VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPILOGUE (Vol.1 TAMAT)
Setahun kemudian
"Sekali lagi aku ucapkan selamat datang di Akademi Kepolisian bagi mahasiswa baru angkatan 20XX. Aku harap kalian betah menempuh pendidikan disini."
Pria berseragam yang diketahui sebagai Rektor Akademi itu mengakhiri pidatonya dengan senyuman lebar. Tepuk tangan dan sorak sorai dari mahasiswa baru terdengar riuh rendah, termasuk diantaranya adalah Billie yang tengah duduk manis dengan balutan seragam barunya.
Billie, sekarang sudah menginjak usia 18 tahun. Dia sudah tumbuh semakin dewasa meskipun tingkah kekanakkan dan manja tidak pernah lepas darinya. Sebagai seorang prodigi di bidang investigasi kriminal, Billie pun mengikuti jejak Ayah dan kakeknya untuk menjadi anggota Kepolisian. Banyak kasus kejahatan sudah dia selesaikan, tapi Billie lebih memilih untuk low profile dan menghindari sorotan media. Dia membiarkan pihak Kepolisian yang mendapatkan apresiasi dari hasil kinerjanya. Semua itu karena saran dari Ayahnya, sang Kepala Inspektur Kepolisian yang melindungi identitas Billie dari ancaman kejahatan.
...----------------...
Setelah ditangkap polisi, Godfrey otomatis dikeluarkan dari Sekolah. Karena pengaruh Ayahnya yang memiliki banyak koneksi, dia menyewa pengacara handal. Pemuda itu akhirnya hanya dijatuhi hukuman selama 5 bulan penjara. Semua itu untuk tuduhan penyebaran kebencian pada siswa dan staff LGBT, menggerakan aksi bully di kampus, dan juga pelecehan seksual. Sayangnya video porno saat dirinya masturbasi dan juga bercinta dengan banyak gadis di dalam asrama sudah terlanjur tersebar luas di internet. Video itu tak bisa menyelamatkan karir Godfrey di dunia entertainment, karena itulah Ayahnya memutuskan mengirimnya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.
...----------------...
Suatu hari di area khusus pemakaman keluarga Hunter
Kakak beradik Ice dan Devian keduanya dinyatakan meninggal dunia tepat sebelum dilarikan ke rumah sakit. Untuk menghormati keinginan Devian yang tidak ingin jauh dari kakaknya, mereka dimakamkan di tempat yang bersebelahan dengan Ice dan juga kedua orang tua mereka.
"Lho... Kak Caroline? Apa ada anggota keluarga Kakak yang sudah datang mendahului ke sini?" Tanya Billie yang keheranan saat melihat seikat bunga segar di makam Devian.
"Tidak, semuanya kan berniat datang hari ini..." Caroline menggelengkan kepalanya.
"Mungkinkah bunga cantik ini dari fans?" Tanya Billie.
"Hmm, mungkin saja..." Jawab Carol dengan senyum miris.
Tatapan kedua gadis itu menerawang jauh, hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Devian, jika saja dia masih hidup usianya sekarang tepat 17 tahun. Devian sebenarnya memiliki masa depan cerah sebagai aktor, begitu pula dengan Ice yang dikenal jenius dalam bidang musik.
Sungguh kisah yang tragis, yang Devian inginkan hanyalah cinta dan kasih sayang yang tulus. Namun seumur hidup dia tak pernah mendapatkannya baik dari orang tuanya ataupun dari Ice, Kakak tirinya. Devian menyalah artikan rasa kekaguman dan ketergantungannya pada Ice sebagai cinta. Penolakan dari Ice membuatnya terobsesi hingga berakhir seperti ini.
...----------------...
Malam berikutnya di sudut lain Aura City.
Musim penghujan tiba, hujan deras membuat beberapa ruas jalan tergenang banjir. Billie menghembuskan nafas dalam sambil melongokkan kepalanya dari jendela mobil. Kemacetan di depannya membuat dirinya merasa sangat bosan.
"Kak Ken, masih jauh tidak restorannya?" Tanya Billie tak sabar pada pria yang duduk di kursi kemudi sebelahnya.
