NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Yang Kacau

​Padahal, kenyataan yang terjadi di dalam foto itu sama sekali tidak seperti yang dipikirkan Yuna. Pertemuan malam itu hanyalah perkumpulan keluarga besar biasa—sebuah acara silaturahmi formal yang juga dihadiri oleh kerabat jauh, di mana Bu Citra kebetulan datang sebagai bagian dari lingkaran keluarga mereka. Labib bahkan tidak duduk berdampingan dengan dosen wanita itu. Pria itu datang murni karena menghormati perintah ibunya, tanpa ada niat sedikit pun untuk mengkhianati pernikahan mereka.

​Namun, rasa cemburu, minder, dan rasa bersalah yang bertumpuk di dada Yuna telah membutakan akal sehatnya. Kalimat Dinda yang menyebut mereka "serasi dan selevel" benar-benar memicu rasa sakit yang tak tertahankan di hati gadis 21 tahun itu.

​Tanpa berpikir panjang lagi, Yuna berbalik dengan cepat. Langkah kakinya terasa mengambang saat ia berjalan lurus menuju meja pojok.

​Brak!

​Yuna langsung menyambar salah satu sloki berisi cairan bening yang baru saja diletakkan oleh seorang waiter di atas meja. Sebelum ada yang sempat mencegahnya, Yuna mendongakkan kepala dan menegak habis alkohol keras itu dalam sekali tegukan.

​Rasa panas dan membakar langsung menusuk tenggorokannya, membuat Yuna terbatuk kecil dengan mata yang kian memanas karena air mata yang mendesak keluar.

​Dinda yang mengikuti Yuna dari belakang seketika melongo lebar. Matanya hampir melompat keluar melihat sahabatnya yang beberapa menit lalu menolak keras, kini justru menenggak minuman terlarang itu dengan nekat.

​"Y-Yuna?! Lo gila ya?!" pekik Dinda tertahan, memegangi kedua pundak Yuna dengan wajah panik sekaligus tidak percaya. "Lo ngapain beneran diminum, Yun?!"

​Yuna tidak menjawab. Ia hanya meletakkan kembali gelas sloki kosong itu ke meja dengan tangan gemetar. Efek pusing belum terasa, namun dadanya terasa sesak luar biasa. Rasa perih di tenggorokannya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat membayangkan Labib sedang tersenyum bersama wanita lain di luar sana, sementara dirinya di sini merasa seperti orang asing di hidup suaminya sendiri.

"Kan tadi katanya mau coba..." ucap Yuna lirih. Suaranya terdengar serak, bergetar di antara deru musik kafe yang mendadak terasa begitu memekakkan telinga.

​Ia mencoba terkekeh kecil, namun senyum di bibirnya justru terlihat begitu getir. Air mata yang sejak tadi ia tahan di pelupuk mata akhirnya lolos juga, membasahi pipinya. Yuna buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, berpura-pura bahwa matanya berair hanya karena rasa panas dari alkohol yang baru saja membakar tenggorokannya.

​Dinda semakin melongo, menatap Yuna dengan pandangan campur aduk antara syok dan cemas. Ia tahu persis bagaimana tabiat sahabatnya ini—Yuna bukan tipe gadis nekat yang akan menyentuh hal-hal seperti ini tanpa alasan.

​"Yun, lo... lo nangis?" Dinda langsung mencengkeram kedua lengan Yuna, menariknya sedikit menjauh dari meja bar agar tidak menjadi pusat perhatian teman-teman cowok sekelas mereka. "Lo kenapa sih? Gara-gara foto Pak Labib tadi? Lo ngefans berat sama dia sampai patah hati kayak gini, atau gimana?"

​Yuna hanya menggeleng pelan, tidak mampu menjawab. Kepalanya mendadak terasa sedikit pening dan berdenyut, efek instan dari cairan keras yang belum pernah menyentuh tubuhnya sama sekali.

