Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Seorang Pewaris
Shen Yu berdiri hening di depan peti batu hitam. Tiga objek di permukaannya memancarkan aura sakral yang kontras: sebilah pedang hitam pejal tanpa mata tajam, setetes darah emas murni yang berdenyut melayang, serta gulungan kitab kuno yang terbelit sembilan rantai besi.
Roh Menara berbisik cemas di dalam jiwanya. "Jangan gegabah, Shen Yu. Ketiga objek itu adalah pusaka dewa yang sanggup mengguncang tatanan Tiga Ribu Alam."
Gu Tianxuan berdiri dengan kedua tangan terlipat di belakang punggungnya. "Aku tidak akan memberimu petunjuk sedikit pun. Proses memilih ini adalah bagian mutlak dari ujian jiwamu."
Shen Yu tidak terburu-buru mengulurkan tangan. Menggunakan insting pemburu liarnya, ia justru melangkah perlahan mengelilingi peti batu hitam tersebut, memindai setiap detail dari sudut yang tak terduga.
Gu Tianxuan menatapnya dengan raut datar. "Kau tidak ingin memilih?"
Shen Yu menyunggingkan senyum tipis. "Dahulu kala sewaktu aku berburu di hutan, jika melihat ada tiga umpan lezat diletakkan secara vulgar... aku tidak akan pernah langsung menyantapnya. Seorang pemburu sejati selalu memeriksa perangkap di sekelilingnya terlebih dahulu."
Mendengar filosofi lempang tersebut, sudut bibir Gu Tianxuan sedikit terangkat. "Taktik yang menarik."
Shen Yu mengamati pedang hitam pejal. Tidak ada fluktuasi Qi, tidak ada riak aura—terlihat persis seperti besi tua berkarat. Namun ketidakadaannya justru memicu kecurigaannya. Ia lalu melirik ke arah tetesan darah emas; energi kehidupannya begitu murni hingga luka sayatan di lengan Shen Yu perlahan menutup hanya dari jarak dekat. Terakhir, matanya mengunci pada gulungan kitab yang dibelit sembilan rantai yang sesekali bergetar memotong hukum udara.
Shen Yu menyipitkan matanya tajam. "Aneh."
"Apa yang aneh, Shen Yu?" tanya Roh Menara.
"Senior Gu Tianxuan memintaku untuk memilih salah satu benda di atas peti..." gumam Shen Yu. "...namun beliau tidak pernah membuat aturan yang melarangku untuk memeriksa fisik dari peti batu itu sendiri."
Brak!
Untuk pertama kalinya sejak ujian dimulai, mata emas Gu Tianxuan membelalak terang sebelum akhirnya ia meletuskan tawa puas. "Hahaha! Tiga puluh ribu tahun lamanya... dan kau adalah satu-satunya manusia yang memedulikan wadah tempatnya bertengger, bukan serakah pada isinya!"
Shen Yu berjongkok, menempelkan telapak tangan kanannya ke atas permukaan peti batu hitam, lalu menyalurkan sirkulasi Qi Kekacauan Purba secara instan.
WUUUNG!
KRAAAKKK!
Peti batu hitam itu meledak hancur menjadi serpihan debu! Di dalam rongga utamanya, bukan berisi ruang kosong, melainkan sebuah kunci kristal bening seukuran telapak tangan yang memancarkan pendaran cahaya tujuh warna yang teramat ilahi.
Gu Tianxuan mengangguk penuh kepuasan. "Itulah... Kunci Dunia . Benda yang tidak termasuk dalam tiga opsi pilihan biasa. Hanya jiwa yang tidak dibutakan oleh keserakahan kekuatanlah yang berhak menemukannya."
Begitu jemari Shen Yu menyentuh permukaan kunci kristal tersebut, bayangan proyeksi dari ribuan dunia terisolasi seketika meletus di dalam kesadaran pikirannya—dunia lautan tanpa tepi, dimensi api purba, hingga wilayah yang dihuni oleh ras naga dan phoenix.
Roh Menara menahan napasnya secara ekstrem. "Shen Yu... kau baru saja menggenggam pusaka yang akan membuat para penguasa langit saling membantai demi memilikinya!"
