Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 warisan
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Nadia berusaha kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia mulai mengurus berbagai dokumen pengunduran diri, mempersiapkan kepindahannya ke Surabaya, dan menyelesaikan urusan-urusan kecil yang selama ini tertunda. Namun entah sejak kapan, keberadaan Revano mulai sering muncul dalam hari-harinya.
Kadang pria itu datang hanya untuk mengantarkan makanan karena khawatir Nadia kembali melewatkan waktu makan. Di lain waktu ia membantu mengurus beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan atau proses administrasi yang cukup rumit. Bahkan pernah suatu sore Revano muncul di rumah Vania hanya untuk menyerahkan vitamin yang menurut dokternya baik untuk ibu hamil.
Semua itu membuat Nadia tidak nyaman sekaligus bingung.
Bukan karena Revano melakukan sesuatu yang salah.
Justru karena pria itu terlalu baik.
"Pak Revano, saya bisa mengurus semuanya sendiri."
ucap Nadia suatu hari saat menerima map dokumen dari tangan pria tersebut.
Revano hanya tersenyum tipis.
"Saya tahu."
jawabnya tenang.
"Lalu apa masalahnya kalau saya membantu sedikit?"
Nadia langsung kehilangan jawaban.
Karena setiap kali ia berusaha menjaga jarak, Revano selalu memiliki cara untuk membuat bantuannya terdengar masuk akal.
Tidak berlebihan.
Tidak memaksa.
Namun tetap sulit ditolak.
Dari kejauhan, Vania yang memperhatikan mereka hanya bisa menggelengkan kepala sambil menahan senyum.
Sebagai sahabat Nadia, ia cukup peka melihat perubahan kecil yang terjadi.
Setidaknya berbeda dengan Adrian yang dulu sering membuat Nadia berjuang sendirian, Revano justru hadir bahkan sebelum diminta.
Namun Nadia belum memiliki ruang di hatinya untuk memikirkan hal-hal semacam itu.
Lukanya masih terlalu segar.
Terlalu banyak yang harus ia tinggalkan.
Dan sebentar lagi ia akan kembali ke Surabaya.
Sore itu saat sedang membereskan beberapa pakaian ke dalam koper besar di kamar tamu rumah Vania, ponselnya tiba-tiba berdering.
Nama yang muncul membuat Nadia sedikit terkejut.
Anna.
Nadia segera menerima panggilan tersebut.
"Halo, Anna."
Di seberang sana terdengar suara Anna yang sedikit terburu-buru.
"Kak Nadia."
panggilnya.
"Ayah ingin bertemu Kakak."
Tangan Nadia yang sedang melipat pakaian langsung berhenti.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Selama ini ia memang masih memikirkan ayah mantan mertuanya.
Pria yang selalu membelanya sejak awal hubungan dengan Adrian.
Pria yang memperlakukannya seperti anak sendiri ketika banyak orang meragukan keberadaannya di keluarga Mahendra.
"Keadaan Ayah bagaimana?"
tanya Nadia pelan.
"Sudah jauh lebih baik."
jawab Anna.
"Dan sejak sadar penuh, Ayah beberapa kali menanyakan Kakak."
Suara Anna mulai melemah.
"Ayah juga tahu Kakak akan pindah ke Surabaya."
Nadia menundukkan kepala perlahan.
Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
"Aku akan datang."
jawabnya akhirnya.
Setelah panggilan berakhir, Nadia duduk diam cukup lama di tepi ranjang.
Pikirannya melayang pada begitu banyak kenangan.
Pada makan malam keluarga yang pernah mereka lalui bersama.
Pada dukungan diam-diam yang selalu diberikan ayah mertuanya saat dirinya berjuang mendapatkan pengakuan.
Pada semua hal yang kini hanya tersisa sebagai masa lalu.
Mungkin ini memang waktunya.
Bukan hanya untuk menjenguk beliau.
Tetapi juga untuk mengucapkan perpisahan dengan baik.
Karena setelah kembali ke Surabaya, kemungkinan mereka tidak akan sering bertemu lagi.
Di ruang tamu, Vania yang melihat Nadia keluar dengan mata sedikit memerah langsung memahami bahwa sesuatu sedang terjadi.
