Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
034
Waktu mengalir bagai pasir yang luruh di dalam genggaman.
Lima bulan telah berlalu sejak malam konfrontasi dingin di restoran puncak bukit itu.
Bagi penghuni Mansion Knight, lima bulan ini adalah pembuktian betapa harmonisnya rumah tangga sang putra sulung.
Di mata Suzzy dan Kaelor, Killian tetaplah sosok suami pelindung yang tanpa lelah menemani setiap proses pemulihan istrinya.
Mereka berdua berdansa dengan sangat rapi di atas panggung sandiwara, saling melempar senyuman manis di ruang tengah, namun saling melempar tatapan sebeku es begitu pintu kamar pribadi mereka terkunci rapat.
Namun, fokus utama dari lima bulan terakhir ini bukanlah sekadar menjaga reputasi di depan keluarga. Ini adalah tentang proyek besar Killian: menghapus sisa-sisa eksistensi Cecilia Lynch dari tubuh istrinya.
Hari ini, di sebuah klinik bedah plastik paling eksklusif di kawasan Beverly Hills yang telah disewa secara total oleh keluarga Knight, momen yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba.
Michaela duduk tegak di atas kursi pemeriksaan berlapis kulit putih.
Aroma antiseptik dan samar-samar wewangian aromaterapi menenangkan memenuhi ruangan.
Perlahan, jemari terampil dari Dr. Vance—dokter ahli bedah rekonstruksi wajah terbaik yang didatangkan Killian langsung dari Swiss—mulai menggunting dan melepaskan lembar demi lembar perban putih yang selama dua minggu terakhir ini membungkus seluruh wajah Michaela.
Setiap lapisan kain kasa yang terlepas menyingkap kulit baru yang masih sedikit kemerahan.
Bengkak di bagian pipi dan rahang yang sempat membuat wajah Michaela tampak mengerikan pasca-operasi besar sebulan lalu kini telah sepenuhnya hilang.
Ketika perban terakhir dilepaskan, Dr. Vance melangkah mundur, memberikan sebuah cermin perak berukir estetis ke tangan Michaela.
"Operasinya berjalan dengan sangat lancar, Tuan dan Nyonya Knight," ucap Dr. Vance sembari melepas sarung tangan latex-nya, memancarkan nada kepuasan profesional.
"Struktur rahang, bentuk hidung, dan implan tulang pipi telah kami sesuaikan berdasarkan foto masa lalu yang Anda berikan. Bisa dikatakan, wajah sebelumnya sudah berhasil diubah sebanyak 60 persen. Ini adalah batas maksimal rekonstruksi aman yang bisa kami lakukan."
Michaela mengangkat cermin itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia menatap pantulan dirinya lekat-lekat.
Luar biasa. Hanya kata itu yang mampu terlintas di dalam benaknya. Kekuasaan, jaringan, dan tumpukan uang ratusan ribu dolar yang dimiliki oleh suaminya benar-benar mampu menantang takdir medis.
Wajah Cecilia Lynch yang licik dan sensual, yang selama hampir satu tahun ini melekat padanya akibat kecelakaan maut itu, kini telah terkikis sebagian besar.
Struktur wajah di cermin itu kini menampilkan perpaduan yang unik.
Garis rahangnya kini lebih tegas, bentuk hidungnya lebih natural, dan sepasang mata cokelat keemasannya kini tidak lagi terlihat asing.
Walaupun tidak bisa dibilang 100 persen sama persis dengan wajah aslinya saat masih menjadi gadis di San Francisco karena keterbatasan jaringan parut, wajah baru ini jauh lebih bersih dari bayang-bayang Cecilia.
Killian yang berdiri di samping kursinya, melangkah maju satu tindak.
Pria itu menunduk, mengamati setiap senti perubahan di wajah Michaela dengan tatapan yang tampak begitu intens dan sarat akan emosi yang mendalam—sebuah akting yang lagi-lagi terpasang secara instan demi orang-orang di dalam ruangan.
"Apa ini sudah sesuai dengan wajahmu yang sebelumnya, Sayang?" tanya Killian dengan suara baritonnya yang lembut, tangannya bergerak perlahan mengusap bahu Michaela, memberikan kehangatan fiktif yang sangat meyakinkan.
