Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Malam Gala di Grand Hyatt
Grand Hyatt Jakarta malam itu seperti dunia yang dipoles sampai tidak menyisakan debu.
Lampu kristal menggantung di atas ballroom. Meja bundar tertata dengan bunga putih, kartu nama berlapis emas, dan gelas yang memantulkan cahaya. Para tamu datang dengan gaun malam, jas gelap, jam tangan mahal, dan senyum yang sering kali lebih tajam daripada kata-kata.
Liana berdiri di depan pintu masuk beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Gaun merah anggur itu terasa asing di tubuhnya. Bukan tidak nyaman. Justru terlalu pas, seolah kain itu meminta ia berdiri tegak dan berhenti mengecilkan diri.
"Bu Liana."
Suara Arman membuatnya menoleh.
Pria itu membawa earpiece kecil dan daftar rundown. "Boss sudah di dalam. Tamu asing dari Singapore dan Jepang akan tiba sepuluh menit lagi. Ibu siap?"
Liana menarik napas. "Saya siap."
Arman menatapnya sebentar, lalu mengangguk. "Gaunnya bagus."
Pujian itu datar seperti laporan, tetapi cukup membuat Liana sedikit tersenyum.
Ketika ia masuk ke ballroom, beberapa kepala menoleh. Tidak banyak, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat langkahnya hampir melambat. Selama tiga puluh tahun, ia terbiasa menjadi perempuan yang lewat tanpa dilihat. Malam ini, ia merasakan tatapan orang menempel di bahunya, pada rambut yang disanggul rendah, pada gaun yang membuat kulitnya tampak hangat.
Di dekat panggung kecil, Edwin sedang berbicara dengan dua tamu asing.
Ia mengenakan tuxedo hitam sederhana. Tidak ada pin mencolok, tidak ada aksesori berlebihan. Namun di ruangan penuh orang kaya, Edwin tetap terlihat seperti pusat gravitasi yang tidak perlu meminta perhatian.
Saat ia menoleh dan melihat Liana, kalimatnya berhenti sepersekian detik.
Hanya sepersekian.
Namun Liana melihatnya.
Edwin segera kembali tenang. Ia memberi isyarat agar Liana mendekat.
"Bu Liana, Mr. Tan dan Ms. Ishikawa ingin membahas bagian program beasiswa lintas negara."
Liana berdiri di sampingnya, bukan di belakang. Posisi itu kecil, tetapi baginya berarti banyak.
Ia menerjemahkan pertanyaan Mr. Tan ke bahasa Indonesia, lalu jawaban Edwin ke bahasa Inggris. Beberapa menit kemudian, Ms. Ishikawa meminta penjelasan tentang program pelatihan vokasi untuk perempuan usia matang yang kembali bekerja. Liana menerjemahkan dengan hati-hati, memilih kata yang tidak hanya akurat tetapi juga manusiawi.
"Women who return to work after years of unpaid care work are not starting from zero," ucapnya dalam bahasa Inggris yang tenang. "They bring discipline, emotional endurance, and practical intelligence that many institutions often fail to recognize."
Ms. Ishikawa menatapnya, lalu tersenyum. "Beautifully said."
Liana merasakan pipinya hangat.
Edwin tidak mengatakan apa-apa, tetapi dari sudut matanya, Liana melihat ia memperhatikannya dengan tenang.
Malam berjalan lebih lancar setelah itu. Liana membantu menerjemahkan dua sambutan pendek, memandu tamu asing memahami alur lelang amal, dan menjawab pertanyaan tentang program CSR Loh Group. Beberapa orang memujinya. Seorang perempuan dari komunitas bisnis bahkan meminta kartu namanya.
Liana hampir menjawab bahwa ia tidak punya kartu nama.
Arman, entah dari mana, muncul dan menyerahkan beberapa kartu sederhana bertuliskan: Liana Liem, Executive Support, Loh Group.
Liana menatap kartu itu sejenak. Namanya tercetak rapi. Bukan nama istri Albert. Bukan menantu keluarga Phua. Namanya sendiri.
"Terima kasih," katanya pelan.
