NovelToon NovelToon
The Stellar Blood Swordmaster'S

The Stellar Blood Swordmaster'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: EAGLE EZ

Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.

​Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.perbatasan

Perjalanan menuju Perbatasan Barat memakan waktu lima hari. Semakin jauh rombongan melangkah dari ibu kota, pemandangan kota yang megah perlahan digantikan oleh tanah gersang, pohon-pohon mati yang meranggas, dan langit yang selalu diselimuti awan kelabu.

Wilayah Reruntuhan kuno *Gorgona*—tujuan utama mereka—adalah zona mati yang berbahaya.

Rombongan ekspedisi mendirikan tenda militer di sebuah lembah berbatu yang dikelilingi tebing terjal. Malam itu, hawa dingin menusuk tulang, namun ketegangan di dalam kamp jauh lebih dingin.

"Semua murid tingkat satu, berkumpul!" teriak Garreth, senior yang rahangnya sempat dihantam Ren dua hari lalu. Kini ia bertindak sebagai tangan kanan Julian di lapangan.

Ren melangkah keluar dari tendanya dengan santai, tangan kanannya berada di dalam saku jubah, menyentuh tato Crimson yang terasa berdenyut hangat. Di tengah kamp, Julian van Asche berdiri bersama lima ksatria Ordo Perak berpangkat rendah yang ditugaskan sebagai pengawal pribadinya.

"Ren," Julian memanggil dengan nada meremehkan, sebuah senyuman licik terukir di wajahnya. "Komandan Kaelen memberikan perintah khusus. Unit murid harus membersihkan area gua di sebelah timur lembah dari sarang *Blood Spider* sebelum pasukan utama bergerak besok pagi. Dan sebagai murid dengan nilai tertinggi... kau terpilih untuk memimpin barisan paling depan."

Ren melirik ke arah gua gelap yang dimaksud. Bau anyir monster tercium kuat dari sana, tapi ada sesuatu yang lain—bau energi Mana buatan yang sengaja dipasang untuk memancing monster keluar.

Cerdas seperti biasa, Ren langsung tahu ini adalah jebakan. Julian dan ksatria Ordo Perak itu berniat membiarkan Ren mati dikeroyok monster, lalu melaporkannya sebagai kecelakaan misi.

**"Hahaha! Bocah, mereka benar-benar ingin menyuap maut,"** Crimson tertawa geli di kepala Ren. **"Gua yang gelap? Tanpa sinar matahari? Itu adalah taman bermain terbaik untuk rasmu!"**

*'Tentu saja,'* batin Ren. Seringai tipis penuh bahaya terukir di wajah tampannya. Ia menatap Julian dengan tatapan datar yang membuat sang bangsawan merinding sesaat.

"Baiklah. Aku akan pergi," jawab Ren tenang. Ia berbalik dan berjalan sendirian menuju kegelapan gua tanpa rasa takut sedikit pun.

"Mati saja kau, sampah," umpat Julian pelan, mengisyaratkan dua ksatria Ordo Perak di sampingnya untuk mengikuti Ren dari belakang guna memastikan anak itu tidak kembali dalam keadaan hidup.

### Pembantaian di Dalam Kegelapan

Di dalam gua, kegelapan total langsung menyambut. Bagi manusia biasa, tempat ini adalah mimpi buruk. Namun bagi Ren, penglihatan vampirnya membuat seluruh sudut gua terlihat sejelas siang hari.

*Sreeek... Sreeek...*

Belasan *Blood Spider*—monster laba-laba raksasa dengan delapan mata merah dan kaki setajam tombak—mulai merayap turun dari langit-langit gua, mengincar aroma tubuh Ren.

Di belakang Ren, dua ksatria Ordo Perak yang mengikutinya diam-diam langsung menghunus pedang mereka, bukan untuk membantu Ren, melainkan bersiap menusuk punggung pemuda itu saat ia lengah diserang monster.

"Sekarang! Habisi dia bersama monster-monster itu!" teriak salah satu ksatria sambil melesat maju.

Namun, sebelum pedang perak itu menyentuh jubah Ren, tubuh Ren sudah menghilang.

*WUUUSH!*

Menggunakan *Blood Circulation* tingkat penuh di tempat yang bebas dari matahari, kecepatan fisik Ren meningkat berkali-kali lipat. Ia muncul tepat di antara kedua ksatria itu.

