NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penelpon iseng

Lampu merah bertuliskan ON AIR masih menyala.

"...Semoga suatu hari nanti, keberanian itu benar-benar datang menghampirimu."

Keiko menutup surat di tangannya. Senyumnya mengembang.

"Terima kasih untuk surat yang sangat hangat. Semoga apa pun pilihanmu nanti... tidak akan membuatmu menyesal."

Ia melirik jam digital di dalam studio.

"Baiklah, Night Lovers. Setelah satu lagu berikut ini... aku akan kembali menemani kalian. Jangan ke mana-mana."

Keiko menekan tombol kecil di hadapannya. Lagu pun mulai mengalun. Lampu ON AIR perlahan padam.

"Haa..."

Keiko melepas headset, lalu meregangkan bahunya pelan. Tak lama... suara dari ruang operator terdengar melalui interkom.

"Keiko-san."

Keiko menoleh ke balik kaca. Seorang pria berkacamata melambaikan tangan kecil. Sato, operator yang menggantikan Renji selama beberapa hari ke depan.

"Tinggal dua segmen lagi."

Keiko mengangguk sambil tersenyum. "Haik. Arigatou, Sato-san."

Sato mengacungkan ibu jarinya. "Sejauh ini lancar."

Keiko tersenyum lega. "Syukurlah."

Meski baru pertama kali bekerja bersama malam itu... Sato cukup sigap. Beberapa kali ia memberi aba-aba dengan isyarat tangan, dan semuanya berjalan tanpa kendala.

Saat Keiko hendak kembali mengenakan headset... ponselnya yang tergeletak di meja bergetar pelan. Sebuah pesan baru masuk.

Pengirimnya... Kyo.

Keiko sedikit terkejut. Ia segera membuka pesan itu.

> "Aku sedang mendengarkan siaranmu."

Keiko terkekeh kecil. "Serius... masih sempat mendengarkan radio."

Jarinya mulai mengetik balasan.

> "Terima kasih."

> "Salam untuk semua di Tsukimori."

Beberapa detik kemudian... balasan dari Kyo langsung muncul.

> "Akan kusampaikan."

> "Semangat untuk segmen berikutnya, Okiek."

Tanpa sadar... senyum Keiko kembali mengembang.

"Baik. Aku tidak boleh mengecewakan pendengarku."

Di ruang operator... Sato mengangkat tiga jari, tanda lagu tinggal tiga puluh detik lagi.

Keiko menarik napas pelan, lalu kembali mengenakan headset. Lampu merah kembali menyala.

Lagu penutup perlahan memudar.

Lampu merah kembali menyala. Keiko tersenyum ke arah mikrofon.

"Kembali lagi di Night Letter. Bersama aku, Okiek. Terima kasih untuk kalian yang masih setia menemani malam ini."

Ia melirik monitor di depannya. "Baik... Seperti biasa, sekarang kita masuk ke sesi telepon. Semoga penelepon malam ini sudah siap."

Sato memberi isyarat dari balik kaca. Jempolnya terangkat. Sambungan telah masuk.

Keiko menekan tombol. "moshi moshi."

Suara seorang pria terdengar dari seberang. "Moshi-moshi selamat malam, , Okiek-san."

"Terima kasih sudah menelepon Night Letter. Ada cerita yang ingin dibagikan malam ini?"

Pria itu tertawa kecil. "Sebenarnya tidak ada. Saya hanya ingin berbincang dengan Okiek-san."

Keiko ikut tertawa pelan. "Wah... Kalau begitu aku merasa tersanjung. Tapi jangan lupa... pendengar yang lain juga sedang menunggu, lho."

"Hehe... Iya. Kalau begitu... boleh tanya sesuatu?"

"Silakan. Asal jangan pertanyaan ujian matematika."

"Hahaha..."

Suasana studio menjadi santai. Pria itu kembali bertanya.

"Okiek-san... sudah lama menjadi penyiar?"

"Kurang lebih beberapa tahun."

"Masih menikmati pekerjaan ini?"

Keiko mengangguk kecil. "Tentu. Setiap malam aku bisa mendengar cerita dari banyak orang. Itu menyenangkan."

"Hmm... Lalu..." Pria itu terdiam sesaat. "Okiek-san... apa tinggal sendirian?"

...

Keiko tetap tersenyum. "Wah... Itu sudah masuk pertanyaan pribadi. Maaf... aku tidak bisa menjawab yang itu."

"Hehe..." Pria itu tertawa pelan. "Baiklah. Lalu... biasanya kalau pulang siaran... Okiek-san lewat jalan yang mana?"