​Dinda tidak tahu, dan tidak boleh tahu, bahwa tangisan Yuna bukan karena status Pak Labib sebagai dosen idola yang akan menikah, melainkan karena pria di dalam layar ponsel itu adalah suaminya sendiri—pria yang beberapa jam lalu berpamitan dengan nada lelah, namun kini justru duduk di antara lingkaran keluarga besar wanita lain.

Jarum jam dinding di rumah mewah itu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam saat Labib melangkah masuk melewati pintu utama. Kepalanya terasa pening setelah menghadapi berbagai tuntutan ibunya di acara makan malam tadi. Namun, helaan napas lelah pria itu seketika tertahan saat mendapati seluruh sudut lantai satu gelap gulita dan sunyi.

​Labib bergegas naik ke lantai dua, mengetuk pintu kamar Yuna, namun tidak ada jawaban. Kosong. Ketika ia mencoba menghubungi ponsel istrinya, suara operator ketus justru menjawab bahwa nomor tersebut tidak aktif. Kepanikan mulai merayapi dada sang profesor dingin.

​Di saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, Yuna sudah berada di taman samping rumah Meysa. Efek alkohol yang ia tegak tadi rupanya bekerja dengan cepat. Gadis 21 tahun itu kini terduduk di bangku taman sambil meracau dan bergurau tidak jelas. Untung saja, meski kesadarannya menurun, sisa-sisa instingnya membuat Yuna tidak membocorkan rahasia tentang status pernikahannya dengan Labib. Ia hanya tertawa-tawa kecil meratapi nasibnya yang dianggap teman-temannya sedang "patah hati karena dosen idola".

​Dinda yang mulai panik melihat kondisi sahabatnya yang semakin mengkhawatirkan segera mengambil ponsel Yuna yang ternyata mati kehabisan baterai. Beruntung, Dinda mengingat nomor kontak adik Yuna. Tanpa pikir panjang, Dinda langsung menelepon adik Yuna dan meminta tolong untuk menjemput kakaknya yang mendadak "sakit".

​Tak butuh waktu lama, adik Yuna datang menggunakan mobil. Dengan bantuan Dinda, mereka memapah Yuna masuk ke dalam kendaraan. Sang adik yang sudah tahu bahwa Yuna tinggal bersama suaminya langsung melajukan mobil membelah jalanan malam menuju kompleks perumahan Labib.

​Tin! Tin!

​Suara klakson mobil di depan pagar mengejutkan Labib yang baru saja hendak menyambar kunci mobilnya untuk mencari Yuna. Dengan langkah lebar dan cemas, Labib membuka pintu utama dan berjalan cepat menuju gerbang.

​Mata elang Labib seketika melebar saat melihat adik iparnya turun dari kursi kemudi, sementara di kursi penumpang, Yuna tampak menyandarkan kepalanya ke kaca mobil dengan mata terpejam dan pipi yang merona merah.

​"Mas Labib, maaf banget malam-malam," ucap sang adik dengan nada sungkan sekaligus tak enak hati begitu Labib membuka pagar. "Tadi temannya Kak Yuna telepon aku, katanya Kak Yuna kecapekan dan... pusing pas acara ulang tahun temannya. Jadi langsung aku antar ke sini."

​Labib tidak menjawab banyak. Aura dingin dan tegasnya mendadak menguar kuat di udara malam itu. Ia langsung membuka pintu mobil, meraih tubuh mungil istri kecilnya ke dalam gendongannya, dan menghirup aroma samar yang sangat ia kenali—namun sangat tidak ia harapkan ada pada tubuh istrinya.

​Alkohol.

​Labib mengeraskan rahangnya, menahan gejolak amarah yang mendadak membakar dadanya. "Terima kasih sudah mengantarnya pulang. Kamu langsung pulanglah, sudah malam," ucap Labib pada adik iparnya dengan suara bariton yang terdengar sangat berat dan dalam.

​Setelah mobil sang adik melesat pergi, Labib membawa Yuna masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dengan rapat, lalu menatap wajah istrinya yang masih meracau pelan di dalam dekapannya. Malam ini, ketenangan rumah mereka benar-benar berada di ambang batas.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!