Salsabila adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang hidup bersama dengan kedua orang tuanya. Salsa membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di perusahaan milik seorang CEO yang ternyata adalah mantannya sewaktu masih SMA. Salsa terkejut saat mengetahui hal tersebut dan memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Namun hal yang tidak terduga terjadi, Mantannya tersebut tidak membiarkannya memundurkan diri dari perusahaan, tapi ia juga sering menyulitkan pekerjaan Salsa. Apa sebenarnya yang di inginkan pria tersebut ? ikuti terus alur ceritanya ya gays.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 34
Dengan ekpresi gusar Salsa menunggu di dalam mobil. Rasa bosan menyerang, Salsa mencoba memainkan ponselnya untuk mengusir bosan. Beberapa saat kemudian ia kembali merasakan bosan. Sudah 30 menit lebih Edrick tak kunjung kembali.
Setelah beberapa saat ponselnya berdering dan terpampang nama ibunya.
" Halo ibu."
" Iya nak, bagaimana kabarmu di Korea apakah kamu baik baik saja?."
Suara lembut dari seberang telepon membuat senyum Salsa terukir. Ada nada khawatir di dalamnya.
"Salsa baik baik saja ibu." jawab salsa.
" Syukurlah kalau begitu. jangan lupa makan ya nak. Mama mau berangkat ke ladang dulu sama bapakmu."
" iya Bu, hati hati."
Sambungan telepon terputus, salsa menarik nafas panjang. Kemudian keheningan kembali menyerang. Tak lama salsa melihat bayangan Edrick yang berjalan keluar dari restoran dan berjalan ke arah mobil.
" Sudah lama menunggu?." ucapnya. nadanya sedikit ramah dari biasanya.
" Ya, kamu bertemu siapa?." tanya Salsa yang begitu penasaran. pasalnya ia dilarang untuk ikut.
" Rekan bisnis." jawab Edrick singkat. Ia menyalakan mesin mobil.
" Apa serahasia itu sampai aku tidak boleh ikut?."
Kini Edrick menatap Salsa yang berada di sampingnya.
" Dia gila perempuan."
Perkataan Edrick berhasil membungkam mulut salsa. Keheningan menjadi penghias dalam perjalanan. Semuanya hening, sunyi, dan tanpa basa basi lagi. Edrick fokus mengemudikan mobil sementara Salsa mulai terlelap.
" Kamu tidak perlu tahu semua hal Salsa."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kemudian terparkir indah di halaman sebuah rumah yang begitu minimalis. Dikelilingi hutan dan gunung, hanya ada rumah itu di sana.
Pemandangan gunung yang indah semakin memanjakan mata.
" Bangun, kita sudah sampai." Edrick keluar dari mobil setelah membangunkan Salsa.
Salsa menggeliat dan terbangun. Udara dingin menusuk hingga ketulangnya.
"Ini dimana?." Salsa meregangkan otot otot tubuhnya. Tidak ada sahutan dan ternyata Edrick sudah pergi.
Ia melihat Edrick sudah tidak ada di sana. Pintu rumah terbuka dan salsa memutuskan untuk masuk. Didalam sana begitu indah. Salsa berjalan ke arah jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan pantai yang menakjubkan.
Salsa melirik sekeliling dan tidak mendapati Edrick di sana. " Apa dia ke kamar?." gumam Salsa. Ia tidak mau terlalu memperdulikannya dan memutuskan untuk duduk sambil menikmati pemandangan indah di depan matanya.
.
.
Kini becca sedang berada di ambang pintu, matanya sembab, hatinya sedih. Ia membujuk Justin untuk tidak pergi. Becca merasa ketakutan sendirian di villa itu. Apalagi selama beberapa hari ini hanya ada dirinya dan Justin.
Justin tersenyum dan membelai rambut Becca. " Aku akan kembali, ini hanya sebentar sabar ya." Justin berkata dengan nada lembut. Justin akan ke kota untuk beberapa hari karena ada pekerjaan yang mengharuskannya pergi.
Becca manyun, kemudian ia memainkan jarinya di dada Justin.
" Apa kamu tega meninggalkan aku sendirian?."
"Kamu tidak sendirian becca, sebentar lagi seseorang akan datang untuk menemani mu. Aku akan menunggu sampai dia datang."
Becca menatap Justin. "Benarkah, siapa dia. Kamu bilang hanya kamu yang tahu tempat ini." Ucap Becca heran dan penuh tanya.
Justin hanya tersenyum, " Tempat ini hanya milikku dan hanya aku yang tahu. Tapi aku tidak sanggup mengurus dan membersihkan tempat ini sendirian. Jadi aku menyuruh orang untuk datang ke villa ini selama satu Minggu sekali. Mereka sudah di bayar dan pasti akan tutup mulut. Jika mereka buka suara, konsekuensinya akan sangat berat." Justin menjelaskan semuanya.
