Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Dosa
Ayah Adrian.
Dua kata itu menggantung di udara seperti vonis.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan suara angin yang masuk melalui jendela-jendela pabrik tua terasa menghilang.
Adrian berdiri mematung.
Tatapannya kosong.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa seluruh fondasi yang selama ini menopang hidupnya mulai retak.
"Apa yang baru saja kau katakan?"
Suaranya terdengar rendah.
Sangat rendah.
Namun justru karena itu, semua orang tahu betapa besar guncangan yang sedang ia rasakan.
Nadia menundukkan kepala.
Air mata kembali mengalir di wajahnya.
"Aku tidak pernah ingin mengatakan ini."
"Lalu kenapa sekarang?"
Reza menyela dengan nada sinis.
Nadia tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada Aruna.
Kepada putri sahabatnya.
Putri wanita yang gagal ia selamatkan enam belas tahun lalu.
"Karena dia berhak tahu."
Aruna menggigit bibirnya.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Semakin banyak jawaban yang muncul.
Namun anehnya, semakin banyak pula pertanyaan baru yang lahir.
"Kalau ayah Adrian memang bertemu ibu saya..."
Suara Aruna bergetar.
"...apa yang mereka bicarakan?"
Nadia memejamkan mata.
Lama.
Sangat lama.
Seolah sedang membuka kembali luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Kemudian ia berkata pelan,
"Tentang sebuah daftar."
Daftar?
Semua orang langsung menatapnya.
"Daftar apa?"
Nadia menarik napas dalam-dalam.
"Sebuah daftar nama."
"Nama siapa?"
"Kumpulan orang-orang yang terlibat dalam penggelapan dana, pencucian uang, dan pemerasan."
Jantung Adrian berdegup keras.
"Itu tidak masuk akal."
"Itu sebabnya Alya ingin mengungkap semuanya."
Nadia menatap Aruna.
"Ibumu menemukan daftar itu secara tidak sengaja."
Aruna membeku.
Tiba-tiba banyak hal mulai tersambung.
Ancaman.
Kematian.
Rahasia.
Pengawasan selama enam belas tahun.
Jika daftar itu memang ada...
Maka bukan hanya satu orang yang berkepentingan menutup mulut ibunya.
Melainkan banyak orang.
Sangat banyak.
---
"Tapi ada satu masalah."
Suara Reza terdengar dari ujung ruangan.
Senyumnya kembali muncul.
Senyum yang selalu membuat suasana semakin tidak nyaman.
Semua orang menoleh.
"Daftar itu hilang."
Ruangan kembali sunyi.
"Hilang?" tanya Aruna.
Reza mengangguk.
"Tidak pernah ditemukan."
"Lalu bagaimana kau tahu daftar itu ada?"
Tatapan Reza berubah dingin.
"Karena aku melihatnya."
Jantung Adrian langsung berdebar.
"Kau melihatnya?"
"Iya."
"Dan aku juga tahu siapa yang terakhir memegang daftar itu."
Semua orang membeku.
"Siapa?" tanya Aruna.
Namun Reza tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap Dimas.
Tatapan yang penuh makna.
Penuh tuduhan.
Penuh kebencian.
Dan itu cukup membuat dada Aruna sesak.
"Ayahku?"
Reza tertawa kecil.
"Dimas selalu menjadi orang yang paling setia pada Alya."
"Tentu saja."
"Itulah masalahnya."
Aruna mulai kehilangan kesabaran.
"Berhenti bicara berputar-putar."
"Kalau begitu dengarkan baik-baik."
Senyum Reza perlahan menghilang.
"Setelah Alya meninggal..."
Tatapannya tetap tertuju kepada Dimas.
"...daftar itu berada di tangan ayahmu."
---
"Apa?"
Aruna langsung menoleh kepada Dimas.
Wajah pria itu memucat.
Namun ia tidak membantah.
Tidak juga mengangguk.
Hanya diam.
Dan diamnya terasa sangat berat.
"Ayah."
Suara Aruna terdengar pelan.
"Apa itu benar?"
Dimas menutup matanya.
Air mata mulai muncul lagi.
Sebuah pemandangan yang membuat hati Aruna terasa semakin sakit.
Karena sepanjang hidupnya, ia hampir tidak pernah melihat ayahnya menangis.
"Iya."
Jawaban itu akhirnya keluar.
Dan dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi hening.
Aruna merasa napasnya tercekat.
Jadi benar.
Ayahnya memang mengetahui sesuatu.
Lebih banyak daripada yang selama ini ia akui.
"Kenapa Ayah tidak pernah memberitahuku?"
Dimas membuka mata.
Tatapannya penuh penyesalan.
"Karena Ayah pengecut."
Kalimat itu membuat Aruna membeku.
"Ayah takut."
Suara Dimas bergetar.
"Setelah ibumu meninggal, mereka mulai mengancam."
"Mereka mengawasimu."
"Mereka mengawasiku."
"Mereka mengawasi semua orang yang pernah dekat dengan ibumu."
Air mata mulai mengalir di pipi Aruna.
"Dan daftar itu?"
Dimas menunduk.
"Ayah menyembunyikannya."
Ruangan langsung gempar.
Bahkan beberapa anggota keamanan Adrian saling berpandangan.
