Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Menemukan Tanpa Sengaja
Amora sampai di parkiran basement apartemen. Tidak seperti sore tadi saat area parkir masih dipenuhi kendaraan yang keluar masuk, malam itu suasananya jauh lebih lengang. Hanya sesekali terdengar gema suara ban mobil yang melintas di jalur lain, kemudian kembali menghilang ditelan sunyi.
Sorot lampu putih dari langit-langit basement memantul di lantai beton yang bersih, menciptakan bayangan panjang di antara deretan mobil yang terparkir rapi. Entah mengapa, suasana itu membuat Amora merinding.
"Sepi banget..." gumamnya lirih sambil menatap ke segala arah melalui kaca mobil.
Ia memang bukan penakut, tetapi berada sendirian di basement yang hampir kosong tetap saja membuatnya merasa kurang nyaman. Tanpa sadar ia menggenggam setir lebih erat sebelum akhirnya menggeleng pelan, mencoba mengusir pikirannya sendiri.
"Harusnya tadi jalan kaki ke minimarket dekat apartemen aja. Kenapa malah milih ke supermarket," keluhnya pelan sembari terkekeh kecil pada dirinya sendiri.
Setelah memastikan pintu mobil terkunci, Amora mengenakan sabuk pengaman lalu menyalakan mesin kembali. Dentuman halus dari mesin mobil sedikit mengurangi rasa waswas yang sejak tadi mengganggunya.
Mobil itu pun bergerak perlahan meninggalkan basement menuju jalan utama.
Langit malam yang gelap diterangi oleh lampu-lampu kota yang menghiasi sepanjang jalan, sementara arus kendaraan sudah jauh berkurang dibanding jam pulang kerja. Amora membiarkan lagu pelan dari radio menemani perjalanan singkatnya sambil menyusun daftar belanja di dalam kepala.
"Ayam, telur, sayuran... terus susu. Oh iya, buah juga sekalian," gumamnya pelan.
Ia memang berencana mulai mengisi dapur apartemen. Kulkas di unit Atharazka nyaris kosong, sehingga menurutnya akan lebih praktis jika membeli kebutuhan pokok sekaligus.
Kurang lebih 15 menit kemudian, mobilnya memasuki area parkir sebuah supermarket yang masih cukup ramai. Cahaya terang dari papan nama toko langsung menyambut kedatangannya.
Amora memilih tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Setelah mematikan mesin, ia mengambil tas selempang yang berada di kursi sebelah.
Namun baru saja hendak membuka pintu, pandangannya tiba-tiba terpaku ke arah seberang.
Seorang perempuan berdiri di dekat troli belanja. Tubuhnya dibalut hoodie hitam longgar dengan tudung yang menutupi rambutnya. Wajahnya juga tertutup masker, membuat identitasnya sulit dikenali.
Meski begitu Amora merasa sangat mengenal sosok tersebut.
Tatapannya tidak lepas sedikit pun. Semakin lama memperhatikan, semakin kuat firasat yang muncul di dalam hatinya.
Perempuan itu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Cara berdirinya, tinggi badannya, bahkan kebiasaan memainkan ujung lengan hoodie dengan jemarinya terasa begitu familiar.
Amora menelan ludah.
"Kak Jelita...?"
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Dadanya mulai berdebar semakin cepat. Selama dua hari terakhir, seluruh keluarga Atmojo terus memikirkan keberadaan kakaknya. Dan sekarang, tanpa pernah ia bayangkan sebelumnya, sosok yang mereka cari justru muncul di hadapannya.
Amora segera membuka pintu mobil lalu turun dengan langkah pelan. Ia tidak langsung berlari. Ada rasa takut kalau ternyata dirinya salah mengenali orang.
Semakin dekat jarak di antara mereka, keyakinannya justru semakin bertambah.
Tidak mungkin ia keliru. Itu benar-benar kakaknya.
Dengan napas yang mulai memburu, Amora akhirnya menghentikan langkahnya beberapa meter di belakang perempuan tersebut.
"Kak Jelita..."
Suara itu keluar nyaris berbisik, namun cukup jelas terdengar di tengah suasana parkiran.
Perempuan berhoodie hitam itu langsung membeku. Jemarinya yang semula sibuk memegang ponsel perlahan berhenti bergerak, sementara bahunya tampak menegang seolah mengenali suara yang baru saja memanggilnya.
Beberapa detik kemudian, ia menarik napas panjang sebelum perlahan membalikkan tubuh menghadap Amora.
.