"Sebentar lagi, tinggal 1 km saja..." Jawab Ken sambil melihat GPS di dashboard mobilnya. Mereka sudah terjebak disini selama hampir setengah jam, sedangkan waktu booking restauran tinggal beberapa saat lagi.
"Perutku sudah lapar Kak! Kenapa harus mentraktirku jauh-jauh? Lagipula bukannya makanan di restoran itu sangat mahal? Kenapa kita tidak ke restoran cepat saji di depan sana saja!"
"Sst! Sabarlah, Billie! Berhenti merengek! Kepalaku jadi pusing!" Suara rengekan Billie membuat Ken yang sedang stres karena kemacetan ini jadi semakin terganggu.
"Ini karena aku ingin merayakan kenaikan pangkat. Kau tahu? Sekarang Aku resmi menjadi Kepala Detektif bukan seorang bawahan lagi. Hehe... Sekali-kali aku ingin makan di fancy restoran! Jadi harusnya kau berterimakasih karena sudah ku ajak!" Lanjut Ken sambil tangannya mencubit sebelah pipi Billie keras-keras.
"Aarghh SAKIIT!!" Billie mengaduh dan menghardik tangan Ken kasar dan balas mencubit pinggangnya.
"OUCH BILLIE! Aku sedang menyetir! Jangan ganggu konsentrasiku!"
"Salahmu sendiri yang memulainya!" Sahut Billie membela diri.
"Hhh...sampai kapan aku harus menunggumu dewasa? Apa aku harus jadi Kakek-kakek dulu? Hhh... " Ken menghela nafas lelah sambil lanjut menyetir mobil.
Motif Ken sebenarnya malam ini sengaja mengajak Billie untuk 'kencan'. Tapi gadis ini tampaknya masih terlalu polos untuk menyadari usaha romantisnya ini. Mereka berdua akhirnya bertengkar lagi seperti anjing dan kucing sebelum kemudiwn suara getaran ponsel menginterupsi.
"Drrtt... drrtt" Sebuah pesan SMS masuk ke ponsel milik Ken. Dia yang masih kesal karena ulah Billie sontak pucat pasi saat dia membaca dan mengecek nama pengirimnya.
......................
Halo Detektif Ken, bisakah kau pecahkan kasus ini : Solar Night Club Scandal.
Dari teman lamamu : Eyes👁
......................
"Kenapa? Ada apa Kak? Apa itu dari kantor?" Billie mengkerutkan keningnya heran dan curiga akan perubahan ekspresi Ken.
"Ah tidak! Tidak ada apa-apa..." Ken mengelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, sengaja berbohong. Kemacetan di depannya sudah mulai berkurang dan dia malah segera tancap gas untuk mempercepat laju mobilnya.
"Eyes? Apa mungkin dia masih hidup?" Tanya Ken dalam hati.
Di sepanjang perjalanan menuju restoran itu batin Ken dipenuhi rasa gelisah dan penasaran. Dia yang cerewet tiba-tiba saja berubah jadi pendiam. Perubahan sifatnya itu membuat Billie curiga sekaligus merasa bosan tapi dia memutuskan tak banyak bertanya.
Di Restoran tepi sungai
"Hhh... kenyang sekali! Euurgh!" Billie mengelus perutnya yang kini buncit penuh dengan makanan dan tanpa sadar bersendawa keras.
"Ck ck, Billie! Tingkahmu benar-benar tidak mencerminkan seorang Lady! Badanmu kurus tapi makanmu rakus!" Komentar Ken sambil menggelengkan kepalanya tak percaya tapi Billie hanya membalasnya dengan manyunan dan wajah tanpa dosa.
Hujan sudah berhenti, mendung di langit sudah menghilang dan digantikan oleh kerlipan bintang malam. Cahaya lampu di sekitar restoran memberi kesan hangat dan romantis meskipun sebenarnya udara saat ini cukup dingin.
Billie menggeliatkan tangannya merasakan angin sejuk menerpa wajahnya. Nyaman sekali. Pilihan Ken kali ini memang tepat, tidak sia-sia mereka menghabiskan waktu bermacet-macet di jalan. Restoran tepi sungai ini menyajikan pemandangan langit malam dan kerlip lampu kota yang sangat indah.
