NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BELAJAR MENGEJA RINDU

Sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela kafe membawa kehangatan baru bagi Maira. Setelah malam yang penuh air mata dan perjuangan mengeja huruf demi huruf di kamarnya, entah mengapa hari ini beban di pundak Maira terasa jauh lebih ringan. Ketakutan akan ancaman Rayn maupun labrakan Naomi seolah menguap, digantikan oleh satu rasa penasaran yang teramat besar terhadap kitab suci yang semalam ia buka.

Begitu kafe masih dalam kondisi sepi sebelum jam buka, Maira langsung menghampiri Aisyah yang sedang sibuk menata cangkir di dekat mesin espresso. Dengan gerakan heboh yang sudah lama tidak ia tunjukkan, Maira menyenggol lengan sahabatnya itu.

“Syah, mau minta saran dong!” tanya Maira heboh dengan mata berbinar-binar.

Di depan Aisyah saat ini, Maira benar-benar kembali menjadi dirinya yang dulu. Sifat aslinya yang ceria, ekspresif, dan ceplas-ceplos yang selama beberapa bulan ini terkubur oleh depresi dan rasa bersalah, kini mendadak muncul kembali ke permukaan.

Aisyah sempat tersentak kaget, namun sedetik kemudian ia tersenyum lebar melihat binar hidup di wajah Maira. “Eh? Saran apa, Mbak? Kok heboh banget tumben.”

Maira celingukan sebentar, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar, lalu berbisik dengan raut wajah setengah panik tapi bersemangat. “Gue... gue semalam nyoba buka Al-Qur'an, Syah. Tapi... gue agak lupa sama bacaan Al-Qur'an gue sendiri. Kaku banget lidah gue, sumpah! Terus gue mikir... kayaknya gue harus masuk pesantren deh, Syah! Menurut Lo gimana?”

Aisyah yang mendengar penuturan polos Maira langsung mengerjapkan matanya berulang kali. Ia menahan tawa melihat ekspresi Maira yang begitu menggemaskan saat ini.

“Eumhh... loh, Mbak Maira mau masuk pesantren?” Aisyah terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepalanya dengan lembut. “Mbak, kalau cuma mau belajar melancarkan bacaan dari dasar lagi, aku bisa loh ngajarin Mbak. Gak perlu jauh-jauh masuk pesantren dulu, kecuali kalau Mbak emang mau mendalami ilmu kitab kuning, hehehe.”

Mendengar tawaran spontan dari Aisyah, kedua mata Maira langsung membulat sempurna. Ia menepuk kedua tangan dengan semangat. “Eh, beneran, Syah?! Serius Lo mau ngajarin gue?”

“Serius dong, Mbak Maira. Masa aku bohong,” jawab Aisyah tulus.

“Wah, gue mau banget kalau sama Lo! Biar gak canggung gitu, hehe. Jujur ya, kalau sama orang lain gue tuh minder banget, Syah. Takut diketawain karena umur segini baca huruf hijaiyah aja masih belepotan,” ucap Maira jujur, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Aisyah mengangguk paham. Ia sangat mengerti posisi Maira yang sedang merangkak kembali ke jalan hijrah. “Iya, Mbak, aku paham banget. Kalau sama aku kan kita bisa lebih fleksibel juga waktunya. Jadi, kita ngajinya pas pulang kerja aja gimana? Kebetulan shif kita kan selesai sore tuh. Aku luangin waktu satu jam deh buat Mbak Maira ngaji sebelum aku pulang ke rumah. Kita bisa belajar di kosan Mbak atau di ruangan belakang kafe yang kosong.”

Maira merasa ulu hatinya mendadak menghangat. Ketulusan Aisyah benar-benar menjadi anugerah terbesar dalam hidupnya saat ini. Tanpa sadar, Maira langsung memeluk pundak Aisyah erat-erat.

“Makasih banyak ya, Syah... Lu baik banget, sumpah. Terus... kita mau mulai kapan nih kursus privatnya?” tanya Maira antusias setelah melepaskan pelukannya.

