NovelToon NovelToon
Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.

【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】

Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.

Namun, tidak dengan Leon.

Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.

【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Ujian Pertama (Bagian 2)

Angin berembus kencang.

Rumput bergoyang mengikuti arah lari Wolf Ape yang semakin mendekat. Setiap langkah monster itu membuat tanah bergetar pelan.

Leon menggenggam erat dahan kayu yang mulai retak di kedua ujungnya.

Jarak mereka kini tinggal belasan meter.

Sepuluh...

Delapan...

Lima...

"Sekarang!"

Bukannya menyerang, Leon justru berlari ke arah kiri.

Wolf Ape meraung marah dan langsung mengejarnya.

"GRRAAAH!"

Kecepatan monster itu jauh di atas manusia biasa. Dalam hitungan detik, jarak mereka kembali menipis.

Leon melirik ke belakang.

"Lebih cepat dari perkiraanku..."

Namun wajahnya tetap tenang.

Sejak tadi ia tidak berlari tanpa tujuan.

Beberapa puluh meter di depannya berdiri sebuah batu raksasa setinggi hampir tiga meter. Permukaannya dipenuhi lumut dan akar pohon yang menjulur hingga ke tanah.

Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Leon mengubah arah secara tiba-tiba dan memutari batu itu.

Wolf Ape tidak sempat mengerem.

BOOM!

Tubuh besarnya menghantam batu dengan keras.

Retakan memenuhi permukaan batu, sementara monster itu menggelengkan kepala karena pusing.

"Itu dia!"

Leon tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Ia mengangkat dahan kayu setinggi bahu, lalu menghantam pelipis Wolf Ape sekuat tenaga.

BRAK!

Dahan itu patah menjadi dua.

Namun serangan tersebut hanya membuat monster itu mundur selangkah.

"Tidak mempan?!"

Wolf Ape menoleh perlahan.

Mata merahnya kini dipenuhi amarah.

Ia mengaum begitu keras hingga telinga Leon berdenging.

Detik berikutnya, cakar raksasa melayang ke arah wajahnya.

Leon menundukkan tubuh secepat mungkin.

SWOOSH!

Angin dari ayunan cakar saja sudah cukup membuat pipinya terasa perih.

"Kalau kena..."

"...kepalaku pasti hancur."

Ia segera menjauh beberapa meter sambil mengatur napas.

Tangannya mulai gemetar.

Tubuhnya dipenuhi luka gores akibat berguling di tanah berbatu.

Keringat bercampur darah menetes dari dahinya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Leon benar-benar merasakan ketakutan akan kematian.

Di kejauhan, Lyra memperhatikan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tatapannya tetap tenang.

Namun di dalam hati, ia sedikit terkejut.

"Biasanya pengguna pertama akan panik dan menyerah."

"Anak ini justru terus berpikir."

Leon mengusap darah yang mengalir di pelipisnya.

"Otak..."

"Aku harus menggunakan otakku."

Ia kembali mengamati lingkungan sekitar.

Lalu pandangannya berhenti pada sungai kecil yang mengalir di sisi padang rumput.

Bukan airnya yang menarik perhatian Leon.

Melainkan tebing kecil yang berada tepat di samping aliran sungai.

Tanah di sana tampak rapuh.

Sebuah ide muncul di kepalanya.

"Sekali saja..."

"Aku hanya butuh satu kesempatan."

Leon kembali berlari.

Kali ini menuju tebing kecil itu.

Wolf Ape meraung marah lalu mengejar tanpa ragu.

Jarak mereka semakin dekat.

Empat meter.

Tiga meter.

Dua meter.

Leon melompat ke sisi kanan tepat sebelum mencapai tebing.

Wolf Ape yang kehilangan kendali tetap melaju lurus.

CRAAK!

Tanah di bawah kakinya runtuh.

Tubuh besar monster itu langsung terperosok ke lereng berlumpur dan tergelincir hingga menghantam bebatuan di dasar sungai.

DUAAAR!

Suara benturan menggema.

Leon tidak membuang waktu.

Ia mengambil batu sebesar kepala orang dewasa.

Lalu melemparkannya sekuat tenaga.

DUK!

Batu itu menghantam kepala Wolf Ape.

Belum selesai.

Leon mengambil batu kedua.

Lalu ketiga.

Keempat.

Kelima.

Hingga akhirnya...

Monster itu mencoba bangkit dengan tubuh yang sudah limbung.

Leon menemukan sebatang kayu patah dengan ujung yang runcing.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian melompat turun.

"AAAAAH!"

Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Leon menusukkan kayu itu tepat ke mata kanan Wolf Ape.

GRAAAAAAAAH!!

Monster itu mengamuk.

Tubuhnya menghantam ke segala arah.

Leon hampir terlempar, tetapi ia terus menekan kayu tersebut semakin dalam.

Hingga akhirnya...

Gerakan Wolf Ape mulai melambat.

Raungannya melemah.

Tubuh besarnya kehilangan keseimbangan.

Lalu...

Bruk.

Monster itu roboh.

Keheningan menyelimuti padang rumput.

Leon masih berdiri sambil terengah-engah.

Tangannya gemetar hebat.

Ia menatap tubuh Wolf Ape yang kini tak lagi bergerak.

"...Aku..."

"...menang?"

Tepat saat itu, suara mekanis yang familiar kembali terdengar.

Ding!

【Selamat!】

Anda berhasil mengalahkan Wolf Ape Lv.1.

EXP +100

Level Naik!

Level 2 Tercapai.

Seluruh luka ringan dipulihkan.

Hadiah Pengguna Pertama telah dibuka.

Cahaya hangat menyelimuti tubuh Leon.

Rasa sakit di lengan dan kakinya perlahan menghilang.

Luka-luka kecil menutup dengan sendirinya.

Leon menatap kedua telapak tangannya dengan takjub.

"Jadi..."

"Inikah kekuatan sistem?"

Lyra akhirnya menghampirinya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, senyum bangga terlihat jelas di wajahnya.

"Selamat."

"Kamu lulus ujian pertamamu."

Leon tersenyum tipis.

Meski tubuhnya masih lemas, ada rasa percaya diri yang mulai tumbuh dalam dirinya.

Namun senyum Lyra perlahan memudar.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah hutan yang jauh lebih gelap di balik padang rumput.

"Jangan terlalu senang."

"Apa maksudmu?"

Lyra menghela napas pelan.

"Wolf Ape..."

"...hanyalah monster terlemah di wilayah ini."

Leon membeku.

Sebelum sempat bertanya, suara auman lain terdengar dari dalam hutan.

Bukan satu.

Bukan dua.

Melainkan puluhan.

Suara mereka bergema bersamaan, membuat seluruh isi hutan bergetar.

Leon perlahan menggenggam tangannya.

Ia baru saja memenangkan pertarungan pertama.

Namun ternyata...

Ujian yang sesungguhnya baru akan dimulai.

1
Dragonovic#
semoga seru nih 🫡
D'Silent Novel: Kalo ada masukan atau pun kritik, langsung komen aja ya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!