"Ada apa?"
tanyanya pelan.
Nadia tersenyum kecil.
Senyum yang dipenuhi perasaan campur aduk.
"Ayah mantan mertuaku ingin bertemu."
Vania terdiam sesaat.
Lalu mengangguk pelan.
Ia tahu seberapa dekat hubungan Nadia dengan pria tersebut.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah mengambil keputusan meninggalkan kota ini, Nadia merasakan sesuatu yang berat di dalam hatinya.
Karena ternyata mengucapkan selamat tinggal jauh lebih sulit daripada sekadar mengemas barang-barang ke dalam koper.
Ada orang-orang yang pernah menjadi keluarga.
Ada kenangan yang pernah menjadi rumah.
Dan ada perasaan kehilangan yang tidak akan pernah benar-benar hilang, meskipun ia sudah pergi sejauh apa pun dari kota ini.
Keesokan harinya Revano datang lebih awal dari biasanya ke rumah Vania. Nadia yang sudah bersiap sejak pagi sebenarnya tidak berniat merepotkan siapa pun, tetapi seperti biasa, pria itu muncul dengan alasan yang sulit dibantah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Mahendra, suasana di dalam mobil terasa tenang. Nadia lebih banyak memandangi jalanan di luar jendela, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan mengenai pertemuan yang akan segera terjadi.
Ia tidak tahu apakah dirinya siap menghadapi semuanya.
Melihat keluarga yang dulu menjadi keluarganya.
Melihat Adrian.
Dan mungkin juga melihat Bianca.
Saat mobil berhenti di depan rumah besar keluarga Mahendra, Nadia menarik napas panjang.
Tangannya tanpa sadar menggenggam tas yang berada di pangkuannya.
Revano memperhatikannya beberapa saat sebelum berbicara.
"Apapun yang terjadi di dalam nanti, tetap kuat."
ucapnya tenang.
"Tidak semua hal harus ditanggung sendirian."
Nadia tersenyum tipis.
"Terima kasih."
"Aku akan menunggu di sini."
lanjut Revano.
Nadia langsung menggeleng.
"Tidak perlu."
Namun Revano hanya tersenyum.
"Aku tetap menunggu."
jawabnya singkat.
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk perdebatan lebih lanjut.
Akhirnya Nadia turun dari mobil dan melangkah memasuki rumah yang pernah dianggapnya sebagai rumah kedua selama bertahun-tahun.
Begitu memasuki ruang keluarga, langkahnya perlahan terhenti.
Semua orang sudah berada di sana.
Ibu mantan mertuanya.
Anna.
Adrian.
Dan Bianca.
Pandangan Nadia tanpa sadar jatuh ke arah Bianca yang duduk di samping Adrian.
Perut wanita itu memang belum terlalu terlihat, tetapi berita mengenai kehamilannya membuat Nadia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Sementara dirinya sendiri masih menyimpan rahasia yang hanya diketahui beberapa orang.
Ia sedang mengandung dua bulan.
Sedangkan Bianca sudah memasuki bulan ketiga.
Meski hatinya kembali terasa nyeri, Nadia tetap mempertahankan ekspresi tenang di wajahnya.
Ia tidak ingin menunjukkan kelemahan di hadapan siapa pun.
Di kursi utama, mantan ayah mertuanya terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Nadia melihatnya.
Namun tatapannya tetap hangat saat memandang wanita tersebut.
"Nadia."
ucapnya pelan.
Mata Nadia langsung memanas.
Ia segera menghampiri pria itu dan menundukkan kepala hormat.
"Bagaimana keadaan Ayah?"
tanyanya.
Pria itu tersenyum tipis.
"Lebih baik setelah melihatmu datang."
jawabnya.
Kalimat sederhana itu membuat suasana ruangan mendadak menjadi hening.
Karena semua orang tahu bahwa hubungan mereka sebenarnya telah berakhir secara hukum.
Namun kasih sayang yang pernah terjalin tidak bisa hilang begitu saja.
Setelah beberapa percakapan singkat, mantan ayah mertuanya akhirnya meminta semua orang duduk.
Wajahnya perlahan berubah serius.
