seorang gadis cantik yaang bernama Zaleta Zee yang tak sengaja bertemu dengan psikopat kejam bernama El Beethoven.Bagaimana kisah Meraka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eti Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
"El, Kakek Wilson sudah sampai," kata Sky memberi tahu.
"Ya, gue tahu, di mana Zee" tanya El.
" Ada di kamar sama Ken, gue pergi dulu,". El hanya mengangguk.
Tidak lama, Kakek Wilson masuk menghampiri cucunya itu.
"Apa yang terjadi, El? Sungguh, ini sangat memalukan," kata Kakek Wilson dengan nada yang tidak senang.
"Jangan mengejekku di saat begini, Kakek," jawab El dengan nada yang tegas.
"Baiklah, apa kau tahu siapa yang menyerangmu?" tanya Kakek Wilson.
"Tidak, aku tidak pernah mendapatkan serangan seperti ini," jawab El.
"Kakek telah menyelidiki, tapi belum ada petunjuk," kata Kakek Wilson, menunjukkan kekhawatirannya.
"Sepertinya ada musuh baru dan yang menjadi ancaman adalah Zee," kata Kakek Wilson dengan nada yang serius.
"Gadis itu, apa mencintainya El?" tanya Kakek Wilson lagi.
"Tidak sama sekali," jawab El dengan nada yang tegas.
"Jangan berbohong padaku, El," kata Kakek Wilson skeptis.
"Sungguh, aku tidak berbohong," jawab El dengan nada yang yakin.
"Kalau begitu, biarkan gadis itu bersama Ken, jangan ganggu hubungan mereka," saran Kakek Wilson. El tidak suka dengan saran kakeknya dan mengepalkan tangannya.
"Apa kau tidak suka dengan kakek?" tanya Kakek Wilson melihat reaksi El.
"Sudah lah, Kek, El ingin istirahat," kata El mencoba mengakhiri percakapan.
"Zee, kita pulang hari ini," kata Ken.
"Tapi bagaimana dengan Kak El?" tanya Zee. Ken merasa kesal dalam hati, "Kenapa selalu El saja yang dikhawatirkan oleh Zee?" batinnya, dia merasa cemburu tapi berusaha menahannya.
"Zee, apa kau tidak rindu dengan kakak?" tanya Ken.
Zee paham jika Ken sedang cemburu. "Kakak tidak perlu cemburu, ini adalah rasa berterima kasih Zee kepada Kak El karena telah menyelamatkan Zee," jawab Zee.
"Tapi Zee yang menjaga El sudah banyak, jadi tidak perlu berlebihan," kata Ken.
Zee berjalan lalu memeluk Ken, jantung Ken berdegup kencang karena Zee mendekat, dia bisa mendengar detak jantung Ken.
"Kenapa detak jantung kakak sangat cepat?" tanya Zee.
"Eeemm... sudahlah, cepat bersiap, kita akan pulang," jawab Ken mencoba mengalihkan perhatian.
Zee udah selesai bersiap-siap. "Ayo, kita pulang, Zee udah siap kok," kata Zee.
"Ayo," jawab Ken. Ken menggandeng Zee.
"Kita gak pamitan dulu sama Kak El?" tanya Zee.
"Tidak perlu," jawab Ken.
"Eh, kenapa gak baik kalau kayak gitu?" tanya Zee.
"Ya udah, ayo, tapi jangan lama," jawab Ken.
"Iya, bentar aja kok," kata Zee.
Mereka masuk ke ruangan El dan di sana ada Kakek Wilson. Zee menghampiri El.
"Kak El," panggil Zee.
"Hm, ada apa?" jawab El.
"Zee mau izin pulang," kata Zee.
"Gak usah, kamu tetep di sini aja," jawab El.
"Zee masih sekolah, kalau dia terus-terusan gak masuk sekolah, nilai-nya bisa turun," ucap Ken yang sedikit emosi.
Inilah alasan mengapa dia tidak mengizinkan Zee untuk berpamitan karena El pasti tidak mengizinkannya.
"Sudah lah, El, biarkan saja dia pulang, benar kata Ken," kata Kakek Wilson ikut ambil suara.
"Ya sudah, kami pamit pulang," ucap Ken lalu menarik Zee keluar.
"Eh, ta...ta...tapi," Zee masih ingin berbicara dengan El. Ken dan Zee sudah ada di dalam mobil.
"Kak, Ken, kenapa sih gak sopan tahu kakak kayak gitu di depan orang yang lebih tua?" tanya Zee.
"Ya, kakak minta maaf, kakak gak bermaksud kayak gitu," jawab Ken.
"Harusnya kakak minta maafnya sama Kakek, bukan sama Zee," kata Zee.
"Iya, nanti kakak minta maaf sama Kakek. Oh ya, ini tadi ada pesan dari Lucy," kata Ken sambil melihat ponselnya.