Karena selama enam belas tahun...
Benda yang dicari semua orang ternyata masih ada.
---
"Di mana?"
Pertanyaan Adrian terdengar tajam.
Dimas menatapnya.
Lalu tersenyum pahit.
"Kalau aku tahu sekarang, mungkin semua ini sudah selesai sejak lama."
"Apa maksudmu?"
"Aku menyembunyikannya."
"Lalu?"
Dimas menghela napas.
"Pukulanku malam itu terlalu keras."
Semua orang mengernyit.
"Apa?"
"Seseorang menyerangku."
Tatapan Dimas menjadi jauh.
Seolah kembali ke masa lalu.
"Malam setelah pemakaman Alya."
"Aku membawa daftar itu."
"Aku ingin menyerahkannya ke polisi."
Jantung Aruna berdetak semakin cepat.
"Lalu?"
"Sebelum aku sampai..."
Suara Dimas melemah.
"...seseorang menghantam kepalaku."
Ruangan kembali sunyi.
"Aku terbangun tiga hari kemudian di rumah sakit."
"Dan daftar itu hilang."
Aruna membelalak.
Jadi selama ini...
Bahkan ayahnya tidak tahu di mana daftar tersebut berada.
---
"Tidak."
Reza tiba-tiba berbicara.
Suaranya terdengar dingin.
Semua orang menoleh.
"Kau berbohong."
Dimas langsung menatapnya.
"Aku tidak berbohong."
"Kau selalu pandai berbohong."
Reza melangkah maju.
Matanya penuh kemarahan.
"Karena kalau daftar itu benar-benar hilang..."
Suaranya mulai meninggi.
"...kenapa mereka masih mengincarmu selama enam belas tahun?"
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.
Benar.
Kalau daftar itu hilang...
Kenapa Dimas masih diawasi?
Kenapa Aruna diancam?
Kenapa semua ini terus berlanjut?
Tidak masuk akal.
Sama sekali tidak masuk akal.
Dan untuk pertama kalinya...
Aruna mulai merasakan keraguan kecil.
Bukan terhadap Adrian.
Melainkan terhadap ayahnya sendiri.
---
Dimas melihat perubahan di mata putrinya.
Dan itu terasa lebih menyakitkan daripada semua luka yang pernah ia terima.
"Aruna."
Suara pria itu melemah.
Namun Aruna tidak menjawab.
Karena sebagian dirinya takut mendengar jawaban berikutnya.
"Ayah..."
Dimas menelan ludah.
Kemudian berkata pelan,
"Ayah memang tidak tahu di mana daftar itu sekarang."
"Tapi?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Dan semua orang langsung menyadari sesuatu.
Karena Dimas tidak berkata "tidak ada tapi".
Ia justru diam.
Diam yang terlalu lama.
Diam yang penuh arti.
"Tapi apa?" tanya Adrian.
Dimas memejamkan mata.
Lalu akhirnya mengaku.
"Ayah pernah membuat salinannya."
Ruangan meledak dalam keheningan.
Aruna langsung berdiri.
"Apa?!"
Reza tertawa keras.
Tawa yang terdengar hampir gila.
"Sialan."
Tatapannya penuh kemenangan.
"Aku tahu."
"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu."
Dimas menundukkan kepala.
Penuh rasa bersalah.
"Di mana salinannya?"
Suara Adrian terdengar tegas.
Dimas tidak langsung menjawab.
Ia menatap Aruna.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian sesuatu berubah di wajahnya.
Seolah ia akhirnya membuat keputusan yang selama enam belas tahun tidak pernah berani ia ambil.
"Aku akan memberitahukannya."
Jantung Aruna langsung berdegup.
Akhirnya.
Akhirnya semuanya akan terungkap.
Namun tepat pada saat itu—
Dor!
Suara tembakan memecah udara.
Semua orang terkejut.
Tubuh Dimas langsung terdorong ke belakang.
Darah mulai menyebar di kemejanya.
Wajah Aruna langsung pucat.
"Ayah!"
Jeritannya menggema di seluruh pabrik.
Dimas jatuh dari kursi.
Sementara kekacauan langsung terjadi.
Anggota keamanan mengeluarkan senjata.
Adrian menarik Aruna ke belakangnya.
Reza membeku.
Tidak.
Bahkan Reza terlihat sama terkejutnya dengan yang lain.
Artinya...
Penembak itu bukan orangnya.
Lalu siapa?
Tembakan kedua terdengar.
Dor!
Kali ini mengenai salah satu lampu.
Ruangan langsung menjadi gelap gulita.
Jeritan terdengar di mana-mana.
Orang-orang berlari.
Kekacauan pecah sepenuhnya.
Dan di tengah kegelapan itu...
Sebuah suara terdengar dari pengeras suara tua yang entah dari mana asalnya.
Suara seorang wanita.
Tenang.
Dingin.
Dan sangat dikenal oleh Adrian.
"Sudah cukup."
Seluruh tubuh Adrian membeku.
Karena ia mengenali suara itu.
Suara yang selama ini ia dengar sejak kecil.
Suara ibunya sendiri.
Ratih Mahesa.
"Permainan ini harus berakhir malam ini."
Bersambung...