Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Kehidupan Berdua
Senja akhirnya tetap masuk ke mobil Wijaya, tetapi dia tidak langsung duduk.
Hujan mulai turun lebih rapat di depan Sanggar Tari Jefri. Pak Hadi turun membawa payung, wajahnya terlihat cemas ketika melihat bahu Senja sudah basah.
"Nyonya, mari. Nanti sakit."
Senja menatap kursi belakang yang terbuka. Ruang di dalam mobil itu kering, wangi, dan aman. Justru karena itu, dadanya terasa penuh.
"Pak Hadi," katanya pelan, "boleh kita lewat jalan yang agak jauh?"
Pak Hadi tidak bertanya kenapa. "Tentu, Nyonya."
Sepanjang perjalanan, Senja menatap jendela. Tetes hujan memecah lampu jalan menjadi garis-garis panjang. Ponselnya ada di pangkuan, mati. Dia belum ingin melihat pesan Lara, belum ingin melihat pesan Serena, belum ingin melihat nama Rayhan kalau tiba-tiba muncul.
Namun nama itu menunggunya di rumah.
Ketika mobil berhenti di Wijaya Mansion, langit sudah gelap. Senja turun dengan tas latihan di bahu, ujung rambut lembap, dan sepatu yang meninggalkan bekas air tipis di lantai foyer.
"Nyonya, tasnya biar saya bawakan," kata seorang pelayan.
"Tidak apa-apa."
Dia hanya ingin cepat masuk kamar.
Tetapi sebelum mencapai tangga, suara Rayhan terdengar dari ruang keluarga.
"Dari mana saja?"
Senja berhenti.
Rayhan berdiri dekat jendela, kemeja hitamnya masih rapi, lengan digulung. Di meja kecil ada laptop terbuka dan beberapa dokumen. Sepertinya dia bekerja dari rumah.
Pak Hadi menunduk. "Tuan muda, Nyonya dari sanggar. Kami mengambil rute sedikit..."
"Aku bertanya pada Senja."
Pak Hadi langsung diam.
Senja menggenggam tali tas. "Dari sanggar."
"Latihan selesai pukul enam. Sekarang hampir delapan."
"Hujan. Jalanan macet."
"Ponselmu mati."
Senja baru ingat. "Baterainya habis."
"Di mobil ada charger."
Kalimat itu sederhana, tapi nada Rayhan membuatnya terasa seperti kesalahan besar.
Senja menunduk. Air dari ujung tas latihan menetes ke lantai marmer.
Rayhan melihatnya. "Tasmu basah."
"Maaf. Aku akan bersihkan."
"Ini bukan sanggar."
Senja mengangkat wajah.
Rayhan menutup laptop dengan satu tangan. "Di rumah ini ada staf yang mengatur kebersihan, jadwal makan, keamanan, dan mobil. Kamu tidak bisa keluar dari satu tempat, mematikan ponsel, pulang terlambat, lalu membawa semua kekacauanmu masuk begitu saja."
Kekacauanmu.
Kata itu menempel di kulit lebih dingin daripada hujan.
Pak Hadi berkata hati-hati, "Tuan muda, Nyonya hanya..."
"Pak Hadi."
Satu panggilan itu cukup membuat Pak Hadi mundur setengah langkah.
Senja memaksa napasnya tetap stabil. "Aku tidak bermaksud membuat repot."
"Tapi kamu membuat repot."
Ruang keluarga sunyi.
Di dekat koridor, dua pelayan pura-pura merapikan vas bunga, tetapi telinga mereka jelas menangkap semuanya. Senja bisa merasakan wajahnya memanas. Dia ingin menjelaskan bahwa dia hanya butuh waktu setelah bertengkar dengan Lara. Bahwa dia tidak sengaja mematikan ponsel, tidak sengaja membawa air hujan, tidak sengaja membuat dirinya terasa seperti masalah berjalan.
Namun di hadapan Rayhan, semua alasan itu terdengar kekanak-kanakan.
"Maaf," katanya.
Rayhan menatapnya. "Kamu selalu minta maaf, tapi besok mengulang hal lain."
Senja menggigit bagian dalam pipi.
"Aku akan lebih hati-hati."
"Itu jawaban yang sama seperti kemarin."
"Lalu aku harus jawab apa?"
Suara Senja keluar pelan, tapi cukup membuat Pak Hadi menoleh.
Rayhan menyipitkan mata.
Senja segera menyesal. Dia menurunkan pandangan. "Maaf."
"Lihat?" Rayhan berkata dingin. "Kembali lagi."
