NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Malam Dan Alibi Yuna

​Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, menghalau sisa-sisa kehangatan malam. Yuna mengerjapkan matanya perlahan, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.

​Seperti biasa, Yuna selalu bangun lebih lambat dari suaminya. Di sampingnya, kasur sudah kosong dan rapi. Labib pasti sudah berada di bawah, entah sedang membuat kopi hitamnya atau memeriksa berkas-berkas kuliah dengan penampilannya yang selalu segar sejak subuh.

​Yuna meregangkan tubuhnya, lalu mendadak teringat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

​"Jam sembilan... kelas struktur bangunan," gumam Yuna panik.

​Hari ini adalah hari Senin, dan jam pelajaran pertama Yuna dipimpin langsung oleh Profesor Labib Galendra. Menghadapi Labib di rumah sebagai suami yang sabar menunggunya siap saja sudah membuat Yuna diselimuti rasa bersalah, apalagi sekarang harus menghadapinya di kampus sebagai dosen killer yang berwibawa. Perubahan status yang drastis itu selalu sukses membuat Yuna canggung setengah mati.

​Dengan tergesa-gesa, Yuna langsung melompat dari tempat tidur dan berlari kecil menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.

​Tepat pukul 08.45 WIB, Yuna berjalan cepat menyusuri koridor fakultas teknik arsitektur. Ia sengaja tidak berangkat bersama Labib demi menjaga rahasia pernikahan mereka. Langkah kakinya membawa Yuna masuk ke dalam ruang kuliah yang sudah mulai ramai oleh bisikan para mahasiswa.

​Begitu melangkah melewati pintu, pandangan Yuna langsung tertumbuk pada sosok pria yang berdiri tegap di depan mimbar dosen.

​Labib sudah di sana. Pria 31 tahun itu tampak sangat berwibawa dengan kemeja biru dongker slim-fit yang lengannya digulung hingga sikut, menampilkan jam tangan hitam formalnya. Wajahnya datar, dingin, dan tatapan mata elangnya menyapu satu per satu mahasiswa yang masuk—sangat berbeda dengan sosok suami yang semalam memeluknya erat di bawah selimut hangat.

​Saat Yuna berjalan mencari kursi kosong di barisan tengah, netra mereka sempat bertemu selama beberapa detik. Labib menatapnya tanpa ekspresi, seolah Yuna hanyalah salah satu dari sekian banyak mahasiswi yang mengontrak mata kuliahnya. Namun, kilat tipis di sudut mata Labib hanya bisa ditangkap oleh Yuna, membuat pipi gadis 21 tahun itu mendadak merona merah di tengah ruang kuliah yang dingin.

​Yuna segera mempercepat langkahnya saat melihat satu lambaian tangan yang sangat ia kenali di barisan kursi nomor tiga dari depan.

​Dinda.

​Sahabat dekatnya sejak semester pertama itu sudah duduk manis di sana, lengkap dengan buku catatan arsitektur yang sudah terbuka. Berbeda dengan dugaan orang lain, Dinda sama sekali tidak tahu tentang status asli Yuna. Di mata Dinda, Yuna hanyalah teman kos biasa yang sama-sama berjuang demi lulus dari amukan tugas-tugas kuliah.

​"Yuna! Sini, gue udah pesenin kursi buat lo," bisik Dinda setengah tertahan, menepuk kursi kosong di sebelahnya sebelum sang profesor mulai mengabsen.

​Yuna menyelinap masuk ke barisan kursi, lalu mendudukkan tubuhnya di sebelah Dinda dengan napas yang sedikit terengah-engah. Ia meletakkan tas ranselnya, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun jantungnya berdegup kencang karena hawa dingin dari ruang kuliah yang mendadak senyap.

​Begitu Yuna duduk mapan, Dinda langsung mendekatkan kepalanya, menyenggol lengan Yuna dengan usil. Matanya melirik kagum ke arah depan kelas.

​"Yun, Yun... liat deh Pak Labib pagi ini. Gila, aura dosen killer-nya malah bikin tambah ganteng nggak sih kalau pakai kemeja dongker gitu?" bisik Dinda dengan volume suara yang sangat tipis, matanya berbinar-binar kagum layaknya mahasiswi yang sedang mengidolakan dosen muda. "Tapi ngeri juga sih, auranya dingin banget. Gue denger kelas sebelah kemarin habis dibantai pas asistensi maket."