Aisyah tersenyum manis, membetulkan posisi jilbab syar'i-nya yang sedikit bergeser akibat pelukan heboh Maira. “Hari ini juga boleh, Mbak. Kebetulan sore ini aku gak ada acara apa-apa setelah shif kerja selesai.”

“Asyik! Sip, nanti sore langsung eksekusi ya. Gue siapin mental dulu!” seru Maira dengan tawa renyah yang terdengar begitu lepas. Ketenangan batin yang ia cari perlahan-lahan mulai ia temukan di sini, di balik dinding kafe yang sederhana ini.

Waktu berjalan dengan cepat. Begitu jarum jam menunjukkan pukul lima sore, bel pergantian shif pun berbunyi. Maira dan Aisyah segera merapikan meja konter dan bergegas mengganti seragam kerja mereka dengan pakaian santai. Sesuai kesepakatan tadi pagi, mereka memutuskan untuk belajar mengaji di rumah Maira agar lebih nyaman.

Sebelum melangkah keluar dari loker karyawan, Aisyah merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. “Eh, Mbak Maira, bentar ya. Aku mau telepon Mas Fatih dulu. Soalnya biasanya jam segini dia udah siap-siap mau jemput aku ke kafe,” ujar Aisyah.

“Oh, iya, iya. Telepon dulu aja, Syah, daripada dia nungguin nanti,” sahut Maira. Mendengar nama 'Fatih' disebut, entah mengapa dada Maira mendadak berdesir pelan, teringat kembali kejadian kemarin sore saat punggung tegap lelaki itu melindunginya dari cengkeraman Rayn.

Aisyah menempelkan ponselnya ke telinga, menunggu beberapa nada sambung sampai akhirnya suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari seberang sana.

“Assalamu’alaikum, Aisyah. Ini Mas baru mau panasin motor. Kamu sudah nunggu lama ya?” tanya Fatih di seberang telepon.

“Wa’alaikumussalam, Mas Fatih. Eh, jangan jalan dulu, Mas!” potong Aisyah cepat dengan nada riang. “Aisyah mau kasih tahu kalau hari ini pulang jemputnya agak telat ya, Mas. Aisyah mau main dulu ke rumah Mbak Maira.”

Seberang telepon sempat hening selama dua detik. “Ke rumah Mbak Maira? Ada urusan apa, Sya? Jangan merepotkan orang lain sore-sore begini,” tegur Fatih dengan nada suara yang terdengar berwibawa namun lembut.

Aisyah langsung tersenyum penuh arti sambil melirik ke arah Maira yang sedang pura-pura sibuk mengikat tali sepatunya. “Enggak merepotkan kok, Mas. Malah Mbak Maira yang minta. Aisyah mau ngajar ngaji dulu privat buat Mbak Maira selama satu jam. Kasihan Mbak Maira katanya agak lupa bacaan Al-Qur'annya. Jadi nanti kalau udah selesai satu jam, baru Mas Fatih jemput Aisyah ke rumah Mbak Maira, ya? Nanti Aisyah kirim alamat rumahnya lewat WhatsApp.”

Di seberang sana, Fatih yang sedang berdiri di teras rumahnya seketika terpaku. Kabar yang baru saja diucapkan oleh adiknya itu seperti sebuah angin segar yang menyejukkan hatinya. Dada Fatih bergetar mendengar bahwa wanita yang kemarin ia tolong, kini benar-benar menunjukkan keseriusan untuk berjalan mendekat kepada Sang Pencipta. Sebuah senyuman tipis dan tulus terukir di wajah tampan Fatih tanpa bisa ia tahan.

“...Alhamdulillah,” gumam Fatih sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh Aisyah. “Iya sudah, kalau begitu. Ajari Mbak Maira dengan sabar, ya, Sya. Jangan galak-galak. Nanti kalau sudah hampir selesai satu jam, kabari Mas. Mas langsung jalan ke sana buat jemput kamu.”

“Siap, Mas Fatih! Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah.”

Aisyah mematikan sambungan teleponnya dengan senyum penuh kemenangan, lalu menoleh ke arah Maira yang kini mendadak salah tingkah karena diam-diam mendengarkan percakapan mereka.