Becca mengangguk tanda mengerti. " tapi mereka hanya tinggal di siang hari, lalu di malam hari bagaimana?." Tanya Becca.
" Namanya lady, dia akan tinggal bersamamu selama aku tidak di sini. Saat aku pulang dia akan pergi."
Becca terdiam, ia mulai paham semuanya.
Suara deru mobil terdengar, becca mengalihkan pandangannya ke arah mobil yang terparkir indah di halaman. Dari dalam sana keluar seorang wanita yang seumuran dengannya sambil mengenakan kain penutup mata.
Becca merasa heran, " Apa dia Lady?." Becca menatap Justin.
" Ya, dia yang akan menemanimu." Ucap Justin.
"Tapi matanya,, mengapa di tutup?." Tanya Becca.
" Dia buta."
Becca membulatkan matanya tidak percaya mendengar ucapan Justin. Bagaimana bisa Justin mempercayai seseorang yang tidak bisa melihat untuk menemaninya.
" Jangan bercanda Justin, tidak lucu."
Justin hanya diam. Becca semakin dibuat tercengang saat wanita itu berjalan dengan mantap dan berhenti tepat dihadapan keduanya. "Apa dia benar benar buta.?." Gumam becca dalam hati.
" Tuan Justin, saya sudah datang. Saya siap melayani kekasih anda." Ucap wanita itu dengan gaya bicara formal.
" Ya, saya harap kamu bisa melakukan yang terbaik." Justin menatap ke arah Becca dan mencium kening wanita itu.
"Aku tidak akan lama." Ucapnya. Kemudian justin meraih tas nya dan berjalan menuju garasi. Tak lama kemudian mobilnya terlihat keluar dan sebelum benar benar pergi ia membunyikan klakson dan melambai ke arah Becca. Lambaian itu di balas Becca, raut wajah Becca terlihat kebingungan.
.
.
Imanuel tiba di Indonesia, ia di jemput oleh supir keluarga. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mendatangi negara kelahirannya.
Selama di perjalanan Imanuel masih mengingat wanita yang di tabraknya kemarin. Wanita itu sangat berbeda. Pasalnya setiap wanita yang bertemu dengannya pasti akan mencari perhatian dan mengejar ngejar dirinya. Tapi wanita itu berbeda.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di kediaman suiser. Biasanya ibunya dan kakaknya akan menyambut kedatangannya di halaman. Tapi sekarang kosong. Imanuel memutuskan untuk masuk. Di dalam rumah ia mendapati ibunya sedang duduk di ruang tamu. Mendengar kedatangannya ibunya langsung bangkit dan memeluknya.
"Syukurlah nak kamu sudah tiba." Ucap Sonia.
Imanuel menggenggam tangan ibunya " ma, aku pasti akan menemukan kakak." Ucapnya.
Sonia mengangguk dan tersenyum senang. Kemudian ia menuntun Imanuel untuk makan.
" Temukan wanita itu dan bawa dia ke hadapanku."
Suara berat dan ditekan itu mampu menghentikan aktivitas Imanuel. Ia menoleh ke arah suara. Ayahnya sedang berdiri di anak tangga terakhir. Ia berjalan ke arah meja makan. Mendengar ucapan ayahnya, Imanuel mengepalkan tangan.
" Namanya Becca suiser, dia kakakku. Aku pasti akan menemukan kakakku." Imanuel berkata tanpa sedikitpun berekpresi. Sonia menatap keduanya secara bergantian.
" Terserah kamu mau menganggap wanita itu apa. Tapi yang jelas dia sudah mempermalukan papa dan menghancurkan semua rencana papa."
" Jangan terlalu memaksakan kehendak. Mungkin ini balasan karena papa terlalu egois."
Kevin merasa kesal dengan Imanuel yang semakin berani menentangnya. Namun ia sedang tidak ingin bertengkar dengan anaknya. Ia memutuskan untuk mengakhiri percakapan.
" Sampai kapanpun seorang pelayan tidak akan bisa menjadi tuan rumah." Kevin berlalu meninggalkan ruang makan itu. Sementara Imanuel memukul tangannya keras di atas meja makan. Selera makannya hilang.
Ia merasa tidak adil, becca selalu dianggap orang asing di rumah ini. " Kak, aku akan menemukanmu dan memastikan kamu baik baik saja." Gumamnya dalam hati.
sukses dan sehat selalu utk kak authornya
tapi kadang hidup memang spt itu
ya sudahlah anggap saja kesempatan utk edrick sudah habis
udah part 80an belum bisa menebak endingnya
kadang kalo pemeran prianya udah terlalu nyakitin aku lebih suka sad ending 🤭🤭🤭
kenapa semua CEO otaknya ga sat set sih