"Boss yang minta disiapkan," jawab Arman.
Tidak lama kemudian, panitia meminta bantuan mendadak. Salah satu donatur dari Jepang ingin mengubah kalimat dalam pledge statement karena ada istilah "elderly women" yang terdengar terlalu pasif. Staf acara panik, takut perubahan itu membuat teks bahasa Indonesia di layar tidak cocok.
Liana membaca naskah cepat, lalu menawarkan padanan baru.
"Perempuan usia matang yang kembali memimpin hidupnya," katanya. "Bukan hanya penerima bantuan, tapi peserta yang punya kemampuan."
Ketua panitia memandangnya beberapa detik, lalu mengangguk berkali-kali. "Itu lebih kuat. Pakai itu."
Saat kalimat baru muncul di layar, beberapa tamu perempuan bertepuk tangan lebih dulu sebelum tepuk tangan umum menyusul. Liana berdiri di sisi panggung, telapak tangannya dingin, tetapi dadanya hangat.
Malam itu, ia tidak hanya menerjemahkan kata.
Ia menerjemahkan hidupnya sendiri ke bahasa yang akhirnya didengar orang.
Sebelum Liana sempat memproses kalimat itu, seorang pria tua dengan jas putih gading mendekat. Tubuhnya besar, perutnya menonjol, dan cincin di jarinya berkilau saat ia mengangkat gelas.
"Ini penerjemahnya Pak Edwin?"
Arman sedikit menegang. "Pak Ong."
Ong Su Kang tertawa rendah. "Santai saja. Saya cuma mau kenalan."
Liana mengenali nama itu dari daftar tamu. Pengusaha senior, donor lama, terkenal suka bicara seenaknya karena hampir semua orang terlalu segan menegur.
"Selamat malam, Pak," kata Liana sopan.
Ong menatapnya terlalu lama. "Selamat malam. Wah, saya kira sekretaris Pak Edwin masih muda-muda semua. Ternyata yang matang begini lebih menarik."
Liana menjaga senyumnya. "Saya bertugas sebagai penerjemah malam ini, Pak."
"Justru itu. Perempuan yang bisa bahasa asing selalu punya daya tarik sendiri."
Ia bergerak lebih dekat. Bau alkohol mahal menyentuh hidung Liana. Tangan Ong terulur, seolah hendak menyentuh lengan atasnya.
Liana mundur setengah langkah, tetapi di belakangnya ada meja.
"Pak, mohon..."
Sebelum tangan itu menyentuhnya, sebuah tubuh berdiri di antara mereka.
Edwin.
Ia tidak datang tergesa. Tidak meninggikan suara. Namun ruang di sekitar mereka langsung berubah. Beberapa tamu yang semula berbicara pelan mulai memperhatikan.
"Pak Ong," ucap Edwin, dingin dan rata. "Saya rasa Bu Liana sedang bertugas. Mohon jangan mengganggu."
Ong tertawa kikuk. "Aduh, Pak Edwin. Saya hanya bercanda."
"Bercanda yang membuat orang tidak nyaman bukan bagian dari acara malam ini."
Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat wajah Ong berubah.
Liana berdiri di belakang Edwin, napasnya masih tertahan. Ia sudah sering melindungi orang lain: Albert dari rasa malu, Jason dari masalah, Kim Hwa dari amarahnya sendiri. Namun dilindungi di depan umum, dengan jelas dan tanpa meminta bayaran emosional, terasa begitu asing sampai matanya panas.
Ong mengangkat kedua tangan. "Baik, baik. Saya minta maaf."
"Kepada Bu Liana."
Ballroom terasa lebih sunyi.
Ong menatap Liana, senyumnya kaku. "Maaf, Bu Liana."
Liana menelan rasa gemetar. "Saya terima."
Ong pergi dengan langkah lebih cepat dari saat ia datang.
Edwin tidak langsung menoleh. "Kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Kalau tidak, katakan tidak."
Liana menatap punggungnya. "Saya... baik-baik saja."
Baru setelah itu Edwin menoleh. Matanya berhenti pada wajahnya, mencari tanda yang tidak ia ucapkan.
