NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Kekhawatiran Nenek Mira

Rasa sakit di dada Bobon terasa luar biasa. Tapi di balik rasa sakit itu, ada gelombang energi yang mengalir deras dari pergelangan tangan kirinya ke seluruh tubuh. Segel kelima terbuka dengan kekuatan yang menghantam setiap pori-pori kulitnya. Cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya, menerangi seluruh puncak gunung yang gelap.

Pria berjubah hitam itu mundur beberapa langkah. Matanya melebar melihat perubahan yang terjadi pada Bobon. "Tidak mungkin! Segel kelima terbuka? Tapi aku menaruhnya dengan kekuatan paling kuat!"

Bobon bangkit perlahan. Tubuhnya masih gemuk, tapi kini ada aura baru yang memancar darinya. Aura yang kuat dan bersinar terang. Matanya yang biasanya polos kini terlihat tajam dan penuh wibawa.

"Aku ingat sekarang," kata Bobon dengan suara yang berbeda. Lebih dalam, lebih tenang. "Aku ingat semuanya. Kau adalah saudaraku. Namamu Aditya. Kau menaruh segel-segel ini padaku karena kau takut padaku."

Pria berjubah hitam itu, Aditya, mengepalkan tangannya. "Kau benar. Aku takut padamu. Kau selalu lebih baik dari aku dalam segala hal. Ayah selalu memujimu. Dan ketika ayah memutuskan untuk menyerang Kerajaan Kencana, kau menolak. Kau memilih untuk melindungi mereka."

"Aku memilih yang benar, Aditya. Ayah salah. Sekte Iblis salah. Dan kau juga salah."

"Jangan bicara seperti itu! Aku melakukan semua ini untuk membuktikan bahwa aku lebih baik darimu!"

Aditya mengangkat kedua tangannya. Energi gelap berkumpul di sekelilingnya, membentuk pusaran yang mengerikan. Angin kencang berputar di sekitar mereka. Para prajurit Sekte Iblis mundur ketakutan.

"Kau akan mati di sini, Bobon!" teriak Aditya.

Dia melemparkan pusaran energi gelap itu ke arah Bobon. Serangan itu sangat besar dan kuat, cukup untuk menghancurkan seluruh puncak gunung. Tapi Bobon tidak bergerak. Dia hanya mengangkat tangan kirinya dan menangkis serangan itu dengan telapak tangannya.

Energi gelap itu berhenti di depannya. Bobon menggenggamnya dan menghancurkannya seperti menghancurkan batu. Partikel-partikel energi gelap berhamburan dan menghilang.

"Kau... kau menghancurkan seranganku?" Aditya terkejut.

"Kekuatanmu tidak sebanding dengan kekuatanku, Aditya. Dan itu bukan karena aku lebih baik dari kau. Itu karena kau memilih jalan yang salah."

Bobon melangkah maju. Setiap langkahnya terasa berat dan penuh wibawa. Aditya mundur, tapi tidak bisa pergi. Kakinya terasa seperti terpaku di tanah.

"Aku tidak akan membunuhmu," kata Bobon. "Kau saudaraku. Tapi kau harus berhenti. Kau harus menghentikan semua ini."

"Aku tidak bisa! Aku sudah terlalu jauh!"

"Tidak ada yang terlalu jauh untuk kembali, Aditya. Aku tahu itu karena aku juga pernah berada di posisimu. Tapi aku memilih untuk kembali. Dan kau juga bisa."

Aditya terdiam. Air mata mengalir di matanya di balik topeng yang sekarang sudah jatuh. "Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sudah melakukan banyak hal buruk."

"Kita bisa memperbaikinya bersama. Aku akan membantumu."

Aditya menangis tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, dia merasakan beban yang begitu berat terangkat dari pundaknya. Dia jatuh berlutut dan menangis di kaki Bobon.

"Aku minta maaf," isak Aditya. "Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan. Aku iri padamu. Aku benci padamu. Tapi aku juga mencintaimu. Kau saudaraku."

Bobon membungkuk dan memeluk saudaranya. "Aku juga mencintaimu, Aditya. Aku selalu mencintaimu."

Para prajurit Sekte Iblis yang melihat semuanya mulai menurunkan senjata mereka. Mereka bingung. Pemimpin mereka menangis di pelukan musuh. Mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Wulan berdiri di samping Bobon dengan seruling di tangannya. Dia tersenyum melihat pertemuan itu. "Aku senang kau berhasil menjangkau hatinya, Bobon."

"Aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuanmu, Wulan. Kau melindungiku dari serangannya."

"Aku hanya melakukan apa yang benar."

Aditya mengangkat kepalanya dan menatap Wulan. "Maafkan aku, Wulan. Aku yang mengajarimu ilmu iblis. Aku yang membawamu ke jalan yang salah."

Wulan menggeleng. "Aku memilih jalan itu sendiri. Aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya."

"Tapi aku tetap menyesal."

