Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007
Open Studio Review biasanya membuat mahasiswa seni sibuk pura-pura tenang.
Meja-meja panjang dipindahkan ke aula kaca lantai dasar. Papan presentasi berdiri berjajar, masing-masing menampilkan sketsa, denah, palet warna, dan maket kecil. Udara dipenuhi bau kertas baru, lem, kopi dingin, dan kecemasan yang disembunyikan di balik senyum.
Meiran datang sepuluh menit sebelum acara dimulai.
Ia membawa dua panel presentasi, satu map riset, dan wajah yang masih menyisakan bekas merah tipis di pipi kiri. Bekas itu tidak ia tutupi terlalu tebal. Cukup dengan bedak ringan. Kadang luka yang terlihat sedikit lebih berguna daripada luka yang disembunyikan sempurna.
Wanyu sudah berada di dekat meja registrasi.
"Meiran," panggilnya lembut. "Kamu ikut review juga?"
"Namaku ada di daftar."
"Aku tahu. Aku cuma khawatir kamu terlalu memaksakan diri. Reviewer tamu hari ini dari Kho Group. Standarnya pasti tinggi."
Meiran memasang panel di meja. "Standar tinggi lebih baik daripada simpati rendah."
Senyum Wanyu berhenti sebentar.
Di sisi lain aula, Hafeng masuk bersama Chiko. Hafeng membawa tabung gambar hitam, wajahnya tetap dingin, tetapi matanya langsung menangkap posisi Meiran. Chiko menyadarinya dan langsung menyenggol bahunya.
"Kamu mencari papan presentasinya atau orangnya?"
"Aku mencari meja kosong."
"Meja kosongnya di kiri. Matamu ke kanan."
Hafeng berjalan lebih cepat.
Acara dimulai pukul sepuluh tepat. Pak Darma memperkenalkan reviewer tamu dengan suara formal. Seorang pria berkemeja abu-abu gelap maju ke tengah aula. Tubuhnya tinggi, lebih dewasa daripada mahasiswa di ruangan itu, dengan kacamata berbingkai emas tipis dan senyum yang tidak berlebihan.
"Selamat pagi. Saya Kho Yanting."
Bisikan kecil langsung menyebar.
Kho Group bukan nama kecil di Jakarta. Bagi banyak mahasiswa, didatangi direktur muda konglomerat seperti ini terasa seperti pintu dunia kerja dibuka sebentar. Bagi Meiran, nama itu membawa memori berbeda: ruang rapat dingin, tawaran bantuan, dan suara sabar yang dulu ia tolak terlalu terlambat.
Yanting tidak terlihat seperti pria yang akan terburu-buru.
Ia berjalan dari satu meja ke meja lain, mendengar presentasi, memberi komentar singkat, kadang menulis catatan. Ia tidak memuji dengan murah, tetapi juga tidak mempermalukan orang. Justru itu membuat mahasiswa semakin gugup.
Saat tiba di meja Wanyu, Wanyu menyajikan konsep galeri komunitas dengan warna lembut dan narasi tentang ruang aman.
Yanting mendengar sampai selesai, lalu bertanya, "Ruang aman untuk siapa?"
Wanyu tersenyum. "Untuk semua pengunjung."
"Semua terlalu luas. Kalau targetnya semua orang, biasanya desain tidak benar-benar memeluk siapa pun."
Senyum Wanyu mengeras.
Meiran menunduk, merapikan halaman risetnya agar tidak terlihat tertawa.
Beberapa menit kemudian, Yanting berhenti di meja Meiran.
Ia membaca judul panelnya lebih dulu.
`Ruang Jeda untuk Kota yang Terburu-buru`
"Konsep menarik," katanya. "Silakan."
Meiran berdiri tegak.
"Saya mengambil titik awal dari kebiasaan orang Jakarta yang selalu bergerak cepat, tetapi justru sering kehilangan tempat untuk berhenti tanpa merasa bersalah. Desain ini bukan taman besar. Ini ruang jeda kecil di antara jalur kampus, dengan bangku tersembunyi, area teduh, dan garis visual yang membuat orang melambat secara natural."
Yanting memperhatikan denahnya. "Kamu memakai ruang kosong sebagai elemen utama?"
"Ya."
"Banyak mahasiswa takut ruang kosong terlihat miskin desain."
"Karena mereka mengira desain berarti mengisi. Padahal dalam beberapa kasus, desain berarti memberi izin untuk tidak penuh."
Yanting menatapnya.
