NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Keputusan Untuk Melangkah Lebih Jauh

Cahaya keemasan matahari pagi menyiram selimut sutra yang membatasi wilayah tidur mereka. Naya membuka matanya tepat saat jam dinding berdentang pukul lima subuh. Selama beberapa detik, ia sempat terpaku menatap langit-langit kamar yang asing, sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya. Di sebelah kanan tumpukan bantal pembatas, Arka masih tertidur lelap dengan posisi menyamping, menghadap ke arahnya. Wajah kaku sang tuan muda saat terlelap tampak jauh lebih muda dan tanpa beban, sangat berbeda dengan ekspresi sangarnya di gedung perkantoran Jakarta.

Naya bergerak dengan sangat halus, menyingkap selimut tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Dengan keanggunan mutlak yang selalu ia miliki, ia turun dari ranjang, merapikan jubah tidur putih tulangnya, dan segera melangkah keluar kamar. Ibu Ambar dijadwalkan pulang subuh ini karena harus menghadiri kegiatan sosialnya di luar kota, dan Naya harus memastikan sandiwara perpisahan pagi mereka terlihat sempurna tanpa cela.

Satu jam kemudian, suasana hangat menyelimuti teras depan. Sebuah mobil sedan mewah berpelat nomor keluarga besar Dewangga sudah menyala, siap mengantar sang ibu mertua yang tidak jadi menginap beberapa hari.

Ibu Ambar memeluk Naya dengan sangat erat, menepuk-nepuk punggung menantunya dengan penuh kasih sayang. "Mama pulang dulu ya, Naya. Terima kasih sudah merawat Arka dan Kenzie dengan sangat baik. Melihat kalian tidur satu kamar dan seharmonis ini semalam, membuat beban di pikiran Mama hilang semua. Jangan dengarkan omongan Tante Sandramu atau Clarissa. Kamu adalah menantu sah pilihan Arka."

Naya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat teduh dan menghanyutkan. Ia mencium punggung tangan Ibu Ambar dengan takzim. "Hati-hati di jalan, Mam. Doa dan dukungan Mama adalah kekuatan terbesar bagi kami di sini."

Arka yang berdiri di samping Naya segera merapatkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di pinggang Naya dengan gerakan yang terlihat begitu protektif di depan ibunya. "Kenzie biar kami yang jaga, Ma. Mama fokus saja dengan kesehatan Mama."

Setelah lambaian tangan terakhir dan mobil sedan itu perlahan melaju membelah kabut tipis pagi melewati gerbang besi, Arka seketika melepaskan cengkeraman tangannya di pinggang Naya. Topeng kehangatan di wajahnya lenyap, digantikan oleh gurat kecemasan yang pekat.

"Sandiwara dengan ibuku sudah selesai, Naya. Tapi masalah yang sesungguhnya baru saja mendarat di atas meja kerjaku," ujar Arka, suaranya bariton merendah, sarat akan tekanan emosi yang berat.

Naya menghapus senyum manis publiknya, kembali menjadi sosok wanita yang dingin, tenang, dan kokoh sekeras baja. Ia berbalik, melangkah masuk menuju ruang tengah yang luas disusul oleh Arka dari belakang.

Di atas meja kaca ruang tengah, sebuah amplop besar berlogo firma hukum Maheswari Group tergeletak kaku. Di dalamnya, lembar demi lembar berkas gugatan pra-perwalian yang dikirimkan oleh pengacara Clarissa kemarin sore seolah memancarkan aura ancaman yang mematikan.

Arka mengambil berkas itu, rahang tegasnya mengeras sempurna. "Saskia ... wanita egois itu benar-benar menorehkan tanda tangannya di surat kuasa ini dari London. Clarissa membelinya dengan uang. Mereka menuduhku tidak stabil secara emosional untuk membesarkan Kenzie sendirian, dan mereka akan menggunakan isu miring tentang latar belakangmu di pengadilan untuk membuktikan bahwa lingkungan rumah ini tidak sehat bagi Kenzie. Semua ini terjadi karena aku menolak dijodohkan sama Clarissa, sebelum aku menikahimu."