...°°°°...
Di sisi lain kursi, Mommy Suzzy yang sejak pagi setulus hati ikut menemani, tampak mengembuskan napas lega yang teramat panjang.
Wanita paruh baya itu melangkah mendekat, mengusap punggung menantunya dengan penuh kasih sayang.
"Jujur saja, Mommy sangat berharap kamu puas dengan hasilnya kali ini, Sayang," ucap Suzzy dengan nada suara yang sarat akan kecemasan seorang ibu.
"Karena tadi Dr. Vance benar-benar sempat bicara pada Mommy, tim medis sangat takut untuk mengambil risiko jika harus melakukan operasi untuk ketiga kalinya pada kulit wajahmu. Itu akan sangat berbahaya bagi jaringan sarafmu."
Michaela menurunkan cermin peraknya perlahan. Ia memutar tubuhnya, menatap Suzzy dengan seulas senyuman manis yang kini terlihat jauh lebih natural dan proporsional di wajah barunya.
"Tidak, Mom. Sama sekali tidak perlu ada operasi ketiga," ucap Michaela tulus, sepasang mata cokelat keemasannya berbinar lembut.
"Ini sudah sangat sempurna. Walaupun wajahku benar-benar tidak bisa pulih seratus persen seperti aslinya dulu sebelum kecelakaan... tapi hasil ini sudah sangat luar biasa, Mom. Terima kasih banyak atas seluruh dukungan dan kasih sayang Mommy selama lima bulan yang melelahkan ini."
Suzzy tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca melihat menantunya kini tidak lagi harus menanggung beban identitas wajah orang lain. Ia menggelengkan kepalanya pelan, lalu menunjuk ke arah Killian dengan dagunya.
"Jangan hanya berterima kasih pada Mommy, Sayang. Berterima kasihlah pada suamimu. Killian-lah yang tidak tidur berhari-hari untuk mencari Dr. Vance ke Eropa, dan dia yang paling cerewet memastikan semua fasilitas medis ini aman untukmu," ucap Suzzy, dengan bangga memamerkan "kebaikan" putra sulungnya.
Mendengar kalimat itu, Michaela perlahan memutar kepalanya untuk memandang Killian.
Ada jeda beberapa detik di mana Michaela tampak dilingkupi rasa malu dan kecanggungan yang teramat pas—sebuah gestur mikro-ekspresi yang sengaja ia tampilkan untuk memperkuat karakter istri yang pemalu di depan mertuanya.
Ia menundukkan wajahnya sedikit, membiarkan helaian rambutnya jatuh menutupi sebagian pipinya yang masih kemerahan, sebelum kembali mendongak menatap langsung ke dalam mata elang Killian yang berdiri tegap di hadapannya.
"Terima kasih, Yin..." bisik Michaela dengan nada suara yang bergetar halus, sarat akan romantisasi buatan yang memukau. Ia mengulurkan tangan kanannya, menyentuh ujung lengan kemeja hitam yang dikenakan Killian dengan gerakan ragu yang manis.
"Wajahku kini sudah berubah lagi. Bentuk bibirku, pipiku... semuanya tidak lagi sama seperti saat kita melewati malam-malam kemarin. Aku hanya berharap... semoga cintamu padaku tidak berkurang sedikit pun, walaupun sekarang kau harus terbiasa melihat perubahan wajah ini setiap kali kau bangun tidur," ucap Michaela, melemparkan umpan kalimat romantis yang sangat matang ke arah suaminya.
Killian menatap umpan yang dilemparkan oleh Michaela.
Sudut bibirnya berkedut, membentuk sebuah senyuman yang teramat menawan dan penuh pesona yang memabukkan.
Di dalam otaknya, Killian memuji kehebatan Michaela dalam mempertahankan peran.
Gadis ini tahu persis bagaimana cara membuat Mommy-nya meleleh di sudut ruangan dengan dialog seperti itu.
Killian berlutut dengan satu kaki di hadapan kursi Michaela, membuat posisi mereka kini sejajar.
Tangan besarnya yang hangat naik, menangkup kedua belah pipi baru Michaela dengan kelembutan yang luar biasa protektif.
Ibu jarinya mengusap lembut kulit pipi Michaela yang masih sensitif pasca-operasi.
