Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Apa kamu waras? Kamu sudah menduakan aku dan kamu tidak ingin berpisah?" Hanna begitu marah
Rizal meraih tangan wanita yang begitu ia cintai itu namun Hanna menepisnya "Aku menyesal sayang, maafkan aku! Tolong beri aku satu kesempatan lagi"
Hanna tertawa sumbang "Kemana wanita itu? Apa kamu sudah bosan dengan dia hingga menginginkan kesempatan kedua?"
Hanna bahkan muak menyebut nama Arum lagi
"Aku sudah mengusir Arum dari rumah ini! Aku menyesal sayang!" Rizal kembali mendekat "Please!"
"Aku tidak ingin bersama pria tukang selingkuh seperti kamu, mas! Jadi kita akan berpisah"
Hanna meraih koper lalu mendesak beberapa potong pakaian kedalamnya dengan tergesa-gesa
"Hanna dengarkan aku!" Rizal menarik lengan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu
"Lepas mas!" Hanna berusaha memberontak namun Rizal mengeratkan genggamannya
"Aku sudah mengusir Arum dari rumah, aku hanya ingin kamu yang berada dirumah ini" Rizal memelas namun tidak melepaskan tangan wanitanya
"Aku tidak peduli! Mau kamu mengusir dia atau bahkan menikahinya, aku tidak peduli!" Hanna menatap tajam "Sekarang lepaskan aku!"
"Aku sangat mencintai kamu! Kenapa kamu tidak mengerti!" Rizal sudah menitihkan air matanya, Hanna dapat melihat raut penyesalan dari mata suaminya itu
"Kalau kamu sangat mencintai aku, kenapa kamu meniduri wanita lain?" Hanna begitu terluka jika kembali mengingat kejadian dimasa lalu
"Aku sudah minta maaf kan? Aku sudah menyesali semuanya!" Rizal kembali mengeratkan genggamannya saat Hanna berusaha memberontak
"Lepas mas! Kamu gak punya hak untuk menyentuh aku lagi!"
Rizal geram, Hanna meneguk ludahnya saat melihat tatapan suaminya "Kamu mau apa mas?"
Hanna memberontak saat Rizal menyeretnya menuju ranjang "Lepasin aku breng___"
"Teruslah mengumpat sayang!" Setelah mengatakan, Rizal menghempas tubuh Hanna diatas tempat tidur lalu mengukungnya
Hanna ketakutan, ia tidak ingin disentuh lagi oleh pria yang sudah menyentuh wanita lain
Wanita itu berusaha memberontak namun tenaganya tidak cukup untuk mendorong tubuh kekar yang kini mengukungnya
"Lepasin aku! Kamu baji____" Hanna menatap tajam, namun Rizal hanya terkekeh seolah dia adalah orang yang berbeda
"Aku tidak akan menceraikan kamu! Sekarang layani aku karena kamu masih berstatus sebagai istri ku"
Hanna begitu jijik, wanita itu bahkan meludahi wajah pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu
Namun bukannya marah, Rizal malah tersenyum. Pria itu mengusap wajahnya dengan ibu jarinya lalu menjilatinya
"Kamu tahu sayang? Kamu semakin cantik saja!" Bisik Rizal membuat Hanna semakin marah
Rizal tidak berbohong, Hanna jauh lebih cantik dari beberapa bulan lalu saat wanita ini meninggalkan rumah
Tubuhnya semakin ramping karena telah melahirkan dan hal itu semakin membuatnya bernafsu
"Aku akan membuat kamu kembali mengandung anakku hingga kamu tidak akan bisa lepas dariku!"
Hanna menegang, ucapan Rizal membuatnya takut. Ia tidak ingin kembali bersama pria seperti Rizal
"Jika itu terjadi aku akan menggugurkan nya!" Hanna menatap penuh amarah
Ucapan sang istri membuat amarah dalam diri Rizal semakin berkobar. Apa dirinya tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua
Dirinya memang salah, tapi seharusnya Hanna memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya
"Kamu benar-benar menguji aku sayang!" Rizal mendekatkan wajahnya namun Hanna menghindar dengan menoleh kekiri dan kanan
"Pemberontakkan kamu semakin membuat aku ingin memiliki kamu Hanna"
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Hanna mendorong tubuh kekar pria yang mengukung nya hingga tubuh Rizal jatuh tersungkur di lantai
Hanna bangun dari atas ranjang lalu mendekat kearah pintu sambil menyeret kopernya
Saat tangannya menyentuh gagang pintu, tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang
"Tolong jangan pergi! Aku gak akan bisa hidup tanpa kamu dan anak-anak!" Rizal memeluk tubuh wanitanya itu sambil terisak
"Aku bilang lepas!" Hanna berusaha memberontak hingga Rizal melepas pelukannya
Hanna berbalik, wanita itu menendang pusaka pria kurang ajar itu membuat Rizal mengerang kesakitan
Dengan cepat Hanna membuka pintu dan keluar dari kamar tersebut, mengabaikan teriakan Rizal yang memanggil namanya
"Ada apa mbak?" Tanya Hanin dengan raut wajah khawatir, terlebih ia melihat sang kakak yang terlihat berantakan dengan rambut yang acak-acakan
"Gak apa-apa, ayo kita pergi!" Hanin mengangguk
Hanna keluar sambil menggandeng tangan Fathan, sementara Hanin membawa tas berisi pakaian milik keponakannya
Saat didalam mobil pun Hanna diam saja. Tubuhnya masih bergetar menyisakan ketakutan
Ia tidak pernah menyangka jika Rizal akan bertindak seperti itu. Selama ini suaminya itu selalu bersikap sopan, tapi hari ini ia melihat sisi lain dari pria yang telah menikahinya selama hampir sepuluh tahun itu
"Mbak baik-baik aja kan?" Tanya Hanin karena melihat kakaknya itu melamun
"Mbak baik-baik aja, gak perlu khawatir!"
Hanna tidak ingin membuat sang adik merasa risau. Masalah yang terjadi dikamar tadi biarlah ia simpan sendiri
Sesampainya dirumah Hanna menggandeng tangan sang putra sulung. Fathan terlihat senang karena ia tinggal bersama sang ibu serta adik perempuannya
"Kamar Fathan diatas! Mama udah siapin sesuai selera kamu!" Ujar Hanna pada putra sulungnya itu
"Apa Papa gak akan tinggal sama kita?" Pertanyaan polos itu mengalir begitu saja
"Fathan dengerin Mama!" Hanna memegang bahu Fathan agar menatapnya
"Mulai sekarang Fathan hanya akan bersama Mama dan adek! Soal Papa, Fathan bisa bertemu Papa sesekali"
"Kenapa seperti itu? Kenapa Mama gak tinggal dirumah aja, seperti kemarin?" Bagi Fathan ini terasa membingungkan
Ibunya telah kembali, harusnya semuanya sudah selesai. Selama ini ia bersama kedua orang tuanya, lalu harus terpaksa berpisah membuatnya pasti bertanya-tanya
"Ada masalah yang gak bisa Mama kasih tau Fathan. Fathan mau mengerti kan?" Hanna mengusap kepala putranya
Bocah delapan tahun itu mengangguk "Yang penting Fathan selalu bersama Mama!"
Hanna tersenyum haru, ia peluk tubuh bocah yang hampir setinggi dirinya itu sambil mengusap kepalanya
"Maafin Mama sayang" Lirihnya
"Ayo Fathan! Kita lihat kamar kamu dulu!" Hanin mengulurkan tangannya dan bocah delapan tahun itu menyambutnya
"Aku bawa Fathan kekamar nya dulu!" Hanna mengangguk lalu Hanin san Fathan menaiki tangga
"Ini yang terbaik, aku tidak akan pernah bisa bersama mas Rizal lagi" Batinnya setelah itu berlalu menuju kamarnya
***
Hanum tersenyum melihat rumahnya yang terasa ramai, ia bahagia karena Fathan telah bersama mereka
"Ayo Elle, kamu makan sama Mama yaa!" Hanna masih terus membujuk putri kecilnya itu untuk bersamanya namun bayi kecil itu tetap saja menolak dan memilih Hanin
Namun Hanna tercengang saat bayi perempuan menggemaskan itu malah menurut saat sang kakak mengulurkan tangannya
Bahkan saat ini Eleanor sudah duduk diatas pangkuan Fathan "Kok adek bisa langsung deket sama kamu nak?"
"Fathan kan udah sering kesini main sama adek" Mendengar itu membuat Hanna menatap sang ibu penuh tanya
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.