"Aku memanggil kalian hari ini karena ada keputusan yang ingin kusampaikan."
ucapnya.
Semua orang langsung memperhatikan.
Bahkan Adrian yang sejak tadi diam mulai menegakkan tubuhnya.
Pria itu kemudian mengeluarkan beberapa dokumen yang telah disiapkan sebelumnya.
Dokumen mengenai pembagian aset dan warisan keluarga.
"Aku sudah memutuskan pembagiannya."
ucapnya tegas.
Suasana ruangan menjadi semakin sunyi.
"Empat puluh satu persen akan diberikan kepada cucuku dari Nadia."
Semua orang langsung membeku.
Nadia terkejut.
Tangannya refleks menegang.
Sementara Anna menatap ayahnya dengan mata membesar.
Pria itu melanjutkan tanpa ragu.
"Tiga puluh persen untuk Adrian beserta keluarganya di masa depan."
"Termasuk anak yang sedang dikandung Bianca."
Wajah Bianca langsung berubah.
Ia tidak menyangka namanya akan disebut secara langsung.
"Dua puluh persen untuk Anna."
"Lalu sembilan persen untuk ibumu."
Setelah kalimat itu selesai, ruangan langsung dipenuhi keheningan yang berat.
Orang pertama yang bereaksi adalah Adrian.
Wajahnya langsung berubah tidak percaya.
"Ayah serius?"
tanyanya.
Nada suaranya terdengar lebih keras dari yang ia inginkan.
"Kenapa anak Nadia mendapat bagian terbesar?"
Kalimat itu membuat suasana semakin tegang.
Mantan ayah mertuanya menatap Adrian lama.
Tatapan yang membuat pria itu perlahan menundukkan kepala.
"Karena itu keputusanku."
jawabnya singkat.
"Ayah..."
"Aku belum selesai."
potong pria tersebut.
Suara yang lemah karena usia dan kondisi kesehatan itu tetap memiliki wibawa yang membuat seluruh ruangan kembali diam.
Ia kemudian menatap Adrian dengan penuh kekecewaan.
"Kamu kehilangan istri yang selama ini menjaga keluarga ini."
ucapnya.
"Kamu kehilangan rumah tangga yang seharusnya kamu pertahankan."
"Aku tidak bisa mengubah masa lalu."
Wajah Adrian perlahan memucat.
"Dan aku tidak sedang menghukum siapa pun."
lanjutnya.
"Aku hanya membagi hartaku kepada orang-orang yang menurutku berhak menerimanya."
Tidak ada seorang pun yang berani membantah.
Karena semua orang tahu keputusan itu lahir bukan dari kemarahan sesaat.
Melainkan dari luka dan kekecewaan yang telah lama dipendam.
Di sisi lain, Nadia justru merasa tidak nyaman.
Ia sama sekali tidak pernah mengharapkan warisan ataupun bagian apa pun.
Kedatangannya hari ini hanya untuk menjenguk dan berpamitan sebelum kembali ke Surabaya.
Namun kini suasana berubah menjadi jauh lebih rumit.
Sementara di luar rumah, Revano masih menunggu di dalam mobil.
Ia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam.
Tetapi entah mengapa, sejak tadi perasaannya tidak tenang.
Seolah ia tahu bahwa Nadia kembali harus menghadapi luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Keputusan yang baru saja disampaikan mantan ayah mertua Nadia meninggalkan suasana yang begitu berat di dalam ruangan. Tidak ada yang langsung berbicara setelahnya. Hanya keheningan panjang yang terasa menyesakkan, seolah setiap orang sedang berusaha mencerna kenyataan yang baru saja mereka dengar.
Namun di balik keheningan itu, tidak semua orang dapat menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.
Ibu Adrian menjadi orang pertama yang menunjukkan ketidaksetujuannya.
Wanita itu menatap dokumen di atas meja dengan wajah yang sulit disembunyikan.
Selama bertahun-tahun ia selalu memikirkan masa depan putranya sebagai penerus keluarga Mahendra.
Baginya, sebagian besar aset keluarga seharusnya tetap berada di tangan Adrian.
Bukan diberikan kepada seseorang yang bahkan belum lahir.
"Mas..."
ucapnya perlahan kepada suaminya.