"Kak Ken kenapa makanan pesananmu tidak dimakan? Ayo habiskan!"
Komentar Billie melihat piring Ken yang masih penuh. Sejak tadi pria itu hanya menatap kosong dan memainkan garpunya tanpa menyentuh makanannya sedikit pun. Sikapnya itu membuat Billie jadi khawatir.
"Kak Ken... apa Kakak sedang memikirkan masalah pekerjaan?" Tanya Billie lagi tapi Ken masih terdiam.
"Sudahlah! Apapun yang sedang kau pikirkan, lupakan! Ayo makan, Kak! Kalau tidak aku nanti yang habiskan!" Billie yang hilang kesabaran meraih pisau dan garpu dari sisi Kem. Dia mengambil potongan kecil daging steak sebelum dia arahkan ke mulut Ken.
Tidak sadar dengan perhatian yang diberikan oleh Billie, otak Ken malah berputar keras mencoba mengingat kembali kronologi kematian dua saudara yang masih membekas di ingatannya.
Saat itu tubuh Ice memang tampak terbujur kaku di tanah bersama adik tirinya. Darah pun terlihat mengalir deras dari kepalanya. Namun ada satu kejanggalan yang terjadi setelahnya yang Ken tidak sempat ceritakan pada Billie. Berbeda dengan Devian, ambulan yang membawa jenazah Ice mengalami kecelakaan tragis di tengah jalan. Mobil ambulan itu menabrak sisi jalan hingga terguling dan terbakar hebat, semua orang di dalamnya baik sopir ataupun tim medis gosong tak tertolong.
"Ice, apa mungkin dia berhasil menyelamatkan diri? Atau apakah ini hanya ulah orang iseng mengatas namakan Eyes karena siapapun bisa menjadi anggotanya? Tapi siapa orang iseng yang bisa memiliki alamat email pribadiku? Aku bahkan tak pernah mencantumkan email pribadiku di data kepolisian, aku juga tidak punya akun sosial media. Apa orang ini sengaja melacaknya? Lalu ada skandal apa di Solar Club? Bukankah itu Klub malam milik Tuan Lee, yaitu Ayah dari Godfrey?"
Pikiran Ken dibanjiri beribu pertanyaan yang membuatnya semakin gelisah. Belum habis Ken dengan semua pertanyaan di kepalanya tiba-tiba sesuatu yang mengagetkan terjadi.
"BOOOOMMM!!! DUARRR!!!" Sebuah ledakan besar terjadi di sebuah gedung di seberang sungai. Sebuah gedung terkenal yang menjadi objek turis kota ini, Solar Night Club.
"Kak Ken? Yang tadi itu suara kembang api apa Bom?" Tanya Billie yang saking kagetnya sampai menjatuhkan garpunya ke lantai.
Pertanyaan Billie dijawab oleh asap abu-abu pekat membumbung tinggi ke angkasa dan warna merah api yang berkobar mulai merembet ke sekitarnya.
"Ugh, SIALAAAN!!!" Ken menggeram penuh emosi sebelum beranjak dari kursinya.
"Billie, diam disini dan hubungi Ayahmu juga Detektif David segera! CEPAT LAKSANAKAN!!!" Perintah Ken layaknya seorang atasan sebelum dia berlalu pergi.
Billie yang melihat Ken berlari begitu terburu-buru hanya bisa terperangah kaget. Dia meraih ponselnya untuk menghubungi pria yang dimaksud Kim tapi detik kemudian Billie teringat sesuatu yang sangat penting.
"K-KAK KEN!! TUNGGUUU! KALAU KAU PERGI DULUAN YANG BAYAR MAKANAN INI SIAPA!!!" Teriak Billie sekuat tenaga. Sayangnya pria yang dipanggil sudah menghilang jauh dari pandangan matanya.
"UUGH Dasar! Kak Ken sialan!" Gerutu Billie sambil kembali duduk di kursinya dengan wajah cemberut. Dia terpaksa meminta maaf pada pengunjung sekitar restoran karena sudah membuat keributan.
