1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 penghuni di balik gerbang
Keheningan menyelimuti seluruh Perpustakaan XIII Semua mata tertuju pada celah kecil di Gerbang Karunia Di balik kegelapan...
Sepasang mata emas masih menatap mereka tanpa berkedip.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kebencian.
Tatapannya justru terasa... sedih.
"Alea..."
Suara itu kembali memanggil.
"Tolong buka gerbang ini."
Alea menggertakkan giginya.
"Siapa kamu?"
Beberapa detik berlalu sebelum suara itu menjawab.
«"Namaku... Adrian."»
Nama itu terasa asing bagi semua orang.
Namun...
Begitu Eleanor mendengarnya, tongkat di tangannya terjatuh.
Tok!
"Mustahil..."
Wajah wanita tua itu mendadak pucat.
Direktur X justru tersenyum lebar.
"Akhirnya..."
"Setelah seratus tahun."
"Kami bertemu lagi."
Naura menoleh bingung.
"Kakek Eleanor, siapa Adrian?"
Eleanor menutup matanya.
"Dia..."
"...adalah Penjaga Gerbang Karunia yang pertama."
Ruangan mendadak sunyi.
"Penjaga pertama?" ulang Raka.
Eleanor mengangguk.
"Ratusan tahun yang lalu..."
"Adrian menyegel Gerbang Karunia dari dalam."
"Itu sebabnya..."
"...dia ikut terperangkap."
Naura membelalak.
"Berarti selama ini..."
"...dia masih hidup?"
"Tidak."
jawab Eleanor lirih.
"Dia tidak hidup."
"Tapi juga tidak mati."
Mendengar itu, Adrian tertawa pelan dari balik gerbang.
"Masih sama seperti dulu, Eleanor."
"Kau selalu pandai bercerita."
Alea semakin bingung.
"Kalau Adrian menyegel gerbang..."
"Kenapa Organisasi XIII ingin membebaskannya?"
Direktur X melangkah mendekati pintu.
Karena...
"Kami tidak sedang membebaskan Adrian."
Semua menoleh kepadanya.
"Kami ingin membebaskan..."
"...sesuatu yang dikuncinya."
Kalimat itu membuat wajah Adrian berubah.
Untuk pertama kalinya...
Nada suaranya terdengar panik.
"JANGAN DENGARKAN DIA!"
"Apa pun yang terjadi..."
"Jangan buka gerbang ini!"
Direktur X tertawa.
"Lihat?"
"Bahkan dia ketakutan."
"Karena kalau gerbang terbuka..."
"...rahasia yang ia sembunyikan akan diketahui semua orang."
Dimas mengepalkan Buku Ketiga Belas.
"Rahasia apa?"
Adrian terdiam.
Lalu menjawab pelan.
"Rahasia tentang..."
"...siapa sebenarnya monster di cerita ini."
Seketika seluruh lampu di perpustakaan padam.
Gelap.
Suara langkah kaki bergema dari segala arah.
Tok... Tok... Tok...
Naura merasakan seseorang berdiri tepat di belakangnya.
Ia membalikkan badan.
Tak ada siapa pun.
Namun sebuah bisikan terdengar sangat dekat di telinganya.
«"Jangan percaya Adrian."»
Naura langsung menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa pun.
Beberapa detik kemudian...
Bisikan lain terdengar.
Kali ini dari arah Gerbang Karunia.
«"Jangan percaya Direktur X."»
Kini mereka berada di tengah dua pihak...
Yang sama-sama mengaku mengatakan kebenaran.
Dan tidak ada yang tahu...
Siapa yang sebenarnya berbohong.
Di saat yang sama...
Buku Ketiga Belas terbuka sendiri.
Di halaman kosongnya muncul satu kalimat.
«"Penulis harus memilih."»
Lalu muncul dua nama.
ADRIAN
atau
DIREKTUR X
Dimas menatap kedua nama itu.
Tangannya mulai gemetar.
Karena ia sadar...