"Bagaimana mungkin cintaku bisa berkurang, hm?" tanya Killian dengan suara yang begitu rendah, serak, dan terdengar sangat seksi di telinga siapa pun yang mendengarnya.
Matanya terkunci mutlak pada sepasang mata cokelat keemasan istrinya.
"Sejak awal, Michaela... jiwaku tidak pernah jatuh cinta pada bentuk tulang pipi atau struktur rahang yang melekat di wajahmu," ucap Killian, merangkai kata-kata puitis yang paling mematikan dengan intonasi yang teramat meyakinkan.
"Aku jatuh cinta pada binar keberanian yang ada di dalam matamu. Aku jatuh cinta pada ketangguhan jiwaku yang kutemukan di dalam dirimu. Kau bisa mengubah wajahmu sebanyak seratus kali pun, namun selama sepasang mata cokelat keemasan ini masih menatapku dengan cara yang sama... maka kau akan tetap menjadi pemilik mutlak dari seluruh hidup seorang Killian Knight."
PLAK. SEMPURNA, batin Michaela bertepuk tangan di dalam bilik hatinya yang paling gelap.
Kalimat Killian barusan benar-benar layak masuk ke dalam nominasi dialog romantis terbaik sepanjang masa.
Jika saja dia adalah Cecilia, Mungkin dia pasti sudah akan pingsan karena terlalu bahagia.
Suzzy yang berdiri di belakang mereka langsung menangkup dadanya, air mata harunya benar-benar tumpah melihat kemesraan putranya.
"Oh, astaga... Killian, kau benar-benar membuat Mommy merinding. Baiklah, Mommy akan keluar sebentar untuk mengurus administrasi bersama Dr. Vance dan Daddy di depan. Berikan waktu berdua untuk kalian," ucap Suzzy dengan senyuman menggoda, sebelum melangkah keluar dan menutup pintu ruangan dengan rapat.
Begitu suara pintu klik berbunyi dan menyisakan mereka berdua di dalam ruangan medis yang sunyi, atmosfer instan langsung berubah.
Killian tidak melepaskan tangannya dari pipi Michaela, namun binar penuh cinta di mata elangnya seketika menguap, digantikan oleh kilat dingin yang teramat jernih.
Jari tangannya menekan sedikit lebih keras pada rahang baru Michaela, memberikan sensasi dominasi yang tegas.
"60 persen wajah Cecilia telah hilang," bisik Killian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang dingin tepat di depan wajah Michaela.
"Artinya, 60 persen rasa muakku setiap kali melihatmu saat kita bercinta juga ikut hilang, Michaela. Kau harus merayakan keberhasilan investasiku ini."
Michaela tidak gentar. Ia justru menaruh telapak tangannya di atas punggung tangan Killian yang berada di pipinya, mengulas senyuman manis seorang psikopat permainan yang tak kalah mengerikan.
"Tentu saja, Suamiku yang tampan," balas Michaela dengan nada berbisik yang teramat tenang.
"Dengan hilangnya wajah Cecilia, bukankah permainan satu tahun kita menjadi jauh lebih menyenangkan? Sekarang, kau tidak perlu lagi membayangkan hantu masa lalumu saat kau memuaskan dirimu di atas tubuhku malam nanti di mansion. Bukankah itu sebuah keuntungan besar untuk sisa lima bulan kontrak kita?"
Killian terkekeh rendah, sebuah tawa seksi yang sarat akan bahaya.
Pria itu mendekatkan wajahnya, mengecup bibir baru Michaela dengan sebuah kecupan singkat yang dingin namun penuh tuntutan posesif.
"Lima bulan lagi, Michaela. Pertahankan akting manismu ini di depan Mommy, karena setelah lima bulan ini berakhir... aku akan melihat apakah wajah baru ini cukup kuat untuk menahan air mata saat aku mendepakmu kembali ke jalanan."
"Kita lihat saja nanti, Yin," jawab Michaela dengan binar mata menantang yang berkilat tajam.
Di dalam ruangan medis itu, dua iblis berwajah malaikat kembali merajut rantai kebohongan mereka, siap untuk kembali keluar dan menunjukkan pada dunia betapa sempurnanya cinta yang mereka miliki.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