Mereka bertiga duduk di puncak gunung. Para prajurit Sekte Iblis mulai meninggalkan tempat itu. Ada yang kembali ke markas, ada yang memutuskan untuk meninggalkan sekte. Mereka semua bingung dan tidak tahu harus ke mana.

"Bobon, ada sesuatu yang harus kau ketahui," kata Aditya tiba-tiba.

"Apa?"

"Ayah merencanakan serangan besar-besaran ke Kerajaan Kencana dalam waktu dekat. Dia akan memimpin sendiri. Dan dia akan menggunakan kekuatan penuhnya."

"Kekuatan penuhnya? Apa maksudmu?"

"Ayah bukan manusia biasa, Bobon. Dia adalah iblis sejati. Tubuhnya hanyalah wadah. Kekuatan sebenarnya berasal dari iblis yang merasukinya. Dan jika dia melepaskan kekuatan itu, seluruh benua akan hancur."

Bobon mengerutkan kening. "Bagaimana cara menghentikannya?"

"Hanya kau yang bisa, Bobon. Kau adalah satu-satunya yang memiliki kekuatan untuk melawannya. Tapi kau harus membuka semua segelmu. Tanpa itu, kau tidak akan cukup kuat."

Bobon melihat pergelangan tangannya. Segel kelima sudah terbuka. Tapi masih ada dua segel lagi. Segel keenam di matanya dan segel ketujuh di pusarnya.

"Aku akan membukanya," kata Bobon. "Apapun risikonya."

Aditya menggeleng. "Tidak, Bobon. Segel terakhir sangat berbahaya. Jika kau membukanya tanpa persiapan, kau bisa mati. Atau lebih buruk, kau bisa kehilangan dirimu selamanya."

"Tapi aku harus melakukannya. Untuk semua orang."

"Aku akan membantumu. Aku tahu cara membuka segel dengan aman. Tapi butuh waktu dan persiapan."

Bobon mengangguk. "Baiklah. Kita akan kembali ke Kerajaan Kencana dan mempersiapkan segalanya."

Mereka turun dari Gunung Batu Hitam dan berjalan kembali ke Kerajaan Kencana. Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Beban yang selama ini dipikul Bobon mulai terasa lebih ringan.

Saat mereka tiba di istana, Nenek Mira menyambut mereka dengan pelukan hangat. "Aku khawatir padamu, Bobon. Kau pergi terlalu lama."

"Maaf, Nek. Ada banyak hal yang terjadi."

Nenek Mira melihat Aditya di samping Bobon. Matanya menyipit. "Siapa dia?"

"Ini Aditya, Nek. Saudaraku."

Nenek Mira terkejut. "Saudaramu? Tapi kau tidak punya saudara."

"Aku punya, Nek. Dan dia yang menaruh segel-segel di tubuhku."

Nenek Mira terdiam. Dia menatap Aditya dengan mata campuran kemarahan dan kebingungan. "Kau... kau yang melakukan itu padanya?"

"Aku minta maaf, Nek. Aku tahu aku salah. Tapi aku ingin memperbaikinya."

Nenek Mira menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi jika kau mencoba menyakitinya lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu."

"Aku tidak akan, Nek. Aku berjanji."

Malam harinya, Bobon duduk di kamarnya bersama Wulan dan Aditya. Mereka merencanakan langkah selanjutnya.

"Kita harus membuka segel keenam dan ketujuh secepat mungkin," kata Bobon. "Tapi kita harus melakukannya dengan aman."

"Aku bisa membantu dengan segel keenam," kata Wulan. "Segel itu berhubungan dengan penglihatan. Dan aku memiliki teknik khusus untuk membukanya."

"Bagaimana dengan segel ketujuh?" tanya Bobon.

"Segel ketujuh adalah yang paling sulit," kata Aditya. "Butuh persiapan khusus. Dan butuh pengorbanan."

"Pengorbanan apa?"

Aditya menatap Bobon dengan mata serius. "Kau harus melepaskan semua yang kau cintai, Bobon. Semua ikatan emosionalmu. Baru setelah itu segel ketujuh bisa terbuka."

Bobon terdiam. Dia menatap Wulan dan memikirkan semua orang yang dicintainya. Nenek Mira, Pangeran Bima, Putri Laras, Sari, dan semua teman-temannya.

"Apa aku harus kehilangan mereka?" tanya Bobon pelan.

"Bukan kehilangan secara fisik. Tapi kau harus rela melepaskan mereka. Kau harus siap untuk hidup tanpa mereka. Itu adalah ujian terakhir."

Bobon menarik napas dalam-dalam. "Aku akan melakukannya. Untuk semua orang. Aku akan melepaskan semuanya."

Wulan memegang tangannya. "Aku akan di sisimu, Bobon. Apapun yang terjadi."

"Aku tahu, Wulan. Dan itu membuatku lebih kuat."

Di luar jendela, bintang-bintang berkelap-kelip. Bobon menatapnya dengan tekad di matanya. Besok adalah hari baru. Dan dia akan melangkah lebih dekat pada takdirnya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!