NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Bab 26: Pertemuan yang Menyimpan Permusuhan

Pagi itu, suasana di rumah keluarga Wijaya sudah disiapkan sebaik mungkin.

Ruang tamu utama yang luas dan mewah sudah ditata rapi, bunga segar diletakkan di sudut ruangan, serta berbagai hidangan dan minuman tersaji di meja panjang.

"Kamu sangat cantik, sayang" Ujar Arga saat dia melihat istrinya baru saja turun.

"Mas bisa aja" Ujar Diana malu-malu

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, di mana Tuan Hartono beserta keluarga akan datang berkunjung secara resmi, membahas rencana pernikahan Gilang dan Clara yang sudah disepakati sebelumnya.

Gilang, yang juga ada di sana, langsung terpana dan pandangan nya tidak lepas dari Diana.

Dia baru saja datang,

Hatinya masih merasa sakit, melihat mereka bersama.

Tapi dia memilih diam, dan seolah tidak terjadi apa-apa.

"Pagi, Emmm... Maaf, aku masih belum bisa memanggilmu... Ibu" Sapa Gilang pada Diana, bibirnya tersenyum getir.

Diana menoleh pada suaminya, Arga hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut.

"Jangan di paksakan, ayah tidak akan memaksamu memanggilnya dengan sebutan itu, ayah hanya berharap, kamu menghargainya sebagai istri ayah" Ujar Arga sambil menepuk pundak anaknya.

Gilang hanya tersenyum paksa, lalu pergi ke ruang tamu.

Arga dan Diana hanya saling pandang.

Pukul sepuluh pagi,

mobil mewah berwarna hitam mengkilap melaju masuk ke halaman rumah, diikuti oleh satu mobil lain untuk membawa asisten dan pengawalan.

Begitu kendaraan berhenti, Tuan Hartono turun lebih dulu, diikuti oleh istrinya yang mengenakan pakaian mewah dan perhiasan berkilau,

lalu di belakangnya ada Clara yang tampil cantik namun terlihat agak pucat, serta asisten pribadi mereka.

Arga, Nyonya Amara, Gilang, dan Diana sudah berdiri menyambut di depan pintu.

Senyum sopan terukir di wajah mereka, meski di dalam hati masing-masing menyimpan perasaan yang berbeda-beda.

“Selamat datang, Tuan Hartono, Nyonya Anita,” sapa Arga dengan nada ramah namun tetap memancarkan wibawanya.

“Terima kasih, Tuan Arga. Maaf mengganggu waktu kalian sekeluarga,” jawab Tuan Hartono sambil menjabat tangan Arga,

matanya langsung melirik sekeliling ruangan seolah menilai segala sesuatu yang ada di hadapannya.

"Silahkan masuk!" Ujar Nyonya Amara

Setelah semua masuk dan duduk di ruang tamu, suasana masih tenang.

Arga segera memperkenalkan satu per satu anggota keluarganya. “Ini ibuku, Nyonya Amara Wijaya. Dan ini istriku, Diana Wijaya.”

Seketika itu juga, tubuh Diana sedikit membeku.

Matanya tertuju tepat pada sosok wanita muda yang duduk di samping Tuan Hartono — Clara.

Wanita yang pernah ia temui beberapa bulan lalu di depan pintu apartemen Gilang,

Namun, Gilang sendiri sama sekali belum mengetahui bahwa kedua wanita itu pernah bertemu.

Diana hanya menelan perasaannya, memutuskan untuk memendamnya rapat-rapat dan tidak ingin mengungkit masa lalu yang menyakitkan itu lagi.

Ia hanya menunduk sedikit, lalu tersenyum sopan.

Di sisi lain, pandangan Clara langsung tertuju pada Diana sejak dia melihat nya.

Matanya menyipit, terlihat jelas rasa meremehkan dan keheranan bercampur rasa tidak suka.

Dia adalah wanita yang dulu mengaku sebagai kekasih Gilang, dan sekarang malah menjadi istri ayahnya? Dasar tidak tau malu, pikirnya dalam hati, namun ia hanya membalas senyum tipis yang terasa palsu.

Pembicaraan pun dimulai.

Awalnya hanya basa-basi soal kesehatan dan urusan bisnis, hingga akhirnya masuk ke pokok permasalahan.

Tuan Hartono duduk lebih tegak, lalu menatap Arga dengan pandangan yang penuh perhitungan.

“Seperti yang sudah disampaikan melalui asistenku, kami datang ke sini untuk membahas rencana pernikahan Gilang dan putriku, Clara. Kami menghargai keseriusan keluarga Wijaya dalam hal ini,” ujar Tuan Hartono dengan nada yang terdengar formal.

Arga mengangguk. “Kami juga merasa senang jika kedua keluarga bisa terikat lebih erat lagi. Gilang sudah menyampaikan niatnya dengan jelas, dan kami sepenuhnya mendukungnya.”

Namun, wajah Tuan Hartono perlahan berubah menjadi lebih serius, bahkan terlihat sedikit serakah.