Arka melangkah mondar-mandir di depan sofa, menyugar rambutnya dengan frustrasi yang luar biasa. "Jika tim hukum Clarissa berhasil mencium bahwa pernikahan kita hanya kontrak di atas kertas, hakim akan menganggap aku melakukan penipuan institusi pernikahan demi ego hak asuh. Aku bisa kehilangan anakku, Naya."

Naya tidak ikut panik. Ia mengambil posisi duduk di sofa beludru dengan punggung yang tegak lurus, menatap Arka yang sedang didera badai kecemasan. Pembawaan Naya yang tenang menghanyutkan justru menjadi satu-satunya penawar bagi kekacauan logika pria di hadapannya.

"Duduklah, Tuan Arka. Berjalan mondar-mandir seperti itu tidak akan membuat tanda tangan Saskia terhapus dari kertas," potong Naya, suaranya mengalun stabil tanpa intonasi tinggi.

Arka menghentikan langkahnya, menatap Naya dengan pandangan parau yang sarat akan keputusasaan. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di sofa tunggal berseberangan dengan Naya, menumpukan kedua tangannya di atas lutut. "Bagaimana bisa kamu tetap setenang ini, Naya? Ini tentang Kenzie. Mereka akan menyerangmu habis-habisan di sidang tertutup minggu depan."

Naya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin namun sarat akan harga diri yang tinggi. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mengunci pandangan mata elang Arka dengan mata bulatnya yang jernih.

"Mereka menyerang karena mereka mengira kita akan bertahan dengan cara bersembunyi di balik kertas kontrak ini, Mas Arka," tutur Naya dengan nada bicara yang teratur. "Clarissa dan pengacaranya mengira saya adalah wanita lemah dari kalangan biasa yang akan langsung menciut dan memilih mundur begitu nama hukum disebutkan. Tapi mereka salah memilih lawan."

Naya menjeda sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata Arka dengan keteguhan yang murni.

"Jika kita ingin memenangkan peperangan ini dan mematikan langkah Clarissa serta Saskia selamanya, maka kita harus mengambil keputusan untuk melangkah lebih jauh. Kita harus merubah strategi kita."

Arka menyipitkan matanya, jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang janggal mendengar keberanian sunyi istrinya. "Melangkah lebih jauh? Apa maksudmu?"

"Kita harus membuat pernikahan kontrak ini terlihat begitu nyata hingga hukum sekalipun tidak akan bisa menemukan celahnya," jawab Naya tegas, bicaranya terstruktur sangat taktis. "Mulai hari ini, pindahkan seluruh pakaian dan barang-barang saya secara permanen ke kamar utama Anda. Kita tidak boleh lagi mengunci pintu penghubung dalam. Di depan para pelayan, di depan tim hukum Anda, dan di depan pengadilan nanti ... kita harus menunjukkan bahwa kita adalah sepasang suami istri yang saling membutuhkan, bukan sekadar majikan dan pekerja kontrak."

Arka tertegun seribu bahasa, napasnya sempat tertahan di tenggorokan. "Naya ... kamu sadar apa yang kamu tawarkan? Itu artinya privasimu akan sepenuhnya hilang. Kita akan hidup bersama dalam satu ruang tidur setiap malam."

"Saya sangat sadar, Tuan Arka. Kehilangan privasi jauh lebih baik daripada melihat Kenzie diseret ke dalam perebutan hak asuh yang kotor oleh wanita seperti Clarissa," sahut Naya, suaranya begitu dalam, memancarkan ketulusan murni seorang ibu yang siap mengorbankan apa pun demi melindungi anak yang disayanginya. "Kenzie sudah menganggap saya mamanya, dan saya tidak akan membiarkan siapa pun merenggut kedamaian dari matanya."

Arka terpaku menatap Naya. Rasa kagum, rasa takjub, dan gelombang cinta yang selama ini ia kunci rapat di dalam hatinya kini membuncah hebat, meruntuhkan sisa-sisa keangkuhannya sebagai seorang Dewangga. Wanita di hadapannya ini ... tidak memiliki darah Maheswari atau kekayaan Dewangga, namun kekuatan jiwa dan ketulusannya jauh lebih megah dari seluruh harta yang Arka miliki.