"Kamu tidak perlu sopan pada orang yang melewati batas."
Kalimat itu membuat sesuatu di dada Liana retak, tetapi retakan yang kali ini memberi ruang.
"Saya akan ingat," katanya.
"Edwin."
Suara laki-laki lain masuk dari sisi kiri. Dennis Yoe berjalan mendekat dengan gelas sparkling water di tangan. Ia mengenakan jas navy, wajahnya segar seperti orang yang baru kembali dari perjalanan jauh.
Liana terkejut. "Dennis?"
Dennis juga tampak sedikit terkejut melihatnya di sisi Edwin, tetapi cepat tersenyum. "Bu Liana. Ternyata dunia memang kecil."
Edwin menatap Dennis. "Kau kenal?"
"Dia klienku." Dennis menoleh pada Liana. "Dan kau?"
"Dia bekerja untukku," jawab Edwin.
Dennis melihat dari Edwin ke Liana, lalu kembali ke Edwin. Senyumnya berubah menjadi senyum orang yang baru menemukan bahan menggoda.
"Menarik. Klienku ternyata karyawan kepercayaanmu."
"Jaga bicaramu," kata Edwin ringan, tetapi matanya tidak ringan.
Dennis mengangkat alis. "Aku belum bicara apa-apa."
"Kau sedang berpikir."
"Itu belum melanggar hukum."
Liana yang masih tegang hampir tertawa. Percakapan mereka terdengar seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal dan terbiasa berkelahi tanpa benar-benar marah.
Dennis menatap Edwin dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam. "Aku cuma heran. Kau bukan tipe orang yang repot-repot mengurus jarak tamu dengan sekretaris."
"Bu Liana bukan hanya sekretaris."
Jawaban itu keluar cepat.
Dennis diam setengah detik. Arman yang berdiri tidak jauh jelas mendengar, tetapi memilih melihat rundown.
Liana menunduk, bukan karena malu, melainkan karena jantungnya tiba-tiba bergerak terlalu keras.
"Baiklah," kata Dennis pelan. Kali ini tidak menggoda. "Kalau begitu, saya minta maaf kalau tadi terdengar meremehkan."
"Tidak apa-apa," jawab Liana.
"Bukan tidak apa-apa," Edwin menyela. "Dia berhak dihormati sejak awal."
Dennis menatap Edwin lagi. Kali ini wajahnya benar-benar berubah. Bukan terkejut karena kata-kata itu, melainkan karena orang yang mengucapkannya.
Sebelum suasana menjadi terlalu jelas, suara sepatu hak tinggi mendekat.
Perempuan dalam gaun hijau zamrud muncul di antara lingkaran tamu. Rambutnya disanggul rapi, lehernya memakai kalung berlian tipis, dan senyumnya terlatih sempurna. Ia tidak perlu memperkenalkan diri untuk membuat orang menoleh.
Lily Yao.
Ia berhenti di depan Edwin, lalu menatap Liana dengan senyum yang terlalu halus untuk disebut ramah.
"Pak Edwin," katanya. "Lama tidak bertemu."
"Lily."
Satu kata itu membuat Liana mengingat catatan di daftar tamu: jaringan dekat Edwin Loh.
Lily mengulurkan tangan kepada Liana. "Ibu Liana, senang berkenalan."
Liana menjabat tangannya. "Senang berkenalan, Bu Lily."
Genggaman Lily lembut, tetapi matanya menilai dari ujung rambut sampai gaun merah anggur Liana.
"Saya dengar Ibu membantu penerjemahan malam ini. Luar biasa."
"Saya hanya menjalankan tugas."
"Tugas yang sepertinya membuat Pak Edwin sangat..." Lily berhenti sebentar, senyumnya makin tipis. "Perhatian pada Ibu."
Beberapa orang di sekitar mereka menoleh.
Liana merasakan udara di ballroom menegang seperti senar yang ditarik.
Edwin belum bicara.
Dennis juga diam.
Lily masih tersenyum, tetapi matanya tidak tersenyum.
"Benar begitu, Ibu Liana?"
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/