Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Pedang yang Menebas Diri Sendiri
Wajah pria berjubah putih itu benar-benar wajah Lin Yuan, dengan mata dan garis rahang yang sangat identik.
Bahkan bekas luka tipis di dekat alis kirinya terlihat persis, membuat Lin Yuan membeku selama sepersekian detik.
Namun hanya sesaat,
SRAAANG!
Pedang besinya langsung terhunus dengan tatapan mata yang berubah menjadi sangat dingin sekali.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Lin Yuan sambil mengangkat pedangnya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Pria berjubah putih tidak menjawab, dia hanya mengangkat pedang sederhananya dengan gerakan yang sangat tenang dan santai.
"Kalau wajah ini saja sudah membuat pedangmu ragu, berarti kau belum pantas untuk menyentuh hakikat Takdir yang sesungguhnya."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum misterius, dan detik berikutnya sosoknya menghilang seketika dari pandangan mata Lin Yuan.
Pupil mata Lin Yuan mengecil karena terkejut. "Sangat cepat!" teriaknya dalam hati sambil mencoba mencari posisi lawan tersebut.
CLAAANG!
Dua pedang bertabrakan dengan sangat keras, menciptakan gelombang Qi yang meledak hebat di antara kedua pendekar tersebut.
BOOOM!
Permukaan putih di bawah kaki mereka retak membentuk jaring laba-laba, dan Lin Yuan terdorong mundur tujuh langkah.
Belum sempat menstabilkan tubuh, pria berjubah putih kembali muncul di hadapannya dengan serangan tusukan lurus yang sangat mematikan.
Naluri Tempur Lin Yuan aktif seketika, membuat dunia melambat dan lintasan pedang lawan terlihat sangat jelas di matanya.
Lin Yuan memiringkan tubuhnya untuk menghindar, namun pedang lawan tiba-tiba berubah arah menjadi sebuah tebasan horizontal yang cepat.
"Apa?!" teriaknya terkejut. Dia segera mengangkat pedang besinya untuk menahan serangan yang datang secara mendadak dari samping tersebut.
CLAAANG!
Benturan kedua membuat telapak tangan Lin Yuan terasa sangat mati rasa akibat besarnya tenaga yang dihasilkan lawan.
Dia segera melompat mundur untuk menciptakan jarak, namun tatapannya justru menjadi semakin tajam dan penuh dengan konsentrasi.
"Dia mampu mengubah arah serangan setelah Naluri Tempur membaca lintasannya," pikir Lin Yuan dengan perasaan yang sangat waspada.
Pria berjubah putih kembali menyerang tanpa memberikan jawaban, meluncurkan satu tebasan, dua tusukan, hingga gerakan langkah yang lincah.
Lin Yuan terus dipaksa menangkis serangan lawan yang datang bertubi-tubi, sementara percikan api terus memenuhi dunia berbintang tersebut.
Sepuluh, dua puluh, hingga tiga puluh jurus berlalu, dan wajah Lin Yuan menjadi semakin serius dalam menghadapi pertarungan ini.
Bukan karena lawannya terlalu cepat, melainkan karena setiap gerakan yang dilakukan oleh lawannya terasa sangat familiar baginya sendiri.
Tiba-tiba, pria berjubah putih menggeser kaki kirinya setengah langkah, membuat jantung Lin Yuan langsung berdegup sangat kencang karena terkejut.
Gerakan itu sangat dia kenal: Langkah Pembelah Takdir!
SWISH!
Pria tersebut lenyap dan muncul tepat di sisi kanan tubuhnya.
Pedangnya turun seperti kilat yang menyambar, dan Lin Yuan hanya mampu mengangkat pedangnya secara refleks untuk melindungi diri sendiri.
DANG!
Tubuh Lin Yuan terpental jauh, dan setetes darah tipis mulai mengalir dari sudut bibirnya yang terasa sangat perih.
Dia berguling di permukaan putih sebelum akhirnya kembali berdiri tegak dengan tatapan mata yang berubah menjadi semakin dingin sekali.
"Itu adalah teknikku sendiri," bisiknya. Pria berjubah putih kembali mengangkat pedangnya sambil menatap Lin Yuan dengan tatapan meremehkan.
"Teknikmu masih terlalu lambat," ucapnya.
SWISH!
Langkah Pembelah Takdir kembali digunakan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Gerakannya kini terasa lebih halus dan nyaris tidak meninggalkan jejak Qi sedikit pun di udara sekitar medan pertempuran tersebut.
Lin Yuan bahkan tidak sempat mengangkat pedangnya tepat waktu.
SRAAAK!
Ujung pedang lawan merobek bahunya hingga darah menyembur keluar.
Lin Yuan mundur cepat dengan rasa sakit yang menjalar ke seluruh lengan, namun dia justru tersenyum tipis melihat hal itu.
"Begitu rupanya, dia bukan sekadar meniru teknikku saja," pikirnya sambil terus memperhatikan setiap pergerakan kaki dari lawan misteriusnya tersebut.