Arka berdiri, melangkah mendekati sofa Naya. Ia berlutut di sebelah wanita itu, menyetarakan tinggi mereka. Arka mengulurkan kedua tangannya, meraih jemari Naya yang halus dan menggenggamnya dengan sangat erat, menyalurkan kehangatan murni yang jujur tanpa ada sekat kebohongan bisnis lagi.

"Terima kasih, Naya ... Terima kasih," bisik Arka, suaranya bergetar samar karena emosi yang teramat dalam. Mata elangnya menatap lurus ke mata bulat Naya dengan sorot pemujaan yang mutlak. "Aku bersumpah demi nama ibuku dan demi hidupku, aku tidak akan membiarkan Clarissa atau Saskia menyentuhmu atau melukaimu di pengadilan nanti. Kita akan hadapi badai ini bersama-sama. Sebagai suami istri."

Naya merasakan debaran jantungnya sendiri berpacu liar mendapati kedekatan intim dan genggaman tangan Arka yang begitu kokoh malam ini. Pertahanannya sempat bergetar hebat, namun ia segera menarik napas panjang untuk mempertahankan ketenangannya yang menghanyutkan. Ia tidak menarik tangannya dari genggaman Arka, membiarkan kehangatan itu menjadi simbol kesepakatan baru di antara mereka.

"Mari kita siapkan berkas perusahaan Anda untuk mematahkan konsorsium Maheswari besok pagi, Mas Arka," ucap Naya dengan senyuman tipis yang sangat anggun, sengaja menggunakan panggilan 'Mas' untuk menandai langkah pertama mereka memasuki wilayah permainan yang baru. "Biarkan Clarissa memasang jebakannya di pengadilan minggu depan, karena begitu kita melangkah masuk ke sana. .. saya sendiri yang akan memastikan jebakan itu menjepit lehernya sendiri."

Bersambung...

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
sekarang tinggal nanti Arka saja sih yang buat keputusan besar tentang hubungan dirinya dan Naya, apa akan seperti tertera dalam kontrak yang seperti mereka sepakati dulu,,,
Laila Umroh
baru ngerti kalau kaka author punya karya baru...
Sugiharti Rusli
dan bagaimana Naya mendidik dan merawat Kenzie dengan pemahaman" baru tentang hidup dan Kenzie bahagia kala bersama Naya,,,
Sugiharti Rusli
dan Kenzie begitu cepat hatinya terpaut pada Naya tanpa pdkt sebelumnya kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana Naya memperlakukan Kenzie selayaknya ibu teehadap anaknya,,,
Sugiharti Rusli
pada waktunya kertas kontrak itu akan kalah oleh tatapan polos Kenzie sih yah,,,
Sugiharti Rusli
entah kalo suatu saat Kenzie tahu kalo sanga mama ga akan bersama mereka lagi karena sebuah kesepakatan yah, kasihan sih dengan mentalnya nanti,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalannya waktu, malah Kenzie mendapat nilai baru dan juga sangat mencintai dan menerima Naya sebagai ibunya,,,
Sugiharti Rusli
kalo yang jadi istri Arka bukanlah seorang Nayara, mungkin kedok pernikahan kontrak mereka sudah terbongkar sejak awal yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Clarissa memiliki dugaan kalo Arka menikahi Naya bukan karena cinta, dan itu betul sih tujuan utamanya hak asuh putranya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia memang melakukan pernikahan kontrak dengan Naya demi hak asuh Kenzie, tapi di perjalanan malah banyak hal tak terduga,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya di sini si Arka yang sangat diuntungkan dengan memperistri Naya yah
dyah EkaPratiwi
Naya 😍
NAYLA DWI
ok
Nandi Ni
dibalik kesulitan terbentang kemudahan,semoga ketulusan hatinya mampu menghantarkan pada kebahagiaan.
Nandi Ni
emang diluar nurul pemikiran Naya ini
Herman Lim
ga sabar lihat kehancuran mereka
Naufal Affiq
buat clarisa gak bisa ngomong lagi ya mommy,buat mereka kalah dalm persidangan,dan naya penenangnya
Mamah Nisa
di depan kenzie kok manggilnya tuan arka....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!