Bukan tatapan seperti Hafeng, yang selalu mencari alasan untuk menolak. Tatapan Yanting lebih tenang, seperti seseorang yang melihat barang antik dan ingin tahu usianya sebelum menawar harga.
"Kamu menulis sendiri riset pengguna ini?"
"Ya. Saya observasi tiga titik kampus selama dua hari. Saya mencatat durasi orang berhenti, arah pandang, dan titik mereka mengecek ponsel."
"Kamu punya data mentahnya?"
Meiran membuka map dan menyerahkan tiga lembar tabel.
Yanting membaca. Sudut bibirnya naik sedikit. "Rapi."
Satu kata itu membuat bisikan di sekitar meja berubah. Wanyu yang berdiri tidak jauh langsung menoleh. Hafeng juga, meski ia pura-pura sedang menata tabung gambar.
Yanting mengembalikan lembar data. "Masalah desainmu ada di material. Terlalu bersih. Jakarta tidak selalu ramah pada material yang hanya cantik di render."
"Saya sudah menyiapkan alternatif."
Meiran mengeluarkan lembar tambahan.
Kali ini, Yanting benar-benar tersenyum.
"Kamu mengantisipasi kritik?"
"Saya mengikuti kemungkinan terburuk. Itu lebih hemat waktu."
Chiko yang berdiri di meja belakang berbisik, "Feng, dia bahkan menyiapkan jawaban untuk ditolak."
Hafeng tidak menjawab.
Tangannya menggenggam tabung gambar lebih erat.
Review Meiran berlangsung lebih lama daripada meja lain. Bukan karena Yanting mencari kesalahan, tetapi karena ia terus bertanya dan Meiran terus menjawab. Setiap pertanyaan membuka lapisan baru: data, kebiasaan pengguna, rute cahaya, perawatan material, risiko vandalisme.
Pada akhir sesi, Yanting menutup map Meiran.
"Lim Meiran."
"Ya, Ko Yanting."
Beberapa mahasiswa langsung saling melirik. Sapaan itu sopan, tetapi cukup dekat untuk terdengar alami di antara keluarga konglomerat Tionghoa-Indonesia.
"Kalau kamu punya portofolio lengkap, kirimkan ke saya. Kho Group sedang mengembangkan beberapa proyek ruang publik kecil. Saya tidak menjanjikan apa pun, tapi saya ingin melihat cara berpikirmu lebih jauh."
Aula menjadi sangat sunyi.
Wanyu menurunkan pandangannya.
Hafeng akhirnya menoleh penuh.
Meiran menerima kartu nama yang disodorkan Yanting. Kertasnya tebal, putih gading, dengan nama `Kho Yanting` tercetak tipis.
"Terima kasih. Saya akan kirim setelah merapikan dokumennya."
"Saya tunggu."
Yanting melangkah ke meja berikutnya.
Meiran menyimpan kartu nama itu di map, tepat di depan mata Hafeng yang berdiri beberapa meter darinya. Hafeng menatap kartu itu seperti benda kecil yang mendadak mengganggu udara.
Wanyu mendekat sambil membawa panelnya. Senyumnya kembali lembut, tetapi jari-jarinya menekan tepi karton sampai sedikit melengkung.
"Selamat, Meiran. Sepertinya Ko Yanting sangat tertarik."
"Pada desainku," jawab Meiran.
"Tentu. Aku juga maksudnya begitu." Wanyu menunduk seolah malu sudah disalahpahami. "Aku hanya takut orang salah mengerti. Setelah video dengan Ko Hafeng kemarin, sekarang kartu nama Ko Yanting... orang bisa bicara macam-macam."
Meiran menutup mapnya pelan.
"Kalau orang bicara karena aku punya karya, biarkan. Itu masih lebih baik daripada orang diam karena tidak ada yang perlu dilihat."
Senyum Wanyu hilang sepersekian detik.
Di belakang mereka, Hafeng mendengar semuanya.
**【Sistem Predator】Variabel baru terdeteksi: calon rival emosional.**
Meiran hampir batuk.
Sisi benar-benar memilih kata tanpa belas kasihan.
**【Sistem Predator】Perhatian target meningkat. Nilai Cinta tetap -95, tetapi respons kompetitif naik.**
Di meja sebelah, Hafeng membuka tabung gambarnya terlalu cepat hingga tutupnya jatuh ke lantai.
Chiko memungutnya sambil tersenyum lebar. "Tenang, Bro. Itu cuma kartu nama."
Hafeng mengambil tutup tabung itu dari tangan Chiko.
"Diam."
Namun matanya kembali ke map Meiran.
Dan kali ini, Meiran tahu ia tidak sedang melihat desainnya saja.