Gu Tianxuan mengangkat tangannya, menjelaskan dengan nada sakral. "Kunci Dunia ini adalah artefak pemutus batas yang sanggup membuka gerbang spasial menuju Tiga Ribu Alam. Namun ingat, ini bukan sekadar hadiah gratis, melainkan wujud tanggung jawab mutlak. Setiap kali kau membuka portal sebuah dunia baru... maka riak auramu akan memicu perburuan dari para musuh abadi."
KRAAAKKK!
Tiba-tiba, kubah langit Aula Warisan mendadak retak hebat. Tawa raungan ghaib milik Penguasa Iblis Langit kembali mengguncang seisi dimensi.
"Hahaha! Gu Tianxuan! Segel jiwamu akhirnya melemah parah! Kunci Dunia itu resmi milikku!"
SWOOSH!
Sebuah lengan raksasa berwarna hitam pekat bercakar iblis mendadak menembus retakan dimensi, merangsek masuk hendak mencengkeram tubuh Shen Yu.
Gu Tianxuan tetap berdiri tenang. Tanpa berpaling, ia mengayunkan pedang patahnya ke udara dalam satu tebasan horizontal yang sederhana.
SWIIING! DUAAARRR!
Satu kilatan pendaran cahaya pedang emas membelah ruang, seketika memotong putus lengan raksasa iblis tersebut hingga hancur menjadi abu! Raungan kesakitan Penguasa Iblis Langit bergema memudar ke balik celah spasial.
Namun, setelah melepas serangan tersebut, wujud proyeksi jiwa Gu Tianxuan mendadak berubah menjadi sangat transparan dan pucat.
Shen Yu tersentak kaget. "Senior... wujud jiwamu..."
Gu Tianxuan tersenyum tipis tanpa penyesalan. "Eksistensiku sejatinya telah musnah puluhan ribu tahun lalu. Wujud yang berdiri di depanmu hanyalah sisa kehendak terakhir. Paling lama... aku hanya bisa mempertahankan bentuk jiwaku selama beberapa hari lagi."
Suasana aula mendadak hening khidmat. Gu Tianxuan melambaikan tangannya, membuat Pedang Hitam Pejal, Tetesan Darah Emas, dan Kitab Sembilan Rantai melayang secara serentak ke hadapan Shen Yu.
"Kau telah membuktikan kelayakanmu dengan menemukan Kunci Dunia. Oleh karena itu... kau berhak membawa ketiga pusaka ini sekaligus!"
Shen Yu merapatkan kedua telapak tangannya, membungkukkan badan penuh takzim. "Terima kasih atas kepercayaan agung ini, Senior."
Gu Tianxuan menggeleng pelan. "Jangan berterima kasih padaku, Shen Yu. Balaslah warisan ini dengan satu sumpah mutlak: Lindungi Tiga Ribu Alam dari kehancuran... dan ratakan seluruh sekte munafik yang telah mengkhianati kedamaian dunia demi memburu kekuatan!"
Memori tentang kematian tragis orang tuanya di Desa Qinghe, pembantaian Sekte Dewa Kuno, serta kejamnya perlakuan sekte-sekte ortodoks dunia luar seketika meledak di benak Shen Yu. Sepasang matanya meletuskan kilatan keemasan sedingin es abadi.
Ia mencengkeram erat gagang Pedang Hitam Pejal tersebut, bersumpah dengan nada suara yang memotong hukum udara:
"Aku, Shen Yu... bersumpah demi jiwaku! Aku akan memburu dan membongkar siapa pun dalang utama di balik kematian orang tuaku... dan aku akan membuat setiap sekte licik yang menindas orang lemah membayar harga darah yang setimpal!"
Mendengar ucapan sumpah baja tersebut, Gu Tianxuan menyunggingkan senyuman puas terakhirnya.
Namun, tepat pada fraksi milidetik berikutnya...
DOOONG! DOOONG!
Suara dentangan lonceng peringatan purba mendadak meletus hebat dari luar pintu aula. Suara histeris Prajurit Zirah Batu bergema memutus keheningan:
"Tuan Muda! Bencana besar tiba! Pertahanan gerbang utama Dunia Dewa Purba telah ditembus secara paksa! Pasukan elit musuh dari dunia luar... telah resmi menginjakkan kaki di dalam dimensi ini!"