"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Keluarga Yang Datang Menagih
Dinda datang ke Safa Atelier tiga hari setelah insiden klinik.
Kali ini ia tidak menangis.
Itu justru membuat Safira lebih khawatir.
Dinda duduk di ruang konsultasi yang akhirnya punya sofa kecil, menaruh tas di pangkuan, lalu berkata, "Keluarga Reza mau datang ke rumahku malam ini."
Safira meletakkan katalog Bu Laras. "Untuk bicara?"
"Katanya untuk meluruskan masalah."
"Siapa saja?"
"Reza, ibunya, bapaknya, mungkin tantenya. Aku tidak tahu kenapa tante harus ikut, tapi sepertinya setiap keluarga punya satu tante yang hobi memperkeruh."
Safira duduk di depannya. "Kamu mau aku datang?"
Dinda langsung mengangguk, lalu menggeleng. "Aku mau, tapi tidak enak. Ini urusan keluargaku."
"Kalau kamu butuh teman, aku datang."
"Mas Arga nanti marah?"
"Kenapa dia marah?"
"Karena aku sering menyeretmu ke drama."
Arga yang baru turun dari lantai dua menjawab, "Drama yang perlu saksi lebih baik daripada drama tertutup."
Dinda menoleh. "Mas Arga, kamu muncul seperti CCTV hidup."
"Saya anggap itu pujian."
Safira tersenyum.
Bima muncul di belakang Arga, membawa kotak berisi gantungan baju. "Saya juga bisa datang."
Dinda langsung berkata, "Tidak."
Bima berhenti. "Cepat sekali."
"Mas Bima datang, Reza akan makin emosi."
"Berarti saya efektif."
"Bukan itu tujuannya."
Arga mengambil kotak dari tangan Bima. "Kamu tidak ikut kecuali diminta."
Bima menatap Dinda. "Minta saja."
Dinda memalingkan wajah, tetapi telinganya memerah.
Malam itu, Safira dan Arga datang ke rumah Dinda. Rumahnya sederhana di daerah Cimahi, bersih, dengan tanaman lidah mertua di teras. Orang tua Dinda menyambut mereka dengan lega. Mereka mengenal Safira, tetapi baru pertama kali bertemu Arga.
"Maaf merepotkan," kata ibu Dinda.
"Tidak, Bu," jawab Safira. "Dinda sahabat saya."
Arga menunduk sopan. "Kami hanya menemani."
Keluarga Reza datang pukul delapan. Reza memakai kemeja rapi, wajahnya tegang. Ibunya, Bu Mira, masuk dengan senyum yang terlalu manis. Ayahnya lebih pendiam. Tante yang disebut Dinda benar-benar datang, memakai parfum tajam dan mata yang langsung memeriksa ruang tamu.
Pembicaraan dimulai dengan basa-basi.
Tidak lama.
Bu Mira membuka suara, "Kami sebenarnya sedih. Dinda ini sudah kami anggap anak sendiri. Tapi belakangan sikapnya berubah."
Dinda menggenggam tangan di pangkuan.
Safira duduk di sampingnya.
Ibu Dinda menjawab hati-hati, "Anak-anak memang sedang ada perbedaan pendapat."
"Perbedaan pendapat boleh. Tapi menunda pernikahan sepihak, menolak telepon, pulang diantar laki-laki lain, itu tidak baik dilihat orang."
Reza menatap Dinda dengan wajah terluka yang terasa sengaja ditunjukkan.
"Aku datang baik-baik waktu itu," katanya. "Tapi kamu malah membuatku seperti orang jahat."
Dinda menarik napas. "Kamu menarik tanganku di depan klinik."
"Karena kamu tidak mau bicara."
"Aku tidak mau masuk mobil."
Tante Reza menyela, "Kalau sudah calon suami, kenapa takut masuk mobil?"
Safira hampir bicara, tetapi Dinda lebih dulu menjawab.