Ia melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih tegas. “Jika begitu, ada satu hal yang ingin saya sampaikan mengenai masalah mahar. Sebagai tanda keseriusan keluarga Wijaya, saya meminta agar diberikan 20 persen saham dari Grup Wijaya sebagai mahar untuk putriku Clara.”

Mendengar ucapan itu, suasana ruangan seketika menjadi hening.

"Apa !?"

Nyonya Amara mengerutkan keningnya,

20 persen saham !?

Gilang terkejut dan hampir memprotes,

sedangkan Arga tetap tenang tetapi matanya menyiratkan kewaspadaan.

“Dua puluh persen saham? Itu jumlah yang sangat besar, Tuan Hartono. Kami bisa mempertimbangkan nilai yang setara dalam bentuk aset atau uang tunai, tapi saham perusahaan adalah hal yang sangat sensitif,” jawab Arga dengan tenang namun tegas.

Tuan Hartono hanya tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu.

“Saya tahu nilainya, itulah sebabnya saya memintanya. Saya ingin memastikan masa depan putriku terjamin seumur hidupnya. Lagipula, ini adalah bentuk ikatan persaudaraan yang tidak akan terputus.”

Pembicaraan itu berlanjut dengan nada yang mulai terasa kaku.

Diana yang duduk di samping Arga merasa tidak nyaman.

Ia merasakan tatapan tajam, dingin, dan penuh penghinaan yang datang dari arah Nyonya Anita maupun Clara.

Rasanya seperti mereka melihatnya bukan sebagai tuan rumah, melainkan sebagai orang asing yang tidak pantas berada di ruangan itu.

Merasa tidak betah dan ingin menjauh sejenak dari suasana yang terasa menekan, Diana menunduk sopan.

“Maafkan saya, saya izin ke dapur sebentar”

Arga menoleh dan mengangguk lembut, mengizinkannya pergi.

"Jangan terlalu lama, sayang" Bisiknya sebelum istrinya itu pergi

Diana mengangguk sekilas lalu segera berjalan menuju dapur.

Begitu Diana berjalan keluar ruangan, tidak lama kemudian Clara pun berdiri sambil tersenyum manis.

“Saya juga izin sebentar, ingin mencari udara segar. Bolehkah sayang ?” Ujarnya, dia menoleh pada Gilang

Tanpa menunggu jawaban,

Clara segera melangkah keluar mengikuti jejak Diana.

Ia tahu ke mana arah tujuannya, dan rasa ingin mempermalukan wanita itu mulai membara di hatinya.

Di dapur yang luas dan bersih,

Diana membuka lemari es dan mengambil botol air dingin.

Ia baru saja menuangkan air itu ke dalam gelas kaca bening,

ketika tiba-tiba mendengar suara langkah kaki dan suara tawa kecil yang menyindir.

“Wah, rupanya tempat ini sudah menjadi tempat berlindungmu ya?”

Diana menoleh kaget, melihat Clara sudah berdiri di ambang pintu dapur, lalu bersandar santai di dinding dengan pandangan yang penuh meremehkan.

“Kau mengikutiku?” tanya Diana dengan nada datar, berusaha tetap tenang meski hatinya mulai waspada.

Clara melangkah mendekat, tersenyum miring.

“Aku hanya kebetulan lewat, lagipula, Aku penasaran, wanita macam apa yang tidak bisa mendapatkan anak laki-lakinya, lalu dengan licik langsung mengincar ayahnya. Benar-benar jalur yang pintar, atau lebih tepatnya murahan?”

Hinaan itu terasa tajam dan menusuk langsung ke dalam hati Diana.

Tetapi, ia mengingat nasihat ibu mertuanya — tetap tenang, jangan terpancing emosi, dan gunakan akal pikiran.

Ia hanya tersenyum manis, lalu menatap Clara dengan pandangan yang setara.

“Seharusnya kau memujiku, bukan menghinaku. Jika sampai ayah dan anak jatuh hati pada wanita yang sama, itu berarti pesonaku memang sangat memikat.

Dulu Gilang terpikat, dan sekarang Arga mencintaiku dan memujaku. Mungkin itu tandanya, aku memang wanita yang tepat untuk keluarga ini,” jawab Diana dengan nada santai namun menyakitkan bagi Clara.

Wajah Clara seketika berubah memerah menahan marah.

Ia merasa tersindir dan hina mendengar balasan itu.

“Kau benar-benar tidak tahu malu! Wanita rendahan sepertimu tidak pantas berada di rumah mewah ini, tidak pantas menjadi istri Tuan Arga, dan tidak pantas berdiri sejajar dengan kami!”

"Terimakasih, aku anggap itu sebagai bentuk pujian" Ujar Diana sambil meneguk air dinginnya

"Dasar tidak tau diri!" Clara meradang

Semakin ia berbicara, emosinya semakin memuncak.

Tanpa berpikir panjang,

ia melihat gelas air dingin yang masih dipegang Diana.

Dengan gerakan cepat dan licik,

ia meraih tangan Diana yang memegang gelas itu,

lalu mengarahkan air itu tepat ke wajahnya sendiri seolah-olah Diana yang menyiramnya dengan sengaja.