*SRAAAKK!*

Tato di lengan bawah Ren bersinar merah terang. Pedang kuno Crimson bermanifestasi secara instan di tangan kanannya. Bilah pedang itu melepaskan aura merah darah yang pekat dan bergetar hebat. Dengan satu tebakan horizontal yang melingkar, Ren memotong kedua ksatria Ordo Perak itu beserta tiga ekor laba-laba raksasa di sekitarnya dalam satu gerakan mutlak.

*CRASH!*

Zirah perak yang dibanggakan itu terbelah menjadi dua. Darah segar menyembur ke udara, mengaliri bilah pedang Crimson yang langsung melahapnya dengan rakus.

**"Ahhhh! Ini dia! Darah ksatria yang murni! Sangat nikmat!"** Crimson berseru puas, mengirimkan energi kehidupan yang masif ke dalam inti jantung Ren.

Ren berdiri di tengah genangan darah, jubah hitamnya berkibar ringan. Sepasang matanya kini menyala merah darah seutuhnya, memancarkan aura predator yang membuat sisa laba-laba di dalam gua membeku ketakutan. Monster-monster itu menyadari bahwa makhluk di depan mereka bukanlah mangsa, melainkan monster yang jauh lebih tinggi di rantai makanan.

"Selanjutnya..." Ren memutar pedang Crimson, menatap ke arah pintu keluar gua dengan *smug* dingin yang mematikan. "Mari kita bersihkan sisa anjing peliharaan Julian di luar."

### Kejutan untuk Sang Bangsawan

Di luar gua, Julian dan Garreth sedang menunggu dengan cemas. Sudah sepuluh menit berlalu, dan suara pertempuran di dalam gua mendadak sunyi.

"Apakah mereka sudah berhasil menghabisinya?" tanya Julian sambil memperbaiki sarung tangannya.

"Pasti, Tuan Julian. Dua ksatria Ordo Perak tidak akan mungkin gagal membunuh satu warga biasa—"

Kalimat Garreth terhenti.

Dari dalam kegelapan gua, sebuah langkah kaki yang santai terdengar menggema. Sesosok pemuda berjalan keluar menembus kabut malam. Jubah hitamnya sedikit basah oleh cairan merah, dan di tangan kanannya, ia menyeret dua pelindung dada zirah perak milik ksatria pengawal Julian yang kini telah hancur dan berlumuran darah.

Ren melempar dua potongan zirah itu ke tanah, tepat di depan kaki Julian yang gemetaran.

"Maaf membuatmu menunggu, Julian," ucap Ren dengan nada suara yang teramat tenang namun sarat akan tekanan mental yang mencekik. Satu mata crimson-nya berkilat di balik poni rambut perak abu-abunya. "Ksatria pilihanmu... ternyata terlalu lemah untuk dijadikan umpan laba-laba."

Wajah Julian mendadak pucat pasi, matanya terbelalak menatap zirah pengawalnya. "K-Kau... bagaimana mungkin?!"

Tepat saat Julian ingin berteriak memanggil pasukan utama, sesosok bayangan melompat turun dari atas tebing. Itu adalah Lyra. Gadis itu mendarat di samping Ren dengan ekspresi serius.

"Ren, gawat," bisik Lyra cepat, mengabaikan Julian yang sedang syok. "Kaelen Vance baru saja bergerak bersama pasukan elitnya menuju ruang altar terdalam di reruntuhan barat. Dia sudah menemukan artefak darahnya. Kita harus bergerak sekarang sebelum dia menyerap kekuatannya!"

Ren melirik Julian dan Garreth sesaat, lalu tersenyum dingin. "Urusan kita ditunda dulu, Tuan Bangsawan. Nyawa tuanmu jauh lebih berharga untuk kuambil malam ini."

Dengan satu sentakan kaki, Ren dan Lyra melesat cepat menembus kegelapan malam menuju jantung reruntuhan kuno, meninggalkan Julian yang terduduk lemas di atas tanah yang dingin.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Coba bikin yang murim 👍🏻
EAGLE EZ: oke untuk bab pertama dulu bree kalo ingin di tambah mohon bantu juga bree👍
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!