"Karena saya tidak nyaman. Dan rasa tidak nyaman saya cukup jadi alasan."
Arga yang duduk agak jauh menunduk sedikit, seolah menyetujui.
Bu Mira tersenyum kaku. "Masalahnya, Dinda sekarang terlalu banyak mendengar orang luar. Pernikahan itu harus ada pengorbanan. Kalau dari awal semua dihitung, bagaimana rumah tangga berjalan?"
Safira berkata pelan, "Yang dihitung Dinda bukan cinta, Bu. Yang dihitung adalah tanggung jawab."
Semua menoleh kepadanya.
Bu Mira menatap Safira. "Maaf, ini urusan keluarga kami."
"Saya tahu. Saya bicara karena nama saya beberapa kali dipakai Reza sebagai contoh untuk menekan Dinda."
Reza gelisah.
Safira melanjutkan, "Pernikahan saya sederhana bukan berarti semua perempuan harus menerima pernikahan yang membuatnya tidak dihargai."
Tante Reza mencibir. "Mbak ini pengantin baru, sudah merasa ahli?"
Arga mengangkat wajah.
Safira menyentuh lututnya pelan, memberi tanda ia bisa menjawab sendiri.
"Bukan ahli, Tante. Saya hanya perempuan yang tahu rasanya diminta mengalah terus."
Ruangan hening.
Dinda menatap Safira dengan mata berkaca-kaca.
Bu Mira menarik napas. "Baik. Kalau masalahnya mahar, kita bisa bicarakan. Tapi Dinda juga harus menurunkan ego. Tinggal di rumah kami setelah menikah itu untuk kebaikan mereka. Supaya hemat."
Dinda akhirnya bicara lebih jelas.
"Saya tidak mau tinggal di rumah Ibu setelah menikah."
Reza langsung berkata, "Din."
"Aku mau kita belajar mandiri. Tidak harus rumah besar. Kontrakan kecil juga tidak apa-apa. Tapi keputusan rumah tangga kita tidak boleh setiap hari menunggu persetujuan Ibu."
Bu Mira tersinggung. "Kamu pikir saya mau ikut campur?"
Dinda menatapnya. "Iya, Bu."
Ucapan itu jatuh seperti batu.
Ayah Dinda menunduk menahan senyum kecil. Ibu Dinda memegang tangan suaminya, mungkin menahan panik.
Bu Mira wajahnya memerah. "Reza, kamu dengar calon istrimu?"
Reza memandang Dinda. "Kamu berubah."
Dinda mengangguk. "Iya."
"Karena laki-laki itu?" Reza menunjuk ke arah luar, seolah Bima ada di sana padahal tidak.
"Karena aku capek."
Reza terdiam.
Dinda melanjutkan, suaranya bergetar tetapi tidak runtuh. "Aku sayang kamu, Reza. Tapi aku tidak mau menikah untuk menjadi anak baru ibumu. Aku mau jadi istrimu. Kalau kamu belum bisa berdiri sebagai suami, kita jangan akad dulu."
Bu Mira langsung berdiri. "Ini penghinaan."
Ayah Reza akhirnya bicara. "Duduk dulu."
"Pak!"
"Duduk," ulangnya lebih tegas.
Bu Mira duduk kembali, marah.
Ayah Reza menatap anaknya. "Reza, jawab. Kamu mau menikah atau cuma mau semua orang mengikuti ibumu?"
Reza pucat.
Safira melihat Dinda menahan napas.
Reza membuka mulut, lalu menutup lagi. Ia menatap ibunya, lalu Dinda. Beberapa detik itu menjawab lebih banyak daripada kalimat apa pun.
Dinda menunduk.
Safira menggenggam tangannya.
Akhirnya Reza berkata, "Aku butuh waktu."
Dinda tersenyum sedih. "Aku juga."