KEiko sedikit terdiam. Refleks... ia melirik ke ruang operator.

Sato yang sejak tadi memperhatikan percakapan itu langsung menggeleng pelan. Lalu menyilangkan kedua lengannya membentuk tanda X. (Jangan dijawab.)

Keiko langsung mengerti. Ia kembali menatap mikrofon. Senyumnya tidak berubah.

"Hahaha... Itu juga rahasia. " Keiko memanfaatkan momen itu. "Kalau begitu... daripada membahas aku... apa ada pesan yang ingin disampaikan untuk Night Lovers yang sedang mendengarkan malam ini?"

Pria itu terdiam cukup lama.

"..."

"Kalau begitu... Sampai jumpa lagi, Okiek-san."

Klik. Sambungan telepon terputus.

Keiko berkedip pelan. "Hm... Baik... Terima kasih untuk teleponnya malam ini. Semoga malam kalian menyenangkan."

Ia memberi isyarat kepada Sato. Lagu berikutnya pun mulai diputar. Lampu ON AIR kembali padam.

Keiko mengembuskan napas pelan. "...Haa."

Ia melepaskan headset. Tatapannya masih tertuju ke arah konsol di depannya.

Sato keluar dari ruang operator. Ia mengetuk pelan pintu studio. "Boleh masuk?"

Keiko mengangguk. "Silakan."

Sato masuk sambil membawa sebotol air mineral. "Diminum dulu."

Keiko menerimanya. "Terima kasih." Ia meneguk beberapa teguk, namun masih tampak sedikit bingung. "Apa tadi aku salah bicara?"

Sato menggeleng. "Tidak sama sekali. Keiko-san sudah menjawab dengan sangat baik."

"Lalu... kenapa wajahmu serius begitu?"

Sato tersenyum tipis. "Karena pertanyaannya sudah keluar dari konteks acara. Penyiar tidak perlu menjawab hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi. Itu sudah menjadi aturan tidak tertulis di dunia penyiaran."

Keiko mengangguk pelan. "Aku sempat kaget. Biasanya pendengar Night Letter tidak seperti itu."

"Mungkin hanya pendengar yang terlalu penasaran," jawab Sato menenangkan. "Atau mungkin hanya iseng. Yang penting... jangan terlalu dipikirkan."

Keiko tersenyum kecil. "Baik. Terima kasih, Sato-san."

Sato mengangguk. "Lima belas detik lagi. Ayo kita selesaikan siaran malam ini."

Keiko menarik napas panjang. Raut wajahnya kembali tenang. Ia mengenakan headset, sementara Sato kembali ke ruang operator.

Lima...

Empat...

Tiga...

Dua...

Satu...

Lampu merah bertuliskan ON AIR kembali menyala.

Beberapa menit kemudian...

Siaran kembali mengalir seperti biasanya. Keiko membaca dua surat lagi. Sesekali tertawa, sesekali ikut terdiam saat mendengar kisah para pendengarnya.

Tak terasa... jam digital di dalam studio menunjukkan pukul 22.00. Keiko melirik jam itu sekilas, lalu tersenyum ke arah mikrofon.

"Night Lovers... rasanya waktu memang selalu berjalan lebih cepat saat kita saling berbagi cerita. Terima kasih... karena sudah menemani Night Letter malam ini."

Ia membuka lembar terakhir di depannya. "Lalu... seperti biasa... jangan lupa menjaga kesehatan. Dan... semoga malam ini membawa mimpi yang indah untuk kalian."

Keiko menarik napas pelan. Senyumnya kembali mengembang.

"Sampai jumpa lagi di Night Letter berikutnya. Aku... Okiek. Selamat malam."

Tangannya perlahan menekan tombol di hadapannya. Lagu penutup mulai mengalun. Lampu merah bertuliskan ON AIR akhirnya padam.

...

Studio mendadak terasa jauh lebih sunyi. Keiko melepas headset. Sato mengangkat kedua jempolnya dari balik kaca. "Kerja bagus."

Keiko membalas dengan senyum kecil. Beberapa detik kemudian... Sato masuk ke dalam studio "Siaran pertamamu tanpa Renji-san berjalan lancar."

Keiko tersenyum kecil. "Syukurlah. Jujur... aku sempat gugup."

Sato terkekeh"Kalau bukan karena telepon tadi... mungkin malam ini benar-benar mulus."

Keiko terdiam sesaat. "Lumayan membuatku kaget. Tapi untung ada isyarat darimu. Kalau tidak... mungkin aku sudah menjawab macam-macam."