Pilihan yang ia buat mungkin akan menentukan nasib semua orang
Ruangan dipenuhi keheningan.
Dimas menatap dua nama yang tertulis di Buku Ketiga Belas.
ADRIAN
atau
DIREKTUR X
Tangannya bergetar.
"Kalau aku memilih salah satu..."
"...apa yang akan terjadi?"
Eleanor menjawab dengan suara pelan.
"Buku Ketiga Belas tidak pernah meminta pilihan tanpa alasan."
"Pilihanmu akan membuka jalan menuju kebenaran."
"Tapi..."
"...kebenaran itu selalu memiliki harga."
Dimas menarik napas panjang.
Namun sebelum ia sempat memilih—
Crack!
Suara retakan terdengar dari gerbang.
Satu lagi rantai besi yang mengikat Gerbang Karunia putus.
Kabut hitam semakin banyak keluar.
Di balik celah pintu, mata emas Adrian masih terlihat.
"Aku tidak punya banyak waktu."
"Ada seseorang yang sedang berusaha keluar."
Naura mengernyit.
"Kalau bukan kamu..."
"...siapa yang ada di dalam sana?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Tatapannya berubah sedih.
"Aku mengurung diriku sendiri..."
"...agar dia tidak bisa keluar."
Mendengar itu, wajah Direktur X berubah dingin.
"Jangan dengarkan dia."
"Dia pandai memutarbalikkan cerita."
"Orang yang dikurung di balik gerbang itu hanyalah dirinya sendiri."
Alea mengepalkan tangan.
"Kalian berdua terus saling menyalahkan."
"Bagaimana kami bisa percaya?"
Direktur X tersenyum tipis.
"Lalu percayalah pada bukti."
Ia melemparkan sebuah gulungan kertas tua ke arah Alea.
Eleanor langsung berteriak.
"Jangan buka!"
Namun terlambat.
Gulungan itu sudah terbuka.
Di dalamnya terdapat lukisan kuno berusia ratusan tahun.
Lukisan itu memperlihatkan tiga orang.
Seorang pria membawa pedang.
Seorang perempuan membawa buku hitam.
Dan...
Seorang pria bermata emas yang berdiri di depan sebuah gerbang.
Di bawah lukisan tertulis:
«"Adrian, Sang Pengkhianat Pertama."»
Naura langsung membeku.
"Pengkhianat...?"
Adrian menutup matanya.
"Aku tahu suatu hari lukisan itu akan ditemukan."
"Ya..."
"Aku memang berkhianat."
Semua orang terdiam.
Bahkan Eleanor tampak terkejut.
"Tapi..."
Adrian membuka matanya perlahan.
"Aku berkhianat kepada Organisasi XIII."
"Bukan kepada dunia."
Ruangan kembali sunyi.
Direktur X tertawa pelan.
"Dia tidak berbohong."
"Tapi dia juga tidak mengatakan seluruh kebenaran."
Mendadak suara ledakan terdengar dari luar perpustakaan.
Boom!
Seluruh bangunan berguncang.
Rak-rak buku roboh satu per satu.
Elang berlari ke jendela.
Wajahnya langsung pucat.
"Celaka..."
"Ada apa?" tanya Raka.
Elang menunjuk ke luar.
Di sekeliling pulau...
Puluhan perahu hitam mulai berdatangan.
Masing-masing membawa orang berjubah hitam.
Jumlah mereka...
Lebih dari seratus orang.
Di bagian depan armada itu berkibar sebuah bendera hitam dengan lambang XIII berwarna merah.
Selena tersenyum puas.
"Direktur..."
"Seluruh pasukan sudah tiba."
Direktur X mengangguk.
"Kalau begitu..."
"...mulailah pengepungan."
Perpustakaan XIII kini dikepung dari segala arah.
Tidak ada jalan keluar.
Tidak ada tempat untuk melarikan diri.
Sementara di tangan Dimas...
Buku Ketiga Belas kembali menulis kalimat baru.
«"Kebohongan pertama telah terungkap."»
«"Masih ada dua belas kebohongan lagi."»