Pembicaraan selesai tanpa keputusan. Keluarga Reza pulang dengan wajah kaku. Bu Mira tidak pamit kepada Dinda. Ayah Reza hanya mengangguk pelan, seolah meminta maaf tanpa kata.
Setelah pintu tertutup, Dinda masuk kamar dan menangis.
Safira mengikutinya.
"Aku tahu jawabannya, Saf," kata Dinda di sela tangis. "Aku tahu dari cara dia lihat ibunya."
Safira duduk di sampingnya. "Mengetahui tetap sakit."
"Sakit sekali."
"Iya."
"Aku bodoh ya?"
"Tidak. Kamu mencintai orang yang belum selesai tumbuh."
Dinda tertawa di tengah tangis. "Kalimatmu jahat tapi benar."
Di ruang tamu, Arga duduk bersama orang tua Dinda. Ia tidak banyak bicara, tetapi ketika ayah Dinda meminta pendapat, Arga menjawab, "Menunda akad lebih baik daripada memaksa anak masuk rumah yang sejak awal tidak memberinya ruang."
Ayah Dinda mengangguk lama.
Malam itu, saat Safira dan Arga keluar dari rumah Dinda, Bima berdiri di dekat mobil.
Safira kaget. "Mas Bima? Kamu dari tadi di sini?"
Bima menggaruk kepala. "Saya cuma memastikan tidak perlu dipanggil."
"Kamu menunggu di luar?"
"Di warung seberang. Tehnya terlalu manis."
Dinda yang mengantar sampai teras melihatnya. Matanya masih merah.
Bima tidak bercanda kali ini.
"Kamu baik-baik saja?"
Dinda menggeleng.
Bima mengangguk. "Baik. Tidak apa-apa kalau belum baik."
Dinda menatapnya beberapa detik, lalu air matanya jatuh lagi.
Bima tidak mendekat sembarangan. Ia hanya mengeluarkan tisu dari saku dan mengulurkannya.
Safira melihat pemandangan itu dengan dada hangat dan sedih sekaligus.
Arga membuka pintu mobil untuknya.
"Jangan ikut campur," katanya pelan.
"Aku belum bilang apa-apa."
"Wajahmu sudah merencanakan sesuatu."
Safira masuk mobil sambil tersenyum kecil.
Mungkin benar.
Tapi untuk malam ini, ia tidak akan melakukan apa-apa.
Malam ini milik Dinda, untuk menangisi sesuatu yang hampir menjadi pernikahan.
Besok, baru mereka memikirkan cara berdiri lagi.
Di mobil, Safira menyandarkan kepala ke kursi. "Aku benci melihat Dinda sakit begitu."
Arga menyalakan mesin. "Kamu tidak bisa memilihkan jawaban untuknya."
"Aku tahu."
"Tapi kamu ingin."
"Sangat."
Arga melajukan mobil pelan meninggalkan gang rumah Dinda. "Kamu bisa menemani, bukan menggantikan."
Safira menoleh. "Itu nasihat untukku atau untuk dirimu sendiri?"
Arga diam sebentar, lalu berkata, "Dua-duanya."
Malam itu, setelah sampai rumah, Dinda mengirim pesan:
`Aku belum putus. Tapi aku juga belum mau lanjut. Besok aku tidur dulu.`
Safira membalas:
`Tidur. Besok aku bawakan bubur ayam.`
Beberapa detik kemudian, pesan Bima masuk di grup kecil yang baru saja ia buat sendiri berisi Safira, Arga, Bima, dan Dinda.
`Kalau butuh pengawal beli bubur, saya siap.`
Dinda membalas:
`Mas Bima, tidur.`
Bima:
`Siap, calon... maksud saya Dinda.`
Safira tertawa di sofa. Arga melihatnya, lalu ikut tersenyum tipis.
Di tengah patah hati Dinda, masih ada sedikit ruang untuk tertawa. Itu cukup untuk malam ini.