Sato menggeleng pelan. "Itu memang sudah di luar konteks acara. Penyiar berhak menolak menjawab. Dan Keiko-san melakukannya dengan baik."

Keiko mengangguk. "Terima kasih." Ia berdiri, lalu mengambil tas yang sedari tadi tergantung di sandaran kursi. "Kalau begitu... aku pulang dulu."

Sato ikut berdiri. "Hai. Hati-hati di jalan. Keiko-san."

Keiko membungkuk ringan.

Koridor Aoyama FM sudah jauh lebih lengang. Sebagian besar lampu ruangan telah dimatikan, menyisakan beberapa lampu di sepanjang lorong yang menyala redup.

Langkah kaki Keiko bergema pelan. Tasnya menggantung di bahu, sementara ponselnya berada di dalam genggaman.

Pintu kaca otomatis terbuka. Hembusan angin malam langsung menyambutnya.

"Hmm..." Keiko menarik napas panjang. Udara malam terasa sejuk, jauh lebih nyaman dibanding siang hari. Ia mulai berjalan menyusuri trotoar. Lampu-lampu jalan masih menerangi kawasan Aoyama, dan mobil sesekali melintas. Suasana kota masih terasa hidup.

Namun... beberapa langkah kemudian... Keiko memperlambat jalannya. Tatapannya mengarah ke depan.

Turun Kabut tipis...

Keiko menghentikan langkahnya. "Aneh..."

Ia mengangkat wajah. Langit malam terlihat cerah. Bulan bersinar di antara langit yang nyaris tanpa awan. "Padahal tidak mendung."

Keiko tersenyum kecil. "Mungkin besok pagi bakal dingin."

Tanpa berpikir panjang, ia kembali berjalan. Semakin dekat, kabut itu ternyata lebih tebal daripada yang terlihat dari kejauhan.

Lampu-lampu jalan mulai tampak samar, dan bangunan di seberang jalan pun perlahan memudar di balik putihnya kabut.

Keiko memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. "Untung jalannya lurus. Kalau tidak... bisa nyasar." Ia terkekeh pelan pada dirinya sendiri.

Beberapa pejalan kaki masih tampak berlalu-lalang. Siluet mereka muncul... lalu menghilang di balik kabut. Keiko sama sekali tidak merasa ada yang aneh. Baginya, ini hanyalah malam berkabut seperti biasanya.

Ia terus berjalan. Setapak demi setapak. Hingga...

BBruk.

"Ah!" Keiko refleks mundur setengah langkah.

"Sumimasen.(maaf) "

Ia langsung membungkukkan badan. "Sumimasen,,saya tidak melihat ke depan."

Keiko mengangkat kepalanya. Di hadapannya, seseorang berdiri diam. Sosok itu tertutup kabut, dan wajahnya tidak terlihat jelas.

Tidak ada jawaban.

keiko kembali melanjutkan langkahnya. Tanpa disadari. orang yang baru saja ditabraknya... masih berdiri di tempat. Mengawasinya pergi.

Keiko terus melangkah. Kabut di sekelilingnya belum juga menipis. Ia melirik ponselnya. Layar masih menyala, menunjukkan pukul 22.17. Keiko memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Sebentar lagi sampai rumah"

Langkahnya tetap santai. Namun... entah sejak kapan... suara mobil yang tadi sesekali terdengar... menghilang.

Keiko baru menyadarinya beberapa detik kemudian.

Ia berhenti, lalu menoleh ke belakang. Kabut putih memenuhi jalan yang baru saja dilewatinya. Tidak ada kendaraan, tidak ada lampu yang bergerak, dan tidak ada suara klakson. Yang terdengar... hanya embusan angin pelan.

"Kenapa malam ini sepi sekali... tidak biasanya..apa ini sudah terlalu malam?." Ia kembali meyakinkan dirinya sendiri, tidak ingin berpikir macam-macam. keiko kembali berjalan. hingga perlahan kabut mulai menipis.

Namun... langkahnya mendadak terhenti. "...Eh?"

Keningnya berkerut.

Di hadapannya... sudah tidak ada lagi deretan gedung. Tidak ada lampu lalu lintas. Tidak ada papan reklame. Yang terbentang... adalah jalan tanah yang membelah hamparan rerumputan. Di kejauhan... sebuah bukit berdiri tenang di bawah cahaya bulan.

Keiko mematung. "...Apa?"

Matanya berkedip beberapa kali. Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Wajahnya mulai dipenuhi kebingungan.

"Tunggu... bukit...???"

"Semenjak kapan ada bukit di Aoyama?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!