“Beresss, Mbak Maira! Mas Fatih udah setuju. Katanya aku harus sabar ngajarin Mbak, hehe. Yuk, kita berangkat sekarang!” ajak Aisyah bersemangat.

Sesampainya di rumah Maira, suasana canggung yang sempat Maira takuti ternyata tidak terbukti. Setelah berganti pakaian dan berwudu, keduanya duduk bersila di atas karpet tipis ruang tamu. Maira mengeluarkan Al-Qur'an kecil berdebu milik neneknya yang sudah ia bersihkan semalam.

“Oke, Mbak Maira. Kita coba buka halaman pertama setelah Al-Fatihah, ya. Surat Al-Baqarah,” tuntun Aisyah dengan sangat sabar.

Maira menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang mendadak deg-degan seperti mau ujian nasional. Jari telunjuknya yang lentik gemetar menyentuh baris pertama ayat suci tersebut.

“Aduhh, ini dibacanya gimana ya? Lupa banget, Syah,” keluh Maira dengan wajah cemberut, menatap tiga huruf di awal ayat.

Ia mulai mengeja dengan ragu-ragu. “Ohh... A... la... Ma? Alama? Kayaknya bukan deh.” Maira terdiam lama sekali, terpaku di ayat pertama surat Al-Baqarah itu karena otaknya macet total.

Aisyah tersenyum maklum, tidak ada sedikit pun nada mengejek di wajahnya. “Bukan Alama, Mbak Maira sayang. Ini namanya huruf muqatta'ah, dibacanya terputus sesuai nama asli hurufnya. Jadi dibaca: Alif... laaaam... miiim... gitu. Coba diulang, Mbak.”

Maira mengerjapkan matanya, terpana. “Ohhh... gitu ya? Alif... laaaam... miiim...” eja Maira terbata-bata.

“Pinter! Lanjut ayat kedua, Mbak.”

Perjuangan pun berlanjut. Setiap kali berpindah kata, Maira selalu membutuhkan waktu lama untuk menyambung huruf-huruf hijaiyah tersebut. Lidahnya terasa sangat kaku, bahkan beberapa kali ia keliru membedakan panjang pendek harakat. Rasa penasaran yang besar untuk bisa membaca dengan benar membuat Maira sepenuhnya lupa pada masalah pelik di luar sana.tertutup rapat oleh rasa haus akan ilmu agama yang malam ini sedang ia pelajari.

Di tengah-tengah jeda membaca, sebuah pergolakan batin kembali muncul di dalam hati Maira. Ia menatap Aisyah dengan raut wajah ragu.

“Syah... kalau gue masuk pesantren, bakal malu gak yah? Maksud gue... segede gini baru masuk pesantren, apa gak diketawain sama anak-anak kecil di sana nanti?” tanya Maira meluapkan isi hatinya yang sempat terpikir semalam.

Aisyah menghentikan koreksinya, lalu menggenggam lembut tangan Maira. “Mbak Maira, dalam menuntut ilmu itu gak ada kata terlambat, dan gak ada kata malu. Menuntut ilmu dari ayunan sampai liang lahat, Mbak. Lagian, buat apa masuk pesantren jauh-jauh kalau di sini ada aku yang siap nemenin Mbak merangkak dari nol? Kita belajar bareng-bareng di sini, ya?”

Air mata Maira hampir saja lolos mendengar penuturan hangat Aisyah. Ia mengangguk mantap, membuang semua rasa gengsi yang sempat tersisa di dadanya.

Tepat saat jarum jam menunjukkan satu jam berlalu, dari luar pagar rumah terdengar suara deru mesin sepeda motor matic yang sangat familiar berhenti. Tak lama kemudian, ketukan pintu yang teratur terdengar diiringi sebuah ucapan salam yang berat dan meneduhkan.

“Assalamu’alaikum.”

Maira dan Aisyah saling berpandangan. Jantung Maira mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Pemilik suara itu... Fatih sudah datang untuk menjemput.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!