Billie sendirian menatap jauh pemandangan Aura City, langit malam yang semula gelap gulita berubah menjadi merah menyala. Kobaran api mulai melahap deretan gedung yang berdekatan dengan sumber api. Suasana romantis berubah jadi mencekam.
"Halo, Papa..."
Saat Billie berbicara ditelepon tiba-tiba sekelibat bayangan dari sosok pria berbaju hitam dan rambut panjang yang berjalan di tengah keramaian menarik perhatiannya. Billie mengerjap dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak, ponselnya jatuh ke lantai tapi dia biarkan saja. Emosi yang tak bisa dijelaskan kini memenuhi dadanya. Tidak salah lagi, pemuda itu.
"Kak Ice?"
Billie memanggil lirih. Meskipun Billie tahu orang itu tidak mungkin bisa mendengar tapi dari kejauhan tampak pria itu menoleh. Dari samping wajahnya tampak jelas, masih tampan seperti dulu meskipun ada sedikit bekas luka di wajahnya.
"Kau ternyata masih hidup..." Air mata tak terasa mengalir membasahi wajah Billie yang memerah. Melihat pemuda itu kembali seolah ada bunga api yang mekar di hatinya. Apakah ini perasaan bahagia atau lega? Yang pasti saat ini jantung Billie berdebar sangat kencang dan begitu seolah dirinya sedang menaiki komedi putar.
...----------------...
Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama, dengan langkah tergesa Ice menoleh ke kanan kirinya. Seseorang menabrak bahunya tapi dia tidak peduli meskipun orang itu meneriakinya dengan kata-kata kasar. Dia terus melanjutkan langkahnya hingga kemudian telinganya tiba-tiba saja terasa panas seolah ada seseorang memanggilnya.
"Mungkin hanya imajinasiku saja." Batin Ice sambil mempercepat langkahnya saat menyebrangi jalan untuk mencapai halte bus.
Hampir setahun setelah memalsukan kematiannya, Ice hidup dalam bayangan kegelapan dan tanpa identitas. Meneruskan hidupnya sebagai bagian dari organisasi rahasia Eyes, gerombolan hacker yang menjadi ancaman nyata bagi siapapun targetnya. Tapi itu lebih baik, menurut Ice. Dunia ini tidak hanya hitam dan putih, masih ada warna abu-abu yang hidup diantaranya. Dan Ice memilih untuk menjadi sosok abu-abu itu yaitu Eyes.
Ice merasa dirinya adalah Dewa Kesialan yang dikutuk hanya untuk membawa malapetaka bagi orang terdekatnya. Devian adalah korban dari kutukan itu dan Ice tidak ingin menemui Devian lainnya lagi dalam hidupnya. Lagipula Ice pikir hubungan cinta hanya akan mempersulit pekerjaannya. Hatinya sudah beku dan pria seperti dirinya tidak layak untuk dicintai. Karena itu Ice memilih untuk menjalankan hidupnya sendiri, tanpa cinta, tanpa seorang pun orang yang mengenal dekat dirinya.
Namun di tengah kesepian dalam hidupnya, Ice akui ada seseorang yang sempat mengetuk hatinya dan mewarnai hidupnya walaupun singkat. Seorang gadis dengan senyum secerah mentari pagi. Han Billie, Detektif. Mungkin dia kedengarannya seperti stalker tapi melihat dan mengawasi gadis itu dari jauh adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
"Sampai jumpa lagi, gadis detektif." Gumam Ice sambil tersenyum memandang Billie dari jendela kaca bus yang ditumpanginya.
...*-------------------------*...
...*-----THE END-----*...
...*--------------------------*...
(AN : Halo semuanya, seperti yang kita ketahui novel The File of B volume pertama ini sudah tamat dan sudah diterbitkan dalam bentuk buku loh. Hasil kerjasama pihak Noveltoon dan penerbit ATPress. Bagi yang berminat dengan bukunya bisa DM langsung cek di akun shopeenya di @atpress2014.
Kalau bingung cara pencariannya di shopee bagaimana bisa DM ke instagram saya di @sadmeow.oyen atau instagram penerbit di @atpress2014. Terimakasih sudah mampir dan membaca cerita ini 😘!)
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh