NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Siasat & Topeng

Hari itu,

Guru melangkah masuk ke kelas XI TKJ 1 membawa seseorang yang tampak asing, "Mohon perhatian semuanya. Hari ini kita kedatangan siswa baru. Silakan masuk, anak muda."

​Seisi kelas mulai tenang.

​"Namanya Hartono Naru. Murid pindahan dari Jepang. Jadi, Pak Guru harap kalian bisa menjadi teman yang baik untuknya, ya," lanjut sang guru memperkenalkan.

Naru membungkuk sopan dengan senyum ramah yang tampak formal, ​"Hajimemashite, Mina-san. Korekara yoi tomodachi ni nareru to ureshii desu. Yoroshiku onegaishimasu."

"Waaa, soo lovely!" sorak para siswi.

​"Cuih, norak banget, nama aja Hartono," cibir Dilan dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Jangan sok jepang lo! Palingan anak akamsi yang sok-sokan ngetren. Kalo berani sini hadapi gue dengan bahasa Indonesia!"

"Dilan, jaga ucapanmu! Masih kurang hukuman dari BK, hah? Masih untung Kepala Sekolah tidak memanggilmu, jadi perbaiki dirimu" tegur guru.

"Iya iya," dengus Dilan masih belum kapok.

​Naru tidak membalas cibiran itu dengan kata-kata. Ia mulai melangkah melewati barisan meja untuk menuju ke bangku Dilan.

Semakin langkah mahasiswa yang menyamar menjadi cowok sekolah itu mendekat, Dilan mendadak merasakan aura intimidasi yang sangat pekat dan mencekam. Postur tubuh Naru yang tegap, tinggi, dan matang (terlalu tegap untuk ukuran anak SMK pada umumnya) seketika membuat nyali Dilan menciut tipis.

​Dilan mencoba memasang wajah sangar demi menutupi rasa gugupnya. "Apa?" tantangnya ketus saat Naru berhenti tepat di samping mejanya.

​Naru menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Dilan dengan binar yang mendadak berubah sedingin es.

​"Salam kenal, Dilan Langit Diantoro," senyumnya kelewat ramah. Kemudian, ia mengulurkan tangan kanannya yang kekar ke hadapan Dilan, melempar senyum tipis yang terasa begitu misterius sekaligus penuh tekanan.

​"Maukah kamu menjadi sahabatku?"

​"Jangan sok akrab lo--"

​Tak ingin mendapatkan penolakan, Naru meraih paksa tangan Dilan yang tak bergerak dibalik saku celana, menariknya lalu menggoyang-goyangkannya dengan cengkeraman erat.

​"Kita teman," potongnya tenang, memutus kalimat Dilan tanpa memberi celah. "Dan untuk merayakan pertemanan kita, gue traktir lo di kantin nanti. Se-PUAS LO."

​Mendengar kata 'traktir sepuasnya', ego Dilan yang tadinya meninggi langsung mengempis. Sudut bibirnya terangkat, berganti dengan seringai jemawa yang biasa ia tunjukkan.

"Boleh juga lo," sahutnya, merasa di atas angin karena mengira murid baru ini sedang berusaha menjilatnya.

​Naru kembali tersenyum.

Sebuah senyuman yang kelewat manis, namun tersimpan sejuta misteri dan teka-teki di balik binar matanya yang sedingin es. Dilan tidak pernah tahu, bahwa tawaran kantin itu adalah umpan pertama yang siap menjebaknya hidup-hidup.

Hartono Naru ...

Menggunakan nama ayahnya karena dia ingin menyembunyikan identitasnya sebagai putra kepala sekolah. ​Begitu mengantongi izin dari sang kakek, Naru tanpa pikir panjang langsung melakukan penerbangan kembali ke Indonesia dan menyusun rencana secepat mungkin.

Kepulangan yang mendadak itu tentu saja disambut hangat oleh sang ibu yang sudah sangat merindukan putranya. ​Janji Maya untuk menyiapkan seragam baru baginya akhirnya terpenuhi.

Namun, yang membuat Maya heran adalah keputusan Naru. Awalnya, ia sempat menggoda putranya habis-habisan karena tahu Naru rela melepas status mahasiswanya dan menyamar jadi anak sekolah lagi demi mengejar cewek bernama Nuha.

Tapi, begitu tahu pilihan jurusan Naru, Maya malah dibuat syok karena putranya itu justru memilih masuk ke kelas Teknik Komputer Jaringan ketimbang kelas Multimedia.

​Keputusan itu bukan tanpa alasan.

Naru terikat sumpah di bawah kendali mutlak kakeknya, yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan masa depannya. Karena tidak ingin terjerat terlalu dalam oleh perasaan yang sering membuat jantungnya berdegup tidak karuan, Naru sengaja memilih kelas TKJ demi mengamankan hatinya. Menjaga jarak dari Nuha dirasanya adalah pilihan paling aman untuk saat ini.

​Lagi pula, menyusup ke kelas TKJ mendatangkan keuntungan lain. Dengan berada di satu kelas yang sama dengan Dilan, Naru bisa jauh lebih leluasa mengawasi gerak-gerik cowok norak itu, sekaligus melancarkan agenda pembalasan tersembunyi yang sudah ia susun rapi sejak awal.

Treeengg!!

​Jam istirahat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sesuai janjinya, Naru membawa Dilan beserta Dika dan Bagas ke kantin untuk mentraktir mereka sepuasnya.

​Atmosfer kantin mendadak berubah bising begitu rombongan mereka menapakkan kaki di sana. Tak disangka, kehadiran Dilan langsung disambut dengan tatapan sinis dan hujatan yang saling bersahutan dari para penghuni kantin.

​"Eh, masih berani menampakkan diri."

​"Iya, gue pikir karena nggak kuat menahan malu, dia bakal milih meratapi nasib atau menghilang entah ke mana. Mentalnya kuat juga."

​Dilan yang gerah mendengar kasak-kusuk itu langsung mencoba membela diri. "Kalian ini nggak usah berlebihan bisa nggak, sih?! Kalian tahu sendiri kan gue aslinya orangnya gimana," ujarnya lantang, masih mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh dengan membenahi kerah seragam dan menyisir rambut platinum blonde-nya menggunakan jemari.

​"Cih, najis! Baik hati tapi ada maunya, palingan cuma demi mendongkrak popularitas doang!" cibir seorang siswa dari meja pojok.

​"Emang salah?!" Dilan mulai naik pitam, matanya mendelik tajam ke arah kerumunan. "Sadar dirilah kalian semua! Gue udah sering bantu kalian ngerjain tugas di perpus, bahkan sering traktir kalian makan di sini. Mana balas budi kalian, hah?!"

​"Bodo amat!"

​Di tengah ketegangan yang hampir membuat Dilan mengamuk, Naru melangkah maju dengan pembawaan yang kelewat tenang. Ia meletakkan nampan berisi penuh makanan dan minuman mahal di atas meja Dilan, lalu berbalik menghadap murid-murid kantin dengan senyum yang terkesan sangat tulus dan rendah hati.

​"Teman-teman, tolong maafkan Dilan," ujar Naru, suaranya yang bariton terdengar menyejukkan sekaligus mematikan obrolan kantin dalam sekejap.

"Dia mungkin sedang tertekan akhir-akhir ini karena masalah pemilu kemarin. Sebagai sahabat barunya, saya mohon jangan memperpanjang masalah ini lagi, ya? Biar bagaimanapun, Dilan tetap teman satu sekolah kita."

Dilan hanya mengangkat satu alis tanpa curiga. "Gimana dia bisa tahu? Ah sudahlah. Oke juga dia bisa belain gue," smirk-nya.

​Kata-kata Naru yang begitu bijak dan sarat pembelaan itu justru memberikan efek bumerang yang luar biasa. Di mata penghuni kantin, Naru mendadak terlihat seperti malaikat penolong yang berjiwa besar, sementara Dilan yang dibela seperti anak kecil tak berdaya langsung terlihat makin menyedihkan dan tidak punya harga diri.

​"Wah, murid baru ya? Baik banget. Padahal baru kenal tapi udah mau belain Dilan."

"Noh, ngaca lu Dilan. Instrospeksi diri!"

​"Beda kelas banget emang wibawanya sama Dilan yang hobi pamer uang. Gue sih kalo jadi dia, ogah deh bela-belain cowok yang nggak punya malu."

​Dilan yang duduk jumawa seketika mematung dengan mulut terkatup rapat. Ia ingin marah dan menolak pembelaan itu, namun ia mendadak mati kutu tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa disadarinya, posisi dominannya kini telah bergeser sepenuhnya ke tangan Naru.

​"Bos, emang nggak salah deh dia ngajakin lo temenan," ujar Dika setengah berbisik setelah suasana kantin agak mereda. "Kita bisa pakai dia sebagai backing-an, biar lo nggak tambah parah jadi korban hujatan satu sekolah."

​"Diam lo, Dika," desis Dilan dengan rahang mengeras, menahan malu karena harus berlindung di balik punggung murid baru.

​Dika garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Salah lagi ya, gue?" gumamnya heran.

________

​Hari studi banding yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Empat bus pariwisata berukuran besar sudah terparkir rapi di halaman sekolah, siap menampung dua kelas TKJ dan dua kelas Multimedia untuk berangkat menuju perusahaan tujuan.

​Di sisi halaman terbuka, Nuha tampak sibuk berjinjit di depan mading. Di tengah kerumunan murid yang berdesakan, ia berusaha memanfaatkan celah sekecil apa pun demi bisa membaca lembar pembagian kursi bus yang ditempel di sana.

​"Bodohnya ... Kenapa juga harus repot-repot baca berkas di mading, kalau di kaca busnya saja sudah ditempeli nama kelas masing-masing?" seloroh sebuah suara bariton yang mendadak terdengar familier di dekat telinganya.

​Nuha tersentak.

.

.

. Next》Bab 18. Jumpa kapan2 👋

1
Filan
gimana mau cerita kalau dia tidur?
Filan
Harusnya Naru ngambil hati Muha bukan mengobarkan perang. Dasar bocah!
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!