​Mendengar pujian sekaligus ketakutan Dinda tentang suaminya sendiri, Yuna mendadak kaku. Ia meremas pulpen di tangannya, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya yang mulai memanas karena canggung.

​Dinda tidak tahu saja, kalau pria ber-kemeja dongker yang sedang ia puji sedemikian rupa di depan kelas itu adalah pria yang semalam memeluk Yuna erat di bawah selimut yang sama, dan pria yang tadi pagi-pagi sekali sudah membuatkan sarapan di rumah mereka.

​"Ah... iya, ramah—maksudnya, iya emang agak serem kalau lagi ngajar," jawab Yuna terbata-bata, hampir saja salah bicara karena grogi.

​Yuna kemudian memberanikan diri melirik ke depan kelas. Di sana, Labib baru saja berdeham kecil di depan mikrofon mimbar. Pandangan tegas mata elang pria 31 tahun itu sempat menyapu barisan tempat Yuna dan Dinda duduk. Tatapan dingin Labib seolah memberi peringatan tak kasat mata agar istri kecilnya itu fokus pada pelajaran dan tidak ikut-ikutan bergosip dengan temannya.

Kringgg!

​Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan akhirnya berbunyi, memecah ketegangan di dalam ruang kelas struktur bangunan. Profesor Labib merapikan beberapa berkas cetak di atas mimbarnya, mematikan proyektor, lalu melangkah keluar ruangan dengan pembawaan tegap dan dingin seperti biasa. Begitu punggung dosen muda itu menghilang di balik pintu, helaan napas lega terdengar serentak dari seisi kelas.

​"Gila, dua jam berasa dua tahun di bawah tatapan Pak Labib," gerutu Dinda sambil buru-buru memasukkan buku catatannya ke dalam tas.

​Belum sempat Yuna menanggapi keluhan sahabatnya, sesosok gadis modis dengan rambut dikuncir kuda tiba-tiba menghampiri meja mereka.

​Meysa. Teman sekelas Yuna dan Dinda yang terkenal cukup vokal dan ceria.

​Meysa langsung meletakkan dua lembar amplop tebal berwarna merah muda dengan aksen emas di atas meja Yuna dan Dinda. "Guys! Jangan lupa ya, nanti malam datang ke birthday party gue. Acara mulainya jam delapan malam di kafe biasa."

​Dinda langsung menyambar amplop itu dengan mata berbinar. "Wah, ulang tahun lo, Mey? Asyik, makan-makan gratis nih!"

​"Iya, makanya awas ya kalau kalian berdua sampai nggak datang! Gue absen satu-satu nanti," ancam Meysa bercanda, menunjuk Yuna dan Dinda bergantian dengan tatapan menyelidik.

​Yuna menatap kartu undangan mewah di tangannya dengan perasaan bimbang. Jam delapan malam? Di jam seperti itu, biasanya ia sudah berada di rumah bersama Labib. Apalagi status pernikahan mereka yang masih rahasia membuatnya tidak bisa sembarangan keluyuran malam tanpa alasan yang jelas di mata teman-temannya.

​Melirik ke arah Dinda yang masih belum mengetahui status aslinya, Yuna langsung memutar otak untuk mencari alibi yang aman agar tidak memicu kecurigaan.

​"Iya, Mey... tapi aku izin ibuku dulu ya nanti," ucap Yuna sengaja. Ia menekankan kata 'ibu' agar Dinda tetap berpikir bahwa dirinya masih tinggal bersama orang tuanya atau setidaknya harus melapor ke rumah lama setiap kali ingin pergi malam.

​"Ih, Yuna, lo udah mahasiswi semester empat masih aja kayak anak SMA harus izin mami," goda Meysa sambil tertawa kecil. "Ya udah, pokoknya usahain izinnya tembus ya. Gue tunggu nanti malam!"

​Setelah Meysa melambaikan tangan dan pergi menghampiri teman yang lain, Yuna mengembuskan napas pelan. Di dalam hatinya, ia tahu betul bahwa orang yang harus ia mintai izin malam ini bukanlah ibunya di rumah minimalis itu, melainkan sang profesor dingin yang barusan keluar dari ruangan ini.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sulaiman1927: siap laksanakan ndan
total 1 replies
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!