“Ahhh!” teriak Clara histeris.

Air dingin itu membasahi seluruh wajah dan bajunya bagian depan, membuatnya menggigil kedinginan.

Ia langsung menjatuhkan diri duduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu, seolah baru saja mendapatkan perlakuan yang sangat kejam.

"Apa yang kau - "

Diana tertegun, matanya membulat tak percaya melihat apa yang baru saja terjadi.

Ia mundur selangkah, masih memegang gelas kosong itu, pikirannya bekerja cepat.

Ia tetap tenang.

Pandangannya melayang ke atas, dan di sudut langit-langit dapur terlihat jelas kamera pengawas yang menyala.

Akting mu sungguh luar biasa....

Ia hanya tersenyum kecil dalam hati, memutuskan untuk tetap diam dan melihat sampai sejauh mana akting wanita ini akan berlanjut.

Teriakan Clara terdengar jelas hingga ke ruang tamu.

"Suara apa itu?"

Semua orang yang sedang mengobrol langsung terkejut dan bergegas berlari menuju dapur.

Begitu sampai di ambang pintu, pemandangan yang terlihat membuat mereka tertegun.

"Clara !" Teriak Nyonya Anita

Clara duduk di lantai, basah kuyup, menangis tersedu-sedu,

sedangkan Diana berdiri agak jauh sambil memegang gelas kosong dengan wajah yang tenang dan datar, tidak terlihat ada rasa bersalah sedikit pun.

Melihat putrinya basah kuyup dan menangis, Nyonya Anita langsung meledak emosinya.

"Apa yang kau lakukan pada putriku?"

Ia mendekat, lalu dengan kasar mendorong bahu Diana hingga wanita itu terhuyung mundur.

Namun, sebelum Diana sempat terjatuh, lengan kekar Arga sudah sigap menangkap dan memeluk pinggang istrinya erat-erat, melindunginya.

“Jangan sembarangan menyentuh istriku!” bentak Arga dengan nada dingin dan mengancam, membuat Nyonya Anita mundur takut.

“Lihat apa yang dia lakukan pada putriku! Dia menyiram air dingin ke tubuh Clara dengan sengaja! Wanita kasar, tidak tahu sopan santun!” teriak Nyonya Anita kembali.

Tuan Hartono juga ikut marah, wajahnya memerah karena emosi.

“Jadi begini cara keluarga Wijaya menyambut tamu? Sangat memalukan!”

Namun, Nyonya Amara hanya berdiri di sampingnya, memijat pelipisnya dengan tenang, lalu menatap mereka dengan pandangan dingin.

“Tenang, jangan saling menuduh sebelum ada bukti yang jelas. Di mana buktinya bahwa Diana yang melakukannya?”

Semuanya terdiam, termasuk Gilang.

Aku yakin, Diana tidak mungkin melakukan itu. Batin Gilang

Mendengar itu, Clara mengangkat wajahnya yang masih basah, air mata mengalir namun di sudut bibirnya terselip senyum licik yang sangat samar, tidak terlihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Ia berbicara dengan nada lirih dan lembut, seolah memaafkan.

“Jangan menyalahkan Bu Diana, Ayah, Ibu. Kami hanya sedang mengobrol sebentar, mungkin dia salah paham dengan perkataanku, lalu tanpa sengaja air itu tumpah ke arahku. Tidak apa-apa, aku mengerti, mungkin Bu Diana belum terbiasa berada di lingkungan keluarga besar seperti ini.”

Ucapannya terdengar sopan, namun kata-kata “Bu Diana” itu terdengar sangat menyindir dan menghina, seolah menganggap Diana hanyalah orang luar yang tidak pantas.

"Tidak sengaja apanya? Dia sudah keterlaluan!" Hardik Nyonya Anita tidak terima

Clara memegang tangan ibunya,

"Sudah, Bu. Tidak apa-apa!" Bisiknya pelan

Tetapi ...

Diana yang sejak tadi diam akhirnya membuka suaranya dengan nada yang sangat tenang dan meyakinkan.

Ia menoleh ke arah kamera di sudut ruangan, lalu berkata dengan suara yang cukup keras agar semua orang mendengar.

"Lihat itu !" Ujar Diana sambil menunjuk ke atas

“Kalian tidak perlu berspekulasi lagi. Di ruangan ini terpasang kamera pengawas. Jika kalian ingin tahu yang sebenarnya, kita bisa melihat rekamannya saja.”

Seketika itu juga,

senyum di wajah Clara langsung menghilang.

Matanya terbelalak ketakutan, pandangannya langsung melompat ke arah kamera yang ditunjuk Diana.

Tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan kini terasa lebih dingin lagi, bukan karena air, tapi karena rasa takut yang menyelimuti hatinya.

Ia baru sadar bahwa aktingnya yang sempurna itu ternyata terekam kamera.

Wajahnya menjadi pucat pasi, dan tangisannya yang semula dibuat-buat perlahan berhenti, digantikan oleh rasa panik yang semakin membuncah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!