NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Maysha

Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Jejak yang Tersembunyi

Setelah pertemuan keluarga sore itu usai, Raka tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia masih duduk di bangku taman, memandang langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Kata-kata kakeknya terus berputar di pikirannya: “Semakin besar nama yang kau sandang, semakin banyak mata yang mengawasi—bukan hanya yang baik, tapi juga yang ingin melihatmu jatuh.”

Saat itu ia baru menyadari, ketenangan yang mereka rasakan selama ini bukan berarti tidak ada bahaya, melainkan bahaya itu sedang bersembunyi, menunggu celah yang tepat untuk menyerang.

Keesokan paginya, suasana di kantor pusat terasa sedikit berbeda. Sekretaris pribadi Raka datang dengan berkas laporan di tangan, wajahnya tampak bingung.

“Tuan Raka, ada hal yang aneh dari laporan kerja sama kita dengan perusahaan Surya Abadi. Mereka baru saja mengirim surat penghentian kontrak secara sepihak, padahal perjanjiannya masih berlaku selama satu tahun lagi. Alasannya terlalu singkat dan tidak jelas—hanya ditulis ‘perubahan strategi usaha’.”

Raka mengerutkan kening. Perusahaan Surya Abadi sudah menjadi mitra andalan mereka selama lebih dari lima belas tahun. Kerja sama berjalan lancar, tidak ada perselisihan, dan keuntungan kedua belah pihak selalu terjaga baik. Mengapa tiba-tiba berhenti tanpa alasan yang masuk akal?

“Apakah ada yang menghubungi kita sebelum mengirim surat ini?” tanya Raka sambil membuka lembaran surat itu.

“Tidak ada, Tuan. Bahkan saat tim penjualan kami mencoba menelepon, nomor yang biasa dihubungi justru sulit dijangkau atau dijawab dengan jawaban yang mengelak.”

Belum selesai Raka memikirkan hal itu, kabar lain datang dari kepala divisi keuangan.

“Tuan, ada selisih kecil tapi mencurigakan dalam transaksi di tiga cabang berbeda. Nilainya masing-masing tidak terlalu besar, jadi selama ini tidak terdeteksi saat pemeriksaan rutin. Tapi jika dijumlahkan, sudah mencapai lebih dari dua ratus juta rupiah dalam waktu empat bulan terakhir. Semua catatan tertulis rapi, tapi saat dicocokkan dengan bukti fisik dan laporan lapangan, ada bagian yang tidak saling nyambung.”

Raka merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ini bukan kebetulan. Dua kejadian mencurigakan muncul dalam waktu berdekatan, seolah ada satu tangan yang mengatur semuanya.

Sore harinya, ia pergi ke kediaman utama untuk berdiskusi dengan Arga dan Dika. Saat menceritakan semuanya, wajah Dika yang biasanya tenang perlahan berubah menjadi serius. Ia memegang tongkatnya erat-erat, matanya menatap ke arah taman seolah sedang membuka kenangan lama yang sudah lama ia tutup rapat.

“Sudah kuduga suatu saat ini akan terulang,” ujar Dika perlahan, suaranya terdengar berat. “Dulu, saat Arga dan Anya baru saja membangun fondasi usaha ini, ada satu pihak yang merasa dirugikan. Mereka menganggap bahwa kekayaan dan hak atas keluarga besar ini seharusnya jatuh ke tangan mereka, bukan lewat pernikahan kontrak yang dianggapnya tidak sah.”

Arga terkejut mendengarnya. “Ayah, maksud Ayah ada pihak lain yang memiliki hubungan darah dengan keluarga kita, tapi tidak mendapatkan bagian yang mereka inginkan?”

“Benar,” jawab Dika sambil mengangguk pelan. “Namun saat itu, semua sudah diselesaikan lewat jalur hukum dan kesepakatan bersama. Mereka menerima ganti rugi yang cukup besar dan berjanji tidak akan mengganggu lagi. Selama puluhan tahun mereka benar-benar menghilang, sampai aku mulai berpikir masalah itu sudah selesai untuk selamanya.”

“Tapi sekarang mereka kembali bergerak?” tanya Raka, detak jantungnya mulai terasa lebih cepat.

“Sepertinya begitu,” jawab Dika. “Mereka tidak akan menyerang secara terang-terangan. Mereka akan bekerja diam-diam, menciptakan masalah kecil demi masalah kecil, menyebarkan keraguan, memutus hubungan baik kita dengan pihak lain, sampai akhirnya kita terlihat lemah dan terpecah. Tujuannya bukan hanya mengambil keuntungan, tapi menghancurkan nama baik keluarga Wijaya dan menguasai segalanya dengan cara yang terlihat sah di mata hukum.”