Amora tidak ingin pembicaraan mereka menjadi perhatian orang-orang di sekitar supermarket. Tanpa berpikir lama, ia meraih perlahan pergelangan tangan kakaknya.
"Kak, ikut aku dulu, ya. Kita ngobrol di mobil," ucapnya pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meski jantungnya berdegup sangat cepat.
Jelita tidak menolak. Perempuan itu hanya menatap Amora beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Tanpa sepatah kata pun, ia mengikuti langkah adiknya menuju area parkir.
Keheningan mengiringi mereka. Tidak ada percakapan, hanya suara langkah kaki yang saling bersahutan di atas aspal. Sesampainya di mobil, Amora segera membuka pintu sisi penumpang.
"Kak, masuk dulu."
Jelita menurut. Ia duduk dengan kepala tertunduk, sementara Amora memutari mobil menuju kursi pengemudi. Begitu pintu ditutup, dunia luar seakan menghilang. Kini hanya ada mereka berdua dalam ruang sempit yang dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.
Amora mematikan radio yang sejak tadi masih menyala pelan. Suasana berubah sunyi. Perlahan ia menoleh ke arah kakaknya.
Selama beberapa detik, Amora hanya memandang tanpa berkata apa-apa. Hatinya terasa sesak melihat perubahan pada Jelita. Wajah yang biasanya selalu tampak cerah kini terlihat pucat. Lingkaran hitam menghiasi bawah matanya, sementara sorot mata itu tampak kehilangan semangat.
"Kak..." panggil Amora lirih.
Suara itu membuat Jelita menggigit bibirnya sendiri.
"Aku sama Ayah dan Mama nyari Kakak ke mana-mana. Kami semua khawatir."
Ucapan sederhana itu justru menjadi pemicu runtuhnya pertahanan Jelita Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah lagi. Bahunya bergetar pelan, lalu tangisnya pecah di dalam mobil.
"Aku minta maaf, Mora..." katanya terbata-bata. "Maaf... karena aku pergi. Maaf juga karena akhirnya kamu yang harus menggantikanku menikah dengan Razka."
Tangisnya semakin menjadi-jadi. Setiap kalimat yang keluar terdengar dipenuhi penyesalan.
"Aku benar-benar egois..."
Amora merasakan tenggorokannya ikut terasa sesak. Tanpa ragu, ia menggeser tubuhnya mendekat lalu memeluk Jelita erat. Pelukan itu membuat Jelita semakin terisak. Selama dua hari terakhir ia memendam semuanya sendirian. Baru kali ini ia bisa meluapkan seluruh beban yang menghimpit dadanya.
"Aku udah bikin hidup kamu berantakan, Mora."
Amora menggeleng pelan sambil mengusap punggung kakaknya.
"Enggak. Aku ngerti kenapa Kakak memilih pergi. Mungkin keputusan itu memang salah, tapi aku tahu Kakak pasti punya alasan yang besar."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Soal aku menikah dengan Mas Razka, saat ini aku baik-baik saja. Jadi kakak jangan terus menyalahkan diri sendiri."
Jelita memejamkan mata. Air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Maafin kakak Amora," bisiknya masih terisak.
Amora hanya diam sembari terus memeluk Jelita. Sampai akhirnya..
"Pulang ya kak," ujarnya.
"Aku takut pulang..." bisiknya lirih.
Amora paham maksud Jelita.
"Mama sama Ayah nggak marah, Kak. Mereka cuma khawatir. Mereka sedih dan berharap Kakak cepat pulang dengan selamat."
Kalimat itu membuat tangisan Jelita kembali pecah. Ia memeluk Amora lebih erat, seolah hanya adiknya itulah tempat terakhir yang bisa memberinya rasa aman.
"Aku sudah mengecewakan kalian semuanya."
Amora mengusap pelan rambut kakaknya.
"Semua masalah pasti bisa diselesaikan kalau Kakak pulang dan bicara baik-baik. Tapi kalau Kakak terus menghilang, Mama dan Ayah akan semakin sedih, Kak."
Jelita tidak langsung menjawab. Ia hanya menangis dalam pelukan adiknya, membiarkan seluruh penyesalan yang selama ini dipendam keluar bersama derasnya air mata.
Malam itu, di dalam sebuah mobil yang terparkir di sudut supermarket, dua saudari itu saling menguatkan. Tidak ada lagi kemarahan ataupun tuntutan. Yang tersisa hanyalah kerinduan, penyesalan, dan harapan agar semua yang telah retak masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