Ada sesuatu di dada Senja yang retak kecil.
Mungkin karena Lara. Mungkin karena Serena. Mungkin karena sepanjang hari dia sudah terlalu banyak menahan. Mungkin karena di ruang kerja Rayhan tadi pagi, dia sempat merasa pria itu tidak ingin melihatnya ketakutan. Tetapi malam ini, di depan staf rumah, pria yang sama membuatnya merasa seperti anak kecil yang salah menaruh sepatu.
"Aku mau naik dulu," katanya.
"Makan malam."
"Aku tidak lapar."
"Kamu harus makan."
"Aku benar-benar tidak lapar."
"Senja."
Nama itu keluar seperti peringatan.
Dia menatapnya lagi. "Aku hanya ingin mandi."
Rayhan melangkah mendekat. "Kamu baru pulih dari alergi kemarin. Hari ini kehujanan, belum makan benar, ponsel mati, dan kamu bilang hanya ingin mandi?"
"Aku tahu tubuhku sendiri."
"Kalau kamu tahu, kamu tidak akan makan kue yang tidak dicek."
Kalimat itu membuat semua udara di sekitar Senja hilang.
Rayhan menyadari terlalu lambat.
Wajah Senja berubah. Bukan marah. Bukan tersinggung. Lebih buruk dari itu. Dia seperti menutup sesuatu di dalam dirinya, satu pintu kecil yang sempat terbuka beberapa hari terakhir.
"Baik," katanya.
Rayhan diam.
"Aku akan makan." Senja menunduk, suaranya rapi, kosong. "Setelah mandi, aku akan turun. Aku juga akan mengisi ponsel. Tas basah ini akan kubersihkan. Besok aku akan mengirim jadwal lengkap ke Pak Hadi sebelum berangkat."
Semua kalimat itu benar.
Semua kalimat itu terdengar seperti laporan.
Rayhan tidak menyukainya, tapi dia tidak tahu bagian mana yang harus dihentikan.
Senja membungkuk sedikit kepada Pak Hadi. "Maaf merepotkan, Pak."
"Nyonya..."
Senja sudah berjalan ke tangga.
Di kamar, dia menutup pintu pelan. Terlalu pelan, karena jika dia menutupnya keras, itu berarti dia marah. Dan dia tidak boleh marah. Tidak di rumah orang lain. Tidak di rumah suaminya. Tidak di tempat semua kesalahannya bisa dicatat menjadi aturan baru.
Kamar itu rapi seperti saat pagi dia tinggalkan. Bantal panjang masih berada di tengah ranjang, lurus, tanpa lipatan, seolah tidak ada yang berubah sejak malam pertama. Di sisi kiri, tempatnya tidur, seprai sedikit kusut. Di sisi kanan, milik Rayhan, semuanya tetap tenang.
Senja berdiri di antara ranjang dan kamar mandi, tiba-tiba tidak tahu harus menaruh tubuhnya di mana.
Di luar, ruang keluarga membuatnya merasa salah. Di sanggar, Lara mulai menjauh. Di mobil, dia merasa diawasi. Di kamar ini, bahkan ranjang pun punya garis batas.
Tas latihannya menetes lagi. Air mengenai lantai kayu dan meninggalkan titik gelap kecil. Senja cepat berjongkok, mengelapnya dengan tisu, lalu menemukan jadwal latihan dari Ko Jefri ikut lembap di dalam tas. Tinta di salah satu sudutnya mulai luntur.
Hal kecil itu membuat dadanya sakit dengan cara yang tidak masuk akal.
Dia meletakkan tas basah di kamar mandi, mengambil handuk, lalu berdiri diam di depan wastafel.
Cermin memantulkan wajahnya yang pucat, rambut lembap menempel di pipi, mata merah yang sejak tadi berusaha tidak kalah.
Jangan menangis.
Dia menyalakan keran.
Suara air menutup napasnya yang mulai patah.
Tetapi tubuh punya batas. Begitu pintu kamar terkunci dan tidak ada lagi tatapan orang, air mata itu jatuh juga. Satu tetes, lalu yang lain, sampai pandangannya kabur.
Senja menutup mulut dengan tangan agar suaranya tidak keluar.
Di luar kamar, langkah Rayhan berhenti.
Dia berdiri di depan pintu yang tertutup, menatap gagang pintu, mendengar samar suara air dari dalam. Tangannya terangkat sedikit, seolah hendak mengetuk.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tangannya turun.
Lalu langkahnya menjauh, pelan, meninggalkan Senja menangis sendirian di balik pintu.