo.

Sekar menutup mata sebentar.

Tidak, Kev.

Kali ini aku yang akan datang kepadamu lebih dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!