"Dia menggunakan teknikku dalam bentuk yang jauh lebih sempurna," gumam Lin Yuan dengan sorot mata yang semakin terang benderang.
Pria berjubah putih kembali menyerang dengan tusukan sederhana, namun Lin Yuan langsung mengenali prinsip Jejak Tombak Penjaga di dalamnya.
Momentum serangan dikumpulkan dalam satu garis lurus tanpa ada tenaga yang terbuang sedikit pun untuk tujuan membunuh.
Suara sistem berbunyi cepat memberikan peringatan bahwa pola pertarungannya sedang direplikasi dan efektivitas Naluri Tempur menurun secara drastis.
Lin Yuan menggertakkan giginya saat pedang lawan semakin mendekat ke arah tubuhnya yang kini sudah dipenuhi oleh beberapa luka.
Dia memutar tubuhnya sekuat tenaga, namun ujung pedang lawan kembali meninggalkan luka baru di rusuknya yang terasa sangat menyakitkan.
Darah menetes ke permukaan putih, dan pria berjubah putih berhenti beberapa langkah di depannya sambil memberikan pertanyaan yang tajam.
"Apakah hanya ini kemampuanmu? Tanpa bantuan sistem, kau ternyata tidak tahu harus melangkah ke mana untuk menghadapi lawanmu sekarang."
Tatapan Lin Yuan berubah saat mendengar sistemnya disebut secara langsung oleh sosok misterius yang memiliki wajah yang sama dengannya.
Pria itu kembali mengangkat pedangnya. "Kau membaca lawan melalui Naluri Tempur, dan kau membaca Takdir melalui Mata Takdir milikmu."
"Kau hanya menerima pemahaman dari orang-orang yang berjalan sebelum dirimu," lanjutnya sambil mengarahkan ujung pedang lurus ke arah Lin Yuan.
"Lalu, apa yang sebenarnya benar-benar milikmu sendiri di dunia ini?" Pertanyaan itu terasa jauh lebih tajam daripada pedang lawannya.
Lin Yuan terdiam membisu, pedang besinya masih meneteskan darah segar ke lantai putih yang bersih di bawah kaki mereka.
Sejak meninggalkan Sekte Awan Langit, dia memang terus memperoleh kekuatan besar, namun dia mulai merenungkan apa yang dia ciptakan sendiri.
Lin Yuan perlahan menurunkan pedangnya, meskipun suara sistem memberikan peringatan bahaya dan merekomendasikan lintasan untuk segera menghindar dari serangan.
Dia menutup matanya sejenak, dan untuk pertama kalinya dia memilih untuk mengabaikan seluruh rekomendasi yang diberikan oleh sistem miliknya.
Lin Yuan justru melangkah maju satu langkah ke depan, membuat pria berjubah putih sedikit menyipitkan matanya karena merasa sangat heran.
SWISH!
Pedang lawan menusuk cepat, namun Lin Yuan tidak lagi membaca lintasan ataupun mencari gerakan yang paling sempurna sekarang.
Dia hanya mengayunkan pedangnya dengan mengikuti kata hatinya sendiri.
CLAAANG!
Kedua bilah pedang bertabrakan dengan sangat keras di udara.
Lin Yuan berputar dan mengubah arah pedangnya di tengah gerakan tanpa mengikuti pola teknik apa pun yang pernah dia pelajari.
Pria berjubah putih mencoba menghindar, namun...
SRAAAK!
Satu garis luka kecil muncul di pipinya, meneteskan darah ke lantai putih.
Dunia mendadak menjadi sangat sunyi, dan pria berjubah putih menyentuh luka di pipinya sambil tersenyum dengan sangat tulus sekali.
"Akhirnya kau berhasil membuat satu tebasan yang bahkan dirimu sendiri belum pernah mengenalnya sebelumnya," ucapnya dengan nada suara bangga.
Pedang Lin Yuan bergetar pelan, dan di dalam jiwanya sesuatu yang baru mulai tumbuh sebagai benih pertama jalan pedangnya.
Bukan hadiah ataupun warisan sistem, melainkan murni miliknya sendiri. Pria berjubah putih memandang lukanya dan auranya meledak semakin kuat.
BOOOM!
Tekanan yang dilepaskan kali ini jauh lebih kuat, membuat langit berbintang berguncang hebat dan permukaan putih di bawahnya retak.
Lin Yuan menggenggam pedangnya erat meskipun darah masih mengalir dari luka-lukanya, matanya kini memancarkan cahaya keyakinan yang sangat terang.
"Kalau begitu, kemarilah!" serunya. Pria berjubah putih menghilang dan rentetan benturan pedang kembali mengguncang seluruh dunia berbintang tersebut.
Tubuh Lin Yuan terus dipaksa mundur dengan luka-luka baru yang terus bermunculan, namun gerakan pedangnya perlahan mulai berubah drastis.
Dia tidak lagi menentukan arah pedangnya sampai sesaat sebelum bilah itu bergerak, menciptakan ritme bertarung yang sangat sulit ditebak.
.........
Bersambung...