Nada suaranya berusaha tenang meskipun jelas terdengar keberatan.
"Apa tidak terlalu besar?"
Semua orang langsung memahami maksud pertanyaan itu.
Tidak perlu menyebut angka lagi.
Semua tahu bagian terbesar yang dipermasalahkan adalah bagian untuk anak yang sedang dikandung Nadia.
Mantan ayah mertua Nadia mengangkat pandangannya.
Tatapannya tenang.
Terlalu tenang bahkan.
Seolah ia sudah memperkirakan keberatan itu akan muncul.
"Aku sudah memikirkannya baik-baik."
jawabnya singkat.
Namun jawaban tersebut tidak cukup meredakan perasaan istrinya.
Selama ini meskipun hubungannya dengan Nadia tidak pernah benar-benar dekat, ia tetap menganggap wanita itu sudah keluar dari keluarga mereka setelah perceraian.
Karena itulah sulit baginya menerima kenyataan bahwa cucu yang bahkan belum lahir mendapatkan bagian lebih besar dibanding anak kandungnya sendiri.
Di sisi lain, Adrian juga tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Tangannya terkepal di bawah meja.
Untuk pertama kalinya sejak perceraian, ia merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar penyesalan.
Ada perasaan tersingkir.
Perasaan bahwa kepercayaan ayahnya terhadap dirinya benar-benar telah runtuh.
"Ayah tidak percaya padaku sampai sejauh itu?"
tanyanya pelan.
Suara yang keluar terdengar jauh lebih lemah dibanding sebelumnya.
Pria tua itu memandang putranya cukup lama.
Di matanya tidak ada kemarahan.
Justru yang terlihat adalah kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan.
"Kepercayaan itu tidak hilang dalam sehari."
ucapnya.
"Tapi juga tidak hilang tanpa alasan."
Kalimat tersebut membuat Adrian langsung terdiam.
Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu ayahnya tidak sedang berbicara soal warisan.
Melainkan seluruh keputusan yang telah menghancurkan keluarganya sendiri.
Tidak jauh dari sana, Bianca duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat di atas pangkuan.
Wajahnya pucat.
Perasaannya campur aduk.
Jika jujur, ia juga terkejut dengan pembagian tersebut.
Bahkan sedikit tidak terima.
Bagaimanapun anak yang dikandungnya juga merupakan cucu keluarga Mahendra.
Namun berbeda dengan Adrian dan ibunya, Bianca tidak memiliki posisi untuk menyuarakan keberatannya.
Ia belum menjadi bagian resmi keluarga itu.
Belum menikah dengan Adrian.
Dan setelah semua yang terjadi, ia sadar betul bahwa keberadaannya di ruangan tersebut saja sebenarnya sudah cukup membuat suasana menjadi canggung.
Karena itu Bianca hanya bisa menundukkan kepala.
Menelan seluruh perasaannya sendirian.
Namun semakin lama duduk di sana, semakin besar tekanan yang ia rasakan.
Sebab tanpa seorang pun mengatakannya secara langsung, ia dapat merasakan perbedaan perlakuan yang begitu jelas.
Saat membicarakan Nadia, mantan ayah mertuanya masih menunjukkan kehangatan dan kasih sayang.
Sedangkan saat memandang dirinya, yang ada hanyalah jarak yang tidak terlihat.
Perasaan itu membuat dadanya terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya, Bianca benar-benar menyadari bahwa memenangkan Adrian tidak otomatis membuatnya diterima oleh keluarga pria itu.
Di tengah suasana yang semakin berat, Nadia justru menjadi satu-satunya orang yang terlihat tidak memikirkan pembagian tersebut.
Pandangannya lebih sering tertuju kepada mantan ayah mertuanya yang masih terlihat lemah setelah sakit.
Baginya, kehadiran pria itu jauh lebih penting dibanding angka-angka yang tertulis di dalam dokumen.
Namun melihat ketegangan yang mulai memenuhi ruangan, Nadia sadar bahwa keputusan tersebut akan meninggalkan luka baru bagi sebagian orang.
Dan ironisnya, bahkan setelah perceraian, dirinya masih menjadi pusat dari pertentangan di keluarga yang pernah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah