NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesaksian yang Terlambat

Ada penyesalan yang datang bukan karena kita tidak peduli.

Melainkan karena kita baru mengetahui kebenaran... ketika orang yang ingin kita selamatkan sudah lebih dulu pergi.

Tiga gelas teh hangat telah tersaji di atas meja.

Tak seorang pun langsung menyentuhnya.

Suara kendaraan yang lalu lalang di depan warung menjadi satu-satunya pengisi keheningan.

Marni mengembuskan napas panjang.

"Kang..."

"Aku benar-benar minta maaf."

Aku menggeleng pelan.

"Jangan minta maaf."

"Kalau ada yang salah... itu aku. Aku terlalu terlambat memahami apa yang sebenarnya terjadi sama Amira."

Marni menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Aku juga terlambat."

"Kalau saja waktu itu aku lebih cepat kasih tahu..."

Kalimatnya menggantung.

Aku teringat pesan suara yang kudengar semalam.

"Mar..."

"Di pesan suara itu kamu bilang tahu soal santet dan Dukun Sagim."

"Iya."

"Itu semua kamu tahu dari mana?"

Marni terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab pelan.

"Bukan aku yang dengar langsung."

Aku mengernyit.

"Maksudnya?"

"Aku punya sepupu."

"Namanya Taupik."

"Dia kerja sebagai penjaga lapas."

Aku dan Lukman saling berpandangan.

Marni melanjutkan.

"Waktu Anggun ditahan, Bu Alice hampir rutin datang menjenguk."

"Taupik yang beberapa kali berjaga."

"Katanya... suatu hari dia gak sengaja dengar pembicaraan mereka."

"Memang gak semuanya jelas."

"Tapi ada beberapa kalimat yang bikin dia curiga."

Aku mencondongkan badan.

"Kalimat apa?"

Marni menarik napas pelan.

"Bu Alice bilang..."

"'Tenang saja. Orang itu gak akan hidup lama.'"

"Terus Anggun nanya..."

"'Sagim sudah mulai kerja, kan?'"

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Nama itu.

Nama yang sejak semalam terus terngiang di kepalaku.

"Sagim..."

Marni mengangguk.

"Itu pertama kali Taupik dengar nama itu."

"Waktu pulang kerja, dia langsung cerita ke aku."

"Awalnya kami juga gak ngerti siapa Sagim."

"Tapi setelah kondisi Amira makin memburuk..."

"...aku mulai menghubung-hubungkan semuanya."

Aku mengepalkan tangan di bawah meja.

"Kenapa gak langsung bilang ke Amira?"

Wajah Marni langsung tertunduk.

"Aku takut."

"Takut kalau cuma salah paham."

"Takut malah bikin Amira makin kepikiran."

"Makanya aku terus nyoba menghubunginya..."

"Tapi banyak pesanku gak pernah dibaca."

Dadaku kembali terasa sesak.

Bukan karena marah kepada Marni.

Melainkan karena menyadari bahwa semua orang sebenarnya sudah berusaha.

Hanya saja...

kami semua kalah cepat.

Lukman yang sejak tadi diam akhirnya bertanya.

"Terus... alamat Bu Alice?"

Marni mengangguk pelan.

"Itu juga dari Taupik."

"Dia sempat bantu aku mencatat alamat yang dipakai Bu Alice waktu mendaftar sebagai pembesuk."

"Bukan alamat lapas."

"Tapi alamat rumahnya."

Marni membuka tas selempangnya.

Dari dalam sebuah dompet kecil, ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah mulai kusut karena sering dilipat.

"Aku sebenarnya nyimpan ini buat Amira."

"Tapi..."

Suara Marni bergetar.

"...aku gak pernah sempat memberikannya."

Perlahan ia menyodorkan kertas itu kepadaku.

Tanganku terasa berat saat menerimanya.

Di sana tertulis sebuah alamat rumah di wilayah Jakarta Timur.

Tak ada nama Dukun Sagim.

Tak ada petunjuk lain.

Hanya alamat Bu Alice.

Namun aku merasa...

inilah pintu pertama menuju semua jawaban yang selama ini kami cari.

Lukman membaca alamat itu pelan.

Kemudian menatapku.

"Kang..."

"Kita mulai dari sini."

Aku melipat kembali kertas itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam dompet bersama buku catatan dan ponsel peninggalan Amira.

Aku menatap Marni.

"Terima kasih."

Marni menggeleng pelan.

"Kalau memang masih bisa menyelamatkan Lala sama Andi..."

"...jangan sampai terlambat lagi."

Kalimat itu membuatku terdiam.

Karena kini aku sadar...

perjalanan kami ke Jakarta bukan lagi sekadar mencari kebenaran.

Melainkan berpacu dengan waktu.

(Bersambung)

1
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!