Raka menghela napas panjang. “Jadi ini bukan sekadar persaingan usaha biasa. Ini adalah dendam lama yang dibawa hingga ke generasi kita.”

“Tepat sekali,” lanjut Dika. “Namun, ingat—saat ini aku belum bisa menceritakan seluruh kebenaran dan siapa dalang utamanya. Ada bagian yang masih tersembunyi, ada dokumen dan bukti yang belum lengkap. Jika kita terburu-buru menuduh atau membongkar semuanya sekarang, mereka akan semakin berhati-hati dan menyembunyikan jejak lebih rapat lagi. Kita harus sabar, mengumpulkan satu per satu petunjuk yang mereka tinggalkan.”

“Kapan semuanya akan terungkap dengan jelas, Kakek?” tanya Raka.

Dika menatapnya dengan pandangan yang penuh makna. “Semuanya akan terbongkar total saat waktunya tiba. Nanti, setelah kita melewati berbagai ujian, mengumpulkan semua potongan teka-teki yang tersebar, dan saat mereka merasa sudah menang dan mulai lengah—di saat itulah kita bisa menarik semua benang merah ini, dan kebenaran yang telah terkubur puluhan tahun itu akan terungkap seluruhnya. Kurang lebih, saat kita sudah melangkah cukup jauh, sekitar babak keseratus perjalanan ini, semuanya akan menjadi jelas tanpa ada yang tersisa.”

Penjelasan itu membuat Raka semakin waspada namun juga lebih tenang. Ia tahu, perjalanan ini tidak akan singkat, tapi setidaknya ia sudah tahu arah yang harus diambil.

Mulai keesokan harinya, Raka bekerja dengan kewaspadaan ganda. Ia memerintahkan tim audit untuk memeriksa ulang seluruh transaksi dalam dua tahun terakhir, bukan hanya yang terlihat mencurigakan, tapi semuanya secara rinci. Ia juga meminta bagian hubungan usaha untuk mencari tahu alasan sebenarnya mengapa mitra lama mereka tiba-tiba menarik diri.

Selama penyelidikan berlangsung, kejadian lain mulai muncul satu per satu. Sebuah artikel di media daring memuat tulisan yang meragukan kualitas produk Wijaya Group, meskipun tidak ada bukti konkret yang ditampilkan. Beberapa pesanan dari pelanggan baru tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Bahkan, ada laporan bahwa seseorang yang mengaku sebagai perwakilan perusahaan mereka datang ke luar kota dan menawarkan harga di bawah standar yang sudah ditetapkan—hal yang tidak pernah diizinkan oleh kebijakan perusahaan.

“Mereka berusaha mengacaukan dari segala sisi,” gumam Raka saat membaca laporan itu. “Tapi setiap kali mereka bergerak, pasti akan meninggalkan jejak. Kita hanya perlu sabar mengumpulkannya.”

Di sisi lain, di sebuah kantor mewah di pusat kota yang jarang diketahui orang, sekelompok orang sedang duduk mengelilingi meja besar. Di tengah meja terbentang peta lokasi cabang-cabang Wijaya Group, dengan tanda silang pada beberapa titik.

“Mereka mulai curiga, tapi belum tahu siapa yang melakukannya,” ujar seorang pria paruh baya dengan suara rendah dan dingin. “Lanjutkan perlahan. Jangan terlalu tergesa-gesa. Biarkan mereka bingung sendiri, mencari kesalahan yang tidak mereka temukan. Semakin lama mereka bingung, semakin banyak tenaga dan waktu yang mereka habiskan untuk hal yang tidak berguna.”

“Dan saat mereka sudah mulai lelah dan kehilangan kepercayaan dari banyak pihak, barulah kita melangkah mengambil alih semuanya,” lanjut pria itu sambil tersenyum licik. “Rahasia yang mereka sembunyikan selama ini akan menjadi senjata terakhir kita. Nanti saat semuanya terungkap, nama Wijaya tidak akan lagi dihormati, tapi akan menjadi bahan cemoohan semua orang.”

Di kediaman Wijaya, Raka merasakan bahwa angin badai sedang mulai berhembus. Ia menyadari, perjalanan ini tidak lagi hanya soal mempertahankan usaha, tapi juga soal melindungi kehormatan keluarga dan mengungkap kebenaran yang telah lama terkunci rapat. Setiap hari, ia menyusun potongan demi potongan teka-teki, meskipun gambaran lengkapnya masih samar. Ia tahu, jawaban dari semua pertanyaan ini masih jauh di depan, menanti saat yang tepat untuk terungkap sepenuhnya.

Bersambung...

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!